Heart Attack

Heart Attack
Aku ingin ke Panti Asuhan itu



“Aku mengetahuinya tanpa sengaja. Beberapa bulan yang lalu.” Elvin menatap Pamella lembut, setelah lama akhirnya Pamella bisa sedikit tenang dan mendengarkan Elvin. “Waktu itu ayah dan ibumu sedang berbicara dengan nenek di dalam, mereka membicarakan tentang adopsimu dan sebuah kabar dari panti asuhan tempatmu dulu di adopsi.... mereka tampak cemas... “ Elvin menghela napas panjang, “Tentu saja aku terkejut luar biasa, aku kemudian diam-diam pergi  sehingga sampai sekarang pun, mereka tidak tahu bahwa aku tahu.”


Pamella terdiam menatap Elvin, tiba-tiba merasa ingin tahu. Laki-laki ini, yang seumur hidupnya dianggap sebagai kakak kesayangannya, sepupunya yang paling dekat.... menciumnya. Apakah yang ada di benak Elvin???


Elvin rupanya sadar bahwa Pamella sedang menebak-nebak perasaannya, dia tersenyum dengan rasa bersalah yang kental. “Maafkan aku... sejak aku mengetahui kenyataan itu, aku, aku melihatmu dengan cara berbeda, perasaanku tidak sama lagi, terlebih aku melihat betapa setianya kau merawat Niall. Dan betapa kau akan menjadi istri yang sempurna dan betapa irinya aku kepada Niall.” Mata Elvin bersinar redup. “Aku mencintaimu Pamella., mungkin aku terlambat menyadarinya, mungkin keadaan kita rumit karena bagaimanapun juga, secara hukum dan dalam pandangan masyarakat, kau adalah saudara sepupuku. Tetapi aku bahkan sudah berjanji dalam hati, waktu Niall masih sakit keras itu, dan waktu aku yakin bahwa usia Niall tidak akan lama lagi, aku berjanji dalam hatiku, ketika Niall meninggal nanti, aku bersedia menjadi penopangmu, akan kuserahkan dirimu untuk membahagiakanmu.” Kali ini Elvin tidak menutup-nutupi perasaannya lagi, dia menatap Pamella dengan tatapan yang lembut, penuh cinta yang meluap-luap, membuat Pamella merona dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Ah. Apakah yang diharapkan Elvin darinya?


Pamella masih merasa canggung, masih merasa bingung, Dia tidak mungkin menumbuhkan perasaan itu, ini terlalu mendadak apalagi seumur hidupnya dia tumbuh dengan menganggap Elvin sebagai saudaranya meskipun apa yang akan terjadi nanti, Pamella tentu saja tidak mengetahuinya.


“Aku tidak mengharapkan apapun darimu Pamella, aku tidak akan memaksamu membalas cintaku.” Elvin sekali lagi, seolah bisa membaca apa yang berkecamuk di benak Pamella. “Sudah cukup bagiku bisa mencintai dan menyayangimu...” Lelaki itu lalu menghela napas panjang. "Kurasa itulah yang mendorongku untuk menemui Sheryl dan menjelaskan semuanya tanpa seizinmu. Ketika kau menceritakan semuanya aku merasa begitu marah kepada Niall, dia menyia-nyiakanmu, dia sungguh tidak menyadari betapa beruntungnya dirinya itu, maafkan aku Pamella atas sikap impulsifku.”


Pamella menatap Elvin ingin tahu. “Bagaimana reaksi Sheryl ketika kau menjelaskan semuanya???” Tanya Pamella.


Elvin mengangkat bahunya. “Dia terkejut luar biasa tentu saja, kurasa dia bahkan tidak pernah menduganya sama sekali, dan dia juga tidak tahu kalau kekasihnya mendonorkan jantungnya. Kurasa aku sedikit merasa kasihan kepadanya, Niall sama sekali tidak mengatakan apapun kepadanya, dia juga tidak tahu tentang dirimu.”


Tatapan mata Pamella menerawang, rasanya sakit ketika mengingat betapa Niall marah kepadanya tadi. Sheryl pergi entah kemana. Pamella menghela napas panjang. Mungkin ini yang seharusnya terjadi, mungkin ini sudah diatur Yang di Atas sebelumnya, bahwa Sheryl harus mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bahwa Niall tidak bisa lama menyimpan seluruh kebenaran itu dari Sheryl.


