Heart Attack

Heart Attack
Heart Attack, Bagian 5



"Apa kau tak mau mengidzinkanku masuk, dan membiarkanku kedinginan di luar?." Damian melipat tangannya, tubuhnya bersandar di sebuah pintu. Dan matanya menatap Clara dengan intens. Clara yang sempat mematung segera tersadar, tentu saja ia sangat gugup sekarang ketika pria itu menatapnya begitu. Hatinya bergetar tak karuan.


"Ma..masuklah." Ucap Clara gelagapan.


Damian yang melihat Clara sedikit salah tingkah hanya bisa tersenyum.


Kemudian Clara membawa Damian ke ruang tamu, mempersilahkan Damian untuk segera duduk.


"Step dimana?." Tanya Damian tiba- tiba.


"Mungkin dia sudah tidur di kamarnya." Sahut Clara apa adanya.


"Oh ya, apa Step yang menyuruhmu kesini?." Tanya Clara lagi.


"Dia menyuruhku untuk menemanimu malam ini. Bukankah kau sedang butuh bantuan seseorang."


"Kau mau membantuku. Baiklah ini tugas- tugas dari beberapa dosen. Minggu depan tugas- tugasku harus sudah selesai."


"Bawa laptopmu kesini. Karena aku jamin semua tugasmu akan selesai malam ini."


"Aku tidak yakin kau bisa menyelesaikan tugasku dalam satu malam." Sahut Clara spontan. Merasa diragukan Damian sedikit tidak senang.


"Jika aku bisa, aku akan meminta 3 permintaan darimu tapi jika aku tidak bisa menyelesaikannya, kau boleh meminta sesuatu dariku, dan apapun itu aku akan berusaha untuk mengabulkannya."


Clara menjabat tangan Damian dan menyepakati itu.


**


Berjam- jam Clara menunggu Damian, kini waktu sudah menunjukan pukul 01.00 Am, pria itu belum selesai mengerjakan tugasnya.


Dengan mata setengah mengantuk Clara sempat mencuri- curi pandang menatap pria itu. Clara semakin menguap,  matanya juga sudah mulai lelah. Tiba- tiba saja matanya terpejam karena tak sanggup menahan rasa ngantuk yang melandanya.


Clara VOP


#Dunia_mimpi


Nafasku tersenggal- senggal. Kini aku tengah berlari- lari. Beberapa orang di belakang berusaha mengejarku. Aku tidak bisa begini terus , aku harus bersembunyi.


Aku berbelok jalan, memasuki gang kecil. Aku terus berlari, setelah aku tak melihat mereka lagi, aku bersembunyi di belakang beberapa drum. Aku berhenti disana karena aku rasa disana  cukup aman.


Aku memegang erat dadaku, aku  masih sedikit tersenggal- senggal. Kemudian aku berhenti dengan cukup lama disana.


Karena nafasku sudah merasa lebih baik aku mencoba berdiri dan mencoba keluar dari persembunyianku. Tapi aku kaget aku kembali menunduk dan mencoba bersembunyi kembali. Ketika melihat orang- orang yang mengejarku ada dihadapanku.


Aku ingin menjerit ketakutan ketika orang- orang itu malah semakin banyak. Bahkan ada yang membawa senjata tajam dan ada juga yang membawa seekor anjing. Mereka mencariku untuk apa? Apakah aku punya salah pada mereka? Atau ada yang diinginkan mereka padaku ?.


Aku membungkam mulutku sendiri. Mencoba agar tidak bersuara. Mereka sedang mencariku tapi untungnya mereka tak bisa melihatku bahwa aku ada dibelakang mereka.


Mereka memutuskan untuk pergi karena tak berhasil menemukanku. Ketika mereka sudah tak terlihat aku mencoba berdiri dan mencoba kabur dan berlari sebisa mungkin.


Karena aku terus berlari sambil sesekali menengok kebelakang aku tak melihat kedepan. Bahwa ada seorang pria yang telah kutabrak. Aku tak melihat wajahnya Karena pria itu malah menarik tanganku lalu pria itu mengajak aku untuk mengikutinya dan ikut bersembunyi dengannya.


"Clara?".


Aku menengok menatap pria itu. Sudah jelas aku bisa melihat bahwa itu adalah Damian.


"Damian." Bisikku.


Damian tersenyum dan menatapku lekat. Aku terenyuh melihat senyumannya, hingga tak kusadari tangan pria itu menarik kepalaku dan mencodongkan tubuhnya. Ia bertindak seolah- olah akan menciumku.


