
Jakarta Indonesia
Evelyne menginjakkan kakinya di bandara Soekarno-Hatta setelah beberapa hari dia berada di Korea Selatan.
Karena tempo hari adalah hari ulang tahun Caroline jadi Evelyne, Caroline dan Mario menikmati liburan bersama di Jeju island.
Dan Caroline juga bilang kalau dia tidak bisa menemani Evelyne di Jakarta karena Caroline harus tetap tinggal bersama Mario yang sudah terikat kontrak kerja di Korea.
Evelyne tidak mempermasalahkan hal itu, lagipula dia sudah besar dan sudah terbiasa tinggal sendiri, jadi hal itu bukanlah masalah baginya...
Yang terpenting hubungan mereka baik-baik saja dan keadaan orang tuanya juga baik-baik saja. Mungkin sebulan sekali dia harus mengunjungi orang tuanya.
By the way
Seharusnya Evelyne tidak pulang hari ini, sebenarnya dia masih ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya, tetapi Evelyne harus segera pulang karena mendengar kabar tidak menyenangkan dari Edzard.
Cukup lama Evelyne menunggu sebuah taksi, akhirnya dia melihat mobil yang familiar.
"Edzard, Lo jemput gue?" Tanya Evelyne
"Bukan, gue jemput jalangkung"
"Ditanyain juga"
"Ya lo pikir gue jemput siapa lagi kalau bukan Lo. Udah ayo masuk" ucap Edzard
"Nggak bantuin? ini koper gue"
"Bentar"
Setelah Edzard meletakkan koper Evelyne di bagasi mobil, kemudian dia duduk di kursi pengemudi.
"Edzard lo nggak papa kan?" Tanya Evelyne
Dan Edzard menggelengkan kepalanya menandakan bahwa dia tidak baik-baik saja.
"Lo yang sabar ya, gue turut berbelasungkawa" ucap Evelyne dan Edzard mengangguk serta memperlihatkan senyumnya pada Evelyne.
Evelyne tahu Edzard merasa sedih sekarang.
Evelyne juga tahu kalau senyum yang diberikan oleh Edzard adalah senyuman palsu.
Edzard memang seperti itu, sesedih apapun dia, dia akan tetap menunjukkan senyumnya pada Evelyne.
"Ed, kalau emang lo sedih, lo bilang sama gue, seenggaknya gue akan berusaha menghibur lo, kaya lo yang menghibur gue saat gue sedih"
"Dengan lihat lo udah bikin gue seneng"
"Bisa aja lo, btw maaf ya gue nggak bisa hadir ke pemakamannya eyang"
"Nggak papa, doain aja semoga eyang diterima disisi-Nya"
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya mereka sampai di rumah Edzard.
"Evelyne kok bawa-bawa koper? Tidur sini ya!" Minta Bianca
"Dari bandara langsung kesini Bun" ucap Evelyne
"Sekalian nginep sini ya"
"Nggak usah deh Bun, ngerepotin, nggak enak juga sama tetangga"
"Kamu sih Ed, coba aja kamu nikah sama Evelyne pasti Evelyne bisa nginep disini sesuka hati, bisa tinggal disini lagi" ucap Bianca
"Kalau Edzard nikah sama Evelyne, Edzard ajak Evelyne tinggal di apartemen Edzard"
"Evelyne turut berbelasungkawa atas kepergian eyang, maaf kemarin Evelyne tidak bisa hadir di pemakaman" ucap Evelyne mengalihkan bahan pembicaraan.
"Ooh iya... Kemarin kamu berkunjung ke orang tua kamu ya. Lain kali kenalin Edzard ke orang tua kamu dong"
"Idiih mama kudet deh, Edzard tuh bukan hanya sekedar kenal sama orang tuanya Evelyne, Edzard udah dikasih restu dong. Gimana keren kan?" Bangga Edzard
"Kapan emang?" Tanya Bianca
"Udah dari lama, waktu Evelyne wisuda" jawab Edzard
"Bagus dong. Kapan nih kalian resmi?" Tanya Bianca
"Edzard sih, nunggu Evelyne siapnya kapan" ucap Edzard
"Evelyne nggak tahu Bunda. Evelyne masih pengen berkarir"
"Apapun keputusan kalian Bunda selalu dukung kalian. Bunda udah masak banyak, dimakan dulu sana, bunda minta maaf ya... Bunda harus pergi ada urusan penting soalnya" ucap Bianca
"Iya Bun"
"Hati-hati Bunda"
"Jangan lupa dimakan ya" ucap Bunda kepada mereka dan mereka mengangguk.
