
Tokyo Jepang
Evelyne mengikuti langkah kaki Azelvin dari belakang.
Mereka kini telah sampai di sebuah tempat penginapan, dimana mereka akan tinggal disini selama mereka berada di Jepang.
Akhirnya mereka sampai di sebuah apartemen mewah, nyaman, dan disuguhi dengan pemandangan indah Kota Tokyo.
"Katamu ada urusan penting dan mendesak, kenapa kita tidak langsung ke kantor" tanya Evelyne
"Ini sudah malam"
"Ya... Tapi ini belum terlalu larut"
"Aku butuh istirahat jika kau mau pergi, pergi saja sana sendiri" ucap Azelvin dan berjalan memasuki sebuah kamar.
"Heei... Heiii" Evelyne mengejar langkahnya dari belakang.
"Apa lagi? Ingin tidur bersama?"
"Dimana kamarku?"
"Disebelah... Tapi kalau kau ingin tidur disini juga tak apa"
"Tidak terimakasih" Evelyne segera memasuki kamarnya. Merapikan barang-barang yang dia bawa dan merebahkan tubuhnya sejenak di ranjang.
"Eemm... Apa yang harusku lakukan? Ini baru pukul 7 malam. Aku tidak bisa tidur" Evelyne menatap langit-langit.
"Apa sebaiknya aku pergi kesebuah tempat... Tapi kemana? Emm... Bukan sebuah ide yang buruk jika aku mengajak si makhluk astral" Evelyne beranjak dari tempat tidur.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu yang dapat didengar oleh telinga, karena Evelyne mengetuk pintu kamar Azelvin.
"Azelvin... Hei... Makhluk astral, kau sudah tidur?" Tanya Evelyne
"AZELVIN"
"Kau menganggu tidurku" teriak seseorang dari dalam kamar, siapa lagi kalau bukan Azelvin Aleston.
"Azelvin... Aku ingin pergi ke suatu tempat, berjalan-jalan atau naik sepeda juga tidak apa"
"Pergilah... Aku mengantuk"
"AZELVIN.... JIKA KAU TIDAK KELUAR DARI KAMARMU AKU AKAN PERGI SENDIRI"
"Azelvin... Dalam hitungan ketiga aku akan benar-benar pergi" ucap Evelyne dan tidak ada jawaban.
"SATU"
"DUA"
"DUA SETENGAH"
"AZELVIN...apa kau benar-benar tidak ingin keluar oke... Tiga baiklah aku akan pergi sendiri" Evelyne kesal.
Dia menghentakkan kakinya dan keluar dari apartemen...
Dia melangkahkan kakinya tanpa tujuan yang jelas.
"Dia pikir aku tidak bisa pergi sendiri. Lihat saja akan aku pastikan aku akan pergi ketempat indah dan menyenangkan, aku tidak akan tersesat" monolog Evelyne.
"Apa-apaan dia itu... Baru jam segini, dia sudah akan tidur, dasar... Menyebalkan sekali" ucap Evelyne lagi.
"Hei... Kemana aku harus pergi, apa disini tidak akan ada penjahat? Bagaimana kalau tiba-tiba aku dirampok... Itu tidak terdengar bagus, atau sebaiknya aku kembali ke apartemen saja... Tidak... Tidak Evelyne... Tidak, jika kau kembali dimana harga dirimu" ucap Evelyne lagi.
"Tapi diakan sudah tidur, jadi tidak mungkin dia tahu kalau aku kembali" Evelyne melangkahkan kakinya kembali ke apartemen.
"Tidak jadi pergi?... Kau tidak berani pergi tanpaku?" Cibir Azelvin yang tengah minum susu kotak.
"Hah... Siapa yang bilang, ada sesuatu yang tertinggal jadi aku kembali untuk mengambilnya"
"Oh... Selamat bersenang-senang"
"Kau tidak ingin ikut"
"Untuk apa? Lebih baik aku tidur"
"Dasar payah" Evelyne langsung keluar apartemen.
"Bukannya Evelyne tadi bilang ingin mengambil sesuatu... Ahh sudahlah, aku mengantuk sekali" Azelvin kembali ke kamarnya untuk tidur. Sementara Evelyne berjalan tanpa tujuan lagi.
