Heart Attack

Heart Attack
Pamella adalah Tunangan Niall



"Hai kak..." Sapa Niall ketika panggilannya di angkat oleh kakak sepupunya.


"Hello my little brother yang sudah tidak little lagi sebenarnya."


Niall terkekeh. "Kakak sudah di Jakarta ya???? Tadi Papa memberitahuku kalau kakak sudah ada di Jakarta."


"Iya, baru sampai semalam." Jawab Kyros. Dia adalah kakak sepupu Niall, anak dari Om nya Niall yaitu Aditya. Hubungannya dengan Kyros sangat dekat, meski saat ini Kyros tinggal dan menetap di Amerika karena bekerja disana. Dan dulu Niall juga sempat tinggal di Swiss dengan Kyros karena memang saat itu, Kyros menempuh pendidikan SMA nya di Swiss. "Kau kemarin katanya ke Jakarta ya sekitar dua minggu ya???? Haduhhh sayang sekali kita tidak bisa bertemu."


"Kalau kakak memintaku pulang, weekend nanti aku akan pulang dan bertemu Kakak jiga Kak Gienka serta Lexia, aku sangat merindukan kalian."


"Ya, weekend pulanglah, setidaknya meski hanya dua hari, yang penting kita bisa bertemu dan berkumpul. Bagaimana kuliahmu disana??" Tanya Kyros.


"Sangat baik kak, aku menikmati waktuku dengan baik di kampus, belajar rajin sudah tentu, dan minggu depan rencana nya aku akanulai bekerja di kantor Uncle Aditya yang ada disini, aku sudah kesana untuk mengkonfirmasi. Dan mereka akan menyiapkan tempat untukku, senang sekali bisa sekolah sambil belajar bekerja di kantor."


"Ya, itu sangat bagus sekali supaya kau tidak kagok." Ucap Kyros. "Sekarang kau sedang apa???" Tanya Kyros.


"Aku baru keluar dari kelas, baru saja selesai dan Kakak menelepon, senang sekali, ini aku ingin pergi ngopi dulu kak sebelum pulang."


"Oh ya sudah, nanti kita lanjut lagi, kau pulanglah dengan hati-hati."


"Oke, baiklah kak sudah dulu ya???" Panggilan pun berakhir. Niall bergegas berjalan keluar untuk pergi ke kedai kopi hang biasanya dia datangi dengan Sheryl. Senang sekali ternyata kakak sepupunya sudah ada di Jakarta dan dia bisa bertemu dengan mereka weekend nanti.


Sementara itu di kampus Sheryl.


"Tentang Niall dan Pamella?" Sheryl mengernyitkan keningnya. Siapa itu Pamella? Sheryl berusaha mengorek-korek ingatannya tetapi dia tetap tidak menemukan ingatannya tentang seseorang bernama Pamella.


Elvin menjawab dengan cepat, "Pamella... yang kemarin kita bertemu di depan A&W"


Sheryl mengedipkan matanya. "Pamella.. maksudmu Mella????"


Elvin langsung sadar kalau Pamella memperkenalkan dirinya sebagai Mella kepada Sheryl. "Ya, maksudku Mella."


"Kalau begitu, Niall dan Pamella, apakah maksudmu Niall mengenal Pamella???" Sheryl mengernyitkan keningnya. Kalau begitu kenapa kemarin Mella dan Niall bersikap tidak saling kenal??? bahkan sepanjang ingatan Sheryl, mereka bukan hanya tidak saling menatap, tetapi juga tidak saling menyapa. Sampai kemudian setelah mereka pergi pun, Niall sama sekali tidak mengindikasikan bahwa dia mengenal Pamella.


Sheryl mengalihkan pandangannya dan menatap Elvin dengan bingung. Lelaki ini tidak dikenalnya, datang menemuinya ingin menjelaskan tentang Niall dan Pamella, dari kesimpulan cepat Sheryl, mungkinkah lelaki ini adalah kekasih Pamella???


"Ceritanya sedikit kompleks dan panjang, bisa aku minta waktu Sheryl??? mungkin kita bisa duduk di suatu tempat???" Tanya Elvin.


Sheryl menatap Elvin, penampilan lelaki ini tampaknya tidak mencurigakan, tetapi bagaimanapun juga Sheryl tidak kenal dengan Alex, apalagi penjahat-penjahat sekarang malahan kebanyakan berpenampilan meyakinkan agar tidak dicurigai.


"Sheryl???" teguran Elvin itu mengagetkan Sheryl dari lamunan liarnya, membuat pipinya memerah malu ketika menyadari bahwa dia melamun di depan Elvin.


Dengan cepat, Sheryl mengambil keputusan paling aman "Kita bisa berbicara sambil duduk di kantin kampus." Gumam Sheryl.


