
Ah sudahlah lupakan semua itu Clara, apa yang kau pikirkan. Runtukku sendiri. Tapi ketika melihat mata birunya yang bersinar, hidungnya yang mancung dan bibir tebalnya yang menggoda. Jujur saja aku tidak bisa memalingkan wajahku dan menahan mataku untuk tidak tergoda.
Tapi aku segera tersadar dengan pikiran bodohku barusan dengan cepat aku berjalan menghampirinya dengan langkah gugup. Pria itu menoleh ke arahku ketika merasa ada seseorang yang datang.
"terima kasih." ucapnya merdu ketika aku memberikan teh hangat untuknya. Dengarlah suara pria ini sangat merdu. Oh tidak Clara jangan sampai kau menggilai pria yang baru saja kau kenal.
"di mana Step?" tanyaku bingung dan sedikit kaku.
"dia sedang berada di kamar mandi." Aku hanya ber'oh saja menatapnya. Ketika aku beranjak berniat pergi ada sesuatu yang menahan pergelangan tanganku. Aku menggigit bibir bawahku. Oh tidak, apakah Damian memegang tanganku. Aku menoleh gugup.
"Step??" kau__ aku pikir siapa?" tunjukku padanya.
"memangnya kau berpikir aku ini siapa?" Step mengedipkan sebelah matanya berniat menggodaku. Aku menaikan sebelah alis, tak mengerti apa maksudnya. Tiba- tiba Step tertawa membuatku semakin bingung dengan tingkahnya.
"ah sudahlah, lupakan." Step berhenti tertawa. Dia kembali mengeringkan rambut basahnya dengan handuk, lalu ia berjalan ke arah Damian dan duduk di samping pria itu. Step tak menghiraukanku lagi dia sibuk membuka laptopnya sendiri sedangkan Damian aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Aku menoleh menatap pria itu tapi ketika aku menoleh bersamaan dengan itu Damian juga ikut menoleh menatapku. Aku membalikan tubuhku gugup, tidak mau menatap pria itu berlama- lama, lalu aku berjalan keluar. Karena kamarku bersebelahan dengan kamar Step jadi tak memerlukan waktu yang cukup lama aku telah sampai di kamarku sendiri.
Aku menaiki ranjang kesayanganku, lalu menatap ke jendela kamar. Sore ini hujan masih cukup deras. Aku merasa nyaman jika ada hujan karena dengan adanya hujan ini mengingatkanku pada masa aku masih kecil. Aku sering bermain hujan - hujanan bersama Step di luar. Tapi setelah kami dewasa kami tidak lagi bermain hujan- hujanan. Padahal aku ingin sekali, apalagi jika ada yang menemaniku mungkin akan terasa lebih menyenangkan. Walaupun aku tidak pernah sakit jika sehabis main hujan- hujanan tapi sekarang kedua orang tuaku melarangku bermain hujan- hujanan. Tentu saja sekarang aku sudah besar. Aku juga akan malu sendiri jika ada orang yang mengetahui kelakuan burukku itu. Lebih baik aku menikmati indahnya hujan seperti ini. Aku mengambil bantalku lalu aku tiduran disana, membiarkan gorden kamarku sedikit terbuka sambil menikmati indahnya rintikan hujan. Cukup lama aku memandanginya hingga akhirnya aku menguap mataku mulai mengatup. Semuanya jadi gelap.
Akcent_ My passion
Don't Let go
Don't run away love
I still got feelings
You are my passion
Don't let go
Don't run away love
You are the one for me....
Ah berisik sekali suara apa itu?. Aku mencari benda yang baru saja mengusik tidurku. Tanganku merayap ke sana kemari. Setelah benda apa yang aku temukan telah berada di genggaman tanganku, perlahan aku membuka mataku. Aku menguap sebentar sebelum membuka ponsel dan menerima telephone yang terus berkedap- kedip dari tadi.
"ada apa ibu menelphoneku tengah malam begini?" tanyaku to the point. Bukannya aku tak ingin sopan padanya, hanya saja malam ini aku benar- benar ngantuk sekali. Padahal aku tidur dari tadi sore, batinku ingin terkikik geli.
"...."
"apa? jadi ibu dan ayah akan pulang besok dari london? Bagaimana bisa cuaca sangat buruk ibu, aku tidak mau terjadi apa-apa pada kalian?" teriakku marah.
"...."
"tapi aku tidak setuju?"
"...."
"apa?, ada seseorang yang ingin ibu perkenalkan padaku?" tanyaku penasaran.
"...."
"baiklah terserah ibu saja, tapi ingat ibu dan ayah hanya boleh pulang besok asal cuaca hari esok tidak buruk, okay."
"...."
"baiklah, miss you mom?"
"...."
Aku menutup telephoneku. Tiba- tiba aku merasa haus tenggorokanku kering jika setelah bangun tidur dan kebiasaanku ini bukan kebiasan yang pertama. Aku memang sering haus seperti ini. Biasanya aku selalu menyiapkan air mineral sebelum tidur. Tapi sore ini aku lupa untuk menyiapkannya. Jadi aku harus mengambilnya sendiri di kulkas.
