
Edzard POV
"Udah berapa hari coba kita nggak ketemu?" Tanyaku dan kemudian melahap makanan yang berada dihadapanku.
Aku kini sedang makan siang bersama Evelyne disalah satu kafe dekat kantorku.
"Udah hampir tiga Minggu tau nggak? Yang sibuk siapa coba?"
"Maaf ya... Ada masalah di kantor yang bisa buat gue gulung tikar tau ga? Untung aja Azelvin kasih suntikan dana"
"Hah? Serius Azelvin kasih suntikan dana buat perusahaan Lo? Kok gue nggak tau ya?" Tanya Evelyne terlihat terkejut.
"Katanya sekretaris tapi nggak tahu... Sekretaris apa kaya gitu" sindirku
"Gue tanya serius ini... Beneran apa yang lo bilang tadi"
"Iya... Emang kenapa? Azelvin kan masih keluarga gue, jadi sah sah aja dong kalau dia bantu gue"
"Gue tau, tapi kalian kan..."
"Lo sih kudet, gue sama Azelvin udah baikan kok... Ya meskipun nggak sedeket kaya waktu kecil seenggaknya gue sama Azelvin udah nggak saling membenci"
"Masa sih? Kok Azelvin nggak cerita apapun ke gue"
"Heei... Kamu tidak sepenting itu nona" ucap ku yang membuat raut wajah Evelyne, eemm apa aku boleh menyimpulkan kalau Evelyne ada rasa terhadap Azelvin?
"Ooh iya juga ya, dan Lo juga kenapa nggak cerita ke gue, gue nggak penting?" Tanya Evelyne.
Naah kan, ini nih kebiasaan cewek, selalu saja membalikan pertanyaan yang membuat cowok tuh harus berpikir keras buat jawab dan kalau jawabannya nggak sesuai keinginan cewek pasti deeh...
Satu kata yang bisa mendeskripsikan itu... MAMPUS.
"Bukannya Lo nggak penting buat gue, inikan masalah keluarga jadi ya... kalau Lo pengen tau Lo harus jadi bagian dari keluarga gue" ucapku yang membuatnya terdiam.
Aaah syukurlah aku bisa menjawab dengan tepat.
"Seenggaknya lo cerita kek sama gue, biasanya juga Lo cerita kalau ada apa-apa" ucapnya kesal.
Ternyata ekspektasiku tidak tepat.
"Maaf, kan udah gue bilang lagi ada masalah kantor"
"Seenggaknya lo cerita sama gue, masa luangngin waktu bentar aja nggak sempet"
"Inikan gue udah cerita... Sayang"
"Ceritain dong gimana ceritanya Lo bisa baikan sama Azelvin"
"Lo nggak seneng kalau gue baikan sama dia?"
"Ya seneng lah, gue penasaran aja"
"Jadi tuh, setelah gue baca surat dari Azelvin"
"Isi suratnya apaan?"
"Kepo banget, gue kasih pilihan deh, Lo mau gue kasih tau isi suratnya atau gue baikan sama dia"
"Nggak bisa dua-duanya gitu?"
"Nggak, pilih satu atau nggak sama sekali"
"Ceritain gimana Lo bisa baikan sama Azelvin"
"Oke... Jadi, setelah gue baca surat dari Azelvin, hari berikutnya dia datang ke rumah gue, dan setelah itu lama-lama kita baikan"
"Diih... Kok cuma gitu ceritanya, itu sama aja lo nyeritain kehidupan Lo, cuma Lo lahir tumbuh terus mati, ceritain detailnya dong"
"Kepo, udah dimakan itu makanannya"
"Iissh.. bikin kesel aja" ucap Evelyne dengan wajah juteknya.
Edzard POV end
Flashback
Hari ini Azelvin tiba-tiba saja ingin sekali datang ke rumah Edzard, dan Azelvin melakukan itu, sebetulnya dia ragu untuk kesana, dia di mobil cukup lama dan memperhatikan rumah Edzard, tapi ada seseorang yang menegurnya.
"Mas, masnya ngapain dari tadi ngintai rumah itu, mau maling ya?" Tanya tetangga h
Hah maling?
Apakah orang itu tidak melihat mobil Azelvin, yang jelas-jelas sudah terpampang nyata.
"Eeh... Ibu jangan sembarangan ya, enak aja kalau ngomong, nggak lihat mobil saya" ucap Azelvin angkuh.