Aku mencengkram jaketnya, aku tak menyangka bahwa dia benar- benar akan menciumku. Damian memberikan beberapa kecupan padaku. Kemudian menciumku lagi. Awalnya aku hanya diam tapi lama- lama aku malah membalas ciumannya.


*****


"Hey...hey...bangun."


"CLARA BANGUN......"


Aku mengerjapkan mataku beberapa kali ketika mendengar teriakan seseorang. Aku melotot melihat bahwa Step lah yang berteriak.


Aku bangun dari atas sofa dan beracak pinggang melihatnya. Awalnya aku ingin memarahi Step karena mengganggu waktu tidurku. Tapi ketika aku tahu Step membawakan senampan wadah yang berisi nasi goreng dan satu gelas susu putih, rautku berubah menjadi senang.


"Ini untukku."


Step yang mencoba menahan tawa melihat tingkahku memberikan nampan itu padaku.


"Aku akan berangkat ke kantor, kau jaga rumah ya. Sorena nanti kau siapkan makanan untukku. Karena bi Ane hari ini idzin libur. Menjenguk anaknya yang sedang sakit." ujar Step.


"Lalu Damian kemana?".


Step yang hendak melangkah berhenti dan menengok padaku. Dia memberi kode bahwa Step ada di kamarnya. Step juga bilang sambil bisik- bisik di telingaku bahwa Damian sedang menggunakan kamar mandinya untuk mandi. Sebelum Step pergi dia sempat mengedipkan sebelah matanya padaku sambil tersenyum memberikan kode.


Aku balas melemparnya bantal yang ada di sofa. Setelah Step pergi aku menaruh nampanku. Aku melihat buku- buku sedikit berserakan di lantai, pasti karena semalam, pikirku.


Dan aku melirik ke atas sofa. Aku mengingat kembali kejadian semalam. Bukankah aku tidur di sebelah Damian, dan juga menekuk wajahku diatas meja. Apakah Damian yang menggendongku ke atas sofa.


Jika benar, aku sungguh sangat malu. Apalagi jika Damian tahu kalau aku memimpikannya dan berciuman dengannya. Mendadak mukaku jadi memerah.


Aku memutuskan memakan nasi gorengku untuk menghilangkan rasa maluku.


Kulihat Damian menuruni tangga, aku tersedak dan mengambil air putih yang ada dihadapanku.


Damian melangkah menghampiriku. Tanpa kusapa aku menundukkan wajahku gugup. Kini aku bisa menghirup wangi parfum dari tubuhnya, karena posisi duduknya tak begitu jauh dariku.


Aku mencoba meliriknya walau hanya sebentar. Kulihat dia memakai pakaian Step. Dia hanya mengenakan kaos biasa dan celana jeans saja, tapi entah kenapa dimataku pria itu sangat tampan walau hanya mengenakan pakaian biasa. Rambutnya yang basah juga semakin membuat dirinya menjadi lebih tampan. Diam- diam aku meneguk salivaku dalam.


Aku kembali memakan nasi goreng yang sempat tadi kutunda. Aku juga menawari Damian untuk sarapan. Tapi katanya ia sudah makan lebih dulu bersama Step tadi pagi.


"Bagaimana rasanya?". Aku mendongak menatap Damian yang tengah menatapku sambil melipatkan kedua tangannya.


"Lu..lumayan."Ujarku setengah gugup.


"Bi Ane pergi pagi- pagi sekali. Jadi aku yang membuatkan sarapan untukmu dan Step."


Aku sempat berhenti beberapa saat lalu aku mengangguk dan melanjutkan kembali acara makanku. Aku pikir masakan Damian cukup enak. Aku juga berpikir Damian termasuk ke dalam daftar pria yang rajin. Karena apa? Karena kupikir seorang pria jarang ada yang bisa memasak. Step kakaku saja dia tidak bisa apa- apa, dia hanya bisa mengurus kantor dan hanya memainkan gadgetnya saja. Tapi Damian bisa mengerjakan tugas seorang perempuan.


"Damian apa kau tidur?."


Tanyaku ketika selesai makan. Aku bisa melihat kantung matanya yang sedikit membesar.


"Aku baru mau tidur." Ucapnya, lalu menggulingkan tubuhnya di atas sofa, dekat denganku. Aku kasian menatapnya. Gara- gara aku dia tidak tidur semalaman.