Aku beranjak dari kamar tidur dan berjalan ke arah dapur. Aku berjalan sambil sesekali menguap, lalu tanpa ba bi bu aku langsung membuka kulkas dan mengambil botol berisi air tanpa berniat menuangkannya ke dalam gelas aku langsung saja meneguk air itu dari botolnya. Ketika minuman itu telah masuk ke dalam tenggorokanku, tiba- tiba saja tanpa sengaja aku meleletkan lidahku. Tunggu air yang aku minum rasanya sedikit aneh dan pait, minuman semacam apa itu?…
"ternyata kau peminum juga?." ujar seseorang dari arah belakang. Aku memutar tubuhku, dan tersentak ketika melihat Damian telah berada di hadapanku. Aku menatapnya bingung, bingung karena pria itu masih berada di dalam rumahku? Tidak biasanya Step mengajak temannya sampai bermalam di rumahnya. Teman Step banyak hanya saja ini kali pertanya Step mengidzinkan temannya menginap seperti ini.
"kau masih disini?" tanyaku penuh ambigu dan tidak suka. Dia tersenyum tipis di balik topi yang di kenakannya dan untuk pertama kalinya aku melihat senyuman pria itu, aku sedikit terenyuh melihatnya. Mendadak hatiku berdebar. Ada apa ini? Kenapa dengan hatiku? Tidak mungkin aku jatuh cinta pada pria yang baru saja aku kenal itu? Mungkin aku hanya sedikit terpesona saja melihatnya. Pikirku meyakinkan.
"lihatlah sendiri aku masih disini, dari caramu meminum wine. Sepertinya kau baru pertama kali mencobanya." Aku menatapnya tak suka ketika Damian menuduhku meminum-minuman keras. Walaupun ini negara Newyork dan semua orang bebas dengan melakukan apapun termasuk meminum-minuman keras. Tapi kedua orangtuaku terus melarang dan mengekangku di rumah agar aku tak terjerumus ke dalam pergaulan bebas seperti apa yang di lakukan teman- temanku di luaran.
Mungkin seorang anak akan depresi jika ada orang tua yang seperti orang tuaku. Tapi berbeda denganku aku hanya akan menuruti semua perintah beliau, karena apa?, karena aku yakin kedua orang tuaku ini ingin mendidik anak- anaknya dengan baik dan benar. Lalu apa kalian bertanya tentang Step? Step juga melakukan hal yang sama denganku pada awalnya. Hanya saja karena dia laki- laki dia bebas keluar rumah. Mungkin ada seseorang yang mengajaknya untuk mencoba meminum- minuman keras dan bermain wanita hingga ia mulai kecanduan. Dan melakukannya lagi dan lagi. Aku sudah mengetahui kebiasaannya sudah selama dua tahunan, aku mengirim mata - mata untuk melihat kelakuan bejat Step. Ketika Step mengetahui aku mengetahui kelakuan buruknya dan berniat melaporkan kepada kedua orang tuaku Step mengancamku, dia akan pergi dari rumah dan tidak akan pernah kembali lagi. Sampai sekarang aku hanya bisa bungkam saja, tak berani mengatakan apapun kepada kedua orangtuaku.
"jika orang lain akan mabuk setelah meminum wine, tapi kau malah melamun hm." Aku menoleh ke arah Damian dengan tatapan kesal, ucapannya tidak masuk kedalam logika. Bagaimana bisa aku meminum wine, pria itu kurang ajar sekali.
"aku tidak pernah meminum wine, kau mengerti." ucapku penuh penegasan dia hanya menaikan sebelah alis lalu tersenyum mengejek.
"apa kau tidak lihat apa ini?" tanyanya sambil menyeringai kecil. Aku hanya melotot menatap botol minuman yang ada di tanganku ini. Cairan pekat itu berwarna ungu dan tertulis anggur merah disana.
"Oh tidak ini benar- benar wine, apakah aku akan mabuk sekarang." gumamku polos dan penuh ketakutan.
"sial pasti Step yang memasukan wine ini kedalam kulkas. Dia melakukannya lagi, kurang ajar sekali." aku menatap geram minuman wine yang aku pegang dan langsung melemparnya ke tempat sampah.
"sayang sekali Step membelinya dengan harga yang mahal tapi wine itu harus berakhir di tempat sampah. nona, Step akan marah padamu."
"aku tidak peduli. Mau dia marah ataupun membunuhku sekalian silahkan saja kalau dia berani." teriakku marah. Aku menghentakan kakiku lalu berjalan pergi meninggalkan Damian sendiri. Aku membanting pintu kamar kesal. Seumur hidup aku belum pernah ternoda dengan yang namanya wine. Aku benci Step, terserah jika dia yang mau meminumnya. Tapi kenapa harus aku yang menjadi korbannya.
Oh God, aku melanggar janjiku kepada kedua orang tuaku. Aku harus bagaimana sekarang?. Aku membanting tubuhku ke atas ranjang menatap langit- langit kamar. Tiba- tiba aku menyentuh bibirku sendiri. Rasa pait wine yang membekas dibibirku entah kenapa berubah menjadi rasa manis yang mendamba. Apakah aku sudah terjebak dengan minuman seperti itu. