
Alsh galaxy company
Evelyne membereskan beberapa pekerjaan yang tinggal sedikit lagi akan selesai.
"Evelyne, jam kerja kamu sudah habis" ucap Jack yang melihat Evelyne masih berkutat dengan komputernya.
"Maaf Sir, saya sudah pesan makanan dan juga jus buah untuk anda tadi, mungkin sebentar lagi akan sampai" ucap Evelyne
"Bukan, bukan itu yang saya maksud, jam kerja kamu sudah habis seharusnya kamu pulang, dan bukannya ketika jam makan siang kamu tidak makan? Jaga kondisi kesehatanmu supaya tetap vit Evelyne"
"Saya akan makan setelah pekerjaan saya ini selesai, karena tinggal sedikit lagi, tangung Sir" jawab Evelyne.
"Nanti putra saya akan kemari, saya ingin makan bersamanya dan saya berniat untuk mengajak kamu, apa kamu mau Evelyne?" Tanya Mr Jack
"Saya?"
"Iya, hubungan saya dengan putra saya kurang harmonis dan akan canggung nanti, jadi saya mengajak kamu, kamu orang yang menyenangkan Evelyne jadi nanti suasananya tidak akan terlalu canggung"
"Baik Sir, apa perlu saya pesankan tempatnya?" Ucap Evelyne.
"Tidak perlu, kita makan di kantor saja, di lantai atas disana udaranya sejuk dan pemandangannya indah, kamu pesankan makanan untuk putra saya, makanannya terserah dan minumnya bubble tea"
"Baik Sir, saya akan pesankan segera" Jack keluar namun kembali masuk lagi keruangan Evelyne.
"Ada yang perlu saya pesan lagi Sir?" Tanya Evelyne.
"Ada pacar kamu di depan" Jack memberitahu Evelyne.
"Pacar? Guekan nggak punya pacar, oooooh jangan-jangan itu Alvero" ucap Evelyne dalam hati.
Evelyne mengikuti langkah kaki Jack.
"Vel, jalan jalan yuk, ini udah waktunya Lo pulang kan?" Tanya Alvero.
"Iya siih, tapi....." Ucap Evelyne dan melihat kearah Jack.
"Tidak apa Evelyne, kamu pergi saja dengan pacar kamu" Jack memberi izin untuk Evelyne.
"Udah ayo, bos kamu udah ngizinin Evelyne" Alvero menggandeng tangan Evelyne.
"Kalau begitu saya permisi Sir "
"Hati-hati Evelyne, jangan sampai terlambat datang besok"
"Siap bos" ucap Evelyne sembari hormat.
Evelyne melangkahkan kakinya mengikuti langkah Alvero.
.
.
.
.
.
Jack sudah berada di lantai atas menunggu sang putra.
"Akhirnya kamu datang nak" ucap Jack.
"Langsung saja, untuk apa anda meminta saya kemari?"
"Kamu itu anakku, tidak bisakah kamu memanggilku papa, ayah atau Dady?"
"Saya punya banyak urusan yang lebih penting daripada meladeni anda"
"Sebentar dulu, papa hanya ingin makan malam bersamamu nak, duduklah" ucap Jack yang permintaannya dituruti oleh lawan bicaranya.
Mereka makan dalam keadaan hening, hanya ada suara sendok garpu dan juga kunyahan yang sesekali terdengar.
"Sebenarnya papa memintamu kemari agar kamu belajar untuk mengelola perusahaan ini, karena papa ingin setelah kamu wisuda kamu dapat menggantikan papa" Jack mulai menuturkan niatnya.
"Saya tidak tertarik"
"Kamu sudah dewasa, sudah seharusnya kamu melanjutkan mengelola perusahaan ini,kamu pewaris tunggal papa, setelah wisuda kamu bisa mencoba menjadi CEO satu bulan disini jika memang kamu tidak suka, papa bebaskan kamu untuk mencari pekerjaan sendiri."
"Oke"
"Oh ya, tadinya papa mengajak sekretaris papa untuk makan bersama kita"
"Ooh anda sedang membicarakan wanita baru anda?"
"Bisakah kamu tidak seperti ini, kamu harus ingat saya papa kamu. Dan sekretaris saya juga sudah mempunyai pacar yang sudah tiga tahun berpacaran dengannya" ucap Jack yang tidak digubris ucapannya oleh putranya.