"Bolehkan aku tidur disini?." Sahutnya lagi. Aku hanya mengangguk.


"Kalau kau mau kau boleh tidur di kamar Step?."


Damian menggeleng sebagai jawaban. Lalu ia mulai memejamkan matanya untuk tidur. Kini aku bisa menatap wajah Damian lebih lama. Pria yang tadi malam menciumku, walaupun itu hanya sebuah mimpi tapi entah kenapa itu terasa begitu sangat nyata. Setiap inci bibirnya, aku bisa merasakannya.


Diam- diam aku mulai mendekati Damian. Wajahku kudekatkan dengan wajahnya. Aku membranikan diri untuk menyentuh setiap inci wajahnya.


. Tiba- tiba tanganku terhenti, matanya terbuka. Damian menatapku dengan tatapan yang menusuk, tentunya aku hanya kaget dan tak bisa mengatakan apa- apa.


Aku yang sedang syok tak bisa melakukan apa- apa. Damian memajukan wajahnya, Damian menciumku. Aku tak bisa melakukan apa- apa hanya kaget dengan perlakuan pria itu.


Damian melumat bagian bibir bawahku dan menggigitnya.Aku ingin berteriak namun tak bisa. Aku hanya bisa pasrah dan menahan.


Author VOP


Lamunan Clara buyar seketika. Clara menepuk jidatnya sendiri. Menyadari apa yang telah ia bayangkan dengan ilusinya. Clara beranjak dari tempat dimana ia sempat memperhatikan Damian dalam tidurnya.


Clara memutuskan meninggalkan Damian. Beranjak pergi mandi untuk menetralkan kembali pikiran- pikiran mesumnya bersama Damian.


***


Clara membuka matanya, tak terasa hari sudah mulai sore. Entah kenapa dirinya mendadak ketiduran dari tadi pagi dan melupakan bahwa ada Damian di rumahnya.


Clara beranjak dari kasur, keluar dari kamarnya dan turun kebawah. Apakah Damian masih ada di rumahnya apa tidak?


Clara VOP


Namun bukan Damian yang dilihatku di ruang tamu melainkan seseorang yang tak ingin ku dilihat.


"Ada apa kesini?." ucap Clara jutek.


"Aku cuma mau mengantarkan sebuah undangan dari keluargaku. Ku harap kau dan Step bisa datang. Karena kalau tidak keluargaku akan kecewa. Dan ini juga permintaan orang tuamu, dia mengabari kami bahwa kau dan Step harus menggantikan mereka karena mereka tidak bisa hadir."


Aku sedikit ingin protes tapi kuurangkan karena mendengar Samuel menyebutkan kedua orangtuaku.


"Siapa yang akan menikah?". Tanyaku to the point.


"Adikku Angel akan menikah minggu depan."


"Akan aku usahakan." Ucapku sambil mengambil undangan itu. Samuel mengangguk kemudian permisi pamit padaku.


Aku memang tahu sikapku sedikit keterlaluan pada Samuel. Tapi apa boleh buat, aku benar- benar membenci kelakuan bejat Samuel. Jika saja pria itu tidak mempermainkan banyak wanita, mungkin saja sekarang aku bisa menyukai Samuel.


Aku menatap buku- buku di atas meja yang sudah rapi. Kulihat ada sebuat stempel disana.


Stempel kesatu :


"Aku sudah mengerjakan tugasmu dengan baik bahkan dalam waktu semalam. Mungkin kau harus menetapi janji yang sudah kita sepakati tadi malam."


Stempel kedua :


"Masih ingatkan tadi pagi Step bilang apa padamu? Sore ini aku sudah memasak untukmu dan Step. Kau tak perlu repot- repot untuk memasak sore ini. Kau bisa membukanya di meja makan.


Aku tersenyum membaca stempel kedua. Aku pikir Samuel begitu baik padaku dan Step. Seharusnya pria itu memirkan dirinya sendiri. Bukan memikirkan kebutuhan kami berdua.


-------


3 hari kemudian


#Kampus


Author VOP


"Sebentar lagi kita akan lulus." Sahut Jessy senang.


"Setelah lulus kau berencana mau ngapain?." Sahut sahabatnya lagi.


"Aku belum ada rencana. Apa rencanamu?."


"Aku berencana melamar kerja di perusahaan kakakmu Step, bagaimana?."


"Coba saja."


