
Edzard POV
Sejak kejadian di kafe Evelyne sama sekali tidak memberikan kabar padaku, dia masih marah? Seharusnya aku yang marah? Dasar perempuan.
Apa aku harus memberikan dia pesan? Tapi kalau dia tidak membalasnya bagaimana? Gengsi dong.
Kalau aku tidak mengirim pesan hubungan kami bisa terancam punah. Apa yang harus aku lakukan?
Kenapa Evelyne tidak meminta maaf kepada ku dan kemudian aku memaafkannya dan selesai.
Aaissh apa aku harus mengirim pesan? meminta maaf? Sungguh? Kenapa tidak Evelyne saja? Dasar perempuan...
Kenapa harus para pria yang meminta maaf tidak peduli siapa yang salah?
Menjengkelkan
Evelyne Chalesthane
Evelyne
What are you doing?
You are busy?
Lo dmn?
Bisa ktm ngk?
Uuu
Sit
No
Japan
Bisa
Ngapain?
Duduk
Maksudnya.. Lo ngpain di jpn?
Ooh krjlah
Kpn plnh?
Plng*
Minggu depan
Minggu dpn?
Lo lupa?
Iy, apa?
Lusa, hr ap?
Minggu
Gk ingt ad sst di hr Minggu?
Ooh gue lbr
Bisa plng gk?
Iy gklah
Lo pkr Jepang indo dkt
Bnrn gk bis?
Gk, ad ap?
Pntng emng?
Trsrh
Iih trsrh² udh ku cewe
Hmb
Diih..
Knp cob
Pkr aj sndr
Mls
Udh gk ush
Lihatkan!
Sangat mengecewakan, kalau begini lebih baik aku tidak mengirim pesan tadi.
.
.
.
.
Evelyne POV
Setelah aku meletakkan kotak P3K pada tempat yang sebelumnya, aku berbaring sebentar di sofa. Aku mendengar notifikasi dari ponsel ku , sebenarnya aku malas untuk sekedar meraih ponselku yang tergeletak di atas meja, tapi karena aku mendapatkan notifikasi berkali-kali, ku rasa itu penting dan jika ku dengar dengar itu adalah bunyi notifikasi jika Edzard mengirimkan pesan padaku, sudah sejak SMA aku memberi nada dering khusus jika Edzard mengirim pesan atau meneleponku, itu karena ide darinya, dia juga melakukan hal yang sama.
Aku tertawa saat sudah membaca dan membalas pesan yang dia kirimkan, aku tebak pasti dia sangat kesal sekarang. Kasiansih... Tapi biarinlah, siapa suruh dia ulang tahun.
"Evelyne Lo ngapain? Ketawa sendiri, bego dasar" cibir Azelvin yang baru saja datang.
"Gak ngapa-ngapain kok" jawabku
"Bener? Kok ketawa gitu"
"Ya... Cuma chating sama Edzard" jawab ku, dan raut wajahnya berubah, kenapa? Apa aku salah berbicara?
"Oh" dia hanya ber'oh' ria.
"Besok kita pulangkan?" Tanyaku
"Emang kenapa?" Tanya Azelvin balik
"Gue nanya malah balik nanya, soalnya besok gue udah harus pulang"
"Lo takut karena Alvero, tenang semuanya udah diurus Axel"
"Mobilnya Alvero juga yang balikin Axel?" Tanyaku dan Azelvin mengangguk.
"Baik banget Axel"
"Kenapa? Lo suka sama dia?"
"Suka dia baik"
"Bukan itu yang gue maksud, aah terserah lah... Jawab dulu pertanyaan gue, kenapa pengen pulang besok?"
"Ada hal penting"
"Seberapa penting"
"Penting banget"
"Berapa persen?"
"Seratus persen"
"Emang hal penting apa sih?"
"Lusa Edzard ulang tahun"
"Penting banget Edzard dihidup Lo?"
"Iyalah"
"Seratus persen?" Tanyanya dan aku menganggukkan kepala.
"Jangan lupa ucapin selamat ulang tahun buat Edzard, dia saudara Lo" ucapku
"Ya ... Kalau nggak males" jawabnya
"Kalau gue seberapa penting?" Tanyanya yang tidak ku mengerti.
"Ha?"
"Seberapa pentingnya gue buat Lo, berapa persen?"