Putranya berdiri dan beranjak pergi setelah berpamitan dengan Jack.
.
.
.
.
.
Evelyne dan Alvero memasuki rumah Alvero.
"Mama lo mana?" Tanya Evelyne
"Ya dikamar lah, kan mama gue sakit"
"Yaudah ayo, kasihan mama lo. Eeeh bentar bentar"
"Kenapa?"
"Masa gue jenguk orang sakit, tapi nggak bawa apa-apa"
"Terus?"
"Gue beli kue dulu deh"
"Orang sakit mana doyan makan kue"
"Kan seenggaknya gue bawa sesuatu, udah ya... gue beli dulu"
"Gue anterin"
"Nggak usah ver, lo nemenin mama dulu aja, lagian ada toko kue didekat sinikan?" Tanya Evelyne
"Dari mana lo tau?"
"Tadi gue lihat"
"Yaudah cepetan tapi"
"Iya" ucap Evelyne dan kemudian melangkahkan kakinya.
Sesampainya di toko kue, Evelyne segera memilih sebuah kue.
"Yang seperti ini tapi rasa coklat ada mbak?" Tanya Evelyne.
"Ada mbak"
Telepon Evelyne berdering dan Evelyne segera menjawab panggilan telepon tersebut.
"Sebentar ya mbak" ucap Evelyne dan dijawab anggukan.
"Ada apa Ed?"
"Lo dimana?"
"Beli roti buat mamanya si Alvero"
"Lo mau ke rumah Alvero?"
"Iya, ada apa emang?"
"Sebenarnya ada hal yang mau gue omongin sih, tapi lain kali juga nggak papa kok, eeeh lo masih jadi pacar pura-puranya si Alvero?"
"Iyanih, nggak tahu sampai kapan"
"Yaudah bhay"
"Oke"
"Mbak jadi?"
"Ooh iya mbak, maaf ya?"
"Nggak papa mbak" Evelyne menerima kue tersebut dan memberi sejumlah uang.
Evelyne segera ke rumah Alvero.
.
.
"Lama banget"
"Baru juga beberapa menit, nggak usah lebay deh"
"Ayo masuk" Evelyne memasuki rumah Alvero.
"Vel, kue siniin biar gue taruh dapur, lo langsung ke kamar gue aja"
"Kamar Lo?"
"Iya, lo tau kamar gue yang manakan?"
"Tau kok, tapi kenapa mama lo dikamar lo?"
"Emang kenapa? Gue anaknya, kalau mama gue di kamar tetangga itu baru perlu dipertanyakan" ucap Alvero yang hanya di tanggapi Evelyne dengan ber'oh'ria. Evelyne memasuki kamar Alvero sesuai yang dikatakan Alvero.
Tapi ternyata mama Alvero tidak ada di kamar Alvero, apakah sedang di kamar mandi??
Evelyne duduk di ranjang Alvero.
Drreeet dreeett dreeett
Handphone Evelyne berdering, ternyata Edzard meneleponnya.
"Ada apa Ed?" Tanya Evelyne
"Lo masih di rumahnya Alvero?"
"Iya, mamanya sakit. Katanya sih di kamar Alvero, tapi gue masuk di kamar Alvero nggak ada orang"
"Mending lo keluar kamar Alvero dulu, eeeh jangan dimatiin dulu telfonnya, gue mau bicara"
"Oke" Evelyne bangkit dari duduknya dan hendak keluar, tapi Alvero datang.
"Ver?" Ucap Evelyne sedikit takut.
"Kenapa my dear?" Ucap Alvero sembari menyeringai dan memberikan tatapan tajam kepada Evelyne.
"Buka pintunya, jangan dikunci, kenapa harus di kunci sih?" Tanya Evelyne.
"Kenapa ya? Eeem biar lo nggak kabur"
"Lo ngapain sih? Lepasin tangan gue" ucap Evelyne yang berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan Alvero.
"Lepasin gue ver, Edzard tolongin gue" teriak Evelyne.
Alvero melihat kearah handphone yang berada di genggaman tangan Evelyne dan kemudian Alvero melempar handphone Evelyne ke lantai. Handphone Evelyne mati dan membuat sambungan telepon terputus.
.
.
.
.
.
