
Jakarta Indonesia
Hari ini Evelyne berangkat lebih siang dari biasanya, entah apa yang sedang merasuki Azelvin, yang jelas Evelyne senang karena Azelvin memintanya untuk berangkat setelah jam makan siang. Jadi dia menggunakan waktu luang itu untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Namun tidak lama kemudian handphonenya berdering dan Azelvinlah ternyata yang menelponnya.
"Iya halo"
"Evelyne datang ke kantor sekarang"
"Sekarang? Bukannya kemarin Mr. Azel bilang kalau jam kerja saya hari ini dimulai setelah jam makan siang"
"Saya sudah ubah jam kerja kamu"
"Nggak bisa gitu dong Sir, saya ini capek pake banget. Terserah nanti Mr. Azel mau ngomelin saya, saya nggak perduli. Daaah" Evelyne mematikan sambungan telepon secara sepihak.
"Rese banget jadi atasan, sabar Evelyne, sekarang gue ngapain ya? Tidur lagi? Nggak bisalah udah terlanjur bangun, dasar Azelvin sialan. Gue telfon mama aja deh"
"Halo mamaaaaa"
"Annyeong"
"Mentang mentang udah jadi warga negara Korea disapa halo jawabnya annyeong, Ma gimana kabar mama,papa sama Zidan"
"Bisa dibilang baik, bisa juga enggak"
"Loooh, ada apa emang?"
"Mama tuh kangen banget sama putri mama yang cantik"
"Diiih mama bisa aja, kondisi Zidan gimana ma?"
"Zidan? Dia baik-baik aja kok, kata dokter sih kondisinya membaik akhir-akhir ini, eeeh kamu kapan ke Korea, mama papa sama Zidan kangen banget sama kamu"
"Kapan ya? Kalau hari libur deh aku kesana, soalnya CEO aku udah bukan Jack lagi, jadi agak gimana gitu kalau minta cuti"
"Bener ya!! Hari libur harus kesini, kesini jangan sendiri, mama nggak dikenalin sama calon mantu niih??"
"Iya, eeeh calon menantu siapa coba?"
"Edzard, hubungan kalian gimana?"
"Gimana? Ya gitulah, aku sama Edzard itu cuma temenan, akhir-akhir ini Edzard sibuk dan aku juga sibuk, jadi ya gitu-gitu aja sih, nggak ada yang gimana-gimana"
"Kalian itu, kerja mulu, nikah kapan? Pokoknya liburan kamu kesini ngajak Edzard"
"Yaa nggak bisa gitulah, Edzard sama akukan belum tentu liburnya dihari yang sama, tapi aku usahain deeh"
"Gitu dong, eeh jangan lupa bawain kebaya yang mama udah kirim gambarnya ya"
"Iya udah aku beli, eeeh papa sama Zidan mau dibeliin apa?"
"Apa ya??? Eem beliin papa minyak wangi aja, minyak wangi yang kaya biasanya, soalnya kalau di Korea harganya mahal"
"Oke-oke siap ma, kalau gitu udah dulu ya, pulang kerja aku telfon lagi"
"Kamu itu jangan sering-sering telfon mama, bukannya mama nggak mau dapat telfon dari kamu, cuma kalau kamu telfon mama terus, kamu istirahatnya kapan?"
"Iiih cuma masalah sepele, lagian aku telfonnan sambil tiduran kan bisa"
"Iya deh, pokoknya jangan lupa istirahat,makan yang teratur, dan jaga kesehatan ya!! Kalau ada apa-apa langsung hubungi mama atau papa, eeh mama ajadeh kalau papa lagi kerja"
"Siap bos, oke daaah mama, good bye"
"Good bye"
Alsh galaxy company
Evelyne berangkat sebelum jam makan siang dan dia juga sempat membuat makanan untuk para teman kantornya dan Azelvin juga tentunya.
"Eros Aidan"
"Tumben lo berangkat siang hari, ada apa emang?" Tanya Eros
"Nggak tau"
"Laah?" Ucap Aidan dan Eros
"Mr. Azel yang nyuruh ya gue ngikut ajalah, eeh iya gue tadi sempet masak niih buat kalian, belum makan siang kan?"
"Tau aja lo vel, kalau kita laper" ucap Aidan menerima makanan yang dibuatkan Evelyne itu.
"Gue makan ya" ujar Eros.
