Heartbreak

Heartbreak
CHAPTER 25



Jakarta Indonesia


Hari ini adalah hari sibuk untuk seorang Evelyne Chalesthane Mariolin, tetapi dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.


"Evelyne kamu sakit?" Tanya Jack yang baru saja keruangan Evelyne yang masih tidak Evelyne ketahui maksud kedatangannya.


"Sepertinya saya kurang enak badan, tapi anda tidak perlu khawatir saya akan mengerjakan pekerjaan saya dengan benar" jawab Evelyne berusaha meyakinkan Jack bahwa ia baik-baik saja.


"Tidak perlu dipaksakan Evelyne, biar Eros saja yang handle pekerjaan mu" Jack yang khawatir dengan kondisi sekertaris nya itu.


"Itu akan sangat merepotkan, biar saya saja yang menangani pekerjaan ini, saya masih sanggup jika harus menyelesaikan pekerjaan ini, terimakasih atas perhatiannya Sir" ucap Evelyne dengan lemas.


"Kamu harus segera ke rumah sakit Evelyne, kondisi kamu tidak bisa dibilang baik-baik saja" nasehat Jack.


"Nanti setelah saya bekerja, saya akan segera periksa ke dokter"


"Baiklah, jaga kesehatan mu Evelyne" Jack yang kemudian keluar dari ruang kerja Evelyne. Evelyne mengangguk dan tersenyum.


Tetapi Jack kembali masuk lagi keruangan Evelyne, setelah beberapa detik keluar dari ruangannya.


"Ada yang tertinggal Sir?" Tanya Evelyne yang bingung kenapa Jack kembali ke ruangannya lagi.


"Saya tadi kesini ingin bertanya sesuatu hal, tetapi lupa karena melihat kondisi mu" jawab Mr. Jack dengan tersenyum, menertawakan dirinya yang melupakan hal itu.


"Saya pikir anda kemari karena ingin memberi saya tugas"


"Itu juga benar, tetapi karena kondisi kamu yang kurang sehat, jadi kamu kerjakan besok juga tidak apa"


"Tidak perlu Sir, saya akan kerjaan sekarang saja dan apa yang ingin anda tanyakan?"


"Kalau begitu, kamu ambil cuti besok untuk beristirahat, dan ini" Mr Jack yang menyodorkan dokumen dan kemudian diterima oleh Evelyne. "Ada beberapa hal yang perlu direvisi, kamu cek lagi" sambung Jack.


"Baik Sir" Evelyne mengangguk.


"Sebenarnya hal yang ingin saya tanyakan adalah hal pribadi, saya bingung harus bertanya kepada siapa, jadi lebih baik saya tanyakan saja pada kamu"


"Hal pribadi?" Tanya Evelyne menaikkan sedikit alisnya.


"Ya.. saya memiliki anak laki-laki mungkin dia seumuran dengan mu, tetapi dia masih menempuh studi di luar negeri, dan sebentar lagi adalah hari ulang tahunnya, jadi saya bingung harus memberikan hadiah apa padanya"


"Sebenarnya hal yang paling disukai seorang anak adalah perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, tetapi jika memberi hadiah itu akan lebih baik" Evelyne dan kemudian hal itu merubah mimik wajah Jack.


"Eem Sir, apakah saya mengatakan sesuatu hal yang tidak mengenakkan?" Tanya Evelyne.


"Tidak.. kamu tidak melakukan kesalahan, hanya saja apa yang kamu bilang tadi... ada benarnya. Salahnya saya kurang memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak saya, saya takut tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga saya, saya terlalu takut kehilangan mereka karena miskin, sehingga saya sibuk bekerja agar keluarga saya tidak merasakan hidup susah, ternyata jalan pemikiran saya selama ini salah..... Saya salah...... Saya salah....... Apa yang saya lakukan? ..... Pantas saja anak saya bersikap seperti itu pada saya, andai saja saya memberikan perhatian dan kasih sayang pasti anak saya cerdas dan baik, anak saya pasti tidak akan merokok, bolos, balap liar, mabuk-mabukan bahkan dia juga pernah menghamili seorang perempuan" ucap Jack yang semakin sedih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bahkan saya tahu bahwa anak saya sudah menghamili perempuan itu juga dari istri saya, mungkin jika istri saya tidak memberi tahu hal ini saya tidak akan tahu apa yang sudah diperbuat oleh anak saya. Dengan bodohnya saya, saya menyuruhnya untuk menggugurkan anak dalam kandungan perempuan itu, tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya, sehingga dengan nekatnya istri saya menabrak perempuan itu, mungkin kini perempuan itu sudah mati. Tetapi anak saya tidak tahu kalau dia sudah menghamili seorang perempuan, karena ketika perempuan itu datang ke rumah untuk memberi tahu anak saya, anak saya sudah terlanjur berangkat ke luar negeri. Ini bukan salah istri saya...... istri saya hanya ingin melindungi anaknya, istri saya hanya ingin melihat anaknya meraih cita-cita nya. Ini salah saya.... Saya salah... Semua terjadi karena saya... Saya terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu sibuk mencari uang. Ini salah saya...." Ucap Jack mulai menjatuhkan air matanya bahkan mulai terisak. Seorang pria menangis itulah puncak kesedihan. Evelyne mengepalkan tangannya.


"Maafkan saya Sir. Maaf karena telah membuat anda seperti ini" Evelyne yang merasa tidak enak hati kepada Mr. Jack, bagaimanapun juga ini terjadi karena ucapannya.


"Tidak tidak, kamu tidak melakukan kesalahan Evelyne"


"Maaf Sir, bukan saya bermaksud untuk menggurui tetapi ada hal yang ingin saya sampaikan" ujar Evelyne yang membuat Jack menatapnya. "Kehidupan bukan hanya tentang materi, tetapi kehidupan adalah masa menunggu kematian" sambung Evelyne.


"Kamu ini, kamu masih muda Evelyne tetapi sikapmu sudah dewasa, setiap saya melihat mu saya teringat pada seseorang" Jack membayangkan seseorang yang selalu terngiang di dalam benaknya, seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dia temui, seseorang yang berhasil menaklukkan hatinya, mungkin kini orang itu sudah berkeluarga sekarang. Miris sekali, Jack tidak tahu nama asli seseorang yang memiliki tempat tersendiri di hatinya, akan sangat sulit menemui orang itu.


Sementara itu Evelyne terlihat kebingungan dengan pertanyaan dari Jack.


"Kamu tidak perlu khawatir Evelyne, saya lebih pantas menjadi mertua mu daripada menjadi kekasihmu" Jack yang kemudian tertawa.


Evelyne ikut tertawa kecil atas ucapan dari Jack, yang kini Evelyne tahu Jack adalah orang yang cukup menyenangkan.


"Ooh yaa, saya sampai lupa dengan pertanyaan saya tadi, jadi menurut kamu saya harus memberikan hadiah apa kepada anak saya?" Tanya Jack lagi.


"Apa yang tidak pernah anda belikan padanya?" Tanya Evelyne.


"Aku bahkan tidak pernah membelikannya sesuatu, aku selalu mentransfer uang ke rekeningnya"


"Kalau begitu bagaimana dengan pakaian?" Saran Evelyne menawarkan.


"Ide yang cukup bagus, Minggu depan ikutlah saya untuk memilih beberapa baju" Pinta Mr. Jack


"Baik Sir"


"Yasudah, kerjakan apa yang kamu sanggupi jangan terlalu lelah, besok tidak perlu berangkat bekerja" ujar Jack yang dijawab anggukan kepala oleh Evelyne sebagai tanda patuh, kemudian Jack keluar dari ruangan Evelyne.


Evelyne segera melakukan apa yang harus dikerjakan, hari ini dia bisa pulang lebih awal untuk beristirahat.


Ditempat lain


Seorang sepasang kekasih tengah menikmati hidangan di sebuah restoran.


"Kamu dari kemarin kemarin kenapa sih?" Tanya Ezra


"Aku kepikiran aja sama Evelyne, udah lama aku nggak ketemu dia, kira-kira dia udah maafin aku belum ya?"


"Kalau dia emang temen yang baik, dia akan mengerti kondisi kamu, lagi pula yang kamu lakukan bukanlah hal yang salah, kamu melindungi dia bukan menyakitinya"


"Tapi tetap saja, aku merasa........ Aku merasa menjadi teman yang buruk tau nggak? Semuanya salah Azelvin, dasar cengcorang sialan"


"Kok jadi nyalahin Azelvin lagi, kalau misalkan kamu tidak diberi tahu Azelvin tentang rencana busuk Alvero, mungkin Alvero akan dengan mudahnya nyelakain Evelyne"


"Tapi Alvero udah terlanjur berhasil melakukan rencana busuknya"


"Gimana maksudnya?" Tanya Ezra


"Alvero udah melakukan itu pada Evelyne" jawab Grace


"Beneran?"


"Aku jadi khawatir kondisi Evelyne sekarang, apalagi Evelyne tinggal sendiri di Jakarta, aku takut dia melakukan hal yang berbahaya" ucap Grace


"Kalau begitu kita tidak bisa diam saja, tapi harus bagaimana?" Ezra mulai berfikir


"Apa kita putus aja?" Tanya Grace


"Gak... nggak bisa, kamu gila? Kita udah satu tahun dan aku juga udah niat serius, masa harus putus karena hal sepele kaya gini?"


"Sepele? Sepele kamu bilang, Evelyne udah banyak tersiksa dan itu semua karena sahabat sialan kamu itu" Grace yang emosinya mulai naik.


"Tapi apa harus putus? Kamu beneran mau kita putus? Jadi kamu lebih milih Evelyne dari pada aku?"


"Kok jadi gini, kamu pacar aku, dan Evelyne itu sahabat aku jadi aku nggak akan bisa pilih siapa diantara kalian berdua. Sekarang kalau aku tanya kamu lebih pilih aku atau Azelvin, kamu bisa jawab?" Tanya Grace


"Ya..... Ya aku pilih kamu, karena aku sayang sama kamu, kamu sayang juga nggak?" Tanya Ezra


"Sayanglah"


"Terus kenapa nggak bisa memilih?"


"Tidak bisa, kalian itu sama-sama orang yang aku sayangi, jadi aku nggak bisa pilih salah satu. Kalau kamu emang lebih pilih aku kenapa kamu nggak akhiri pertemanan kamu, semuanya akan baik-baik aja"


"Jangan egois"


"Apa maksudmu, bilang aku egois"


"Aku sama Azelvin itu udah temenan dari lama dan kamu minta aku buat mengakhiri pertemanan aku gitu aja?"


"Kamu sendirikan yang bilang kalau kamu lebih pilih aku daripada Azelvin, kenapa nggak bisa? Berarti kamu bohong kan?"


"Kamu juga nggak mungkin bisa mutusin pertemanan kamu sama Evelyne kan?"


"Iya emang bener, tapi aku nggak kaya kamu pembual"


"Maksud kamu apasih?" Tanya Ezra yang mulai emosi. Grace hendak berbicara tetapi didahului oleh nada dering yang berasal dari handphone Ezra.


"Prioritas nya nelfon tuh" sindir Grace. Ezra mengabaikan ucapan Grace dan mulai berbicara dengan Azelvin melalui via telepon.


"Woooi" ucap Azelvin dari seberang sana


"Hemb"


"Kenapa lo? Gak semangat gitu"


"Gak papa" ucap Ezra


"Gak papa gimana sih?" Cibir Grace pada Ezra dan merebut ponsel Ezra.


"Eeeh asal lo tau? Gue berantem sama Ezra gara-gara cunguk sialan kaya lo" celetuk Grace tiba-tiba.


"Apasih, kenapa bilang gitu?" Ujar Ezra pada Grace


"Ada yang salah? Aku bicara fakta" ucap Grace pada Ezra.


Tentu saja Azelvin mendengar ucapan mereka, Azelvin jadi merasa bersalah melibatkan Ezra dan Grace kedalam masalahnya.


"Ini kenapa jadi berantem kaya gini sih?" Tanya Azelvin dari seberang sana yang suaranya dapat didengar oleh Grace dan Ezra.


"Kenapa lo bilang? Ini semua gara-gara lo, salah lo" Grace dengan emosi yang meluap.


"Kalau Evelyne tetep nggak maafin gue gimana?" Tanya Grace yang kurang yakin dengan rencana Azelvin.


"Belum juga nyoba udah putus asa aja, coba dulu dong, gimana?"


"Oke deh gue setuju"


"Nggak, gila Lo vin, kalau gue sama Grace beneran putus lo mau tanggung jawab?"


"Eeh kalau kalian putus itu karena takdir bukan salah gue lah"


"Enteng banget lo ngomong"


"Iyalah, kan gue ngomong nggak sambil angkat barbel"


"Gak lucu bangsat"


"Emang yang lagi ngelawak siapa?"


"Udah deh, Ezra gue setuju sama rencana Azelvin, meskipun nggak terjamin akan berhasil yaaa..... Apa salahnya kita coba dulu, dan soal putus enggaknya kita itu tergantung lo masih percaya sama gue atau nggak"


"Iyadeh aku ngikutin gimana kamu aja"


.


.


.


.


.


Evelyne kini bimbang, dia sudah terlambat kedatangan tamu, kecemasan tidak bisa lagi dia netralisir. Rasa mual yang dia rasakan di setiap pagi menambah kecemasannya. Apalagi kondisi tubuhnya yang mudah lelah. Selepas pulang kerja Evelyne pergi ke apotek sebelum pulang, dia membeli beberapa testpack.


Sungguh kini dia sedang sangat pusing dan frustasi meskipun dia belum tahu hasilnya positif atau tidak tapi rasa cemasnya tidak bisa dia tampik begitu saja.


Akankah takdir mempermainkannya Evelyne lagi?


Kenapa? Kenapa harus Evelyne? Tidak cukup kah takdir mempermainkannya selama ini? Kurang menderitakah dia? Evelyne kini tengah memejamkan mata berusaha menenangkan pikirannya tetapi Evelyne tidak sanggup untuk itu.


Evelyne sangat pucat sekarang suhu tubuhnya tidak bisa dibilang normal.


Evelyne segera meraih ponselnya dan menatap layar ponselnya yang menunjukkan wajah seseorang, seseorang yang dia benci tapi tidak mampu untuk dia lupakan.


Evelyne terlarut dalam pikirannya hingga......


Tok tok tok


Ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Evelyne segera melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu.


"Evelyne" panggil seseorang di depannya setelah dia membuka pintu rumahnya.


"Grace"


"Vel, maafin gue vel, gue tahu apa yang gue lakuin salah tapi please maafin gue"


"Lo tahu apa yang lo lakuin itu salah?" Tanya Evelyne yang dijawab anggukan kepala oleh Grace.


"Kenapa lo lakuin itu?"


"Maafin gue vel, maaf, gue udah putus sama Ezra kok, jadi tolong maafin gue" ucap Grace dengan mata yang berkaca-kaca.


"Putus?" Tanya Evelyne dengan terkejut dan menarik tangan Grace agar masuk ke dalam rumahnya dan mendudukkannya di kursi yang berada di ruang tamu.


"Lo putus sama Ezra?" Tanya Evelyne yang dijawab anggukan oleh Grace.


"Kenapa putus? Padahal gue kira Ezra bakalan jadi cinta terakhir lo, karena waktu lo pacaran sama Ezra kelihatan bahagia banget, lagipula Ezra juga orang yang cukup baik meskipun terkenal playboy, apa Ezra selingkuh?" Tanya Evelyne dan Grace menggelengkan kepalanya.


"Bukan, karena Ezra temen Azelvin"


"Intinya lo putus sama Ezra karena gue? Gue bener bener merasa jadi sahabat yang buruk Grace, gue tahu lo sayang banget sama Ezra kan? Gue pikir lo nggak pernah nemuin gue karena lo ada rencana buat nikah sama Ezra, lo sayang sama Ezra kan Grace?" Tanya Evelyne yang tidak bisa dijawab oleh Grace.


"Lo sayang sama Ezra kan?"


"Grace jawab, gue mohon jawab dengan jujur"


Grace hanya mengangguk.


"Lo tau nggak gue merasa gagal jadi sahabat, lo harus balikan sama Ezra sebelum semuanya terlambat"


"Evelyne... Kalau gue balikan sama Ezra lo marah sama gue?"


"Enggak, itu hak Lo, dan gue dukung kalau lo pacaran sama Ezra, Grace.... Gue emang ada masalah sama Azelvin dan temen-temennya tapi gue gak akan melarang lo untuk pacaran sama temennya Azelvin"


"Tapi kenapa lo marah sama gue waktu itu?"


"Gue marah sama lo karena lo udah bohongin gue, bukan karena lo pacaran sama Ezra"


"Vel, gue mau ngomong jujur sama Lo"


"Apa?"


"Gue bohong"


"Bohong gimana?"


"Sebenarnya gue nggak putus dari Ezra"


"Disuruh Azelvin? Sampai kapan lo mau jadi babunya Azelvin?"


"Sebenarnya gue nggak tahu lagi gimana caranya buat minta maaf sama lo, tapi ini juga ada campur tangan dari Azelvin"


"Gue emang setuju kalau lo pacaran sama Ezra, tapi bukan berarti gue ngizinin lo ikut campur masalah gue sama Azelvin"


"Maaf" Grace menundukkan kepalanya


"Okay" Evelyne dan memeluk Grace.


"Vel, suhu tubuh Lo....... Anjir muka lo pucet, lo sakit?"


"Gak tau"


"Kok gak tau? Ayo ke rumah sakit" ajak Grace dan Evelyne menggelengkan kepalanya.


"Grace, gue nggak tahu harus cerita ke siapa tentang hal ini"


"Cerita aja ke gue, gue bakalan dengerin kok"


"Sebenarnya, gue sama Alvero.... gue sama Al..... gue udah.. udah.."


"Gue tahu vel"


"Lo udah tahu Grace? Dari mana? Azelvin?" Tanya Evelyne yang dijawab anggukan kepala oleh Grace.


"Azelvin nolongin lo waktu itu karena gue yang ngasih tau kalau lo pergi sama Alvero, jadi gue nyuruh dia buat dateng ke rumah Alvero"


"Makasih, ternyata lo masih peduli sama gue"


"Tapi gue gagal vel, Azelvin terlambat nolongin lo"


"Bukan salah lo, ini takdir, emang udah jalan hidup gue kaya gini"


"Vel, lo nggak hamil kan?"


"Gue nggak tahu, gue takut mastiinnya"


"Lo harus periksa ke dokter" ucap Grace yang ditolak mentah-mentah oleh Evelyne.


"Lo mual-mual gak?" Tanya Grace dan Evelyne mengangguk kepalanya.


"Lo telat?" Tanya Grace dan Evelyne mengangguk lagi.


"Lo mudah capek?" Tanya Grace dan Evelyne mengangguk lagi.


"Gue takut Grace, gue takut, gue nggak mau kalau sampai gue beneran hamil, gue nggak mau, gue nggak siap, bahkan gue belum ngasih tau ini sama Edzard, gue takut kalau Edzard kecewa sama gue, apalagi mama gue, orang tua gue, gue takut kalau mereka sampai kecewa seandainya gue hamil, gue.... Gue nggak bisa ngadepin ini sendiri"


"Evelyne, gue akan selalu ada buat lo, ada gue vel, lo nggak akan ngadepin ini sendiri ada gue"


"Makasih Grace, gue nggak tahu lagi apa yang harus gue lakuin sekarang"


"Mending lo istirahat dulu, nggak usah terlalu dipikirin soal itu, gue tahu lo orang yang kuat, lo pasti bisa ngadepin masalah ini, dan ada gue sekarang lo istirahat ya, gue harus pulang dulu karena besok gue kerja"


"Makasih, Lo juga hati hati dan jangan lupa istirahat"


"Evelyne lo butuh orang yang siap buat lo vel, dan gue tahu siapa orangnya, maaf kalau gue ikut campur lagi" ucap Grace didalam hatinya kemudian ia melangkahkan kakinya menjauhi rumah Evelyne.