Evelyne duduk di sofa dan merenggangkan otot-ototnya.
"Evelyne" panggil Edzard yang kemudian berbaring di sofa dan menjadikan paha Evelyne sebagai bantalnya.
Evelyne tahu kalau Edzard masih sedih sekarang.
"Baru juga sehari eyang pergi, tapi gue udah kangen sama dia" gumam Edzard perlahan Evelyne membelai rambut Edzard.
"Jangan gitu, jangan buat eyang sedih. Eyang udah bahagia disana"
"Gue bukan cucu yang baik dimata eyang, gue suka ngebantah karena nggak semua yang eyang lakukan itu baik menurut gue, gue kadang nentang eyang. Tapi gue sayang sama eyang, meskipun gue bukan cucu kesayangannya tapi dia itu eyang kesayangan gue.
Azelvin, dia cucu kesayangan eyang..." Ujar Edzard
"Azelvin, pasti dia juga sedih sekarang, dia baik-baik aja? Enggak vel... Berhenti mikirin hal yang nggak penting... Tapi siapa yang nemenin dia disaat sedih kaya gini? Azelvin butuh seseorang buat nemenin dia. Edzard punya orang tua yang selalu ada buat dia, sedangkan Azelvin?" Ucap Evelyne dalam hati
"Lo lagi mikirin Azelvinkan?" Tanya Edzard dan Evelyne menggelengkan kepalanya.
"Dulu gue sama Azelvin itu udah kaya saudara kandung... Akrab banget, tapi sekarang udah beda. Gue kadang pengen jadi cucu kesayangannya eyang... Tapi gue nggak mau jadi egois, gue udah merasa cukup mendapatkan kasih sayang dari orang tua gue"
"Gue tau lo orang yang kuat" Evelyne berusaha memberi semangat.
"Evelyne apa gue boleh nangis"
"Nangis sepuas lo, sampai rasa sedih lo hilang, sampai itu bisa mengurangi beban lo" ucap Evelyne
"Apa gue boleh peluk" pinta Edzard dan Evelyne mengangguk dan memeluk Edzard erat.
Edzard perlahan terisak, melupakan kesedihannya.
"Evelyne apa gue boleh egois? Apa boleh gue minta lo buat perduli sama gue, jangan mikirin siapapun selain gue saat ini... Apa gue boleh minta untuk Lo tetap disini fokus ke gue dan jangan perduli sama siapapun selain gue, cuma mikirin gue, cuma peduliin gue" ucap Edzard, Evelyne paham dengan apa yang dimaksud oleh Edzard, dia paham kalau Edzard tidak menginginkan dia untuk memikirkan Azelvin.
"Edzard lihat gue, gue sayang sama Lo, gue peduli sama Lo" Evelyne menangkup wajah Edzard menggunakan kedua telapak tangannya agar Edzard melihat kearahnya.
"Vel lo boleh sayang sama gue, tapi lo harus tahu gue cinta sama lo Vel, gue nggak minta lo buat jadi milik gue, gue cuma mau lo tau kalau gue serius cinta sama lo"
"Gue mau jadi orang yang paling egois, gue mau jadi kekasihnya Edzard, gue mau jadi perempuan yang paling di cintai Edzard sebagai kekasihnya. Gue mau jadi egois" Evelyne membuat Edzard bahagia dan memeluk Evelyne erat, dia juga memberikan kecupan pada kening Evelyne.
Tuhan apapun yang akan terjadi nanti, semuanya ada ditanganmu.
.
.
.
.
.
Kini Evelyne sedang berada di taksi dan dalam perjalanan.
Kenapa Edzard tidak mengantarkan dia pulang?
Bukan karena Edzard tidak mau, tetapi Evelyne yang menolak.
Tetap saja Edzard kukuh ingin mengantarkan Evelyne,apalagi malam-malam begini, tetapi Evelyne bilang kalau Edzard masih sedih dan butuh istirahat, Evelyne tidak mau jika dijalan terjadi sesuatu karena Edzard yang masih dikaluti rasa kesedihan. Akhirnya karena Edzard tidak mau membuat Evelyne dalam bahaya, jadi Edzard memesankan dia taksi.
"Pak berhenti" ucap Evelyne
"Looh mbak kita belum sampai tujuan, mbak mau mampir ke suatu tempat dulu?" Tanya sopir taksi
"Tidak pak. Berhenti disini saja" ucap Evelyne
"Tapi mas yang tadi bilang saya harus anterin mbak sampai rumah dan bantuin mbak bawa koper"
"Tidak perlu pak"
"Tapi mbak saya udah di bayar banyak sama mas yang tadi"
"Saya tambahin, saya bayar dua kali lipat dari mas yang tadi. Jadi saya turun disini saja"
"Oke deh mbak, tapi kalau ada apa-apa bukan salah saya loh mbak" ucap si sopir taksi dan Evelyne mengangguk.
