Heartbreak

Heartbreak
CHAPTER 24



Seoul Korea Selatan


Hari ini hujan turun, seorang pria tengah bersiap dengan mantel tebalnya.


Ekspektasi tak sesuai realita, tak ada yang bisa mengendalikan takdir sesuai apa yang ia inginkan, hanya Tuhan yang bisa.


Sayangnya takdir telah mempermainkannya berulang kali.


Setelah kejadian beberapa hari yang lalu dimana dia menolong gadis itu.... Evelyne Chalesthane Mariolin... Bahkan sampai Evelyne memintanya untuk jangan pergi... Tapi apa? Pagi harinya Evelyne memintanya pergi.


Sungguh dia kecewa, sangat kecewa...


Bukan..... Ia bukan kecewa dengan Evelyne, dia kecewa dengan takdir yang terus mempermainkannya... Seharusnya Evelyne tidak memiliki trauma itu...


Bahkan dia tidak sadar... Bukan takdir yang salah......


Semuanya berawal dari dirinya sendiri.


Evelyne trauma karena ulah Azelvin sendiri.


Jangan salahkan takdir..


Karena apa yang kamu peroleh besok adalah pilihanmu hari ini.


Dan apa yang kamu peroleh hari ini adalah pilihan mu kemarin.


Rasanya Azelvin ingin hidup di dalam dunia halusinasi.


Yang begitu indah dan berjalan dengan mudah sesuai dengan apa yang ada dipikiran dan apa yang diinginkan.


Tetapi jika terus berandai-andai itu tidak akan merubah apapun.


Teruslah bermimpi dan imbangi dengan usaha. Itu adalah moto hidup seorang Azelvin Aleston, bagus?? Tentu saja iya.... Tetapi anehnya kenapa takdirnya jadi seperti ini? Atau mungkin ini adalah sebuah batu pijakan untuknya? Entahlah yang jelas dia tidak ingin menyerah sekarang.


Yang dia inginkan sekarang adalah lulus kuliah dengan nilai cumlaude. What? Azelvin Aleston? Cumlaude? Itu terdengar tidak masuk akal bagi orang yang sudah mengenalnya. Tetapi bukankah tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi?


Bisa saja angan menjadi kenyataan.


Untuk itu dia ingin fokus dengan kuliahnya. Dia meninggalkan Evelyne begitu saja? Tentu saja tidak.. bahkan tidak mendapatkan informasi tentang Evelyne sehari saja dapat membuatnya gila. Memang benar Azelvin fokus dengan kuliahnya, tetapi bukankah uang masih bisa bekerja? Azelvin Aleston melakukan apa yang biasa ia lakukan ketika jauh dari Evelyne. Tetap saja dia mengirim beberapa orang untuk menjaga Evelyne tanpa Evelyne ketahui tentunya.. mengingat apa yang telah terjadi beberapa hari yang lalu, jadi Azelvin melakukan ini. Bahkan dia juga meminta beberapa orang untuk memata-matai Alvero Galen Ray seseorang yang ingin ia telan hidup-hidup.


Dengan itu semua Azelvin bisa bernafas sedikit lebih lega sekarang, dia harus fokus dengan kuliahnya. Karena dia ingin menguasai perusahaan papanya bahkan mengambil alih, kemudian dia akan membuat papanya pengangguran seumur hidupnya dengan itu dia tidak akan memiliki cukup uang untuk membayar wanita-wanitanya. Jahat bukan? Tetapi menurut Azelvin itu tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan apa yang sudah mamanya terima akibat ulah papanya.


Jakarta Indonesia


Evelyne Chalesthane Mariolin telah selesai melaksanakan pekerjaannya untuk hari ini. Hari sudah gelap tetapi seseorang meminta untuk bertemu hari ini, sebenarnya Evelyne juga ragu untuk bertemu dengan orang ini tetapi apa boleh buat? Evelyne sudah terlanjur mengiyakan permintaan orang itu.


Kini Evelyne berjalan menuju restoran di dekat kantornya. Tetapi Evelyne merasa diikuti oleh seseorang... Bukan hanya kali ini saja... Tetapi sudah berkali-kali beberapa hari ini. Mungkin ini hanya perasaanya saja.


