
"Apa ?."
"Apa aku tidak salah dengar?."
Ibu dan ayahku menarikku untuk duduk. Step yang sedang asyik memakan cemilan dan memainkan gadgetnya terhenti dan hanya menatapku kasian, walaupun nyatanya Step sedikit kaget dengan perkataan orang tua kami, tapi sepertinya kakak lelakiku satu- satunya ini sangat mendukung keputusan mereka.
"Tolong ibu dan ayah ya nak?."
"Ibu tahu kamu anak yang penurut." Ujar ibuku sedikit memohon.
Aku menggeleng. "Untuk urusan yang seperti ini, rasanya aku tidak bisa , maafkan aku ibu, ayah."
"Jangan menolak dan mengambil keputusan sendiri nak, ayah dan ibu melakukan yang terbaik untukmu, dia anak dari keluarga Alexander dia adalah pria pilihan kami. Dia anak dari teman ayah dan ibu." Ucap ayahku bersikeras.
Aku hanya menggeleng, rasanya aku ingin menangis sekarang. Rasanya seperti ada hujaman ribuan batu yang menusuk hatiku. Aku terpohok dengan keputusan ayah dan ibu. Aku mencoba menoleh menatap Step kakak laki- lakiku mencoba mencari bantuan padanya. Dan berhasil Step menoleh ke arahku dengan pandangan juga tidak setuju dengan keputusan mereka.
"Kasian Clara, bukankah dia hanya seorang bocah kecil. Lihat saja bukankah pemikirannya juga masih dangkal, dia belum matang dan belum mampu menyandang sebagai seorang istri. Apa kalian tidak kasian padanya."
Walaupun sedikit kesal dengan ucapan Step yang mengataiku bocah kecil, tapi setidaknya Step berusaha menolongku. Mungkin benar aku harus segera menggantikan wine nya yang telah ku buang, ini sebagai tanda terimakasihku padanya, karena dia telah menolongku.
"Kalau begitu kau saja yang menggantikan adikmu untuk di jodohkan, kau mau?."
Rupanya ayahku bersikeras ingin menjodohkan keluarga kami dengan keluarga mereka. Sekarang Step hanya bisa bungkam seribu bahasa. Dia tidak lagi mau menentang mereka dan tidak mau menolongku. Karena jika dia menolongku sama saja dia sendiri yang akan kena imbasnya.
"Bagaimana jika aku tak suka?." Raut ku sedikit emosi, jelas saja urusan sepenting ini aku pasti marah. Bagaimana jika posisi itu ada pada kalian? Kalian juga akan melakukan hal yang sama sepertiku bukan.
"Begini saja, jika kamu tak suka. Kamu boleh membatalkannya, sayang. Tapi untuk sore ini kamu harus bersiap- siap, sambut kedatangan mereka dengan hangat. Kamu boleh menolak mereka pelan- pelan."
Aku memeluk ibuku, aku sangat menyayanginya. Karena dialah satu-satunya orang yang sangat mengerti diriku. Buktinya saja sekarang masih saja bisa membelaku.
"Terima kasih." Ibuku mengangguk dan melepaskan pelukanku. Ayahku dan Step hanya bisa menggeleng- gelengkan kepala melihat kelakuanku.
"Kalau begitu bersiap- siaplah sayang, ibu sudah menyuruh Ellie untuk mendandani mu dan mempercantikmu. Ibu, Ayah dan Step juga akan bersiap- siap. Oh ya Ellie sudah menunggumu di kamar, pergilah"
"Ya."
-----------
Aku hanya pasrah ketika Bibi Ellie mendandani dan merias wajahku. Oh ya Bibi Ellie ini adalah seorang perias pilihan mamah ketika ia tinggal di Newyork. Dia sudah lama bekerja dengan mamah, sehingga aku tidak merasa tidak enak ketika meminta bantuannya.
"Kau sangat cantik sangat."
"Gaun yang di belikan ibumu juga sangat bagus sangat cocok dengan tubuhmu ini, sehingga kau terlihat cantik dan anggun."
"Terima kasih bibi. Tanganmu juga handal untuk merias wajahku." Ujarku, kemudian bibi Ellie tersenyum simpul.
"Kamu bisa saja, oh ya bibi tinggalkan keluar ya?."
Aku mengangguk. Ketika bibi Ellie telah keluar aku menatap diriku di cermin. Aku sedikit tidak menyangka bahwa ini adalah aku. Aku terlihat anggun dengan gaun shortdress pemberian ibu. Juga make up ku yang natural membuatku terlihat seperti cantik alami.