Perlahan Evelyne memasuki sebuah apartemen yang nampak berantakan.
Evelyne mendapati orang yang tengah duduk di sofa dalam keadaan kacau.
Azelvin mabuk?
Evelyne dapat mencium aroma alkohol yang menyeruak.
"Azelvin" Evelyne berlari menghampiri Azelvin.
Evelyne dapat mendengar isakan kesedihan dari Azelvin, Evelyne juga melihat kesedihan yang ditunjukkan oleh Azelvin. Tentu saja Azelvin sampai seperti ini.
Satu-satunya orang yang sangat peduli padanya telah tiada.
Eyang adalah sosok ibu buat Azelvin.
Eyang adalah satu-satunya orang yang sangat mengerti Azelvin.
Tapi kini eyang sudah tidak ada, tidak ada lagi orang yang bisa Azelvin jadikan tempat keluh kesahnya.
"Azelvin kenapa lo bisa sampai kaya gini sih? Lo gila? Lo pikir eyang bakal seneng lihat lo kaya gini? Berhenti bersikap kaya bocah Vin"
"Lo nggak paham Vel... Lo nggak bakalan ngerti..."
"Gue paham, gue ngerti. Jangan kaya gini, gue ada disini buat Lo, gue malem-malem kesini karena gue peduli sama Lo" tanpa meminta persetujuan, Azelvin memeluk Evelyne erat, Evelyne tidak memberontak bahkan kini dia mengelus punggung Azelvin memberikannya ketenangan.
"Eyang dan Azka mereka bahagia disana" ucap Evelyne
Flashback
"Saya minta maaf karena sikap saya"
"Tidak apa, saya sudah terbiasa" ucap Evelyne
"Jujur, saya tidak memperdulikan bagaimana latarbelakang mu, tapi saya pikir kedua cucu kesayanganku mencintaimu. Aku tidak ingin hubungan mereka semakin memburuk, mereka itu saudara"
"Saya paham nyonya, tapi sepertinya yang anda ucapkan tidak benar"
"Evelyne aku pikir ini sangat canggung, panggil saja aku eyang"
"Tapi saya..."
"Hanya memanggilku eyang apa susahnya. Dan aku mengajakmu kemari karena aku ingin berbicara dengan kamu, mereka saudara, jaga mereka, aku tahu kalau kedua cucuku itu mencintaimu"
"Maaf eyang tapi sepertinya yang eyang ucapkan tidak benar"
"Aku tahu apa yang dirasakan cucuku, aku neneknya. Aku tahu ini bukan kemauan mu, tapi ini sudah terjadi, mau bagaimana lagi? Perasaan tidak bisa dipaksakan, mencintai adalah hak setiap makhluk hidup. Cinta memang sulit ditebak dan terkadang mampu membuatmu berada dalam kesulitan.
Tapi aku tahu kamu bisa.
Eyang tahu kamu orang yang baik.
Jadi lakukan menurut kata hatimu, katakan pada mereka apa yang sebenarnya kamu rasakan, jangan membuat mereka jatuh terlalu dalam.
Aku tahu kamu pasti mampu menghadapi ini Evelyne" ucap eyang
"Dan aku juga ingin mengatakan kalau Azelvin, kurasa dia yang lebih membutuhkanmu. Mereka berdua sama-sama membutuhkan mu, tetapi yang lebih membutuhkanmu adalah Azelvin, bukan karena Azelvin cucu kesayangan ku, kamu salah jika beranggapan seperti itu. Mereka berdua, Edzard dan Azelvin adalah cucu kesayangan ku.
Tapi Edzard dari kecil mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya sedangkan Azelvin, orang tuanya sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
Kamu pahamkan bagaimana dan apa yang akan kamu lakukan" ucap eyang
Flashback end
"Vel. Orang yang peduli sama gue udah nggak ada, tempat gue berkeluh kesah udah nggak ada"
"Gue peduli sama lo Vin. Gue mau dengerin keluh kesah Lo"
"Semuanya terasa begitu berat Vel. Kadang gue nggak sanggup, tapi gue nggak tahu apa yang harus gue lakuin supaya semua kesedihan gue berhenti.