Kantin kampus sebenarnya bukan tempat yang tepat untuk melakukan pembicaraan serius karena suasananya biasanya ramai. Tetapi untunglah, karena menjelang jam pulang kampus, suasana kantin agak sedikit lengang. Hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk mengobrol dengan tenang di berbagai sudut. Dan tempat ini merupakan tempat ideal bagi Sheryl karena tempat umum yang banyak orang merupakan tempat yang paling aman ketika berbicara dengan orang yang baru dikenalnya ini.


"Kopi siang-siang???" tanyanya penuh arti sambil tersenyum.


Sheryl membalas senyuman Elvin. "Aku belum minum kopi hari ini. Biasanya sehari satu cangkir."


Elvin terkekeh mendengarnya. Dia menatap Sheryl dan menyadari bahwa perempuan di depannya ini adalah perempuan yang menyenangkan. Seandainya tidak ada konflik  yang melibatkan Pamella yang sangat disayanginya, mungkin mereka bisa berteman. Sekarang Elvin didera perasaan bersalah karena harus mengungkapkan kenyataan, kenyataan yang mungkin akan menyakiti hati Sheryl.


"Well????" Sheryl memandang Elvin karena tampaknya lelaki itu malahan tercenung dan tampak ragu, "Ingin bicara tentang apa???" Tanya Sheryl.


Elvin tergeragap, lalu menghela napas panjang. "Sebelumnya aku minta maaf karena membahas kehidupan personal. Tetapi karena ini menyangkut Pamella, dia sepupuku dan aku sangat menyayanginya..."


Jadi Pamella adalah sepupunya. Sheryl mengerutkan keningnya, sayang sekali, karena ketika mereka berjalan bersama kemarin, mereka tampak sangat serasi.


"Mungkin hal yang ku beritahukan kepadamu ini akan mengejutkanmu. Tetapi aku harus mengatakannya. Ini tentang Niall.... kulihat kau akrab dengannya." Ucap Elvin.


Pipi Sheryl memerah, dia tidak menjawab, tapi Elvin tahu ada tatapan berbinar penuh cinta di sana ketika Elvin menyebut nama Niall.


"Apakah kau tahu bahwa Niall pernah punya tunangan sebelumnya???" Elvin bertanya hati-hati.


Sheryl mengerutkan kening, langsung teringat akan telepon aneh dari perempuan yang mengatakan bahwa dirinya adalah ibu Niall dan mengajak bertemu, mengatakan tentang Niall dan tunangannya... perempuan itu tidak muncul pada janji temu mereka, dan Niall mengatakan supaya Sheryl tidak usah memikirkannya lagi.


"Aku tahu, Niall menceritakan kepadaku bahwa dia sudah putus dengan tunangannya sebelum dia pindah ke Surabaya."


Tatapan Elvin makin intens. "Apakah kau tahu apa alasan Niall meninggalkan tunangannya???"


"Itu bukan urusanku kan???" Sheryl mulai merasa tidak nyaman. Apa yang menjadi permasalahan Niall sebelumnya dengan tunangannya bukanlah urusan Sheryl, apalagi Sheryl baru bertemu dengan Niall setelah lelaki itu putus dengan tunangannya - seperti yang dijelaskan Niall kepadanya. Niall tampak enggan mengungkit-ungkit masa lalunya itu, dan Sheryl merasa tahu diri serta tidak mau bertanya-tanya.


"Mungkin kau merasa bahwa itu bukan urusanmu, tetapi sebenarnya itu terkait erat denganmu Sheryl, amat sangat terkait."


"Apa maksudmu???" Tanya Sheryl semakin bingung, "Niall mengenalku setelah dia pindah ke Surabaya, jauh setelah dia putus dengan tunangannya, aku tidak ada hubungannya dengan permasalahan Niall dan tunangannya."


"Ada hubungannya. Niall memutuskan pertunangannya karena dirimu, Sheryl."


"Me???? Tidak mungkin, bagaimana bisa...??" Sheryl mulai membantah.


"Dengarkan aku dulu, biarkan aku menjelaskan..." Elvin menyela sebelum Sheryl sempat berkata lain. Setelah Sheryl terdiam dan tampaknya mau menjelaskan, Elvin memulai, "Tunangan Niall.... atau mungkin mantan tunangan Niall adalah Pamella."


Sheryl terperanjat. "Apa????"


"Ya..." Elvin tersenyum tipis, "Dia sepupuku, aku sangat menyayanginya, bahkan ketika aku tidak setuju akan keputusan yang di ambilnya untuk datang ke Surabaya dan mengejar Niall."


"Mengejar Niall????" Sheryl mulai mengulangi setiap perkataan Elvin, semua informasi ini terlalu mendadak dan bertumpuk-tumpuk di benaknya, membuat dadanya sesak sekali. "Apa maksudmu??? Bisa kau jelaskan dengan detail???" Pinta Sheryl pada Elvin.