"Eeem... 99 % karena Lo bos gue, kalau nggak ada lo gue nggak ada uang" jawabku asal
Dia melangkahkan kakinya pergi menuju kamarnya dan aku juga melangkahkan kakiku ke kamar, besok aku harus bangun pagi.
Sebaiknya aku menutup pintu, dan ketika aku hendak menutup pintu Azelvin mencegahnya, kukira dia sudah memasuki kamarnya.
"Aku akan mendapatkan 1% ku" ucapnya dan masuk ke kamarnya.
Apa maksudnya?
Entahlah... Mungkin dia mabuk.
.
.
.
.
.
Jakarta Indonesia
Tempat ternyaman adalah rumah. Evelyne kini sudah berada di rumah dan sudah selesai membereskan barang-barangnya.
Evelyne mandi sebelum Grace datang, tadi Evelyne meminta Grace untuk datang. Tentu saja untuk membantunya menyiapkan kejutan untuk Edzard besok, semoga berjalan lancar.
Setelah selesai mandi akhirnya Grace datang.
"Jadi apa rencana Lo?" Tanya Grace
"Gue juga masih bingung sih, bantuin nyari ide dong Lo kan yang lebih berpengalaman"
"Ooh Lo baru nyadar kalau gue lebih berpengalaman"
"Ciih sombong"
"Mau dibantu nggak ini?"
"Iya-iya, jadi gimana?"
"Kita buat surprise Edzard di rumah Lo aja biar gak mengeluarkan bajet yang banyak"
"Ide bagus, gue setuju"
"Jadi kita bersihin dulu sebelum hias"
"Biar cepet gue aja yang bersihin, Lo beli yang dibuat dekorasi" saran Evelyne.
"Tenang" Grace ternyata sudah menyiapkan apa yang mereka perlukan.
"Sumpah lo niat banget, makasih Grace"
"Idih lebay deh, gue sahabat lo"
"Tetep aja, makasih ya"
"Yaudah ayo bersihin" ujar Grace. Tidak membutuhkan banyak waktu untuk mereka membersihkan ruangan yang akan mereka dekor, karena ruangan ini tidak begitu besar.
Mereka kini memompa balon.
"Vel, Lo beneran pacarnya Edzard?" Tanya Grace
"Iya, kenapa emang?"
"Lo yakin?"
"Berapa kali Lo nanya ini coba, nggak Lo nggak Edzard kenapa nggak ada yang..."
"Tunggu-tunggu, jadi Edzard ngeraguin lo?"
"Ya gitu deh"
"Naah.... Dia aja ragu apa lagi gue Vel, Lo sih kurang meyakinkan"
"Kurang meyakinkan gimana coba? Masa gue harus loncat dari gedung terus teriak gue cinta Edzard"
"Nggak gitu jugasih... Sekarang gini deh, emang Azelvin tahu Lo pacaran sama Edzard"
"Gue nggak tahu juga"
"Laah Lo nggak bilang"
"Ngapain gue bilang? Dia nggak nanya. Masa gue tiba-tiba bilang Azelvin, gue pacaranya Edzard aneh banget"
"Iya sih... Aneh juga, dia nggak pernah tanya emang?" Tanya Grace dan Evelyne menggelengkan kepalanya.
"Eeh kue ulangtahunnya enak buat apa bikin ya.."
"Vel, buat sama bikin beda?"
"Bedalah, bodo aah gue beli aja"
"Terserah. Eeh gue punya ide nih vel"
"Gimana-gimana?"
"Nanti malem Lo ke rumah Edzard kasih surprise buat dia, jangan lupa beli kue juga"
"Eeh cacing balado, kalau gue kasih surprise dirumahnya, ini semua buat apa?"
"Heei sembarangan aja ganti-ganti nama cecan, udahdeh ikut aja rencana gue"
"Awas aja ya... Kalau sampai rencana lo kali ini bikin gue gila"
"Dijamin rencana gue kali ini nggak bikin lo rugi"
"Iya, udah Lo percaya sama Grace Adelician"
"Yaudah gimana rencananya"
Grace membisikkan rencananya kepada Evelyne, Evelyne rasa itu bukan ide yang buruk, apa salahnya mencoba?
.
.
.
.
.