Pikiran Pamella tiba-tiba teralihkan oleh sesuatu. “Elvin... kau bilang  pada waktu kau tahu bahwa aku anak angkat, kau mendengar mereka membicarakan tentang panti asuhanku.???"


“Ya. Aku tidak tahu mereka membicarakan apa, yang aku tahu mereka menyebut-nyebut nama panti asuhanmu dan nama ibu pengurusnya, kalau tidak salah ibu Rani, dan mendiskusikan sesuatu, aku rasa mereka sedang berdebat apakah mereka akan memberitahumu atau tidak.”


“Memberitahuku tentang apa????" Pamella tampak sangat tertarik, tetapi Elvin menatapnya dengan menyesal,


“Aku tidak tahu Pamella, aku terlambat mencuri dengar, mungkin mereka ingin memberitahumu bahwa kau bukan anak kandung mereka???"


Pamella menghela napas panjang. “Tetapi bahkan aku tidak tahu asal usulku sendiri.”


“Kau tidak perlu terus-terusan menoleh ke masa lalu, bukankah yang terpenting adalah masa sekarang? Pamella yang sekarang adalah hasil didikan kasih sayang orangtuamu, tidak peduli darimana asal-usulmu.”


Pamella menggelengkan kepalanya. “Tetap saja itu menjadikan sebuah lubang besar di hatiku.” Mata Pamella tampak pedih, membuat Elvin ingin memeluknya dan mengambil semua kepedihan itu. “Elvin, apa nama panti asuhan tempat aku diadopsi???"


Elvin tampak ragu “Kurasa itu bukan keputusan bagus Pamella, mengorek-ngorek masa lalu hanya akan menambah luka batinmu.”


Pamella sekali lagi menggelengkan kepalanya, menatap Elvin penuh tekad. “Aku harus mengetahui asal-usulku Elvin, kalau tidak aku akan hidup dengan bertanya-tanya, kenapa orang tua kandungku membuangku, kenapa aku berakhir di panti asuhan, anak siapakah aku???” Dia menatap Elvin dengan tatapan mata mengancam. “Kalau kau tidak mau memberitahuku, aku akan mencari tahu sendiri.”


Elvin menatap Pamella dan tahu betapa keras kepalanya perempuan ini, dia mendesah dan menghela napas panjang. “Oke. Baiklah, asal kuberitahu, asalkan kau izinkan aku mendampingimu ke sana.”


Elvin kemudian memberitahu Pamella mengenai nama panti asuhan itu kepada Pamella yang ternyata masih ada di lingkup kota ini. Dan Elvin juga menjelaskan bahwa alasan Pamella di bawah pindah ke Jakarta lalu di ajak tinggal juga di Swiss adalah lebih kepada orang tua angkat Pamella itu ingin menjauhkan Pamella dari panti Asuhan sehingga Pamella tetap tidak mengetahui bahwa mereka bukan orang tua kandungnya. Dan berusaha semaksimal mungkin untuk merahasiakan semua ini dari Pamella karena mereka tentu sangat tidak ingin kehilangan Pamella, mereka sangat menyayangi Pamella. Itu alasan kuatnya, Pamella sebisa mungkin tidak mengetahui asal-usulnya. "Please Pamella, jangan pernah kau membenci dan marah kepada Om dan juga Tante, mereka sangat menyayangimu, dan aku juga minta maaf karena terpaksa menjelaskan semua ini kepadamu. Jangan marah dan kecewa pada mereka, kalau kau ingin bertanya, tanyakan dengan baik-baik. Cinta mereka begitu besar kepadamu, jadi jangan sampai kau membuat mereka tersakiti karena hal ini. Kau pasti tahu itu."


Pamella mengangguk. "Ya Elvin, aku tahu Mama dan Papa sangat menyayangiku, itulah kenapa aku bahkan tidak menyadari bahwa aku bukan anak kandung mereka, karena cinta dan perhatian mereka begitu luar biasa kepadaku."


"Ya,kau benar sekali."


"Antar aku sekarang ke panti asuhan itu, aku akan bersiap. Aku perlu tahu segala nya."


"Baiklah, kau bersiap, aku akan memanasi mobilku." Elvin beranjak dan meninggalkan Pamella, dan Pamella juga berdiri untuk ke kamarnya dan bersiap pergi.