" Atau jangan-jangan kamu ada niat jahat sama pemilik rumah ini? Kamu mau santet penghuni rumah ini kan? Atau jangan-jangan kamu mau bunuh, iya... Mungkin kamu pembunuh berantai kaya di film yang kemarin saya tonton... Iyakan? Ngaku aja deh"
"Ibu... Ibu denger ya, ibu itu kebanyakan nonton film, saya ini saudara dari pemilik rumah ini"
"Kalau saudaranya kenapa nggak masuk?"
"Ya... Ya karena saya ragu orangnya di rumah atau tidak"
"Oalah gitu, masnya nggak bilang dari tadi, saya tadi lihat mobilnya mas Edzard baru aja masuk, saya panggilin ya"
"Eeh nggak usah, biar saya sendiri aja"
"Kalau gitu saya pergi ya" ucap ibu itu dan Azelvin mengangguk setelah ibu itu pergi Azelvin memutar bola matanya malas.
"Yang nyuruh Lo kesini siapa coba? Pergi Lo pergi, ikut campur urusan orang... Issh dasar emak-emak" gumam Azelvin.
Azelvin menekan bel rumah Edzard, apa Edzard tidak memiliki sekuriti di rumahnya?
"Mas ini temannya Den Edzard? Saya panggil Den Edzard dulu, sialahkan duduk" ucap asisten rumah tangga Edzard.
Edzard datang dan duduk di hadapan Azelvin. Sebetulnya Edzard cukup terkejut dengan kehadiran Azelvin kerumahnya, tapi siapa tahu Azelvin ada urusan dengan orangtuanya.
"Ada apa Lo kesini"
"Gue nggak ada... Nggak ada maksud apapun, eem. Maksud gue, gue cuma nggak sengaja lewat"
"Ooh, Lo mampir kesini?"
"Ya gitu deh"
Suasana sangat canggung sekarang tidak ada yang membuka mulut tidak ada suara lain yang terdengar selain bunyi jarum jam.
"Lo kalau nggak ada perlu apa-apa, Lo pulang aja soalnya gue ada urusan" ucap Edzard
"Eeh ini gue ada buah"
"Buat gue?"
"Hemb, lebih tepatnya buat om Ravindra dan Tante Bianca"
"Lo cuma lewat tapi sempet beli buah?"
"Sebenarnya... Sebenarnya itu buah buat gue makan siang"
"Terus? Kenapa Lo kasih ke gue?"
Damn
"Ahaahaa... Buah diperkebunan gue banyak, jadi itu buat Lo"
"Ciih sombong" gumam Edzard
"APA LO BILANG?"
"Nggak, Lo salah denger kali"
"Lo kira gue tuli, jelas-jelas Lo tadi ngatain gue sombong"
"Ya emang kaya gitukan faktanya"
"Waah... Kurang ajar Lo"
"Lo kalau kesini cuma mau ribut sama gue mending lo pulang"
"Ini gue juga mau pulang, siapa juga yang mau lama-lama di rumah Lo yang biasa aja ini" ucap Azelvin dan beranjak namun saat ia hendak melangkahkan kakinya, Ravindra dan Bianca datang, mereka baru selesai ke supermarket.
"Eeh ada Azelvin"
"Iya Tante"
"Tapi ini udah mau pulang kok"
"Looh kenapa buru-buru?" Tanya Ravindra
"Nggak kenapa-napa sih om, cuma udah diusir aja" ucap Azelvin
"Edzard" ucap Bianca
"Apa?" Tanya Edzard dengan muka polosnya.
"Kamu ini keterlaluan banget sih Ed, Azelvin itu saudara kamu" ucap Ravindra
"Yaudah... Azelvin makan siang disini dulu ya" ucap Bianca dan Azelvin mengangguk.
Di meja makan mereka makan dengan berbincang-bincang, Ravindra dan Bianca bertanya banyak hal pada Azelvin jadi tidak membuat suasana canggung dan sesekali mereka juga bercanda membuat Azelvin terkekeh geli, sementara itu Edzard makan dengan wajah masamnya.
"Tante tinggal dulu ya vin, harus banyak istirahat" ucap Bianca dan Ravindra juga pergi mengantar Bianca ke kamar.
Tentang kehamilan Bianca, Azelvin sudah tahu karena tadi saat berbincang-bincang, Ravindra sempat memberitahukan hal tersebut.