-------


Step mengajak Clara untuk pergi kesalon. Menurutnya penampilan Clara yang biasa- biasa saja, itu tak pantas untuk menghadiri pesta pernikahan Angel. Karena semua tamu yang hadir disana tergolong orang- orang kelas atas.


Tapi sebelum sempat ia membawa Clara ke salon Jessy telah lebih dulu datang kerumahnya.


"Aku ikut?." Teriak Jessy.


"Kau bisa menemaniku." Sahut Clara.


"Siapa bilang, aku juga diundang oleh Samuel. Jadi aku juga harus ke salon." Ucap Jessy dengan bangga. Clara hanya menggaruk tengkuknya. Melihat tingkah berlebihan sahabatnya.


"Step, bolehkan aku ikut?." Tanya Jessy.


Step mengangguk menyetujui. Hari ini Step berencana membawa mereka berdua ke mall dan ke salon.


---


Di dalam mobil Jessy terus saja berbicara, ia terus membuat sebuah kata- kata lolucon hingga membuat orang- orang dalam mobil tertawa.


"Clar, Kau tahu siratu cantik kampus kita, juga hadir loh"


"Maksudmu Victoria, pacarnya Samuel?." Tanya Clara.


"Bukan pacar tapi mantan." Ujar Jessy meluruskan.


"Samuel tak berniat mengundangnya. Tapi perempuan itu berhasil merayunya dengan seribu cara sehingga membuat Samuel memberikan undangan adiknya dengan terpaksa."


"Itu lebih bagus?." Sahut Clara senang.


"Apa kau tak cemburu pada Samuel? Bukankah kalian sedang dalam hubungan perjodohan?."


Clara menoyor kepala Jessy." Kau tahu dari mana?, itu tidak benar." Elaknya.


"Step yang mengatakannya."


Jessy tak sengaja keceplosan, hingga membuat Clara menimpuk Step yang sedang duduk di depan. Step yang meringis kesakitan dan segera meminta maaf pada adiknya. Karena membocorkan rahasianya.


Melihat kelakuan mereka bertiga sang sopir yang telah bekerja lama di keluarga mereka hanya tersenyum dan menggeleng- gelengkan kepalanya.


*****


Setelah berjam- jam lamanya mereka menghabiskan waktu di Salon. Kini Step membawa mereka berdua ke sebuah Mall.


"Kalian berdua pilihlah, gaun yang cocok untuk kalian. Aku menunggu kalian berdua diluar." Titah Step.


Setelah Step keluar mereka tanpa ba bi bu memilih beberapa baju yang menurut mereka suka.


****


#Sore hari


Clara memakai gaun sederhana. Ia memilih pakaian yang tidak terlalu mencolok seperti Jessy. Jessy juga nampak standar dengan gaun merah, hanya saja Jessy memilih beberapa pakaian yang agak terbuka. Tidak seperti Clara, Clara memakai gaun di atas lutut berwarna putih, Walaupun bagian atasnya sedikit terbuka juga, tapi pakaian Clara masih termasuk sopan dan sederhana.


Perempuan itu nampak cantik dengan balutan kain itu, rambut indahnya di biarkannya tergerai, kulit putihnya sedikit terekspos karena ia tak mengenakan stoking sama sekali. Hak tingginya juga yang membuatnya sedikit lebih tinggi. Dan membuatnya terkesan lebih dewasa diumurnya yang menginjak ke 22 tahun.


Clara menenteng tas kecil mencoba memperlihatkan keanggunannya sebagai wanita yang manis dan enak di pandang. Step saja yang melihatnya hanya bungkam tak bisa mengatakan apa- apa, pada adik perempuan satu- satunya itu.


"Ya Tuhan , kau cantik sekali." Ujar Jessy.


"Terima kasih, kau juga sangat cantik." Balas Clara.


Mereka berdua kemudian bergandengan dan mulai memasuki mobil milik Step. Step yang sudah gagah dengan jas abu- abunya telah menunggu mereka di dalam mobil. Ketika mereka semua sudah masuk. Mobilpun segera melaju. Mengantarkan mereka pada keluarga Alexander.


------


#Home_Alexander


Ketika mobil mereka sudah sampai di tempat tujuan. Kedatangan mereka di sambut oleh beberapa pelayan di rumah itu.


Step berjalan lebih dulu di ikuti Clara dan Jessy. Beberapa pelayan menyuruh mereka untuk masuk dan segera mengikuti kemana pelayan itu akan membawanya menemui si tuan rumah.


