
"Kenapa ya aku melihatmu itu seperti nya kau sesekali tidak fokus, seperti pikiranmu ada di tempat lain. Are you okay???" Tanya Niall.
Sheryl memandangi Niall. "Perasaanmu saja mungkin." Gumam Sheryl.
"Tidak..." Niall menggelengkan kepala nya. "Pikiranmu selalu ada di tempat lain. Apa kau ada masalah???? Jika butuh tempat curhat, aku bisa jadi pendengar yang baik loh... Serius." Niall tersenyum. "Aku mungkin bisa memberi solusi atau sekedar mendengarkan, sehingga mungkin kau bisa merasa lebih baik nanti nya. Kau ada masalah apa???" Tanya Niall lagi.
Sheryl terdiam untuk beberapa saat. Dia memilih berteman dengan Niall adalah karena sempat mengira bahwa lelaki di depannya ini adalah Alex tetapi nyatanya lelaki ini bukanlah Alex. Mereka sangat jauh berbeda. Alex nya yang tenang, dan sederhana, tetapi Niall tampak begitu luar biasa penampilannya, bak pangeran yang memiliki segala nya. Keseluruhan penampilannya begitu memukau.Tetapi entah kenapa Sheryl seperti sudah mengenal Niall begitu lama. Padahal mereka baru bertemu beberapa kali saja.
"Sheryl???" Panggil Niall yang langsung membuyarkan lamunan Sheryl.
Gadis itu tersenyum. "Ehhh.."
"Kenapa malah melamun???"
"Tidak.."
"Kenapa??? Jawablah pertanyaanku."
"Ah itu, sebenarnya???" Suara Sheryl tertelan. "Sebenarnya saat pertama melihatmu, aku pikir kau adalah kekasihku."
Niall mengernyitkan dahi nya. "Kekasihmu???? Memang wajahku mirip dengannya???" Tanya Niall.
"Ah sebenarnya tidak mirip sama sekali. Aku salah menduga." Sheryl tersenyum.
"Lalu kalau tidak mirip kenapa kau mengira aku adalah kekasihmu, memangnya dia dimana??? Bekerja di luar kota???"
Sheryl menggelengkan kepala nya. "Dia tidak ada di dunia ini."
"Maksudnya???" Niall mengernyitkan keningnya.
"Kekasihku sudah tenang di sisi Tuhan. Dia sudah meninggal."
"Innalillahi.. Sudah meninggal??? Kapan????"
"Beberapa bulan yang lalu, ya hampir satu tahun."
"Dia kecelakaan."
"Ya Tuhan!! Kecelakaan??? Kok bisa??? Bagaimana ceritanya???"
"Kami berencana menikah, tinggal menghitung hari saja sebenarnya. Semua persiapan sudah di lakukan and then, saat itu dia hendak membeli bunga untukku karena besoknya kami akan menikah, tetapi dia di tabrak oleh mobil saat hendak menyebrang. Mobil itu menyerobot lampu merah. Dia meninggal di tempat dengan bunga yang masih di pegangnya. Dia meninggalkanku dan membuat pelaminan kami yang sudah di persiapkan menjadi kosong. Acara yang seharusnya menjadi kebahagiaan berubah seketika menjadi duka yang menyesakkan dada. Sampai saat ini aku masih trauma dengan kejadian itu dan aku juga belum bisa melupakan nya. Dia selalu ada di pikiranku setiap waktu, meski sudah berlalu tetapi masih membekas di hatiku sampai saat ini." Ujar Sheryl. "Dia usia nya sudah 26 tahun, dan sejak awal hubungan kami dia memutuskan untuk serius. Dia mengajakku menika dan tidak masalah jika aku masih kuliah. Aku juga tidak masalah dan aku mau menikah dengannya. Kami sudah merangkai masa depan dengan sangat baik, sudah banyak mimpi yang kami rangkai dan kami akan mewujudkannya satu persatu setelah menikah, tetapi semua berubah kelam ketika kecelakaan itu merenggut jiwanya dariku. Aku hancur berkeping-keping, dan berusaha keras melanjutkan hidup. Sampai sekarang aku bahkan masih menahan sakit dan luka yang begitu dalam."
"Sudah berapa lama kalian menjalin asmara???"
"6 tahunan, saat aku masih di bangku SMA."