"Lo tau kenapa gue ngelakuin ini?" Ucap Alvero dan mulai mengenakan pakaiannya, sementara Evelyne hanya diam tidak menjawab ucapan dari Alvero, tubuh Evelyne hanya tertutup oleh seutas selimut, pandangan matanya kosong, otaknya tidak bisa bekerja, dia masih shock dengan apa yang menimpanya.
"Itu semua karena Azelvin, dia udah merebut Elsa dari gue, lo tahu ?? gue cinta banget sama Elsa dan Azelvin malah merebut Elsa dari gue, hati gue sakit. SAKIT VEL. Azelvin juga harus merasakan sakit yang gue rasakan, dan caranya dengan ini. Azelvin pasti akan sangat sakit hati dengan ini, by the way gue kira lo cewek yang bener bener ngejaga kehormatan lo, ternyata lo udah nggak perawan, siapa Azelvin? Atau cowok yang dateng diwisuda lo itu..... Siapa siih?? Ezar? Edzard? ooh iya Edzard" Ucap Alvero yang masih saja tidak di gubris oleh Evelyne. Alvero kemudian keluar dari kamarnya dan......
Bugh
Sebuah pukulan melayang ke tubuh Alvero hingga membuatnya tersungkur.
Evelyne menoleh ke arah pintu kamar Alvero.
"Evelyne lo nggak kenapa-napa kan?" Tanya orang yang baru saja datang.
Hiiikss hiiiks
Evelyne tidak bisa berbicara dan hanya isakan tangis pilu yang terdengar dari mulutnya.
"Evelyne, sudah berhenti menangis, pakai pakaian mu dan aku antarkan pulang" ucap orang tersebut dan keluar dari kamar Alvero.
Evelyne segera memakai pakaiannya, yang berantakan di lantai, bahkan bajunya sobek. Dan tidak lupa dia mengambil handphonenya.
Setelah selesai dia keluar dari kamar Alvero dan mendapati Azelvin yang tengah berdiri bersandar pada dinding.
"Gue anterin pulang" ucap Azelvin dan hanya di jawab anggukan oleh Evelyne.
"Vin, emmmm kheeem ba baju gue sobek" ucap Evelyne, Azelvin lantas melepaskan jaket yang ia kenakan dan memberikannya kepada Evelyne.
.
.
"Maaf ya, gue bawa motor nggak sempet ngambil mobil. Gue buru-buru kesini tadi" ucap Azelvin dan Evelyne hanya diam.
Evelyne termenung memikirkan kejadian tadi. Evelyne menaiki motor Azelvin setelah Azelvin sudah berada di atas motor milik Azelvin.
Sepanjang perjalanan, Evelyne memeluk tubuh Azelvin dengan erat, tubuhnya bergetar, sesekali dia terisak.
Azelvin mengendarai motor dengan pelan, pelukan dari Evelyne membuatnya nyaman, namun dia merasakan sakit yang teramat dihatinya ketika mendengar isakan dari bibir Evelyne.
Setelah sampai di depan rumah Evelyne, Azelvin menghentikan motornya. Namun Evelyne tidak turun dari motornya karena...
Drreeet dreeett dreeett
Dering nada dari handphone Evelyne, menghentikan Evelyne yang hendak turun dari motor Azelvin.
Evelyne menerima panggilan telepon tersebut yang ternyata dari Alvero. Evelyne penasaran apakah Alvero akan meminta maaf kepadanya? Atau apa?
"Gimana Evelyne, Lo harus tau, itu baru permulaan gue akan berbuat hal yang lebih dari ini, kalau perlu sampai ada anak gue di rahim Lo" ucap Alvero dari seberang sana yang langsung dimatikan oleh Evelyne.
Hal yang Evelyne rasakan saat ini hanyalah takut.
"Evelyne lo nggak turun, udah sampai rumah lo" ucap Azelvin yang sudah melepaskan helmnya.
"Gue takut" ucap Evelyne lirih.
"Tenang aja, Alvero nggak mungkin ngikutin kita sampai kesini" ucap Azelvin berusaha untuk menenangkan Evelyne, namun Evelyne menggelengkan kepalanya dan memeluk tubuh Azelvin.
Azelvin senang Evelyne memeluknya, tetapi tidak dengan keadaan Evelyne yang seperti ini.