Clara bisa melihat banyak tamu yang hadir di acara pernikahan Angel. Karena rumah milik keluarga Alexander sangat luas, itu bisa menampung ratusan orang.


Ia dan Jessy sempat menganga melihat taman yang sangat besar bahkan luasnya seluas lapangan baseball.


Tempat itu menjadi area dimana Angel akan menikah. Walaupun hari sudah mulai gelap. Tapi karena banyaknya lampu penerangan disana membuat suasana menjadi sangat indah di lihat. Bahkan dekorasi- dekorasi itu mempercantik suasana di sana. Tersedianya juga banyak makanan untuk para tamu undangan.


Jessy dan Clara sempat tergiur dengan beberapa makanan lezat yang menjadi menu utama.


Tangan Jessy terulur mencoba meraih beberapa makanan. Namun dengan cepat Clara menepis tangan Jessy.


"Kita temui keluarga Angel dulu, ayo?." Ajak Clara.


Step telah mendahului mereka menemui keluarga alexander. Disana telah berdiri Jimmy, Ramona , Samuel dan sepasang pengantin. Clara dapat menebak gadis cantik dengan gaun pengantin itu adalah Angel. Sayang sekali walaupun Samuel berdiri dekat di samping adiknya. Tapi keduanya tampak tidak mirip. Mereka berdua seperti bukan kakak beradik.


Clara dan Jessy menghampiri mereka. Mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


Clara yang baru mengenal Angel, tak menyangka gadis itu langsung menghambur memeluknya.


"Hai calon kakak ipar?." Ujarnya. Clara yang mendengar itu hanya mematung. Apakah Angel tahu bahwa dirinya akan di jodohkan dengan Samuel? pikirnya.


"Pacar ka Damian ya?." Bisik Angel lagi di telinga Clara. Clara yang sudah tercengang semakin tercengang.


Dia pikir Angel mengetahui acara perjodohannya dengan Samuel. Namun tak di sangkanya Angel malah membicarakan Damian.


Aku menggeleng sebagai jawaban. Angel masih tak percaya dengan jawabanku.


"Karena hari ini aku mau menikah ka Damian akhirnya mau datang kesini, biasanya kakakku yang satu itu susah jika di suruh untuk pulang. Bahkan beberapa orang suruhan papa susah untuk menemukannya."


"Jika kakak ingin mengetahui lebih jauh tentang ka Damian, kau bisa menghubungiku ya?."


Angel memberikan kartu namanya pada Clara berikut nomor telepon nya juga. Clara mengangguk dan menyimpan kartu nama milik Angel di dompet yang di bawanya.


"Sekarang Damian ada dimana?." Tanya Clara.


Angel hanya memberi petunjuk bahwa kakaknya ada di lantai atas. Sebentar lagi kakanya juga akan turun ketika acaranya akan dimulai, ujar Angel.


Setelah menyambut Jimmy dan Ramona Clara memutuskan untuk pergi mengambil segelas air.


Jessy yang mengikuti Clara dari arah belakang. Mengambil beberapa makanan untuk ia makan. Sedang Clara hanya mengambil segelas air putih.


"Apa kau tak terbiasa meminum anggur?."


"Sepertinya kau harus lebih belajar dariku. Percuma penampilanmu cantik, tapi hatimu masih saja polos."


Victoria menatap Clara dengan angkuh, sedang Clara hanya diam begitu Victoria berusaha untuk menyinggungnya.


Walaupun tangannya sudah terkepal karena menahan emosi.  Dia tidak mau meladeni wanita itu, karena jika ia meladeninya sama saja ia harus beradu hadapan dengan ratu iblis. Apalagi di pesta ada banyak orang yang sedang memperhatikannya. Ia bisa mati kutu jika ia mengacaukan acara pernikahan Angel.


Kalian tahu, siapa itu Victoria?. Victoria adalah sahabat Clara dan Jessy di kampus. Walaupun keduanya sekelas, kedua wanita itu tidak benar- benar dekat, bahkan bisa di bilang tidak akur. Menurut Clara Victoria adalah wanita yang arogan, sombong bahkan suka mengusik kehidupan orang yang tak di sukainya.


Clara juga tak segan- segan menganggap Victoria adalah wanita jalang. Clara menamainya begitu, karena ia sering memergoki Samuel dan Victoria sedang bercinta di kampus. Bahkan berganti- ganti pria, sesuai keinginannya. Itu yang membuatnya muak dan jijik pada wanita itu.