"Wah pantas saja, sudah selama itu ya??? Siapa nama kekasihmu itu???"
"Namanya Alex." Sheryl tersenyum mengenang. "Dan aku akan selalu mencintainya bahkan sampai detik ini."
Mereka duduk di sudut kedai kopi. Sheryl menatap ke jendela kedai itu melihat jalanan yang ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Mengingat Alex nya yang sangat dia cintai yang Meninggal di jalan raya. Hari ini Sheryl bercerita tentang masa lalunya, tentang Alex, kekasih sejatinya yang direnggut sehari sebelum pernikahannya. Sheryl sangat mencintai Alex dan selama nya dia akan mencintai lelaki itu meski saat ini raga nya sudah tidak bisa Sheryl sentuh lagi.
Niall mengamati Sheryl. "Aku ikut sedih atas kehilanganmu Sheryl." Gumamnya.
"Tidak apa-apa. Alex akan selalu hidup di sini." Disentuh nya rongga dadanya, tempat jantungnya berada. Alex memang sudah meninggal, jantungnya sudah tak berdetak lagi untuk Sheryl seperti janjinya. Tetapi jantung Sheryl masih berdetak untuk Alex, semoga selamanya. Sheryl memejamkan matanya dengan sedih.
"Sorry, seharusnya aku tidak menanyakan masalah ini yang justru membuatmu sedih dan mengingat kejadian itu lagi." Ucap Niall menyesal.
"It's okay Niall, bahkan tanpa kau bertanya pun aku selalu mengingat kejadian menyakitkan itu sampai saat ini, aku tidak akan bisa melupakannya selamanya. Aku sudah berusaha sebenarnya untuk bisa menghilangkan itu dari ingatanku tetapi tidak bisa dan justru membuatku semakin sakit saja. Jadi aku membiarkannya saja."
"Pasti berat sekali ya kehilangan orang yang kau cintai..???" Gumam Niall dan Sheryl hanya tersenyum menahan kepedihannya.
Niall diam menatap wajah Sheryl yang terlihat sedih dan tampak rapuh. Terlihat jelas sekali bahwa Sheryl memang sangat mencintai Alex. Niall tidak tahu sejauh apa hubungan mereka, tetapi cinta itu memang masih terlihat jelas di mata Sheryl. Gadis di depannya itu pasti telah melewati masa yang begitu sulit setelah kepergian Axel, apalagi mereka hanya tinggal menunggu jam untuk menikah lalu berbahagia, tetapi itu di renggut dengan cepat. Tuhan tidak menakdirkan mereka untuk bersama sebagai suami istri. Perempuan mana yang tidak hancur hati dan perasaannya jika mengalami hal seperti itu. Tidak hanya hancur tetapi mental Sheryl juga pasti di uji untuk melewati semua kesulitan itu. Sheryl bisa bertahan sampai sejauh ini, itu adalah hal yang sangat luar biasa. Sheryl adalah gadis yang sangat kuat.
"Tetapi sampai kapan kau bisa bertahan dengan keadaan ini??? Bukankah kau harus melanjutkan hidupmu, maksudku apa kau akan selama nya dalam kesendirian seperti ini??? Bukankah mungkin suatu saat nanti kau harus membuka hatimu untuk orang lain???" Tanya Niall lagi.
Sheryl menggelengkan kepala nya lagi. Dia tidak tahu, tetapi untuk saat ini dia belum memikirkan semua itu dan hanya ingin menjalani harinya seperti biasa dan dia juga sedang menyiapkan diri untuk menyelesaikan kuliahnya dengan baik sekarang. Hatinya masih tertaut hanya untuk Alex dan tidak berniat untuk mencari pengganti Alex meskipun dia sendiri juga sering di dekatti oleh banyak laki-laki tetapi dia belum bisa menghilangkan Alex dari hatinya. Alex masih tersimpan rapi di lubuk hatinya yang paling dalam. "Aku belum memikirkan itu. Alex selalu disini, di detak jantungku." Ucap Sheryl sembali meletakkan telapak tangannya di dada nya. "Tetapi tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti yang aku juga tidak tahu kapan itu akan datang, aku pasti akan membuka hatiku untuk laki-laki lain, tetapi selama nya Alex akan di hatiku."