Heartbreak

Heartbreak
CHAPTER 26



Indonesia Jakarta


Evelyne kini tengah menggenggam sebuah testpack di tangannya.


"Semoga nggak, semoga nggak, negatif, negatif" ucap Evelyne dan terus memberanikan diri untuk melihat testpack di tangannya itu, tetapi dari tadi dia belum juga berani untuk melihat testpack itu.


"Evelyne lihat dong" ucapnya pada diri sendiri.


"Aaah oke Evelyne, hasilnya pasti negatif"


"Aduh gimana ini? Nanti kalau positif gimana? Nggak, gue harus yakin kalau hasilnya negatif"


"Evelyne lo harus bisa hadapin ini" Evelyne kemudian melihat testpack itu dan......


"Yeaaay, Evelyne, lo lihatkan? Negatif, negatif" ucap Evelyne kegirangan.


"Gue harus ngasih tau Grace nih"


"Grace"


"Kenapa, girang banget lo"


"Gue negatif"


"Maksud lo, lo nggak hamil?"


"Enggak dong"


"Lo udah periksa ke dokter"


"Belum"


"Dari mana lo tau?"


"Testpack"


"Cuma dari testpack, gue yakin itu testpack harganya murah kan?"


"Kalau ada yang murah kenapa harus yang mahal"


"Mcek, itu nggak akurat Evelyne, dan lo juga cuma ngetestnya satu kalikan?"


"Iya"


"Evelyne, Lo harus periksa ke dokter supaya hasilnya jelas"


"Gue dulu juga cuma pake testpack dan hasilnya bener, gue rasa nggak perlu ke dokter"


"Pokoknya lo harus ke rumah sakit, Evelyne lo harus ke dokter paham?"


"Ke dokter Kris aja deh"


"Lo pikir Dokter Kris dokter kandungan apa?"


"Gimana ya"


"Nggak usah banyak mikir, intinya lo harus ke rumah sakit besok"


"Iya"


"Gitu kek dari tadi"


"Kebetulan besok gue dikasih cuti sama bos gue"


"Kerja dimana lo?"


"Kasih tau nggak ya?"


"Nggak usah, gue tahu kok gue itu temen lo dari..."


"Lebaynya kumat, gue kasih tau sama Lo, tapi lo janji jangan kasih tau siapapun, siapapun oke, paham gak? Siapapun"


"Iya deh, janji nggak akan ngasih tau siapapun"


"Bener nih?"


"Suer deh"


"Kalau sampai lo ngasih tau ke siapapun itu gue bakalan resign dan nggak akan kerja lagi"


"Gitu amat, lo mau jadi orang kismin abadi?"


"Amit-amit, janji ya nggak akan ngasih tau ke siapapun"


"Iya-iya nggak percayaan amat lo sama gue"


"Gimana ya, congor lu belum dikasih no dr*p sih"


"Lo kira bibir gue tembok, bibir seksi gini disama-samain sama tembok"


"Iyain biar lama"


"Dimana-mana iyain tuh biar cepet, bukan biar lama"


"Itukan kalau ngomong sama orang lain, beda lagi ceritanya kalau ngomong sama lo, mau gue jawab apapun juga pasti bakalan lama selesainya"


"Tau aja deh sahabatnya Grace"


"Siapa gue?"


"Bukan noh tukang jualan cangcimen depan rumah gue"


"Gue kira tukang jualan cangcimen cuman di terminal ternyata di depan rumah lo ada juga"


"Udahdeh, nggak usah ngalihin topik pembicaraan, tinggal jawab Lo kerja dimana aja susah amat"


" Alsh galaxy company"


"Hah?"


Evelyne kemudian menutup panggilan teleponnya, dia harus tidur dan ke rumah sakit besok.


Semoga saja Grace bisa memplester mulutnya dengan baik.


.


.


.


.


Rumah sakit _*#*_


Evelyne kini tengah memandangi rumah sakit yang sudah berulangkali dia masuki tetapi berulangkali juga ia keluar. Evelyne sangat gugup sekarang bukan sekarang lebih tepatnya dari tadi, pasalnya sudah berkali-kali dia keluar masuk rumah sakit sampai membuat seorang resepsionis memperhatikan gelagat nya yang tidak bisa dibilang wajar.