Awalnya Clara tak mempunyai masalah dengan Victoria. Tapi entah kenapa hanya dalam beberapa minggu saja sejak Victoria mengetahui perjodohannya dengan Samuel membuat perempuan itu membencinya, bahkan dia tak segan- segan mencibir dirinya di hadapan orang banyak. Misalkan sekarang contohnya.


"Katai aku sesuka hatimu. Karena aku bukan kamu, dasar jalang." Balas Clara memaki.


Victoria yang tidak terima di katai seperti itu oleh Clara berniat mengambil segelas air dan menyiramkan nya pada wajah Clara. Namun belum sempat tumpah di wajah Clara. Seseorang maju menghalangi Clara.


Clara yang kaget mendapat serangan tiba- tiba dari Victoria hanya tertunduk. Seseorang telah menyelamatkannya, batinnya.


Clara mendongak melihat siapa orang yang berusaha menyelamatkannya.


"Samuel, kau... ?."


"Kau tidak apa- apa?." Tanya Samuel yang sudah basah akibat dari air siraman.


"Ka..kau basah." Ucap Clara khawatir dan membersihkan jas yang di pakai Samuel.


Samuel hanya tersenyum melihat kekhawatiran Clara padanya. Samuel memberanikan diri mengelus pipi Clara hingga akhirnya ia berbalik badan menatap Victoria dengan tatapan penuh amarah.


Tubuh Victoria sudah bergetar karena ketakutan. Melihat Samuel begitu emosi padanya saat ini. Bahkan orang- orang di pesta sedang memperhatikan kejahatannya, hingga membuat Victoria setengah malu.


Pria tampan berambut keemasan itu penarik pergelangan Victoria kasar, Samuel pergi membawa Victoria dengan wajah yang sudah menahan amarah.


-------


#Lantai_Atas


"Kau pikir apa hakmu, menghina Clara di depan umum hah?."


Samuel yang sudah emosi dari tadi menampar keras pipi Victoria. Victoria tidak terima dirinya di tampar begitu saja oleh Samuel hanya gara- gara Samuel membela Clara.


"Apa kau tidak lihat, dia wanita yang benar- benar munafik. Kau jangan tergoda dengan rayuannya. Wanita itu sangat licik." Teriak Victoria marah.


Samuel yang sudah geram kini menjambak rambut Victoria dengan kasar.


"Kau yang licik dasar jalang."


Victoria hanya meringis kesakitan, Samuel juga tak memperdulikan Victoria yang sudah kusut dan terus menangis minta di lepaskan. Samuel mengambil ponsel dan menelepon satpam diluar agar segera masuk dan membawa Victoria keluar. Samuel yang sudah tidak tahan dengan kelakuan Victoria yang semakin hari semakin menjadi- jadi menyuruh satpam untuk segera mengusirnya.


Samuel dan Victoria tidak mengetahui ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka berdua.


Damian yang sudah sangat tampan dan sangat rapi dengan jas hitamnya, tak sengaja menguping mereka, tadinya ia hanya ingin lewat saja. Namun ketika ada seseorang yang menyebut nama Clara, Damian tiba- tiba berhenti begitu saja.


Setelah mengetahui perdebatan antara mereka berdua, Damian hanya acuh dan memutuskan keluar. Berniat menyaksikan pesta di bawah.


------


Clara menyaksikan pernikahan Angel. Ia duduk di sebelah Jessy, Clara dan Jessy melihat sang pengantin telah mengucapkan janji mereka. Mereka, tamu yang hadir segera berdiri dan bertepuk tangan.


Ketika acara sedang pikuk riuh dengan suara tepuk tangan. Clara sempat menoleh ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


Pria itu kini hadir dihadapan Clara dengan sejuta pesona yang ia bawa. Pria di belakangnya tersenyum seduktif, lalu badannya membungkuk. Mencoba membisikan sesuatu pada Clara.


"Mau menikah denganku?."


Clara yang mendapat bisikan itu kemudian hanya membalasnya dengan tertawa geli. Clara menepuk pundak Damian, karena pria itu berusaha membuat sebuah lolucon lagi padanya.


"Jika kau menikah denganku, hidupmu akan terasa senang?."


Damian terus membisikan kata- kata merayu di telinga Clara. Tak di sadarinya dari tadi Jessy hanya mematung mendengar bisikan- bisikan Damian yang di anggapnya serius.


*****