Evelyne segera berjalan cepat menuju restoran, sesampainya di restoran dia mengedarkan pandangannya ke penjuru restoran tetapi dia tidak menemukan apa yang dia cari.


"Evelyne" panggil seseorang yang membuatnya menoleh, dia mendekat ke orang tersebut dengan ragu. Orang yang akan dia temui kini dihadapannya.


"Maaf, saya tadi ada urusan jadi lama" basa-basi Evelyne dan duduk di depan orang tersebut.


"Tidak apa Evelyne, Tante juga baru sampai" ucap Cecilia.


"Kenapa Tante belum memesan sesuatu" tanya Evelyne.


"Tante menunggu kamu... Mbak" jawab Cecilia yang kemudian memanggil seorang pelayan.


Kemudian Cecilia dan Evelyne memesan makanan dan minuman yang sama.


" Khem Evelyne , sebetulnya Tante ngajak ketemu kamu disini itu karena Tante mau minta maaf" penuturan Cecilia membuat Evelyne menaikkan sebelah alisnya.


"Saya tau apa yang terjadi pada mu karena ulah Alvero anak saya, jadi saya harus minta maaf sama kamu karena saya telah gagal mendidik Alvero" sambung Cecilia.


"Tante tidak perlu minta maaf, ini bukan salah Tante, jadi tidak perlu minta maaf" ucap Evelyne dengan sopan.


"Saya tetap harus minta maaf sama kamu Evelyne, karena Alvero sudah berbuat hal yang tidak sepantasnya, tolong maafkan Alvero Evelyne, kamu memaafkan Alvero kan?" Tanya Cecilia, Evelyne hanya diam dan menundukkan kepalanya, dia tidak bisa memaafkan Alvero, dia tidak bisa, tetapi dia juga merasa tidak enak hati dengan Cecilia.


"Kamu mau memaafkan Alvero kan?" Tanya Cecilia lagi.


"Maaf Tante, aku tidak bisa memaafkan Alvero... maaf Tante" ucap Evelyne


"Tante tau kesalahan Alvero tidak bisa dimaafkan, tapi tolong jangan menjebloskan Alvero ke penjara"


"Saya janji sama Tante, saya tidak akan melaporkan Alvero ke pihak yang berwajib, tapi untuk memaafkan Alvero saya tidak bisa"


"Tante paham Evelyne, kalau begitu terimakasih dan kamu tenang saja, Tante akan membawa Alvero keluar negeri dan akan memantaunya. Anak itu sungguh keterlaluan" Cecilia geram.


"Alvero itu orang yang baik" ucap Evelyne.


"Kenapa kamu berbicara seperti ini? Setelah apa yang Alvero perbuat"


"Alvero itu baik, dia orang yang tulus, hanya saja ada dendam yang membuatnya seperti ini"


"Dendam? Dendam bagaimana?" Tanya Cecilia yang bingung dengan pernyataan Evelyne.


"Saya tidak bisa mengatakan itu pada Tante, lebih baik Tante tanyakan saja kepada Alvero" ucap Evelyne yang merasa dirinya tidak sepatutnya mengatakan hal itu kepada Cecilia.


"Alvaro itu dulu anak yang baik, patuh dan bahkan tergolong siswa yang berprestasi, tetapi semenjak dia mengenal seseorang yang bernama Elsa, dia jadi berubah, Al mulai bolos, merokok, mabuk, balap liar, bahkan tawuran. Sebenarnya Tante sangat rindu Al yang dulu, Tante ingat Al kecil yang menggemaskan dan riang, Tante pikir dengan Al dekat dengan kamu, Al bisa kembali seperti Al yang dulu, karena waktu Al dekat dengan kamu dia udah nggak merokok, mabuk-mabukan dan nggak balapan lagi. Tetapi Al malah berbuat hal yang tidak baik pada mu Evelyne. Tante nggak tahu lagi bagaimana caranya mengembalikan Al yang dulu" ujar Cecilia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf Tan, Evelyne nggak bisa bantu apa-apa, tapi Evelyne pasti doain yang terbaik untuk Tante dan Alvaro" Evelyne meraih kedua tangan Cecilia lalu mengusapnya lembut untuk menenangkan Cecilia.