"Evelyne, oke..... Tenang tenang... Oke mudah saja hanya perlu masuk. Apa yang kamu takutkan Evelyne? Payah sekali, jangan sampai kau membiarkan orang berpikir kamu gila, hanya karena keluar masuk secara terus menerus. Oke one two three" Evelyne melangkahkan kakinya tiga kali kemudian dia melangkahkan kaki mundur dengan cepat.


"Aaaaiiisssh Evelyn tidak ada yang perlu kamu takutkan oke, tenang kamu tidak perlu khawatir. Kamu hanya harus tahu positif atau tidaknya. Tidak tidak bagaimana kalau hasilnya positif, aaaah mana mungkin positif. Evelyne kamu penasaran? Langkahkan kaki mu perlahan oke...... tenang" ucap Evelyne meyakinkan diri lagi. Dia melangkahkan kakinya maju kali ini lima langkah ya lima langkah saja, kemudian dia melangkahkan kaki mundur, bahkan langkahnya lebih cepat dari dia maju.


Andai saja dia tidak menabrak seorang dibelakangnya mungkin dia sudah melangkah mundur dengan jauh. Yaaa.... Dia menabrak seorang, kali ini apa lagi?


"Kaan... Jadi nabrak orang dimarahin ini pasti, siap siap Evelyne... Minta maaf kemudian lari... Oke" ucap Evelyne dalam hati. Kemudian dia memutarkan tubuhnya 180°.


Seseorang yang menabraknya tadi meraih tangannya dan menariknya ke dalam rumah sakit.


Yang ditarik hanya diam saja tetapi tetap saja hati Evelyne gelisah, dari mana datangnya orang tidak diundang ini?


Orang yang ditabraknya tadi nampak sedang berbicara dengan resepsionis.


"Oooh... Mbaknya ini dari tadi keluar masuk karena mau ditemenin suaminya" ucap resepsionis itu.


"Bukan sus... Dia ini..." Ucapan Evelyne terpotong.


"Dimana ruangannya?"


"Mas sama mbaknya tunggu saja di kursi yang sebelah sana, nanti kalau sudah dipanggil silahkan masuk ruangan itu" ucap resepsionis. Yang hanya dijawab anggukan oleh Azelvin. Ya... orang yang Evelyne tabrak adalah Azelvin Aleston.


Azelvin meraih tangan Evelyne dan mengandeng tangannya untuk ke tempat yang ditunjukkan resepsionis tadi.


"Duduk" pinta Azelvin yang dituruti oleh Evelyne. Dan kemudian Azelvin juga ikut meletakkan pantatnya.


"Apa yang lo lakuin disini?" Tanya Evelyne yang heran dengan kehadiran Azelvin.


"Menemani orang gila"


"Orang gila"


"Ya... Keluar masuk rumah sakit, apa yang lo lakuin tadi itu hal yang wajar? Gue yakin orang yang lihat lo tadi juga bakal mikir kaya gitu"


"Tapi gue bukan orang gila, mending lo pergi, buat apa lo disini?"


"Ini tempat umum, jadi siapa aja boleh kesini" Evelyne beranjak ingin pergi tetapi tangannya di cekal dan ditarik Azelvin sehingga dia terduduk lagi.


"Lepasin" ucap Evelyne berusaha melepaskan cekalan tangan dari Azelvin.


"Nggak"


"Lepasin, lepasin nggak!! Vin lepasin"


"Kalau nggak bisa diem, gue bakal buat lo diem dengan cara gue" ucap Azelvin, Evelyne yang mengerti maksud Azelvin hanya diam saja dan melihat kearah lain.


Sekarang giliran Evelyne untuk periksa. Evelyne takut sekali, bisa dilihat dari wajahnya yang pucat pasi.


"Tenang" Azelvin dan mengusap lembut tangan Evelyne.


Evelyne menghirup udara dan menghembuskan perlahan-lahan. Azelvin memasuki ruangan dengan menggandeng tangan Evelyne.


"Silahkan berbaring disini" ucap sang dokter, Evelyne mengikuti instruksi dari dokter.


"Selesai, mari duduk disana" ucap dokter dan Evelyne menurut, kini Evelyne duduk disebelah Azelvin dan dihadapan dokter.


"Menurut pemeriksaan saudari Evelyne negatif hamil, tapi kalian jangan patah semangat, kalian masih muda, terus dicoba ya. Dan lagi ... jaga pola hidup sehat, harus rajin olahraga serta makan makanan yang sehat" ucap Dokter.


Tiba-tiba saja ada yang memeluk Azelvin dari belakang dengan erat.


Kebiasaan Evelyne yang tidak bisa hilang dari kecil, dia akan memeluk seseorang ketika bahagia, jika tidak ada orang untuk dipeluk, dia akan meloncat-loncat kegirangan.


Evelyne yang sadar dengan apa yang telah dia lakukan, akhirnya dia melepaskan pelukannya.


"Maaf" Evelyne segera berjalan cepat dan meninggalkan Azelvin yang terlihat terkejut dengan hal yang dilakukan Evelyne.


Ketika Evelyne berjalan cepat menjauh darinya dia hanya memperhatikan dengan ekspresi yang masih terkejut.


....


Evelyne kini tengah menunggu kedatangan sebuah taksi yang bisa untuk dia tumpangi.


Tin tin tin


"Butuh tumpangan?" Ucap seseorang dari dalam mobil.


"Nggak makasih" ucap Evelyne


"Yakin?"


"Yakinlah"


"Lo nggak lihat orang yang disana itu"


"Lihat"


"Dia kaya mau kesini nggak sih?"


"Terserah dia juga mau kesana kesini kemana-mana juga terserah dia"


"Nggak lihat penampilan? Udah kaya preman gitu, kalau lo nggak mau, gue pergi nih... gue nggak mau babak belur dipukulin preman" ucap Azelvin yang hendak melajukan mobilnya.


"Ikut"


"Gitu kek dari tadi"


Evelyne kemudian masuk kedalam mobil, dan menoleh kebelakang melihat orang yang disangkanya preman.


"Buruan itu orangnya hampir deket" ucap Evelyne dan kemudian Azelvin melajukan mobilnya.


"Yaaah... Malah pergi... Padahal aing naroskeun alamatna, kumaha ini teh" ucap seseorang yang Evelyne dan Azelvin pikir preman.


.


.


.


.


.


Evelyne kini sudah berada di rumah yang mampu membuatnya nyaman, meskipun rumahnya tidak mewah, tetapi Evelyne dapat merasa nyaman dan tenang jika berada di rumah.


Seharusnya Evelyne mengucapkan terimakasih pada Azelvin karena Azelvin telah membantunya dan mengantarkannya pulang. Meskipun tidak mengantar sampai rumah..... Bukan karena Evelyne diturunkan Azelvin ditengah jalan, tetapi Evelyne tidak bisa berlama-lama bersama Azelvin, bahkan Evelyne juga belum bisa menatap mata Azelvin. Tetapi setidaknya ada sedikit kemajuan.


Dan akhirnya Evelyne dapat bernafas lega sekarang, karena dia tidak hamil.


Evelyne sangat senang, pasti dia bisa tidur nyenyak kali ini dan bekerja dengan semangat besok.


Tetapi saat dia hendak memejamkan mata dia mendengar suara ketukan pintu.


"Ganggu orang mau tidur aja" ucap Evelyne dan beranjak dari tidurnya.


Saat hendak membuka pintu dia melihat keluar jendela terlebih dahulu dan ternyata..


"Evelyne gue tahu lo di dalem" ucap orang dari luar sana.


"Gimana ini?" Gumam Evelyne. Bukankah seharusnya orang itu di luar negeri sekarang, kenapa dia berada disini? Apakah yang dikatakan Cecilia hanya bualan?


"Evelyne buka pintunya, vel" ucapnya.


Evelyne hanya diam, apa lagi yang orang itu ingin lakukan pada Evelyne? Apakah dendamnya pada Azelvin belum tertuntaskan? Kenapa harus melalui Evelyne?


"Evelyne lo hamil? Lo hamilkan pasti" ucapnya


"Gue seneng lo hamil, seneng banget malah, lo hamil anak guekan?"


"Pergi" teriak Evelyne.


"Nggak, gue nggak akan pergi, gue mau ngomong penting sama Lo"


Evelyne diam tidak menjawab ucapan orang itu. Tubuh Evelyne merosot dia terduduk di lantai dan bersandar pada dinding. Dia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. Dia sangat takut sekarang, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Evelyne benci. Dia benci pada dirinya yang lemah.


Dia mendengar suara dari luar sana, seperti sebuah pukulan bukan-bukan lebih tepatnya sebuah perkelahian, Evelyne semakin merasa ketakutan.


Apa yang terjadi diluar sana?


Evelyne kemudian mendengar suara dari pintu seperti ada yang berusaha membukanya.


Dan....


"Lo nggak papa?" Ucap seseorang yang kini memeluknya. Evelyne tidak bisa menjawab pertanyaan orang itu, bahkan untuk melihat orang itu dia tidak bisa, dia masih menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. Evelyne gemetar ketakutan.


"Evelyne, lo nggak papa kan? Vel" ucap orang itu. Evelyne kemudian menangis lirih tetapi lama kelamaan semakin kencang. Orang itu mengelus rambut Evelyne dengan lembut.


"Vel"


"Kenapa selalu ada yang ingin menyakitiku? Kenapa selalu ada yang ingin menghancurkan hidup ku, bahkan aku tidak melakukan kesalahan apapun pada mereka, kenapa mereka ingin menghancurkan hidup ku, kenapa? KENAPA?" Evelyne dan mendongakkan kepalanya.


"Vel, gue akan melindungi lo, gue janji?"


"MELINDUNGI, semua karena Lo, puas? Semua ini ..." Ucap Evelyne dan menanggis.


"Vel tenang. Sekarang lo istirahat"


"Pergi"


"Gue pergi, tapi lo harus istirahat.


Evelyne beranjak dan melangkahkan kakinya ke kamar meninggalkan orang dihadapannya begitu saja.


Orang tersebut keluar dari rumah Evelyne, dan mengunci pintunya. Jangan heran!


Karena dia sudah mempunyai kunci duplikat. Kenapa bisa? Tentu saja dengan uang.


.


.


.


.


.


Azelvin kini melajukan mobilnya ke apartemen Ezra karena dia yakin orang yang ingin ditemuinya ada disana.


Setelah sampai di apartemen Ezra, dia masuk dan duduk di salah satu sofa yang ada diruang tamu. Dapat dilihat Axel, Ezra, dan Grace disana.


"Kenapa lo?" Tanya Axel.


"Tau tuh, permisi dulu kek, ini malah langsung nangkring di sofa" ucap Ezra, sementara itu Grace hanya sibuk dengan ponselnya, sebenarnya dia malas sekali jika berhadapan dengan Azelvin, memang dia tahu kalau Azelvin itu baik tetapi tetap saja dia kesal dengan Azelvin, karena sudah membuat Evelyne trauma.


"Grace"


Grace tidak menjawab dan masih sibuk memainkan ponselnya.


"Sayang... Di panggil Azelvin itu" ucap Ezra dan menepuk pundak Grace.


"Apa?" Ucap Grace dan menoleh pada Ezra.


"Azelvin di depan kamu" ucap Ezra.


Grace kembali memainkan ponselnya. Dan direbut oleh orang dihadapannya.


"Dengerin gue dulu bisa nggak sih?"


"Wweeeeeeeiiitts santai dong bro. Pacar gue nih"


"Yang bilang pacarnya Axel siapa?"


"Udah deh, kok jadi nggak enak gini suasananya. Ganggu orang makan aja sih" ucap Axel yang tengah asik memasukkan cemilan kemulutnya.


"Grace, denger gue dulu, gue mau nanya"


"Apa?"


"Kenapa Evelyne kaya gitu?"


"Gimana? Lo nggak tahu? Dia trauma"


"Gue tahu dia trauma, tapi kenapa dia bisa trauma?"


"Harusnya lo tahu jawabannya, karena itu kesalahan lo"


"Evelyne bilang gitu, Edzard dan lo juga, sebenarnya apa yang udah gue perbuat?"


"Aku mau pulang dulu deh"


"Jangan gitu dong sayang"


"Grace lo belum jawab pertanyaan gue" ucap Azelvin, dan Grace sudah beranjak tidak lupa juga dia mengambil ponselnya di tangan Azelvin.


Ezra menyusul langkah Grace, dia hendak mengantarkan Grace pulang.


"Grace" panggil Azelvin hendak mengejar, tetapi ditahan oleh Axel.