Karena terlalu asyik mengagumi diri sendiri aku lupa dengan keadaan Damian. Bagaimana keadaan pria itu. Aku mengambil ponselku dan mengirimkan sebuah pesan padanya, guna menanyakan kabarnya.
Author
Clara mengernyit ketika dalam waktu 5 menit tak kunjung ada balasan darinya. Dia mencoba lagi mengirimkan satu pesan kepada pria itu dan dengan pertanyaan yang sama.
##"Apa kau baik?."##
Bukan sebuah balasan yang datang. Melainkan ponselnya yang kini telah berdering.
"Aku baik- baik saja. Kenapa apa kau merindukanku?."
Clara menggigit bibir bawahnya tanda ia sedang bingung. Clara sedikit gugup mendengar suara Damian di seberang sana.
"Bagaimana kabarmu?."
"Mungkin seharusnya kau lihat sendiri tentang keadaanku sekarang."
"Besok aku akan menjengukmu. Sekarang aku ada urusan. Jadi sudah dulu."
Clara dengan cepat mematikan ponselnya. Ia sangat gugup jika harus berlama- lama di telpon bersama Damian. Sekarang Clara memutuskan untuk keluar ketika bi Ane, asisten rumah tangganya memanggilnya.
Clara berjalan ke arah ruang tamu. Ibu, Step dan ayahnya telah bersiaga.Ketika Cathrine ibunya menyuruhnya untuk duduk tiba- tiba saja bel rumah mereka berbunyi pertanda tamu yang di tunggunya telah datang.
Ane sang asisten rumah tangga membukakan pintu, menyuruh mereka untuk segera masuk. Clara dapat melihat tamu yang datang bukan orang biasa, karena mereka datang dengan didampingi beberapa bodyguard.
Mata Clara menyipit tatkala melihat salah satu orang dari mereka ada yang dikenalinya. Hanya saja karena merasa begitu gugup Clara sendiri tak bisa mengatakan apa- apa. Ada dua orang tua yang menjabat tangannya hangat dan mencium pipinya. Mencoba mengajak ia untuk berkenalan. Dan ada satu orang pria di belakang kedua orang tua itu, dan dengan sangat pasti ia sudah tahu siapa pria itu.
"Robert Samuel Alexander." Clara terlihat enggan menjabat tangan Samuel, dan ia merasa tidak senang dengan kedatangan pria itu. Bahkan di depan kedua orang tuanya sendiri Samuel berpura- pura tidak mengenalnya.
Karena sifat Clara yang tidak memperdulikan apa yang di lakukan Samuel dia juga terlihat cuek dan biasa- biasa saja. Dia menuruti keinginan Samuel, pura- pura tidak mengenal satu sama lain.
Orang tua Clara menuntun mereka untuk berjalan kearah ruang meja makan. Clara mengikuti mereka dari arah belakang, tetapi terlihat ibu Samuel yang bernama Ramona menarik pergelangan tangannya dan mencoba menggandeng tangannya.
Ramona ibu dari Samuel terlihat begitu ramah terhadapnya. Clara sangat nyaman bersama Ramona, ia tidak terlihat seperti ibu- ibu galak yang ada dalam drama. Hanya yang membuat Clara tak mengerti adalah bagaimana mungkin Ramona bisa melahirkan anak seperti Samuel. Pria teman di kampusnya dan pria si raja sex. Kenapa Clara menamainya begitu karenq setiap kali ia bertemu Samuel ketika di kampus. Pasti saja pria itu sedang bercinta dengan wanitanya. Dan itu yang membuat Clara muak dan tak mau dekat- dekat dengan Samuel.
"Clara kau melamun, sayang?."
"Tidak apa- apa." Jawab Clara ketika Ramona tak henti- hentinya berusaha ramah dan akrab padanya.
-----
Setelah selesai makan, keluarga kami berdiskusi tentang acara inti yaitu acara dimana aku dan Samuel akan dijodohkan.
Awalnya aku memang kaget, aku juga terlihat keberatan. Tapi ibuku berusaha menenangkan. Bahwa semuanya akan baik- baik saja. Dan jika aku tidak suka, katanya aku boleh menolak. Tapi melihat bibi Ramona yang terlihat begitu menyukaiku, aku tidak yakin bahwa dia akan melepaskanmu.
"Bagaimana pendapatmu mengenai Samuel?."
Kali ini Jimmy yang bertanya. Jimmy adalah ayah dari Samuel.
Aku bingung aku harus menjawab apa? Aku melirik kearah Samuel yang nampak biasa- biasa saja, bahkan yang kulihat Samuel seperti tidak keberatan dengan perjodohan ini. Dia malah terlihat santai tanpa ada ketakutan bahwa kami akan di jodohkan.
