Heart Attack

Heart Attack
Menjemput Sheryl



***


Beberapa minggu kemudian....


Niall turun dari motor besarnya, dan dia saat ini sampai di kampus Sheryl. Gadis itu sebelumnya pernah memmberitahu nya mengenai dimana dia berkuliah. Dan Niall datang untuk menjemput Sheryl untuk pergi ke kedai kopi seperti biasanya dan mengobrol.


Niall melepaskan helm dan jaketnya, dia membungkuk di depan kaca spion motornya dan sedikit membenahi rambutnya setelah memakai helm. Setelah memastikan penampilannya rapi, Niall pun berdiri bersandar di motornya mengawasi kampus Sheryl dari luar, dia akan menunggu gadis itu.


"Look at that, my God... who's that waiting for you over there???." Tisha tersenyum sambil menunjuk ke depan pintu gerbang kampus. Beberapa orang tampak berkumpul, dan beberapa mahasiswi tampak berbisik-bisik dengan penuh semangat, menatap ke arah gerbang, dimana ada sosok yang menarik perhatian mereka.


Itu Niall. Sang pangeran hedonis itu berdiri di sana, seolah-olah tidak sadar kalau dia menimbulkan kehebohan karena penampilannya yang mencolok. Lelaki itu memakai t-shirt hitam dan celana jeans yang tampak pas membungkus tubuhnya, serta memakai kacamata hitam, berdiri sambil bersandar di motor sport nya yang berwarna hitam. Penampilannya luar biasa tampan, apalagi untuk standar di kampus Sheryl yang dipenuhi para kutu buku dan mahasiswa-mahasiswa lugu. Niall tampak begitu modern dan berkelas.


"That's Niall??? Why is he here???" Sheryl bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.


"Bukannya kau memberitahukan kampusmu kepadanya???" Tisha tersenyum.


"Ya dia bertanya, jadi aku beritahu." Sheryl mengernyit. "Tetapi aku tidak pernah menduga kalau dia akan menyusul ke kampus."


"Mungkin Niall memutuskan bahwa dia ingin lebih mengenalmu, bukan hanya dari pertemuan-pertemuan singkat di kedai kopi.... yang... sudah berapa kali Sheryl???? Aku pikir sudah hampir tiga bulan kalian rutin bertemu di kedai kopi."


Tepatnya Tiga bulan tiga belas hari. Gumam Sheryl dalam hati. Dan dua kali seminggu, mereka bertemu di suatu sore yang singkat, membahas segala hal, membuat mereka semakin dekat dan juga akrab.


Ya Sheryl dan Niall semakin dekat seiring dengan semakin seringnya pertemuan mereka, tetapi Sheryl tidak berani melangkah lebih jauh. Di dalam hatinya selalu ada Alex. Kekasihnya itu sudah mengambil sebuah tempat permanen di hatinya, tak akan tergantikan oleh lelaki manapun. Dan meskipun Sheryl merasa nyaman dan hangat bersama Niall, dia menahan hatinya, tak mau melangkah lebih.


"Kau tidak mau mengenalkan aku kepada Niall? Dilihat dari penampilannya, dia memang sesuai dengan apa yang kau deskripsikan Sheryl, seorang pangeran Hedonis. Pangeran bermoge


"Tapi pangeran Hedonis yang ini sangat suka membaca komik Yu Yu Hakusho dan Novel-novel horor. C'mon, akan kukenalkan kau dengannya, kau pasti menyukainya." Sheryl meraih tangan Tisha, menghampiri Niall.


Lelaki itu langsung menegakkan tubuhnya ketika melihat Sheryl. "Hai." gumamnya sambil tersenyum manis.


"Hai juga." entah kenapa Sheryl kehilangan kata-kata. Astaga, kenapa dia ini??? Dia baru tersadar ketika Tisha menyenggol pinggangnya dengan siku. "Eh.. Why are you here?mm Kenapa tidak memberitahu ku jika akan kesini??" Tanya Sheryl.


Niall mengangkat bahu. "Kuliahku selesai lebih awal, dan kita janji bertemu di Supernova sore ini kan??? So, aku pikir tidak ada salahnya aku menjemputmu dulu, toh kampusmu sejalan denganku."


"Oh.." Sheryl terpaku lalu menoleh ke arah Tisha. "Ini.. ini sahabatku Tisha."


Niall menatap Tisha lalu tersenyum manis dan mengulurkan tangannya. "Hai Tisha, Sheryl sering cerita tentangmu."