"Gue takut, jangan pergi"
"Gue disini buat jagain lo, ayo masuk" Azelvin berucap yang hanya dijawab anggukan oleh sang lawan bicaranya. Evelyne hanya mengikuti Azelvin dari belakang.
"Kuncinya" pinta Azelvin.
"Evelyne, udah nggak usah dipikirin, gue disini, gue disini buat jagain lo" ucap Azelvin lagi yang melihat keadaan Evelyne yang tidak bisa dibilang baik-baik saja.
Evelyne menyodorkan kunci rumahnya pada Azelvin, bukankah Azelvin mempunyai kunci duplikat rumahnya? Kenapa dia tidak menggunakan kunci itu saja? Entahlah Evelyne tidak ingin memikirkan itu sekarang.
"Lo mandi ganti baju, setelah itu tidur"
"Jangan pergi" pinta Evelyne lirih, jujur dia benar-benar takut sekarang, dia khawatir Alvero akan berbuat hal nekad lainnya.
Azelvin menganggukkan kepalanya dan menatap Evelyne lembut, yang berarti iya.
Azelvin duduk di ruang tamu Evelyne, dan Evelyne melangkahkan kakinya untuk melakukan yang Azelvin minta, sementara itu Azelvin tidur di sofa ruang tamu.
Setelah selesai mandi, dan memakai pakaian. Evelyne berusaha memejamkan matanya agar dapat melupakan kejadian tadi, tetapi itu tidak berhasil, karena setiap ia memejamkan mata kejadian tadi terus teringat jelas di kepalanya.
Evelyne bangkit dari ranjang dan bercermin, ada tanda merah di lehernya seperti bekas luka. Evelyne mengusap-usapnya dengan kasar berusaha menghilangkan tanda merah di lehernya itu.
"Jangan seperti itu, itu akan membuat semakin sakit" ucap seseorang yang mencegah tangan Evelyne untuk mengusap lehernya.
"Lo masih disini?" Tanya Evelyne sembari menundukkan kepalanya, tanpa sadar ada kemajuan setelah Evelyne melakukan apa yang diminta dokter Kris.... Ya pasal ia harus sering sering melihat foto Azelvin dan mendengar suaranya, tapi Evelyne masih belum bisa melihat wajah Azelvin secara langsung.
Azelvin mengangkat sebelah alisnya.
"Lo yang minta gue jangan pergi" ucap Azelvin, dan berbaring di ranjang Evelyne.
"Kenapa lo tidur di kasur gue, minggir tidur di luar sana" Evelyne menarik tangan Azelvin agar Azelvin pergi dari kamarnya.
"Badan gue pegal-pegal gara-gara nolongin lo, masa lo tega ngelihat gue tidur di sofa, ntar badan gue tambah pegal-pegal gimana?" Ucap Azelvin yang masih saja memejamkan matanya.
Evelyne keluar dari kamarnya, Azelvin membuka sebelah matanya.
"Evelyne kemana? Jangan-jangan dia tidur di sofa" ucap Azelvin bersegera bangkit dari ranjang dan hendak keluar dari kamar Evelyne, tetapi Evelyne sudah lebih dulu di depan pintu kamarnya sembari membawa minum, juga mangkuk berisi air hangat, dan obat merah.
Azelvin kembali berbaring di ranjang Evelyne.
"Bangun dulu, minum ini" ucap Evelyne.
Azelvin bingung dengan apa yang terjadi sekarang, Apa Evelyne sudah tidak lagi takut padanya?
Azelvin menepis pikirannya itu dan meminum teh hangat yang dibuatkan Evelyne, tiba-tiba saja bubble tea tidak lagi menjadi minuman favoritnya.
Evelyne membasahi sebuah kain dengan air hangat.
Dan mengusap dengan lembut ke sudut bibir Azelvin yang terluka.
"Aakhh pelan-pelan sakit" ucap Azelvin.
"Ini udah pelan" kemudian Evelyne memberi obat merah pada luka disudut bibir Azelvin.
"Sakit, lukanya nggak bakal sembuh kalau pake obat itu" Azelvin yang membuat Evelyne mengernyitkan dahinya. "Cium dulu biar sembuh" Azelvin mengerucutkan bibirnya. Evelyne menghembuskan nafasnya kasar.