Alsh galaxy company
Sepulangnya Grace dari rumah Evelyne, Evelyne segera berangkat menuju kantor menggunakan sepeda motornya.
Hari ini dia berangkat ke kantor di sore hari, karena Azelvin memberikan waktu untuk Evelyne beristirahat.
"Jam segini baru berangkat?" Tanya Azelvin yang sudah duduk ditempatnya.
"Tadi pagi Mr. Azel bilang kalau saya jam kerjanya dimulai pukul 16 tepat, ini saya sampai di kantor sebelum..."
"Stop, emang saya pernah ngomong gitu, kapan?"
"Di bandara tadi Mr. Azel ngomong gitu"
"Kau ada bukti" ucap Azelvin
Damn
"Tidak"
"Dengar, karena kau terlambat, segera selesaikan pekerjaanmu dan ada tugas tambahan untukmu hari ini"
"Tapi hari ini saya..."
"Aku benar-benar tidak ingin tahu masalahmu"
"Sir saya bisa dan saya mau lembur lusa sampai seminggu kedepan tapi hari ini saya mohon, hari ini saya benar-benar tidak bisa" ucap Evelyne
"Segitu pentingnya Edzard buat lo" ucap Azelvin dalam hati.
"Semakin kau buang buang waktu, semakin banyak pekerjaanmu"
"Sir saya mohon, untuk kali ini saja, saya harus pulang lebih awal"
"Tidak, kau tahu arti tidak"
Akhirnya Evelyne hanya bisa pasrah dan duduk ditempatnya.
"Azelvin, Edzard itu saudara Lo, kalian sepupuan kalau Lo nggak mau ngucapin selamat ulangtahun ke Edzard seenggaknya lo izinin gue buat.." ucapan Evelyne terpotong.
"Lo peduli banget sama Edzard, emang lo siapanya Edzard?"
"Edzard penting buat gue"
"Gue nggak nanya itu, gue kira lo cukup pinter buat jawab pertanyaan gue"
"Gu.... Gue, gue emang bukan siapa-siapa buat Edzard, tapi tetep aja dari SMA dia yang udah bantuin gue, gue banyak utang budi sama dia"
"Eeh... Apa hubungannya Edzard sama Budi,Lagian seberapa banyak utang lo ke Budi Budi itu"
"Maksud gue itu, Edzard itu berjasa buat gue"
"Berjasa dipikir guru apa"
"Terserah" Evelyne terlalu lelah jika harus berdebat dengan Azelvin, lebih baik dia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan pekerjaan Evelyne sudah selesai dari tadi, hanya saja Evelyne masih harus menemani Azelvin yang masih berkutat dengan komputernya sedari tadi.
"Sir apa ada yang bisa saya bantu" ujar Evelyne
"Kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?"
"Sudah, jadi apa anda butuh bantuan?"
"Tidak perlu, kau hanya perlu duduk dengan tenang"
"Tapi Sir..."
"Kau menganggu, akan semakin lama aku menyelesaikan ini" ucap Azelvin, karena tidak ada pilihan lain, Evelyne hanya diam sesekali melirik kearah Azelvin yang masih saja fokus pada layar monitor.
Karena mengantuk Evelyne tertidur. Azelvin memperhatikan wajah damai Evelyne ketika tidur, itu adalah pemandangan terindah dihidupnya.
"Andai aku bisa mendapatkan pemandangan seperti ini setiap aku membuka mataku di pagi hari" gumam Azelvin.
Evelyne tampak mengerjapkan matanya dan Azelvin kembali menatap layar komputer. Evelyne melihat kearah jam dinding. Pukul sebelas?
Ini sudah terlalu larut.
Evelyne beranjak dari duduknya setelah itu ia menghampiri Azelvin dan...
"Azelvin,jadi gue disini berjam-jam cuma buat nunggu lo main game, gue pikir lo... Sumpah gue nggak habis pikir ya..., Gue kira lo itu sibuk ngerjain pekerjaan Lo"
"Ya... Masalah gitu? Lagian ini juga termasuk dalam kategori pekerjaan"
"Pekerjaan apa?"
"Eh.. main game itu juga dibutuhkan buat merelaksasi pikiran"
"Terserah" ucap Evelyne berjalan cepat meninggalkan Azelvin. Azelvin buru-buru mematikan komputer dan mengejar Evelyne.