"Iya Tante, istirahat yang teratur dan jaga kesehatan Tante" ucap Azelvin
"Ciih caper" gumam Edzard
"Lo nggak denger, caper, cari muka lo"
"Diih ngapain gue cari muka, muka gue udah ganteng gini"
"Terserah, males gue nanggepin orang stres kaya Lo"
"Enak aja Lo ngatain gue stres, gue ini sehat lahir batin, jasmani rohani"
"Bodoamat, dan apa maksud lo fitnah-fitnah gue, pake bilang gue ngusir Lo lagi" ucap Edzard kesal.
"Lah kan gue nggak bilang Lo ngusir gue, gue cuma bilang diusir"
"Ya... Tapi bunda nyangka kalau gue yang ngusir Lo"
"Ya bodoamat"
"Sialan Lo vin, cepet-cepet pergi deh Lo dari rumah gue"
"Nggak bisa, gue dateng kesini buat bertamu sebagai tamunya Om Ravindra, Om gue jadi lo nggak usah sok sok ngusir gue" ucap Azelvin
Edzard sudah muak berdebat dengan Azelvin sehingga dia memutuskan pergi ke kamarnya.
"Looh... Azelvin, Edzard mana? Kok kamu sendirian disini, kamu ke kamarnya Edzard gih"
"Iya Om"
"Oh ya... Nanti biar om suruh bi Mira ngater cemilan" ucap Ravindra dan Azelvin mengangguk, Azelvin masuk ke kamar Edzard yang kebetulan pintunya tidak tertutup, Edzard sibuk bermain game pada ponselnya sehingga tidak menyadari kehadiran Azelvin. Azelvin mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru kamar Edzard. Kamar Edzard bernuansa putih dan menurut Azelvin selera Edzard tidak berubah dari kecil.
"Eeh... Sejak kapan Lo disini?" Tanya Edzard yang melihat Azelvin duduk manis di sofa yang ada dikamarnya.
"Sejak Lo marah-marah gak jelas sama ponsel Lo itu"
"Lo ngapain kesini coba?"
"Suka-suka gue"
"Suka-suka Lo pikir ini kamar punya lo, bangsul" ucap Edzard melempar bantal yang tepat mengenai lengan Azelvin. Entah kenapa Edzard langsung panik dan menghampiri Azelvin.
"Sakit nggak?" Tanya Edzard sembari mengusap bekas luka dilengan Azelvin, bekas luka bukan berarti sakit bukan?
Bekas luka itu sudah lama Azelvin dapat, bekas luka itu karena Edzard melukai lengannya sewaktu kecil dulu dan membuat Edzard menjauhi Azelvin. Azelvin benci bekas luka itu.
Edzard selalu saja beranggapan kalau lengan Azelvin masih sakit karena perbuatannya sewaktu kecil. Bahkan jika Edzard dan Azelvin bertengkar, Edzard tidak pernah memukul lengan Azelvin, menyentuh saja tidak pernah.
Sebenarnya yang membuat Edzard menjauhi Azelvin bukan karena Azelvin menjadi cucu kesayangan eyang. Edzard bukan tipe-tipe orang yang ingin menjadi kesayangan.
Tapi luka itu yang membuat Edzard menjauhi Azelvin, Edzard tidak ingin melukai Azelvin lagi jadi setelah kejadian itu Edzard benar-benar menjauh dari Azelvin.
Dan Azelvin juga tahu hal itu, Azelvin tahu kalau Edzard menjauhinya karena tidak ingin menyakitinya, tapi kenapa Azelvin tidak pernah membujuk Edzard untuk tidak terlalu memikirkan itu? Dan Azelvin malah bersikap seolah-olah bodoamat dengan hal itu.
Sebetulnya Azelvin ingin membujuk Edzard, Azelvin bahkan ingin meminta maaf pada Edzard, tapi tentu saja bukan Azelvin jika tidak memiliki ego yang tinggi.
Azelvin yakin Edzard adalah kakaknya, meskipun hanya kakak sepupu, tapi Azelvin yakin rasa sayang Edzard pada dirinya seperti rasa sayang kakak ke adik kandungnya. Bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan kakaknya kembali.
"Kalian? Kalian berdua ngapain? Kalian homo" ucap seseorang yang datang dengan membawa cemilan dan minuman.
Tentu saja ART Edzard berpikir demikian, posisi mereka sangat dekat dengan Edzard yang terus mengusap dan sesekali meniup lengan Azelvin, sementara Azelvin yang memperhatikan Edzard lekat-lekat. Itu memang hal wajar jika terjadi dengan cewek dan cewek, tapi mereka cowok dan itu membuat mereka terlihat seperti penyuka sesama jenis.
