Heartbreak

Heartbreak
CHAPTER 16



Jakarta Indonesia


Evelyne Chalesthane Mariolin kini tengah bersama dengan Azka Rahardian, mereka membahas mengenai pelaksanaan kegiatan bakti sosial yang akan dilakukan beberapa Minggu lagi di berbagai tempat di kota Jakarta.


"Jadi gimana vel menurut lo"


"Kayanya sih kita masih harus melibatkan lebih banyak orang lagi, paling nggak lima puluh orang lagi, karena kitakan baksos nggak cuma satu tempat ajakan? Naah kayanya harus dibagi beberapa kelompok kurang lebih lima lah, kalau cuma dua atau tiga kelompok itu akan memakan waktu yang lama, jadi kalau misalnya kita bagi dalam lima kelompok itu satu kelompoknya bisa baksos di dua tempat"


"Iya yaa, Lo bener juga ya? Tapi kita nyari orang sebanyak itu dari mana?"


"My dear" teriak seseorang yang sudah Evelyne ketahui siapa pelakunya.


"Jangan ganggu, gue lagi sibuk nih"


"Iih my dear kok gitu, guekan cuma pengen bantu"


"Oooh iya vel mungkin Vero bisa bantu, temen diakan banyak"


"Emang bantu apa?"


"Jadi gini ver..."


"Eeh diem lo, gue tanya my dear bukan lo"


"Sama aja, mau gue yang jelasin atau Azka yang jelasin, intinya juga sama"


"Gue nggak bantu niih" Vero hendak pergi tapi Evelyne mencekal tangannya.


"Eeeem sorry" ucap Evelyne dan kemudian melepaskan tangan Vero.


"Nggak papa kok my dear pegang lagi aja"


"Iiish apa sih lo, duduk" kemudian Vero duduk di depan Evelyne.


"Eeh vel, lo aja yang jelasin ke Vero,gue ada urusan kan kemarin gue juga udah bilang, ver vel gue duluan ya"


"Udah sono sono pergi, eeeh btw kita cocok banget ya?"


"Hah?"


"Iya, ver and vel, cocok banget nggak tuh?"


"Terserah, sekarang lo dengerin gue dulu, jadi kemarin gue udah bilangkan? Kalau akan diadakan baksos, naaah kita masih butuh orang lagi kira-kira lima puluhanlah, kalau bisasih lebih"


"Oooh itu sih gampang, mau dua puluh? Tiga puluh? Lima puluh? Seratus bisa kok"


"Tapi lo cari orang yang bener, jangan preman preman kampus lo ajakin"


"Enggak lah"


"Gue ke toilet dulu bentar, lo jagain tas sama kertas kertas itu dulu"


"Oke buat my dear apasih yang nggak?" Evelyne pergi meninggalkannya Vero.


"Eeh inikan handphonenya my dear, handphone di tinggal tinggal ceroboh banget my dear, mana nggak di kasih password lagi"


.


.


.


.


.


Seoul Korea Selatan


Kini Grace, pacarnya dan juga teman pacarnya itu sudah sampai di Korea.


"Yang ini kita mau kemana sih?" Ucap Grace


"Cari apartemen temen gue dulu, bentar Axel lagi telfon temen gue"


"Hem oke" jangan heran karena pacar Grace gue ke Grace, mereka terkadang memakai aku kamu, terkadang juga gue Lo, itu semua sesuai mood dan kondisi.


"Eeh kita langsung ke apartemen si cunguk, udah di share lokasi apartemennya"


Kemudian mereka naik mobil dan segera ke tempat tujuan. Setelah beberapa lama sekitar satu jam, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


"Eeeh Lo pada udah nyampe, siapa nih?" Ucap seseorang membukakan pintu apartemen yang terlihat heran dengan kehadiran Grace.


"Pacar gue lah, Grace namanya"


"Nggak di suruh masuk niih?"


"Yaudah masuk yuk" kemudian mereka bertiga masuk ke apartemen orang itu.


"Apartemen lo besar banget berapa niih?" Tanya pacar Grace.


"Adalaaah, ooh iya kalian istirahat dulu aja"


"Nggak ada makanan nih vin?"


"Axel makanan mulu yang dipikirin" ujar pacar Grace.


"Ada kok tadi gue beli, baikkan gue"


"Tumben lo baik" sindir pacar Grace.


"Azelvin kalau lagi butuh emang gitu" celetuk Axel


"Eeh tunggu tunggu, Azelvin? Ini Azelvin yang dimaksud Evelyne bukan ya?" Ucap Grace dalam hati, dan membuka aplikasi galeri pada handphonenya.


"Waaah iya bener, lo Azelvin yang udah nyakitin temen gue kan? Udah bikin dia trauma, kurang ngajar lo udah bikin Evelyne sakit kaya gitu iiiiiiih" Grace meraih bantal yang ada di sofa dan memukul mukulkannya ke tubuh Azelvin.