"Kamu anak baik Evelyne, andai Alvero tidak pernah dipertemukan Elsa, Tante yakin kalian akan menjadi pasangan yang cocok. Pertama kali Tante lihat kamu, Tante berharap banyak pada kamu, Tante pikir Al sudah melupakan Elsa, tetapi ternyata Al hanya mempermainkan mu, maafkan Alvero, maaf" Cecilia mulai terisak.


"Tante jangan sedih dong, tau nggak Tante itu cantik, tapi kalau nggak nangis" Evelyne menggoda Cecilia layaknya memperlakukan anak kecil. Dan Evelyne berhasil membuat Cecilia terkekeh dan berhenti berlarut-larut dalam kesedihan.


"Kamu beneran udah maafin Alvero kan?" Tanya Cecilia yang dijawab anggukan kepala oleh Evelyne, sebenarnya Evelyne belum memaafkan Alvero atau bahkan tidak, karena rasanya sakit jika mengingat perbuatan Alvero, jujur... Alvaro memang bukan yang pertama... Karena itu lah Evelyne merasa sangat sakit hati. Rasanya ia sudah tidak memiliki harga diri lagi, dia takut akan dipandang rendah oleh orang-orang, dia takut suaminya nanti tidak bisa menerimanya, dia takut pada Mama nya bagaimana kalau Caroline tahu kejadian yang sama terulang lagi pada Evelyne, bagaimana jika Caroline tidak akan memaafkannya?


.


.


.


Malam ini udara sangat dingin, taksi yang Evelyne pesan tidak kunjung datang. Mungkin hari sudah terlalu malam, bahkan beberapa kali Evelyne di cancel.


Mau tak mau dia harus berjalan kaki, entah sampai kapan? Sampai rumahnya? Kaki Evelyne bisa lepas kalau seperti itu, karena jarak kantor dengan rumahnya tidak bisa dibilang dekat.


Sebuah mobil terlihat mengurangi kecepatannya dan mensejajari langkah kaki Evelyne. Evelyne menolehkan kepalanya ke arah mobil tersebut.


Penjahat?


Penculik?


Itulah yang ada dipikiran Evelyne, sampai sang pengemudi mobil tersebut menurunkan kaca mobilnya.


"Edzard?" Gumam Evelyne.


"Sendirian aja si neng cantik nggak takut diculik?" Tanya Edzard.


"Nggak gue sekampung, udah tau sendirian pake ditanya" ucap Evelyne.


"Ooh sekampung, yaudah pangeran tampan mau duluan ya? Soalnya mobil pangeran nggak muat buat orang sekampung"


"Yaudah pergi aja, pergi sana, pergi yang jauh" Evelyne yang kesal.


"Nggak rindu? Kalau pangeran pergi ntar rindu lagi" Edzard terus saja menggoda Evelyne.


"Pangeran pangeran, tampang lo tuh lebih mirip ubur-ubur daripada pangeran" ejek Evelyne


"Ganteng gini disamain sama ubur-ubur, pangeran ngambek, tinggal niih?"


"Kalau mau pergi, pergi aja. Udah sana pergi,katanya mau pergi"


"Udah yuuk naik, pangeran antar pulang, beruntung lo dianterin cogan"


"Nggak, gue nggak mau, katanya mau pergi, yaudah pergi aja sana"


"Diiih sensian amat lo kaya bumil" celetuk Edzard yang terus saja menguji kesabaran Evelyne Chalesthane Mariolin.


Bumil?


"Gue hamil? Gimana kalau gue beneran hamil?" Pikit Evelyne dengan perasaan cemasnya.


Evelyne akhirnya masuk kedalam mobil Edzard.


"Kenapa nggak minta jemput?" Tanya Edzard


"Takut lo sibuk" jawab Evelyne


"Sesibuk apapun gue, gue bakal luangin waktu buat lo, apalagi kalau cuma nganter pulang"


"Oooh ya? Nggak percaya"


"Masih aja ngambek, beneran kok, lagipula ini itu udah malem pake banget, susah nyari taksi"


"Kemarin gue nelpon lo dan nggak lo angkat, jadi gue pikir....."


"Apa? Jangan coba-coba cari alasan deh"


"Gue nggak alesan kok, emang beneran kemarin gue telfon lo"


"Mungkin waktu itu gue meeting dan handphone gue dibawa sekertaris gue"


"Kenapa Leon nggak ngasih tau lo? Dia lupa?"