Azka
Eyang
Semuanya terasa begitu berat buat gue. Papa... Dia nggak pernah peduli sama gue, dia sibuk sama wanita-wanitanya dan sibuk sama perusahaan, dia mau Alsh galaxy company lebih unggul dari Zachary company. Sampai dia gak sadar kalau dia udah membebani gue pekerjaan yang berat.
Gue gak sanggup mengerjakan pekerjaan yang sama sekali nggak gue suka, semuanya terasa berat.
Gue nggak sanggup"
"Lo lupa, gue sekretaris lo, gue akan bantuin pekerjaan Lo"
"Tapi Vel, tetep aja... Ini semua berat, gue juga punya cita-cita Vel. Gue punya mimpi"
"Lo bisa mewujudkan impian lo kok, gue yakin"
"Dari gue kecil, gue pengen banget jadi pembalap, sampai-sampai gue ikut balapan liar dan menyebabkan gue jadi banyak musuh, tapi gue suka dengan apa yang gue lakuin. Dan sekarang gue nggak bisa balapan lagi.
Evelyne Lo mau nggak? Besok temenin gue keliling kota naik motor"
"Panas"
"Lo mau gue pecat?"
"Pecat aja"
"Iisssh gue nangis" ucap Azelvin dan kemudian menangis seperti anak kecil, sangat kencang.
"Iya-iya, gue temenin besok, yaudah gue pulang dulu, lagian lo juga udah nggak sedih lagikan"
"Temenin gue malem ini please"
"Nggak bisa gue harus kerja besok, kalau gue besok telat gimana? Lagian gue nggak bawa baju..."
"Nggak mungkin koper segede itu nggak ada bajunya, lo isi apa? batu sama kerikil? udah ayo ikut gue" ucap Azelvin dan meraih tangan Evelyne mengajaknya ke suatu tempat.
Sialan
Harusnya Evelyne pulang terlebih dahulu, pasti tidak akan seperti ini jadinya.
"Lo ngapain ngajak gue kesini?"
"Tidur"
"Hah?"
"Kita tidur"
"Nggak, mending gue tidur di kamar lain aja"
"Gue janji gak macem-macem kok, nanti kita tidurnya punggung punggungan deh, ya... Please"
"Oke awas kalau sampai lo macem-macem"
Akhirnya Evelyne berjalan perlahan dan tidur di sisi lain ranjang, seperti yang Azelvin ucapkan sebelumnya, mereka tidur saling membelakangi, tapi hal itu hanya terjadi beberapa menit, karena setelah itu Evelyne merasakan tangan seseorang yang bertengker di pinggangnya.
"Vin lepasin nggak"
"Gue gak mau"
"Vin.... Isssh makhluk astral lepasin, tadi lo bilang..."
"Gak bisa..." Ucap Azelvin diam sejenak.
"Makhluk astral... Gue suka itu... Makhluk astral itu panggilan sayang lo ke gue kan?" Tanya Azelvin
"Gausah mulai deh, dasar kepedean"
"Lo tuh gengsi, bilang aja... Iya Vin itu panggilan sayang... Makhluk astral itu tak kasat mata kan, sama kaya lo, lo itu tak kasat mata karena lo ada di hati gue jadi lo nggak bisa dilihat" ucap Azelvin yang entah kenapa membuat pipi Evelyne bersemu, bahkan Evelyne merasa kini jantungnya berdetak lebih cepat.
"Bisa aja lo. Lo itu kasat mata buat gue, karena gue gak mau lihat lo"
"Are you serious about your words?" Tanya Azelvin
"yes of course, I'm very serious about my words" jawab Evelyne
"Really?" Tanya Azelvin
"Surely" jawab Evelyne
"Kenapa Lo gak mau lihat gue? Lo takut terpesona sama ketampanan gue yang diatas rata-rata"
"Kepedean" setelah itu Evelyne memejamkan matanya, mengelabui Azelvin, sebenarnya dia tidak tidur, kenapa Evelyne tiba-tiba tidak bisa tidur? Biasanya dia akan tidur begitu saja ketika sudah berbaring di ranjang.
"Evelyne...
Apa gue boleh minta lo buat peduli sama gue dan jangan memikirkan siapapun" ucapan Azelvin tidak dijawab oleh Evelyne.
"Vel, Evelyne... Lo udah tidur, kecapean?" Azelvin yang melihat Evelyne sudah memejamkan matanya.
"Good night. You are mine, I love you" ucap Azelvin yang kemudian meletakkan kepalanya di ceruk leher Evelyne dan mengeratkan pelukannya.
"Semoga aku tidak mengambil keputusan yang salah" ucap Evelyne dalam hati dan membelai rambut Azelvin yang kini sudah tidur.