"Really????" Tisha membalas uluran tangan Niall dan tersenyum. "Kuharap dia bercerita yang baik-baik saja tentangku."


Niall tertawa. "Sebagian besar."


Tisha sengaja melirik jam tangannya. "Oh okay, aku harus segera pulang, kalau tidak Papa akan mencariku, sampai jumpa besok Sheryl. Bye Niall???"


"Kau tidak ikut dengan kami???" Niall menawarkan, membuat Tisha menggelengkan kepalanya.


"Semoga kau tidak marah aku lancang menjemputmu di kampus ini."


Sheryl memutar bola matanya, mendapati beberapa pasang mata penuh ingin tahu menatapnya dan Niall. "No problem, tapi sungguh, kau sangat menarik perhatian di sini." Sheryl tersenyum. "Bisakah kita pergi dari sini???"


"Oke kita pergi ke kedai seperti biasanya." Gumam Niall.


"Kenapa harus menjemputku??? Aku kan bisa langsung menemui mu di kedai??" Protes Sheryl.


"Memangnya kenapa??? Aku kan juga ingin mengetahui kampusmu, lagipula kelas hari ini sudah selesai dan aku bosan jika pulang di apartemen, jadi aku putuskan untuk datang saja menjemputmu."


"Harusnya beritahu aku dulu, jangan langsung menjemput seperti ini." Sheryl memprotes lagi dan Niall hanya tersenyum


Niall sudah membawakan helm cadangan untuk Sheryl dan mereka pergi naik motor. Lokasi kedai itu juga tidak terlalu dengan kampus Sheryl, hanya butuh beberapa menit saja.


Niall sangat senang dia bisa bertemu dengan Sheryl lagi. Merasa hangat bisa mengobrol dan berbagi cerita dengan gadis itu. Sheryl sangat manis dan mengobrol dengannya selalu jadi hal yang sangat menarik sekali.


***


Sampailah mereka di kedai kopi yang biasanya. Mereka mengobrol sambil menikmati kopi, Sheryl memesan cokelat panas seperti biasanya dan camilan ringan. Niall sebenarnya sudah menyiapkan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Sheryl. Dan pendekatannya rasanya sudah cukup sehingga ini waktunya untuk bisa mengungkapkan perasaannya pada Sheryl. Niall tidak mau menunggu lagi.


"Sheryl. Apa lau tahu, kalau aku sudah mulai merasa sangat nyaman bersamamu." Niall menatap Sheryl lembut, lalu menghela napas. "Kau tahu bahwa bersamamu selalu menyenangkan."


Sheryl menghela napas panjang. Bersamamu selalu menyenangkan... itu kalimat yang sama, yang diucapkannya kepada Alex.


"Thanks Niall. Kuharap kita bisa berteman seperti ini seterusnya. Aku juga senang menghabiskan waktu bersamamu."


Wajah Niall sedikit memucat, dia lalu tersenyum miris. "Hanya sebagai teman. Itukah yang kau inginkan???"


"Yupz." Sheryl tersenyum, mencoba terdengar mantap. "Menurutmu memang kita harus seperti apa??? Kau tahu kan kalau aku tidak bisa lebih dari itu."


"Karena Alex???" Tanya Niall memastikan dan detik itu juga Sheryl melotot menatapnya tajam.


"Please Niall???" Gumam Sheryl.


"Tetapi aku benar kan??? Karena Alex??? Aku melihatmu waktu itu, ketika kau bercerita tentang tragedi sebelum pernikahanmu. Matamu yang kosong, seolah sudah kehabisan air mata... dan aku sadar, dia belum mati bagimu."


"Dia memang belum mati bagiku. Alex akan selalu ada di sini." Sheryl menunjuk dadanya, menahan tangis.


"Dan kemudian bagaimana kau akan melanjutkan hidupmu??? Seperti ini terus menerus??? mencoba menjaga kenangan tentang Alex di hatimu itu, sementara dunia terus berjalan, meninggalkanmu, kau menangisi kekasihmu yang telah meninggal???" Niall tersenyum miris. Memalingkan wajahnya seolah mengejek Sheryl yang terus saja hidup dalam masa lalu nya. Sangat menyedihkan sekali.


"Stop it...!" Seru Sheryl dengan sangat marah pada Niall. Apa yang baru saja di ucapkan oleh Niall sangat lah melukai hatinya. Berani sekali lelaki di depannya ini berkata seperti itu tentang Alex. Dia sangat mencintai Alex dan tidak akan mungkin mengkhianati Alex dengan menjalin hubungan dengan laki-laki lain.