Heart Attack

Heart Attack
Jantung itu adalah jantung Alex



"Aku mengerti kau bingung, aku akan menjelaskannya dari awal." Elvin menghela napas panjang, "Dulu kondisi Niall sangat lemah, dia menderita kelainan katup jantung dan hidupnya hampir sebagian besar dihabiskan di rumah sakit. melalui operasi demi operasi, sampai akhinya dokter mengatakan bahwa tidak ada harapan lagi, Niall harus melakukan operasi cangkok jantung untuk menyelamatkan hidupnya." tatapan Elvin tampak sedih. "Pamella adalah teman masa kecil Niall. Mereka... mereka saling mencintai. Hanya Pamella tempat Niall menyandarkan diri, dan semenjak dulu Pamella menempatkan dirinya sebagai penopang Niall. Pamella bahkan tidak peduli bahwa umur Niall dinyatakan tidak akan lama, bahwa seluruh penantian dan pengorbanannya akan sia-sia. dia tetap setia mendampingi Niall, mereka bahkan sudah merencanakan pernikahan....." Mata Elvin tampak berkaca-kaca. "Kalau kau melihat mereka berdua saat itu, kau pasti juga akan menitikkan air mata. Dua pasangan yang begitu saling mencintai, mencoba untuk berbahagia di waktu mereka yang sempit....."


Dada Sheryl bergemuruh, ini benar-benar informasi yang sangat mengejutkannya. Niall pernah menjelaskan bahwa dia pernah sakit, tetapi lelaki itu mengatakan bahwa dia tidak mau membahasnya lebih lanjut. Sheryl tidak pernah menyangka bahwa hubungan Niall dengan tuangannya begitu eratnya. Perempuan bernama Pamella itu. Benak Sheryl melayang, tungan Niall itu sangat cantik, lembut dan feminim. Tetapi kalau memang cinta mereka berdua sedemikian besarnya... kenapa pertunangan mereka putus???? Kenapa Niall semudah itu jatuh cinta kepadanya??? Dan kondisi Niall saat ini bisa dikatakan sangat sehat bukan???? Tidak selemah seperti yang diceritakan oleh Elvin atau apakah.???


"Apakah Niall berhasil mendapatkan donor jantung dan berhasil dalam proses operasi cangkok jantungnya???" Sheryl mengungkapkan kesimpulan paling logis yang bisa diungkapnya, hanya itulah satu-satunya alasan Niall bisa sesehat ini.


"Ya." Elvin menganggukkan kepalanya, bibirnya menipis, menatap Sheryl tajam. "Dia mendapatkan donor jantung yang sangat pas dengannya, jantung itu menyelamatkan hidupnya, jantung itu berasal dari kekasihmu, Alex."


Kalau semua informasi tadi terasa begitu mengejutkannya, informasi Elvin yang terakhir ini bagaikan sambaran petir ke seluruh diri Sheryl, membuat tubuhnya gemetar tiba-tiba. Kenyataan ini terlalu. Terlalu tak tertahankan untuk di bayangkan..


"Apa...!!!!" Sheryl berseru lemah, matanya menyipit, mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak tahu bagaimana detailnya, tetapi kekasihmu Alex, dia terdaftar sebagai donor jantung, jadi ketika dia meninggal karena kecelakaan itu, dokter mengambil jantungnya... dan Niall menerimanya sebagai donor yang paling cocok untuknya..." Ujar Elvin.


"Aku... aku..." Jemari Sheryl, seluruh tubuh Sheryl gemetaran, "Aku harus pergi dari sini." Sheryl tidak bisa mendengar lagi penjelasan Elvin. Membayangkan bahwa Alex dikuburkan tanpa jantung, bahwa jantung itu sekarang berdetak di dalam dada Niall amat sangat tak tertahankan oleh batinnya, dia tidak kuat membayangkannya, dia harus pergi dan menenangkan diri kalau tidak dia akan pingsan.


Ketika Sheryl hendak berdiri, Elvin meraih tangannya dengan tatapan meminta maaf. "Maafkan aku Sheryl karena menceritakan ini semua, aku tahu ini menyakitkan tapi percayalah aku tidak bermaksud begitu, aku hanya ingin kau tahu semua kenyataan yang ada. Jantung itu membuat Niall berubah, dia mengatakan bahwa jantungnya tidak berdebar untuk Pamella lagi, dia meninggalkan Pamella dengan kejam, lalu pindah ke Surabaya untuk mengejar perempuan yang katanya didebarkan oleh jantungnya, untuk mengejarmu....."