"Nggak kok bi, ini tadi lengan Azelvin nggak sengaja luka"
"Ooh gitu, mau Bi Mira ambilkan obat untuk..."
"Tidak perlu, saya tidak apa-apa... Kan cowok" ucap Azelvin yang membuat Edzard berdecih najis.
Azelvin terus berusaha agar hubungannya dengan Edzard bisa seperti dulu lagi, dan kebetulan perusahaan Edzard ada kendala sehingga Azelvin bisa membantunya, mungkin Tuhan sedang berbaik hati pada Azelvin dan Tuhan menghendaki niat baik Azelvin.
Flashback end
.
.
.
.
Alsh galaxy company
Evelyne kembali ke kantor setelah makan siang dengan hati yang dongkol.
Bagaimana tidak? Jadi selama ini mereka sudah berbaikan tetapi kenapa tidak ada salah satupun dari mereka yang mengatakan hal itu padanya?
Menjengkelkan
Evelyne memasuki ruangannya.
"Habis darimana kau?" Tanya Azelvin
"Makan siang"
"Diluar kantor?"
"Ya"
"Ada apa dengan nada bicaramu? Tidak sopan sekali"
"Biarkan saja, kau sudah tidak menganggap ku sebagai sekretaris, aku sakit hati karena itu" ucap Evelyne yang membuat Azelvin bingung.
"Ada apa dengannya?" Ucap Azelvin dalam hati.
"Berhentilah mengoceh tidak jelas, kerjakan pekerjaanmu, dan setelah itu cek lagi laporan yang kemarin kau serahkan, ku rasa ada yang salah dengan itu"
"Baik Mr. Azel yang terhormat" ucap Evelyne dan mengerjakan tugasnya dengan perasaan jengkel.
"Sir, apa anda memberikan suntikan dana untuk Zachary company?" Tanya Evelyne
"Memang kenapa, ini urusanku, jangan ikut campur"
"Saya paham Sir, tapi setidaknya beritahu saya tentang hal tersebut, bisa saja anda melakukan hal yang salah"
"Apa yang salah? Zachary company itu perusahaan milik keluargaku, dan tidak mungkin mereka melakukan hal yang seharusnya tidak terjadi... Lagi pula kau mengenal mereka dengan baik bukan?"
"Iya Sir, maafkan saya. Hanya saja..."
"Diamlah selesaikan pekerjaanmu... Ooh dan apakah kau tadi makan siang bersama Edzard?"
"Iya Sir"
"Lain kali kau harus mengajakku"
"Maaf Sir, tapi sepertinya tidak bisa"
"Kenapa tidak bisa? Aku juga teman kalian bukan? Apa karena kalian bersahabat jadi kalian hanya ingin makan dengan sahabat kalian saja?... Ciih, aku tetap ingin bergabung"
"Bukan seperti itu Sir, hanya saja..."
"Hanya saja??"
"Aah... Sudahlah, baiklah, lakukan apa yang anda senangi"
"Baiklah"
.
.
.
.
Edzard POV
Apa jika Azelvin tahu aku punya hubungan spesial dengan Evelyne, dia akan tetap ingin memperbaiki hubungan antara kami?
Kami saudara yang berselisih dalam kurun waktu yang lama hanya karena ego. Apa kami akan berselisih lagi?
Tuhan dia adikku, meskipun dia hanya sepupuku tapi aku menganggapnya seperti adik kandungku.
Apa aku jalani saja ini, dan berusaha menutupi fakta kalau aku pacarnya Evelyne, setidaknya dalam waktu dekat ini aku bisa memperbaiki semuanya.
Jika Azelvin tahu.... Aah aku akan memikirkannya setelah hal itu terjadi, aku terlalu banyak pikiran sekarang.
Evelyne ❤️
Sebaiknya kt rahasiakn
hbngn kt agar Azelvin tdk tahu,
Bkn krn ak tdk mau mengakuimu sng pcrku,
Km adlh yg trbaik untukku
Tp ak dan Azelvin baru sj berbaikan.
Ak tdk tahu bgmn reaksinya kl thu kit brpcrn.
Sebaiknya kt rahasiakn in drny,
Ak janji ini tdk akn lam.
Dan ktk wktny sdh tpt, ak akn mngtkn hal yg bnrny
Baiklah
Smg kt tdk slh mngambil lngkh