"Evelyne kalau Lo pergi sekarang, gue bakal potong gaji lo 50%" teriak Azelvin.
"Gue gak peduli, tunggu aja besok, surat resign gue udah ada diatas meja Lo"
"Lo apaansih, cuma kaya gini Lo mau resign?" Ucap Azelvin menghadang Evelyne yang sudah berada diatas motornya.
"Cuma? Lo bilang CUMA? Lo kelewatan Vin" Evelyne membunyikan klakson motornya dan Azelvin menyingkirkan dari hadapannya.
Tentu saja Azelvin tidak pasrah begitu saja, Azelvin mengikuti motor Evelyne yang mondar-mandir tanpa tujuan, akhirnya dia berhenti dan meminta Evelyne untuk menghentikan motornya.
"Gue tahu toko kue yang masih buka jam segini" ujar Azelvin sembari menurunkan salah satu kaca mobilnya.
"Kok dia tahu gue nyari kue?" Ucap Evelyne dalam hati. Evelyne sedari tadi mencari toko kue yang masih buka pada tengah malam seperti ini.
"Udah gausah bengong, mau gue anterin gak?" Azelvin memberikan bantuan dan Evelyne menerima bantuan darinya. Evelyne mengikuti mobil Azelvin dari belakang.
....
"Kue yang ini mbak satu, sekalian tulis happy birthday Edzard" ucap Evelyne kepada orang yang ada dihadapannya.
"Iya Mbak, harganya tambah ya Mbak... Mbaknya bisa menunggu disana"
Evelyne hanya mengangguk. Evelyne menghampiri Azelvin yang tengah duduk.
"Azelvin" panggil Evelyne yang duduk disebelahnya.
"Apa?" Tanya Azelvin. Evelyne hendak bicara namun ponselnya berdering.
"Sebentar" ujar Evelyne dan Azelvin mengangguk.
"Evelyne" ucap seseorang dari seberang sana melalui via telepon.
"Iya Bunda"
"Kamu dimana? Jadi apa enggak ini?"
"Jadi Bunda, ini Evelyne udah otw"
"Iya udah hati-hati udah malem banget ini soalnya"
"Iya Bunda"
Bianca mengakhiri teleponnya.
"Siapa?"
"Bundanya Edzard"
"Ooh... Akrab banget ya?"
"Ya gitulah, keluarga Edzard baik soalnya"
"Bener vel, gue aja iri" ucap Azelvin dalam hati.
"Oh ya Lo tadi mau ngomong apa?"
"Eem... Makasih karena udah anterin gue kesini, kalau Lo mau pulang duluan gak papa kok"
"Makasih aja nih?"
"Terus?"
"Jangan resign ya... Gue butuh Lo banget"
"Eemm, oke. Azelvin kalau Lo mau pulang, pulang duluan aja nggak papa, udah malem banget ini soalnya"
"Gue anterin Lo sampai rumahnya Edzard"
"Gak perlu, gue bisa kesana sendiri kok"
"Kalau ada apa-apa dijalan gimana, karena gue udah bikin lo pulang jam segini, kalau ada apa-apa itu jadi tangung jawab gue, dari pada gue kena masalah gara-gara lo, mending gue anterinkan?" Ucap Azelvin. Tinggal bilang saja kalau dia mengkhawatirkan Evelyne apa susahnya?.
"Ooh gitu"
"Ini mbak kuenya" ucap seseorang yang menghampiri mereka.
.
.
.
.
.
Kediaman Zachary
"Azelvin terimakasih karena udah nganterin gue sampai sini, Lo hati-hati pulangnya" ucap Evelyne dan Azelvin mengangguk.
"Eeh Evelyne udah sampai, tepat sekali kamu datang, itu tadi siapa?" Tanya Bianca
"Azelvin bunda, dia nganterin Evelyne"
"Ooh gitu, benerkan dia itu sebenernya baik. Eeh yaudah ini jamnya udah pas ayo buruan" ucap Bianca.
"Evelyne kamu kesini sendiri?" Tanya Ravindra yang terkejut dengan kehadiran Evelyne.
