Heart Attack

Heart Attack
Mencari Informasi



Sampailah kemudian Pamella dan Elvin di panti asuhan itu. Mereka kemudian bertanya mengenai keberadaan bu Rani kepala panti asuhan ini. Karena Elvin pernah mendengar nama itu dari obrolan orang tua Pamella ketika itu. Mereka pun di antar salah seorang pengurus panti ke ruangan bu Rani. Mereka di ijinkan masuk sendiri oleh bu Rani dan di persilahkan untuk duduk.


Ibu Rani sang ibu Panti asuhan mendengarkan penjelasan Elvin dan Pamella yang bergantian. Dia mencatat nama dan seluruh informasi yang diberikan oleh pasangan itu dalam benaknya, kemudian menganggukkan kepalanya,


“Saya ingat tentangmu Pamella. Dan kalau memang bisa membantu, Saya senang bisa memberitahukan informasi untukmu. Memang kadangkala ada aturan yang mengikat saya yang melarang saya untuk sembarangan memberikan informasi terlebih kepada mantan anak di panti asuhan saya, tetapi kadangkala dengan pertimbangan tertentu, saya mau memberikan informasi untuk membantu sang anak menemukan jati dirinya dan tidak bertanya-tanya lagi tentang asal usulnya.” Ibu Rani kemudian merenung, tampak mengingat sesuatu. “Dan sebenarnya, saya pernah menghubungi orangtuamu untuk memberitahu informasi penting menyangkut dirimu, saya pikir waktu itu kau berhak tahu, tetapi melihat kau sekarang, saya menyimpulkan bahwa orang tuamu memilih untuk tidak memberitahumu.”


Pamella mengeryitkan keningnya. “Informasi tentang apa, ibu???” Tanya Pamella.


“Mungkin saya akan menjelaskan tentang orangtuamu sebelumnya, Pamella.” Ibu Rani tersenyum lembut, meminta Pamella untuk bersabar. “Saya harap itu bisa membantumu menerima semuanya nanti.”


Pamella hanya bisa menganggukkan kepalanya menunggu, meskipun hatinya penasaran setengah mati.


“Tidak seperti anak-anak lain kebanyakan di sini, sebenarnya kau cukup beruntung. Sebagian besar yang ada di sini merupakan anak buangan, tidak bisa melacak asal usulnya lagi, benar-benar tidak bisa menemukan asalnya. Tetapi aku bisa memastikan asal-usulmu.” Ibu Rani melanjutkan. “Orangtuamu sebenarnya sangat menyayangimu,  mereka memang tidak kaya tetapi mereka berusaha mencukupimu, itulah yang kutangkap dari petugas dinas sosial ketika mengantarkan bayimu kemari, sayangnya umur mereka tidak panjang dan mereka tidak punya sanak keluarga, sama-sama sebatang kara. Karena kejadian itu, para tetangga menemui dinas sosial dan diputuskan untuk menitipkanmu di sini. ”


“Orang tua saya sudah meninggal???” Pamella merasakan dadanya ditonjok keras-keras. Meskipun sudah menduga hal ini sebagai kenyataan yang paling buruk, tetap saja informasi ini menghentak batinnya.


“Ya Pamella, maafkan saya harus menceritakan kenyataan ini kepadamu. Tetapi setidaknya kau bisa merunut asal-usulmu, kau bukan anak buangan yang tidak jelas siapa asal usulnya. Mereka mengalami kecelakaan dan meninggal, saat itu usiamu tiga bulan, dan kau selamat dari kecelakaan itu.”


Ibu Rani lalu berdiri, dan melangkah ke laci besi besar yang ada di sudut ruangan,


“Sebentar, sepertinya arsip lamapun masih tersimpan dengan rapi di sini.” Perempuan setengah baya itu tersenyum. “Saya selalu menjaga setiap arsip sebaik mungkin supaya ketika ada yang datang dan bertanya saya bisa membantu.”


Pamella dan Elvin saling bertukar pandang, Elvin yang mengetahui kesedihan yang menohok hati Pamella mengulurkan jemarinya dan meremas jemari Pamella dengan lembut, Pamella mendongakkan kepalanya dan menatap Elvin, lalu tersenyum. Meskipun pahit, Pamella bersyukur ada Elvin yang mendampingi dan menopangnya di sini.