"Eeh belum jam makan siang Bambang"
"Yaudah jangan lupa dimakan ya, gue langsung ke ruangan gue, good bye" Evelyne melambaikan tangan dan dibalas lambaian tangan oleh keduanya.
...
"Looh kalian kok ada disini?" Tanya Evelyne
"Ruangan kita dipindah disini Mbak" ucap perempuan yang duduk di kursi miliknya.
"Laaah terus ruangan gue dimana?"
"Kita juga kurang tau Mbak"
"Ooh gitu, yaudah deh"
...
"Mr. Azel"
"Kamu udah datang, eeem selamat"
"Selamat?"
"Kamu mendapat ruangan baru sekarang, kamu satu ruangan dengan saya, jadi kalau kamu ada perlu sama saya, nggak perlu jalan jauh"
"Jarak ruangan saya sama Mr. Azel nggak jauh kok, jadi saya rasa tidak perlu......."
"Sssuuuuttts... Mending kamu duduk ditempat kamu sekarang, lagipula kalau kamu duduk disana kamu bisa lihat saya dengan jelas"
"Hah?" Evelyne akhirnya mengalah dan duduk.
Baru saja Evelyne duduk dan hendak menghidupkan komputernya tetapi Azelvin berbicara.
"Sebenarnya saya pindahkan ruangan kamu biar kamu fokus kerja"
"Maksudnya? saya selama ini kalau kerja nggak fokus gitu?"
"Ini kamu sendiri loh yang bilang, bukan saya. Kalau kamu tetap berada di ruangan kamu yang sebelumnya, kamu akan sering menemui orang yang kamu bilang paling tampan di Alsh galaxy company"
"Eros?"
"Ya siapalah itu, nggak penting. Dan kamu serius bilang kaya gitu? Bukannya saya yang paling tampan di Alsh galaxy company"
"Iya Mr. Azel maaf" ucap Evelyne dan fokus pada layar komputer dia tidak ingin meladeni pembicaraan Azelvin yang sama sekali tidak bermanfaat dan tidak penting menurutnya.
Handphone Evelyne berdering.
"Mama? Kenapa mama nelfon, padahal mama pernah bilang nggak akan nelfon aku katanya takut ganggu, apa ada hal penting ya?" Ucap Evelyne dalam hati. Memang benar Caroline tidak pernah menelepon Evelyne karena Caroline tidak ingin mengganggu anaknya yang sedang bekerja itu.
"Mr. Azel saya izin me...."
"Tidak, saya tidak mengizinkan"
"Tapi Mr. Azel ini penting"
"Apa lebih penting dari pekerjaan kamu?"
"Ini ma.."
"Tidak saya bilang tidak ya tidak"
"Mama saya yang menelepon"
"Mertua gue ternyata, yaudah gapapalah daripada nggak dikasih restu" ucap Azelvin dalam hati
"Ya sudah kalau begitu, tapi kamu tetap disini saja" ucap Azelvin dan Evelyne mengangguk sebagai jawaban.
"Halo ma"
"Evelyne, ini papa"
"Ohh papa, ada apa?"
"Zidan"
"Zidan? Zidan kenapa?"
"Zidan udah dipangkuan Tuhan"
"Maksudnya?"
"Zidan udah nggak ada, dia meninggal"
"Hah" Evelyne terkejut dan dia menjatuhkan ponselnya, rasanya seperti ribuan jarum menusuk tubuhnya, hatinya sesak sekali sehingga refleks dia memegang dadanya. Bukankah tadi mamanya bilang kalau kondisi Zidan membaik akhir-akhir ini, tapi kenapa bisa seperti ini???
Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu memang.
"Evelyne are you okey?" Tanya Azelvin dan mendekati Evelyne, dan Evelyne menggelengkan kepalanya, yang menandakan bahwa ia tidak baik-baik saja.
"Sir, saya harus pergi sekarang"
"Kemana?"
"Korea"
"Hah? Untuk apa?"
"Ada hal penting, jadi saya akan pulang sekarang"
"Saya tidak mengizinkan, kecuali kalau saya ikut"
"Mr. Azel, sebaiknya tidak perlu untuk...."
"Saya tidak mau tahu, saya ikut atau kamu tidak pergi"
"Oke terserah"
"Apa harus sekarang?"