"Eeeh eeeh apasih Lo? Badan gue sakit semua niih? Ezra pacar lo niih"


"Yang udah dong sayang kasian itu Azelvin kesakitan"


"Eeh sakitnya Azelvin ini nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sakitnya Evelyne" ucap Grace dan terus memukul mukul tubuh Azelvin.


"Udah udah, sayang udah ya, jangan kaya anak kecil" ucap Ezra


"Ooh kamu belain si brengsek ini?"


"Bukan gitu, semua bisa dibicarain baik-baik nggak perlu kaya gini" ucap Ezra memberi pengertian kepada Grace.


"Lo kenal Evelyne?" Tanya Axel


"Iyalah, gue sahabatnya" jawab Grace


"Beneran lo temennya?" tanya Azelvin juga.


"Perlu bukti" Grace menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan foto dirinya dengan Evelyne.


"Masih nggak percaya? Perlu gue telfon Evelyne?" Ucap Grace meyakinkan.


"Yaudah telfon" ucap Azelvin. Tiga sekawan itu penasaran, apakah benar Grace ini sahabatnya Evelyne.


"Vel" ucap Grace pada orang diseberang sana.


"Apaan?"


"Eeh ini siapa ya kok suaranya cowok" tanya Grace bingung.


"Eeeh loud speaker" ucap Azelvin yang hanya di anggukan oleh Grace.


"Ooooi ini siapa sih?"


"Calon suaminya"


"Calon suami calon suami, eeeh mana Evelyne?"


"My dear di toilet"


"Oooh ini lo ver, balikin handphonenya ke Evelyne sekarang"


"Nanti juga dia balik lagi kesini, Lo kalau ada sesuatu yang penting sampein aja ntar gue kasih tau Evelyne"


"Buat apa gue kasih tau lo, emang lo siapa?"


"Gue calon suaminya lah"


"Jangan ngaku ngaku deh Lo, kalau halu jangan kebangetan"


"Siapa juga yang halu, tunggu aja undangan pernikahannya"


"Beneran lo?"


"Ya beneranlah, udah ya nggak usah banyak bacot, kalau nggak ada yang penting gue matiin nih, ganggu aja" sambungan telepon dimatikan secara sepihak.


"Dimatiin Vero lagi, gimana udah percaya belum?" Ucap Grace kepada mereka dan hanya dijawab anggukan oleh mereka.


"Jadi Evelyne udah punya calon suami?" Tanya Azelvin penasaran.


"Mana gue tahu"


"Katanya sahabat kok nggak tahu" ucap Axel


"Evelyne nggak ngasih tahu gimana gue tahu, emang lo pikir gue cenayang"


"Eeh tadi itu namanya cowoknya siapa?" Tanya Azelvin.


"Vero"


"Vero? Lo nggak tahu nama lengkapnya?"


"Nggak tahu, perlu gue tanya?"


"Ya perlulah" ucap Azelvin.


Grace kemudian menelepon nomer Evelyne.


"Hallo"


"Iya Grace ada apa?" Ucap seseorang dari seberang sana.


"Evelyne, ini Lo?"


"Iyalah, Lo nelfon ke nomer guekan? Ya gue yang jawab lah, Lo salah nelfon orang, emang lo mau telfon siapa?" Ucap Evelyne


"Evelyne gue kangen banget sama Lo, dengerin suara lo aja udah bikin gue pengen peluk lo sekarang" ucap Azelvin dalam hati.


"Ooh iya ini gue lagi sama Vero"


"Lo lagi ngapain sama Vero"


"Makan"


"Berdua?"


"Iya? Emang ada apasih?"


"Lo ngapain berduaan sama Vero, kasih handphonenya ke Vero, gue mau ngomong sama dia penting" ketahuilah sekarang ada yang benar-benar merasa sakit hati. Azelvin, dia mengepalkan tangannya dan ingin memukul si Vero Vero itu sekarang.


"Ada apaan Grace?"


"Eeh Vero nama panjang lo siapa?"


"Veroooooooooo"


"Nama lengkap maksudnya"


"Ada apa lo nanya-nanya nama lengkap gue, ngefans lo sama gue"


"Tinggal jawab aja kenapa sih?"


"Maksa banget, karena gue baik hati gue kasih tau deh, nama gue Alvero Galen Ray wwwiieeettts keren bangetkan nama gue"


Kemudian Grace mematikan sambungan teleponnya.


"Gimana puas?" Ucap Grace


"Alvaro Galen Ray? Vin Alvero kan musuh bebuyutan Lo, jangan-jangan Alvero deketin Evelyne cuma mau balas dendam aja" ucap Axel


"Bales dendam apa? Jangan sampai Evelyne kenapa-napa"


"Makanya lo harus ikutin rencana gue" ucap Azelvin


"Btw bales dendam apa?"