"Lihatlah tingkah bodoh mu itu Evelyne, aku sudah mengatakan sebelumnya bukan? Dia akan berfikir kau tidak berani pergi sendiri tanpanya..
Baiklah akan aku tunjukkan padanya kalau aku akan baik-baik saja meskipun tanpa dia... Dia pikir dia siapa" ucap Evelyne
Karena Evelyne lapar jadi dia memasuki sebuah restoran untuk mengisi perutnya.
Setelah selesai dia kembali bingung hendak kemana, jadi dia berjalan saja.
"Mau kemana?" Tanya seseorang dibelakang. Apa Azelvin.
"Untuk apa kau kemari? Bukannya kau tadi bilang ingin tidur, tidurlah... Aku bisa melakukan apapun sendiri" ucap Evelyne tanpa menoleh.
"Tidak mau ku temani?"
"Tidak perlu" Evelyne kemudian berbalik dan betapa terkejutnya dia ternyata yang ada dihadapannya ini bukanlah Azelvin.
"Hai apa kabar?" Tanya orang tersebut dengan senyuman, senyuman yang bisa melelehkan hati para wanita namun itu tidak berlaku bagi Evelyne, karena senyum itu yang dia hindari selama ini.
"Untuk apa kau kemari?"
"Ini dekat dengan tempat tinggalku. Mau mampir? Kita bisa bersenang-senang disana sejenak, atau mungkin lama"
"Tidak perlu. Pergilah"
"Ooh... Ada apa denganmu, kau tahu aku merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku? Atau mungkin kau juga merindukanku?"
"Mimpi kau pergilah" usir Evelyne namun orang itu menarik tangan Evelyne dan membawanya kesebuah rumah. Tentu saja Evelyne memberontak tapi tenaganya tidak cukup kuat. Hingga Evelyne tidak tahu apa yang menghantam kepalanya dan membuatnya tidak sadarkan diri.
*****
Azelvin bangun dari tidurnya karena rasa lapar melanda perutnya.
Ia memakan sesuatu yang bisa dia makan di dalam lemari pendingin.
Dia mengambil roti dan selai... Sebenarnya ada banyak bahan makanan tapi dia tidak terlalu pandai dalam hal memasak.
Jadi dia hanya mengambil roti, selai, susu kotak dan beberapa buah-buahan.
"Evelyne lapar tidak ya?"
Azelvin berjalan kearah kamar Evelyne dan kemudian mengetuk pintu Evelyne.
Karena tidak ada jawaban akhirnya Azelvin mencoba membuka pintu kamar Evelyne ternyata pintunya tidak dikunci. Azelvin menghidupkan lampu karena kamar Evelyne gelap.
"Eeh... Dimana Evelyne, apa di kamar mandi?"
"Aaah... Aku lupa, Evelyne pergi... Pergi kemana dia sampai selarut ini"
Azelvin menelepon ponsel Evelyne namun panggilan teleponnya ditolak hingga berkali-kali.
Dan sampai akhirnya Azelvin menelepon lagi tetapi handphone Evelyne tidak aktif... Ini mencurigakan.
Azelvin bergegas mencari keberadaan Evelyne, bagaimanapun caranya malam ini dia harus segera menemukan Evelyne dalam keadaan baik-baik saja.
Ini salahnya karena terlalu mengantuk tadi... Karena selama perjalanan dalam pesawat Azelvin tidak tidur karena Azelvin sibuk memperhatikan Evelyne.
*****
Evelyne mengerjapkan matanya berkali-kali... Dia merasa kepalanya berdenyut-denyut.
"Lepasin... Lepasin gue"
"Eeuumm... Mau dilepasin ya... Kasian"
"Lepasin gue"
"Gue bakal lepasin Lo, kalau lo jawab pertanyaan gue" ucap orang tersebut tetapi Evelyne hanya diam, dia tidak berani menatap wajah orang yang dihadapannya ini, yang jaraknya sangat dekat.
"Dimana anak kita sekarang?" Tanya orang tersebut dan Evelyne hanya diam. Karena dia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran orang dihadapannya ini.