"Leon udah nggak jadi sekretaris gue, dia resign"


"Kenapa?" Tanya Evelyne


"Nggak tahu juga, yang penting udah ada penggantinya"


"Cewek?"


"He'em"


"Cantik?"


"Iya dong pasti, sekertaris gue harus cantik"


"Oh. Untung gue nggak jadi sekertaris lo"


"Kenapa?"


"Nggak profesional"


"Ngasal aja lo ngomong"


"Mandang fisik"


"Gue bercanda aja kali, emang Leon cantik? Enggak kan?"


"Terus siapa sekertaris lo yang baru?" Tanya Evelyne


"Pengen tau aja apa pengen tahu banget?"


"Banget"


"Elsa"


"ELSA? Elsa siapa?"


"Bly Elsa Chenna"


"Gila aja lo, beneran?" Tanya Evelyne


"Iyalah, emang tampang gue tampang-tampang dusta?"


"Elsa beneran jadi sekretaris lo? Nggak bercanda kan?" Tanya Evelyne lagi.


"Beneran sayang, emang kenapa sih?" Tanya Edzard.


"Kenapa lo bilang?" Ucap Evelyne yang sedikit terbawa emosi.


"Dia profesional dan kerjanya baik, terus bagian mana yang harus dipermasalahkan?"


"Ya pokoknya gue nggak suka aja sama dia" ucap Evelyne memandang keluar jendela.


"Karena dia rebut Azelvin dari Lo?" Tanya Edzard.


"Bukan gitu, aaah tau deh susah ngomongnya"


"Bukan susah, emang lo nya aja yang nggak mau ngasih tahu ke gue"


Setelah itu terjadi keheningan, karena Evelyne tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan Edzard yang fokus pada jalanan dan pikirannya yang sedang berkecamuk.


Evelyne memandang ke luar jendela mobil, pandangannya tertuju pada kakek tua yang menjual permen kapas. Sebenarnya Evelyne tidak terlalu menyukai permen kapas, karena rasanya terlalu manis dan setelah itu lenyap begitu saja. Tetapi entah mengapa dia sangat menginginkan permen kapas itu sekarang.


"Edzard berhenti" ucap Evelyne yang membuat Edzard menoleh ke arahnya dan memperlambat laju mobilnya.


"Buat apa?" Tanya Edzard.


"Pengen permen kapas" ucap Evelyne dengan nada imutnya.


"Udah malem, males muter balik juga"


"Tinggal dimundurin aja ribet banget, nggak kelewatan jauh juga"


"Malem-malem ngapain makan permen kapas? Nggak baik makan manis malem-malem"


"Bodoamat, gue mau permen kapas"


"Pengen banget emang?" Tanya Edzard


"Banget banget banget" jawab Evelyne


"Besok aja ya?"


"Issh mau sekarang, titik"


"Besok ya?"


"Pokoknya sekarang" ucap Evelyne dengan tegas.


"Udah kaya orang ngidam aja sih lo"


"Ngidam? Masa sih? Nggak mungkin nggak mungkin" ucap Evelyne dalam hati.


"Malah bengong, jadi beli nggak?" Tanya Edzard.


"Jadi" jawab Evelyne kemudian Edzard memundurkan mobilnya dan berhenti didekat penjual permen kapas itu.


Edzard keluar dari mobil dan membeli sebuah permen kapas.


"Niih" ucap Edzard sembari menyodorkan permen kapas yang baru saja ia beli.


"Kok satu?" Ucap Evelyne yang belum menerima permen kapas dari Edzard.


"Emang mau berapa?"


" Tiga"


"What? Mau buat apa emang?"


"Ya dimakan lah, apalagi?"


"Nggak"


"Ish beliin gue tiga permen kapas nggak mungkin bikin lo mendadak jatuh miskin"


"Bukan masalah itu, ini itu manis, makanan yang manis itu bisa merusak gigi"


"Tapi gue pengen banget" ucap Evelyne dengan ekspresi memelasnya.


"Nggak, nggak boleh, satu atau nggak sama sekali"


"Okay, satu aja" ucap Evelyne sembari memajukan bibirnya dengan ekspresi kesalnya dan menerima permen kapas itu begitu saja.