Sheryl menghempaskan tangan Elvin dengan sedikit kasar, dia melirik Elvin dan bergumam pedih. "Maafkan aku, tapi aku harus pergi. Sorry..." Setengah berlari Sheryl meninggalkan kantin kampus itu. Meninggalkan Elvin yang masih duduk terpaku di sana, menatap Sheryl sampai perempuan itu menghilang dari pandangannya.


Lalu Elvin menghela napas panjang. Dia sudah menanam benihnya......sekarang entah bagaimana akan ada yang menuai hasilnya.


***


Niall menunggu sampai tiga jam lamanya, tetapi Sheryl tidak juga muncul di kedai kopi tempat mereka suka duduk bersama. Dia sudah beberapa kali mencoba menghubungi ponsel Sheryl, tetapi ponselnya tidak aktif.


Langit semakin menggelap dan mendung, Niall mulai cemas. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, Niall menelepon Tisha, mungkin Tisha tahu kenapa Sheryl  tidak datang ke pertemuan mereka yang tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Halo????" suara Tisha tampak ceria di seberang sana. Syukurlah. Niall tersenyum, sepertinya Sheryl tidak apa-apa.


"Tisha??? Kau tahu dimana Sheryl???" Tanya Niall.


Jantung Niall langsung berdebar. "Tisha... Sheryl tidak datang ke tempat pertemuan. Aku sudah tiga jam menunggu di sini."


"Apa????" Seru Tisha tampak benar-benar kaget, dia lalu tampak teringat sesuatu. "Oh ya, aku ingat.... sebelum aku pulang tadi, sebelum aku berpisah dengan Sheryl di kampus, ada seorang lelaki yang mencari-cari Sheryl. Dan lelaki itu sempat memperkenalkan diri kepadaku yang baru keluar dari ruang kuliah dan mengatakan dia ingin menemui Sheryl. Sheryl lalu menemuinya di lobby kampus." Ucap Tisha.


"Seorang lelaki??? Apakah kau tahu ciri-cirinya, apakah kau pernah melihatnya??? Apakah dia menyebutkan namanya???" Niall mulai panik.


Tisha menghela napas panjang, "Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya... tetapi dia menyebutkan namanya kepadaku... kalau tidak salah namanya Elvin..."


Elvin!!!Sepupu Pamella!!! Oh Ya Tuhan!!!Apa maksud Elvin menemui Sheryl??? Apakah lelaki itu disuruh Pamella menceritakan semuanya kepada Sheryl??? Oh ya Ampun... Sheryl!!! Apa yang dirasakan Sheryl ketika menerima kenyataan ini???


Niall mengernyitkan keningnya, mulai merasakan sakit menyerang kepalanya, "Thanks Tisha, kurasa aku mengenal pria bernama Elvin itu."


"Kau mengenalnya??? Jadi sekarang dimana Sheryl???"


"Aku tidak tahu." Niall mendesah. "Tetapi Elvin pria baik-baik, yang pasti Sheryl menghilang bukan karena Elvin, atau mungkin  Sheryl sudah pulang ke rumah???" Niall berpikir kalau Elvin benar-benar mengungkapkan semuanya pada Sheryl, sudah pasti Sheryl tidak akan mau menemuinya dulu. Mungkin Sheryl langsung pulang ke rumah untuk menenangkan pikirannya???


"Sheryl belum pulang ke rumah...." Tisha mengernyitkan keningnya, "Aku... sebelum kau menelepon aku menelepon Mama Sheryl, karena kalau dia sudah pulang, aku akan main ke sana, rencananya aku menginap di rumah Sheryl malam ini... tetapi kata mamanya, Sheryl belum pulang...." Tisha terengah. "Aku akan ke rumah Sheryl sekarang, menunggu di sana kalau-kalau Sheryl pulang, aku akan mengabarimu."


"Thanks Tisha..." Niall memejamkan matanya. Kalau begitu kau dimana Sheryl???


"Niall???" Tisha rupanya menangkap nada panik di dalam suara Niall. "Everything is okay???? And what's wrong???" Tanya Tisha.


Niall meringis. "Ceritanya sangat panjang dan kompleks, aku akan menceritakannya kepadamu nanti. Sementara ini aku akan mencari Elvin dan juga mencari Sheryl."


"Oke. Kabari aku terus ya."


Setelah Tisha menutup telepon. Niall langsung membayar pesanan kopinya dan melesat pergi.