"Dianterin Azelvin om, tapi Azelvin udah pulang" ucap Evelyne
"Evelyne, Bunda tau kalian beberapa hari ini lagi ada masalahkan? Yaudah malam ini biar jadi momen kalian deh" ucap Bianca
"Ooh iya... Evelyne, hari ini kamu harus nginap disini udah malem banget ini soalnya" ucap Ravindra.
"Iya om... Maaf jadi ngerepotin"
"Eeh, jangan ngomong gitu dong, kamu inikan calon menantu kita, iyakan pa... Yaudah biarin mereka romantis malam ini" Bianca mengajak Ravindra untuk tidur.
Evelyne melangkahkan kakinya menuju kamar Edzard, gelap sekali...
Evelyne menghidupkan lampu kamar Edzard.
"Masa gue bangunin Edzard sih? Pules banget tidurnya, jadi nggak tega. Tapi kalau nggak gue bangunin percuma dong gue tengah malam kesini" gumam Evelyne, Evelyne meletakkan kue diatas meja nakas dan mematikan lampu kamar Edzard.
Evelyne menarik selimut Edzard dengan cepat. Edzard mengerjapkan matanya dan Evelyne bersembunyi. Namun Edzard memejamkan matanya lagi, Evelyne tidak patah semangat, dia menggelitik telapak kaki Edzard.
"Apa itu?" Ucap Edzard terbangun tapi masih ngantuk.
"Apa cuma perasaan gue ya?..." Ucap Edzard yang tidak yakin ada yang menggelitiki kakinya. Edzard menarik selimutnya, namun susah karena Evelyne juga menariknya.
"Eeh kok... Ini bukan malem Jumat kan ya?" Ucap Edzard, Evelyne terkekeh geli mendengar ucapan Evelyne.
"Eeh suara apa itu, masa mbak Kunti? Bukannya Evelyne yang dateng di hari yang spesial buat gue, masa malah Mbak Kunti yang dateng"
"Edzard... Edzard" ujar Evelyne menakut-nakuti.
"Ha... Ini gue ngigau apa mimpi sih? Mbak Kunti kenapa dateng kesini sih... Salah alamat deh kayanya, saya tuh berharap pacar saya yang datang kesini, bukan Mbak Kunti, Mbak Kunti pergi aja ya... Siapa tahu dicariin pacarnya kan" ucap Edzard dengan takut-takut.
"Masa curhat sama Mbak Kunti sih"
"Eeh... Kok kaya kenal suaranya ya" Edzard beranjak dari kasur dan melihat siapa yang berada di samping ranjangnya.
"Evelyne kok... Kok lo bisa ada disini sih?" Tanya Edzard.
"Nggak suka ya... Gue disini? Yaudah gue pulang"
"Pulang aja sana, gue masih marah sama Lo" Edzard kembali berbaring tengkurap di ranjang.
Edzard mendengar suara dari pintu yang ditarik Evelyne. Edzard bangkit dan menarik Evelyne kedalam pelukannya.
"Evelyne..." Terdengar suara Edzard yang terisak, Edzard menangis?
"Edzard lo nangis?"
"Gue pikir lo lupa Vel"
"Gue nggak akan lupa"
"Evelyne" ucap Edzard mengeratkan pelukannya.
"Eeh... Gue bawa kue, ada korek api nggak?"
"Ada kok" Edzard mengambil korek api dan dia juga menghidupkan lampu kamarnya.
Evelyne menyanyikan lagu selamat ulangtahun untuk Edzard, setelah itu Edzard nampak meminta harapan sebelum meniup lilinnya.
"Udah make a wish ?" Tanya Evelyne dan Edzard mengangguk.
"Eeh itu masih hidup apinya" ucap Evelyne terkekeh geli karena Edzard kesal harus meniup lilin berkali-kali agar apinya mati.
"Ngajak ribut ini api" kesal Edzard dan akhirnya berhasil mematikan api pada lilin lilin itu.
Edzard melihat pada jam tangannya.
"Hari ini, tepat dihari ulangtahunku pukul 00.23... aku Edzard Zachary cintanya kepada Evelyne Chalesthane Mariolin semakin bertambah" ucap Edzard menatap mata Evelyne lekat-lekat.
"Edzard Zachary hanya butuh dua waktu untuk mencintai Evelyne Chalesthane Mariolin, hanya sekarang dan selamanya" Edzard kemudian mencium bibir Evelyne lembut.