"Jangan ngada-ngada deh, mana lagi yang luka"
"Nggak ada, udah sembuh semua karena lihat lo" ucap Azelvin semberi tersenyum menunjukkan deretan giginya.
"Tadi katanya harus dicium dulu biar sembuh, sekarang tiba-tiba sebuah aja" gumam Evelyne, tetapi masih bisa didengar Azelvin.
"Beneran mau cium nih?" Tanya Azelvin
"Dalam mimpi lo" ucap Evelyne.
"Yaudah sini, tidur sebelah gue" Azelvin menepuk ranjang disisinya.
"Nggak usah macem-macem"
"Cuman semacam aja kok"
"Nggak"
"Beneran janji nggak bakal macem-macem kok, gue tahu lo nggak bisa tidurkan tadi? Udah sini tidur" ucap Azelvin yang sudah memejamkan matanya.
Evelyne tidur di sebelah Azelvin, dengan menjaga jarak dan membelakanginya Azelvin.
Tetapi dia merasakan tangan di pinggangnya. Evelyne menoleh ke belakang dan melihat Azelvin yang tersenyum eeeem... manis, kemudian Evelyne mengalihkan pandangannya dari Azelvin.
"Ciieee salting"
"Nggak"
"Kenapa salting? Gue ganteng ya? Yaudah maaf deh karena ketampanan gue di atas rata-rata"
"Kepedean"
"Siapa yang kepedean sih? Buktinya aja, lo peduli sama gue, sampai lo obatin luka gue"
"Gue cuma nggak mau hutang budi sama lo" Ucap Evelyne, dan Azelvin menarik pundak Evelyne sehingga Evelyne menghadap ke arah Azelvin sekarang.
"Kenapa lo nggak mau natap wajah gue vel, liat mata gue" ucap Azelvin, Evelyne hendak berbalik lagi tetapi di cegah oleh Azelvin.
"Vel, TATAP MATA GUE" ucap Azelvin dengan membentak, mata Evelyne sudah berkaca-kaca sekarang.
"Tatap mata gue vel" ucap Azelvin, akhirnya Evelyne menuruti perkataan Azelvin, karena tidak mau Azelvin semakin marah.
"Sebegitu mengerikannya kah gue dimata lo vel?" Ucap Azelvin dan menatap manik mata Evelyne lekat-lekat.
"Vel, apa gue itu monster dimata lo? Apa kesalahan gue sampai lo setakut ini sama gue vel? Gue nggak tahu kenapa lo sampai setakut ini vel, kenapa vel, KENAPA"
"Jangan kaya gini gue takut" ucap Evelyne dan kemudian mulai terisak.
Dan kebodohan apalagi yang Azelvin buat sekarang? Lihatlah, dasar Azelvin bodoh.
"Vel maafin gue, gue nggak sengaja bentak lo, maaf ya, lo tidur aja sekarang, gue keluar" ucap Azelvin yang hendak bangkit dari ranjang Evelyne tetapi tangan Evelyne memegang tangannya.
"Tetap disini" ucap Evelyne yang meringkuk, kemudian Azelvin memeluknya erat, seolah jika ia melepaskan pelukannya, Evelyne akan menghilang.
Azelvin dapat mendengar dengkuran halus dari Evelyne, Evelyne kelelahan?
Tuhan bolehkah Azelvin meminta untuk menghentikan waktu?
Apa ia harus berterimakasih kepada Alvero?
Tidak-tidak tetap saja yang dilakukan Alvero pada Evelyne bukanlah hal yang benar, dan sangat keterlaluan tidak bisa dimaafkan.
Dreet
Bunyi dari handphone Evelyne yang berada di atas nakas sebelah ranjangnya. Azelvin meraih handphone Evelyne dan melihat ada pesan dari Edzard.
Vel
Lo baik-baik ajakan?
Lo blm tidur?
Gue kerumah lo skrng ya?
_edzard
Gue baik² aj
Gue ngantuk mau tdr
Jngn
_evelyne
Azelvin membalas pesan dari Edzard yang sebenarnya untuk Evelyne.
Evelyne memeluk Azelvin, karena Azelvin melepaskan pelukannya. Azelvin meletakkan kembali handphone Evelyne.
"Mulai posesif sayang" ucap Azelvin sembari tersenyum dan memeluk Evelyne.