"Ya"
"Kalau begitu kita harus cepat" ucap Azelvin dan kemudian mereka berlari untuk segera ke bandar udara, diperjalanan Evelyne sempat memesan pesawat terbang dan menyiapkan segala keperluan, dan tidak lupa juga Azelvin meminta seseorang untuk menyiapkan paspor dan hal lain yang harus dipersiapkan.
Seoul Korea Selatan
Evelyne dan Azelvin telah menginjak kakinya setelah hampir 10 jam perjalanan.
Evelyne dan Azelvin langsung menuju ke pemakaman, karena Caroline sudah share lokasinya.
Terlihat gerombolan orang yang sedang berada di pemakaman, Evelyne berlari kesana dan diikuti oleh Azelvin.
"Evelyne" panggil Mario, Evelyne segera memeluk papanya itu dan mamanya juga iku memeluknya, Evelyne tidak bisa membendung air matanya lagi, dia menangis meluapkan kesedihannya.
Setelah pemakaman selesai, mereka menuju apartemen orang tua Evelyne, Azelvin juga ikut karena Azelvin mengatakan pada Evelyne kalau dia sudah menjual apartemennya yang ada di Seoul padahal Azelvin berbohong, sebenarnya Evelyne tidak mempercayainya tetapi Mario mengizinkan Azelvin untuk tinggal di apartemennya, jadi apa boleh buat.
Evelyne di baringkan di sofa karena dia tidak sadarkan diri. Kondisi tubuhnya memang seperti itu, jika Evelyne terlalu takut atau menanggis berlebihan maka dia akan pingsan.
Azelvin dan Mario duduk di sofa yang berada tepat di depan Evelyne, sementara Caroline sedang membuat minum untuk mereka.
"Evelyne, dia anak yang luar biasa" ucap Mario dan membuat Azelvin menoleh dan mendengarkan Mario.
"Evelyne dari kecil selalu dikesampingkan oleh ibunya. Zidan, Zidan itu anakku tapi dia bukan adik kandung Evelyne"ucapan Mario terhenti. "Aku orang bodoh, Zidan itu bukan anakku dengan Caroline, tetapi Caroline sudah menerima Zidan seperti anak kandungnya sendiri. Caroline dia tidak ingin jika Zidan merasa dibedakan, jadi Caroline sangat menyayangi Zidan agar Zidan tidak merasa seperti anak tiri, tapi Caroline dia tidak sadar kalau dia telah memberikan semua perhatiannya kepada anak tirinya itu hingga mengabaikan Evelyne.
Evelyne pernah bertanya padaku, apa dia anak yang nakal? Kenapa mama nya sering memarahinya? Dan aku jawab kalau mamanya sangat menyayanginya maka dari itu mamanya sering memarahinya.
Dulu saat kecil dia sangat manja padaku, dia tidak akan bisa tidur ketika aku tidak memeluknya.
Diakhir pekan dia pasti sering memintaku untuk memboncengkan dia keliling taman menaiki sepeda.
Aku yakin Evelyne akan menjadi wanita yang kuat dan itu semua benar"
"Setiap malam, aku berdoa untuknya, agar dia dipertemukan dengan orang yang tepat. Aku menginginkan seseorang yang bisa melindungi dan memberi kenyamanan pada putriku"
"Aku tidak sanggup melihat air matanya, aku ingin selalu melihat senyumnya. Eemmm..... Maaf jadi terbawa suasana seperti ini" imbuhnya
"Nggak papa om, saya paham" jawab Azelvin.
"Kamu ini, siapanya Evelyne"
"Saya atasan dikantornya"
"Kamu CEO?"
"Iya om"
"Ooh... Saya lupa Evelyne pernah bilang kalau CEO nya udah ganti, dan katanya CEO barunya itu nyebelin. Evelyne itu ada-ada aja, ganteng gini masa dibilang nyebelin" tutur Mario terkekeh kecil.
"Om bisa aja, om ini orang tuanya Evelyne?" Tanya Azelvin basa-basi.
"Bukan. Saya ini mertua kamu" Mario yang dapat membuat Azelvin nge-fly , Azelvin hanya tersenyum canggung padahal dalam hatinya dia sudah berteriak.
"Kamu mencintainya?" Tanya Mario yang membuat Azelvin terkejut, Azelvin tidak menjawab pertanyaan dari Mario.
"Kalau kamu mencintainya, jangan pernah menyakitinya" ucap Mario dan Azelvin mengangguk kemudian Mario pergi.