Memerlukan beberapa menit untuk mencari arsip lama itu, sampai kemudian Ibu Rani mengeluarkan sebuah map yang berwarna merah dan membawanya ke meja. “Ini arsip tentangmu Pamella, di sana ada foto dan nama orang tua kandungmu.”


Ibu Rani juga menatap foto itu, lalu menghela napas panjang. “Ya Pamella, kabar yang waktu itu membuatku menghubungi orangtuamu, kabar itu menyangkut kakakmu. Kau mempunyai seorang kakak,  anak di dalam foto itu adalah kakakmu.”


Wajah Pamella langsung pucat pasi dan kebingungan. Elvin meremas tangannya lembut, dan jemari Pamella yang menatap foto itu makin bergetar.


Dia... punya seorang kakak?


“Ini adalah kakak lelakimu.” Ibu Rani menunjuk ke anak lelaki kurus di foto itu, yang dirangkul oleh ayahnya, kemudian menatap Pamella dengan sedih. "Seandainya saya punya kesempatan untuk memberitahu tentangnya sejak awal Pamella, tetapi kau telah hidup dalam kehidupan baru yang bahagia, dan orangtuamu memutuskan untuk menjagamu dengan tidak memberitahukan informasi apapun, hal itu menahan saya untuk mengganggu kehidupanmu dengan informasi ini.”


Ibu Rani menghela napas panjang lalu melanjutkan. “Kakak lelakimu berumur tiga tahun ketika kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuamu terjadi, kalian berdua diserahkan di panti asuhan ini bersama-sama. Sayangnya, kakakmu terlalu besar usianya dan anak yang sudah terlalu besar biasanya jarang sekali diminati untuk diadopsi. Pada akhirnya kakakmu harus berpisah denganmu karena orangtua angkatmu memilihmu untuk diadopsi.” Ibu Rani menatap Pamella lembut. “Meskipun terpisah, saya tahu kakakmu selalu mencintaimu. Dia tumbuh dan besar di sini, kami menyekolahkannya karena dia sangat pandai, di pagi hari dia bersekolah dan setelahnya dia membantu di panti asuhan ini, bekerja apapun yang bisa dilakukan untuk membantu kami. Dan ketika dia lulus SMA dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah, dia memutuskan bahwa dia sudah dewasa dan siap, dia kemudian meninggalkan panti asuhan ini dan menjalani hidupnya sendiri. Dia sukses dalam kehidupannya, dan walaupun begitu kakakmu tidak pernah lupa mengunjungi kami, katanya dia menganggap panti asuhan ini adalah rumahnya, Saya ingat dia selalu datang di hari raya dan 2 atau 3 bulan sekali, membawakan makanan dan baju baru yang begitu banyak untuk anak-anak panti di sini.” Mata ibu Rani menerawang.


Pamella menatap perempuan setengah baya di depannya itu dengan penuh harap, informasi ini benar-benar mengejutkannya sekaligus membuatnya bertekad. Dia memiliki seorang kakak kandung, lelaki yang sukses kalau menurut kisah ibu Rani ini. Jadi dimana dia bisa menemukan kakak lelakinya itu???


“Di mana saya bisa menemukan kakak saya, ibu???” Pamella menyuarakan pertanyaan  di benaknya, menatap ibu Rani sepenuh rasa penasarannya.


Tetapi seketika itu juga ada mendung menggumpal di wajah ibu Rani, mata perempuan itu tampak berkaca-kaca. “Karena itulah tanpa mempedulikan semua aturan, waktu itu saya menghubungi orangtuamu Pamella.  Karena menurut saya kau harus tahu.” Ibu Rani menatap Pamella dalam-dalam. “Kakak lelakimu sudah meninggal karena kecelakaan yang menimpanya." Ucap Ibu Rani dengan sedih.


"Kecelakaan??? Kakakku juga meninggal???"


"Iya Pamella, dia kecelakaan dan meninggal dunia sehari sebelum pernikahannya."


Pamella semakin sedih. "Kalau boleh tahu siapa nama kakak saya???" Tanya Pamella lagi.