"Mungkin dia baik?." Jawabku asal. Jimmy dan Ramona tersenyum menatapku.
"Tapi aku rasa perjodohan ini tidak seharusnya....."
"Kami tahu, jika kau belum siap kami bisa menundanya. Sampai kalian benar- benar siap."
"Kalian bisa mengenal satu sama lain terlebih dahulu baru menikah." Ujar Jimmy.
"Dan kami tidak akan memaksa jika kau tidak mau." Lanjut Ramona.
Aku tersenyum mendengar obrolan mereka. Apa yang ibuku katakan memang benar ? Mereka memang berniat menjodohkanku tapi mereka juga tidak akan memaksaku, jika aku tidak mau.
Author :
Clara pamit kebelakang menyusul Step kakaknya. Ia mencoba meminta pendapat pada kakaknya.
Clara mencari Step tidak ada di belakang. Ia mencoba mencari Step ke taman di belakang rumahnya. Hari sekarang sudah menjadi gelap.
Ketika Clara sedang menatap ke arah langit. Seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Kau baik- baik saja." Ujar Samuel.
"Kau mengikutiku?." Bukannya menjawab Clara balik bertanya.
"Aku tidak membuntutimu, aku hanya ingin berbicara padamu."
"Katakan saja."
Samuel mengajak Clara untuk duduk di bangku taman.
"Apa kau membenciku?." Tiba- tiba saja Samuel bertanya. Clara menatap Samuel lalu menghembuskan nafasnya dalam.
"Tidak." Clara masih tetap acuh.
Samuel tak berhenti disitu saja dia mencoba menatap Clara lekat membuat Clara sedikit risih.
"Aku tahu kau membenciku, tapi yang perlu kau tahu aku datang kesini hanya ingin menggantikan kakakku. Aku tak berniat menerima perjodohan ini. Kalau bukan karena kakakku aku tidak akan kesini."
Clara terdiam, apa benar apa yang dikatakan Samuel padanya?. Lalu jika perkataannya benar, siapa pria yang akan dijodohkan dengannya.
-------
#Kampus
Clara terngiang- ngiang atas perkataan Samuel semalam. Hari ini ia sedikit tak fokus dengan pelajaran Pak Andrew.
"Clara, kau tidak memperhatikan pelajaran Pak Andrew, kau tahukan dia dosen yang sangat galak."
Clara menyaut menatap Jessy sahabatnya. Jessy hanya menggelengkan kepala melihat temannya yang tidak biasanya tidak fokus seperti ini.
"Istirahat nanti makan denganku ya?." Clara tak menjawab ia hanya mengangguk sebagai jawaban.
--------
"Coba ceritakan, apa yang terjadi?" Jessy bertanya to the point pada Clara mengenai kejadian tadi pagi.
"Tidak ada." Clara tetap bungkam, sambil menyantap sepotong Sandwich.
"Tidak apa tidak cerita, tapi aku mempunyai sesuatu untukmu." ujar Jessy sumringah.
Jessy mengeluar satu tangkai bunga mawar dan sebatang coklat dari dalam tas nya. Ia memberikannya pada Clara. Clara hanya mengkerut bingung menatap Jessy.
"Ada angin apa kau memberikanku hadiah seperti ini?."
Clara menerima kedua hadiah itu dengan tatapan bingung.
"Tentu saja bukan aku, Samuel yang memberikan itu. Seharusnya aku yang bertanya padamu ada hubungan apa kau dengan dia?."
Clara yang sedang meminum jusnya kemudian tersendak. Clara terbatuk-batuk mendengar Jessy mengatakan nama Samuel di telinganya.
"A...aku tidak ada?."Sahut Clara berbohong.
Clara yang terus ditanyai oleh Jessy mengenai Samuel jadi salah tingkah. Tentu saja, apa yang akan dikatakannya pada Jessy? jika Jessy tahu semuanya yang terjadi atas kejadiannya semalam, tentang perjodohannya dengan Samuel, pasti temannya itu akan menertawakannya.
"Tapi Samuel bilang dia sedikit menyukaimu, Apa kau juga tidak menyukainya."
"Dia juga bilang dia ingin serius denganmu." Sahut Jessy kembali.
"Tidak." Sahut Clara tegas pergi meninggalkan Jessy yang masih mematung sendiri. Setelah Clara tidak terlihat lagi di kantin Jessy segera menyusulnya. Jessy berteriak pada Clara bahwa Samuel itu sangat tampan dan Clara tak akan mampu untuk menolaknya.