Azelvin tengah memikirkan perkataan yang keluar dari mulut Mario tadi, hingga akhirnya dia melihat Evelyne yang baru saja sadar dari pingsannya.
"Evelyne, kamu baik-baik saja?" Tanya Azelvin.
"Pusing" jawab Evelyne lirih.
"Duduk dulu" saran Azelvin, tidak lama kemudian Caroline datang.
"Evelyne udah siuman" ujar Caroline dan Evelyne mengangguk sembari sedikit tersenyum.
"Minum dulu" Caroline membantu Evelyne untuk minum teh hangat yang dibuat olehnya.
"Ini siapa?" Tanya Caroline.
"Perkenalkan saya Azelvin Tante, dan saya atasan Evelyne di kantor" Azelvin memperkenalkan diri.
"Dia CEO Ma" imbuh Evelyne.
"Mama pikir dia pacar kamu"
"Calon Tan" jawab Azelvin.
"Diiih ogah"
"Mario dimana?" Tanya Caroline.
"Kayanya tadi Om Mario ke kamar" jawab Azelvin
"Ma, aku keluar ya" Tanya Evelyne.
"Malem-malem gini? Mau kemana?"
"Nyari angin ma"
"Kamu pikir disini nggak ada angin"
"Bosen ma"
"Tapi udah malem, besok aja ya. Nggak baik anak perempuan keluar malem-malem"
"Biar saya yang temani Tan"
"Yaudah tapi jangan sampai Evelyne kenapa-napa ya! Dan jangan lama-lama udah malem soalnya. Azelvin kamu jangan macem-macem ya"
"Siap Tan"
Setelah mendapat izin oleh Caroline, Evelyne berjalan-jalan di sekitar apartemen.
"Lo ngapain ngikutin gue" tanya Evelyne
"Kan gue udah bilang sama mama, buat nemenin Lo"
"Nggak perlu, mending lo pergi kemana gitu kek"
"Pokoknya gue bakal nemenin Lo, lo mau kemana?" tanya Azelvin
"Nggak tahu"
"Mending ikut gue deh" Azelvin menarik tangan Evelyne, kemudian mengajak Evelyne berlari.
"Kemana sih, dari tadi nggak nyampe nyampe"
"Bentar lagi, ayo masih kuat nggak?" Tanya Azelvin dan Evelyne mengangguk, akhirnya Azelvin mengajaknya berhenti disebuah taman.
"Gimana bagus nggak?" Tanya Azelvin
"Lumayan" jawab Evelyne
"Isssh" Azelvin menyenggol bahu Evelyne dengan bahunya.
"Aaauww, gila lo"
"Sorry sorry, sakit ya?"
"B aja" ucap Evelyne kemudian duduk disebuah bangku taman dan diikuti oleh Azelvin. Evelyne nampak menikmati angin malam, sembari membayangkan kenangannya bersama sang adik. Evelyne tidak pernah menyangka kalau Zidan akan pergi meninggalkannya secepat ini.
"Kenapa dia pergi secepat ini" ucap Evelyne dan melihat ke rerumputan. Azelvin memperhatikan Evelyne, dia tahu siapa yang dia maksud.
"Tuhan menyayanginya"
"Emang lo tega lihat adik lo kesakitan, Tuhan sayang Zidan" imbuh Azelvin
"Kenapa harus Zidan? Dia masih kecil, kenapa nggak gue aja, gue rela kalau harus ganti posisinya Zidan"
"Vel, Tuhan itu menciptakan manusia sekaligus menentukan takdirnya, yang jelas lo nggak boleh terus-terusan sedih, nanti Zidan jadi ikut sedih, Zidan udah bahagia Vel, dia bahagia disana, jadi lo jangan buat dia sedih"
"Gue masih nggak nyangka aja, Zidan pergi secepat ini, padahal pagi tadi, kata mama keadaan Zidan udah membaik, tapi...."
"Hidup dan mati seseorang tidak ada yang tahu"
"Dulu Zidan janji, dia bakal jagain gue, dia bakal melindungi gue, dan dia juga janji kalau bakal buat gue bahagia, tapi mana? Mana?"
"Lo nggak percaya sama janji adik lo? Meskipun adik lo udah nggak ada, tapi janjinya tidak akan menjadi bualan semata, gue... Gue yang akan menepati janji adik lo"