"Dimana anak kita... Jawab gue, atau gue akan melakukan hal yang nggak akan pernah lo lupain my dear"
"Gue nggak tahu apa yang lo maksud Ver"
"Jangan pura-pura bego" Evelyne hanya diam karena dia merasa kepalanya semakin pusing.
"Lo pikir karena gue nggak ada disekitar Lo, Lo bisa bohongi gue... Gue tahu, anak yang beberapa hari lalu di mall bersamamu dan Azelvin itu siapa? Anak Azelvin? Atau anak itu memang anakku"
"Aku tidak mengerti..." Ucap Evelyne orang tersebut memegang leher Evelyne dengan satu tangan.
"Hah... Gue merasa dibodohi sekarang... Anak yang di mall bersama kalian, di taman, Azelvin menggendongnya dan Lo peluk Azelvin... SIAPA ANAK ITU"
"Dia... Dia anak Erlan"
"Erlan siapa lagi? Priamu? Aaah... Lo murahan" kenapa Alvero mengatakan itu, bukankah dia mengenal Erland.
"Alvero Lo nggak berhak mengatakan itu" Evelyne yang sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.
"Aaa... Kasihannya... My dear don't cry, jangan menangis karena itu bisa membuat gue bahagia.... Ahaahaa"
"Lo gila"
"Apa lo bilang HAH... APA LO BILANG"
"LO GILA, LO SAKIT JIWA" ujar Evelyne tepat didepan muka Alvero karena jarak mereka sangat dekat.
Alvero menjambak rambut Evelyne yang membuat Evelyne meringis kesakitan.
"Coba ulangi lagi my dear" ujarq Alvero sok lembut.
Evelyne hanya diam tenaganya sudah tidak cukup kuat untuk berbicara... Yang dia bisa lakukan hanya menanggis dan meringis kesakitan.
"Erlan siapa dia?"
"SIAPA ERLAN"
"SIAPA ERLAN? HAH... BANYAK SEKALI PRIAMU ... AKU TIDAK MENYANGKA KAU SEMURAHAN ITU"
karena Evelyne tidak kunjung menjawab apapun pertanyaan dari Alvero. Sehingga kemarahan Alvero memuncak.
"Siapa Erlan?" Tanya Alvero sembari mencengkram kuat tangannya hingga tangannya terluka.
"Er... Erlan sahabatmu" jawab Evelyne lemah.
"Erlan Albert... Dia juga lelaki mu?" Tanya Alvero dan Evelyne menggelengkan kepalanya.
"Ma... Mawar dia anak Violet dan Er... Erlan" Evelyne sangat lirih namun Alvero masih bisa mendengarnya.
"Kau pikir aku percaya... Hei jangan kau pikir kau bisa membodohi ku" bentak Alvero yang sudah tidak dihiraukan Evelyne lagi, karena kepalanya benar-benar pusing ditambah rasa sakit karena jambakan dari Alvero
"My dear... My dear, gue perhatiin lo makin cantik aja... Wow" Alvero sembari melihat wajah Evelyne intens.
"Eeem... My dear" Alvero membelai rambut Evelyne. Alvero mendekatkan wajahnya ke wajah Evelyne, namun Evelyne tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena dia kembali tidak sadarkan diri.
Pukul dua dini hari Evelyne mengerjapkan matanya. Dia melihat Alvero tidur disampingnya. Karena dia melihat tangan dan kakinya sudah tidak terikat, dia beranjak dengan perlahan agar tidak membangunkan Alvero. Dia berusaha membuka pintu namun ternyata pintu itu terkunci.
"Mencari ini" ucap seseorang dari belakang menyodorkan sebuah kunci. Evelyne menoleh kebelakang seperti dugaan itu adalah Alvero. Alvero menarik tangannya membawanya ke... Kamar mandi? Untuk apa?
"Alvero lepasin gue" ujar Evelyne dengan tatapan memohon namun tidak dihiraukan oleh Alvero.
Alvero menyalakan shower tepat dimuka Evelyne, sehingga Evelyne tidak bisa bernafas.
"Aaah...hah ... Al.. Vero"
"My dear, seharusnya Lo nggak perlu berniat kabur, lihatlah apa yang lo dapet"
"Lo dengerin gue baik-baik... My dear jangan coba kabur oke, turuti permintaanku dan kau akan mendapatkan kebahagiaanmu" Alvero mengigit leher Evelyne.
"My dear" Alvero membelai lembut wajah Evelyne dan mengecup dagu Evelyne.
Kini Evelyne bersama Alvero duduk ditempat makan, namun sedari tadi Evelyne tidak berniat menyantap hidangan didepannya itu, jangankan memakan untuk melihatnya saja Evelyne malas.
Alvero menyodorkan suapan untuk Evelyne, namun Evelyne menepisnya hingga sendok makan itu terjatuh dilantai. Alvero menyodorkan sup disebuah mangkuk kecil yang sudah dia tiupkan namun Evelyne menepisnya lagi hingga membuat sup itu tumpah dilantai.
Alvero menyodorkan gelas yang berisikan air namun Evelyne lagi-lagi menepisnya menyebabkan gelas itu pecah dilantai. Alvero menggebrak meja...
"Kau menguji kesabaranku.. my dear" Alvero menggendong Evelyne lalu menyeburkannya ke kolam renang.
Dan Alvero ikut menyeburkan dirinya ke kolam. Alvero menekan leher Evelyne hingga kepala Evelyne berada didalam air.
Dia menarik rambut Evelyne hingga kepalanya sudah berada dipermukaan dan Evelyne menghirup udara sembari terengah-engah.
"Tatap mataku MY DEAR" Alvero yang membuat Evelyne menatap matanya tajam.
"Aku tidak peduli jika harus mati disini bersamamu" Alvero memeluknya erat dan membawanya ke dasar kolam, nafas keduanya sudah tercekat.
Evelyne berusaha berontak tetapi tenaga Alvero lebih kuat dibandingkan dengannya, ditambah lagi belum ada asupan yang dia dapat sejak malam tadi.
"Tuhan jika ini memang akhir hidup ku. Aku memohon padamu untuk memberinya kebahagiaan sepanjang hidupnya" ucap Evelyne dalam hati bukan untuk Alvero tentunya, entah untuk siapa.
*****
Ukhuuk ukhuk
Air berhasil keluar dari mulut Evelyne. Orang yang pertama Evelyne lihat adalah Azelvin, dia senang...
"Evelyne... Lo gakpapa?" Tanya Azelvin
Evelyne tidak menjawabnya tanpa ba-bi-bu... Azelvin segera menggendongnya menuju rumah sakit terdekat.
"Azelvin" panggil Evelyne lirih
"Bodoh... Kau bodoh" ucap Azelvin
"Azelvin... Tetaplah disini" Evelyne bangkit dari tidurnya dan kini dia duduk sembari memeluk Azelvin erat.
Evelyne mulai terisak, ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Azelvin. Azelvin membelai rambut Evelyne lembut.
"Ada yang sakit?" Tanya Azelvin dan Evelyne mengangguk.
"Semuanya" ucap Evelyne lirih, dia tidak bohong memang Evelyne merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Si brengsek itu, aku tidak akan membiarkannya hidup" ujar Azelvin dan Evelyne menggelengkan kepalanya menatap Azelvin lekat-lekat.
"Jangan bahayakan dirimu"
"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, khawatirkan dirimu" ucap Azelvin.
"Tetaplah disini, ada beberapa orang didepan sana yang akan mengawasi mu, urusanku dengannya belum selesai" Azelvin hendak melepaskan pelukan Evelyne.
"Azelvin aku takut... Tetaplah disini, aku mohon" Evelyne mengeratkan pelukannya.
"Tidurlah" pinta Azelvin namun Evelyne menggelengkan kepalanya.
"Tidurlah aku akan tetap disini" ucap Azelvin
"Tidurlah disampingku" pinta Evelyne...
Kini mereka harus berdempetan di ranjang yang sempit, Evelyne harus memeluk Azelvin agar dirinya tidak terjatuh, Evelyne menyesal meminta hal itu.