"Jadi Alvero itu punya mantan namanya Elsa nah beberapa hari setelah putus dari Alvero, si Elsa ngaku ngaku jadi pacarnya Azelvin jadi seluruh sekolah tahunya kalau Elsa pacaran sama Azelvin padahal enggak, dengan bego nya Azelvin nggak ngomong apa-apa ke mereka buat jelasin kalau Azelvin bukan pacarnya Elsa jadi mereka mikir Azelvin emang beneran pacaran sama Elsa" ucap Ezra.


"Lo kok nggak ngomong aja kalau Elsa bohong" ucap Grace


"Buat apa? Nggak penting juga"


"Heeeh nggak penting lo bilang? awas aja kalau Evelyne kenapa-napa, gue bikin perhitungan sama Lo"


"Udah dong sayang jangan mojokin Azelvin kaya gitu, mending kita istirahat sekarang"


Grace dan Ezra istirahat di sofa.


"Mending kalian ke kamar aja, ada banyak kamar kok" ucap Azelvin.


.


.


.


.


.


Jakarta Indonesia


Evelyne Chalesthane Mariolin kini tengah menikmati makanannya di temani oleh Alvero Galen Ray.


"Si Grace aneh banget ya?" Ucap Vero


"Emang dia ngapain?"


"Masa dia tanya nama lengkap gue aneh banget"


"Biasalah, Grace emang gitu orangnya, mungkin dia suka sama lo"


"Ya nggak mungkinlah dia udah punya pacar, gue tau gue ganteng, mungkin emang bener dia suka sama gue, tapi tenang aja my dear hati ini hanya untuk my dear seorang"


"Nggak nanya, udah gue mau pulang"


"Ciie pasti my dear cemburu ya?"


"Ogah, kurang kerjaan banget gue"


Evelyne Chalesthane Mariolin meninggalkan Vero sendiri. Kini dia menunggu taksi untuk menuju apartemen Edzard.


.


.


.


Evelyne kini berada di apartemen Edzard, karena Edzard sakit jadi hari ini cafe tidak buka, Evelyne bisa saja di cafe sendiri tapi dia mengkhawatirkan keadaan Edzard.


"Edzard bangun dulu, ini buburnya makan dulu habis itu minum obat"


"Gue nggak nafsu makan"


"Dikit aja kok, yang penting perut lo nggak kosong"


"Perut gue nggak kosong kok, masih ada ginjal, paru-paru, jantung ada hati juga dan di hati gue ada lo, jadi nggak kosong"


"Sakit masih sempet sempetnya gombal, buruan makan, nanti gue telfon dokter buat kesini"


"Jangan nggak usah telfon dokter, gue makan tapi suapin"


"Iya, buka mulut" Evelyne menyuapkan makanan ke mulut Edzard.


"Udah, gue kenyang"


"Baru juga sedikit, ini lagi"


"Gue kenyang beneran deh"


"Minum dulu ini obatnya, gue telfon dokter"


"Vel, nggak usah telfon dokter"


"Nggak bakal di suntik kok, gue telfon dokter Kris biar temennya kesini"


"Nggak usah vel"


"Nanti kalau sakit lo tambah parah gimana?"


"Nggak usah Evelyne"


"Pokoknya gue mau nelfon...."


"Evelyne nggak usah, nggak perlu lo paham nggak sih? Gue bilang enggak ya enggak" ucap Edzard dengan nada bicara yang keras, dengan kata lain Edzard membentaknya.


"Eeem oke, udah selesai makannya kan? Gue cuci piring dulu" Evelyne pergi menjauhi Edzard.


"Aaah bego bego bego" ucap Edzard pada diri sendiri. Dia tahu Evelyne orang yang cukup sensitif.


"Gue nggak seharusnya bentak Evelyne kaya tadi"


.


.


.


.


.


Seoul Korea Selatan


Evelyne Chalesthane Mariolin


Kalau aku kehilangan lebih dari ini, akankah hatiku dimaafkan?


Berapa banyak lagi penderitaan harus ku lalui untuk dapat bertemu denganmu sekali lagi


Sekali lagi, musim, jangan berubah


Sekali lagi, saat kita bercanda ria


Satu kesempatan lagi, kenangan menahan langkahku


Satu kesempatan lagi, aku tak dapat memilih tujuanku selanjutnya


Aku selalu mencari di suatu tempat


Meskipun aku tahu kau tak mungkin ada disini


Seandainya keinginan ku terkabul, aku ingin berada disisimu sekarang


Tak akan ada yang tak bisa kulakukan


Akan ku pertaruhkan segalanya dan memelukmu erat


Kalau hanya mengusir kesepian, siapapun bisa


Aku tak bisa bohong pada diriku sendiri


Seandainya ada keajaiban, aku ingin menunjukkan padamu sekarang


Pagi yang baru, akan jadi seperti apa diriku mulai sekarang


Dan kata-kata aku 'mencintaimu' yang tak pernah bisa ku katakan


Kenangan musim panas mengelilingi


Detak jantung yang tiba-tiba menghilang


Andai hidup bisa diulang lagi, aku ingin berada disisimu selalu


Aku tidak menginginkan apapun


Tak ada yang lebih penting darimu.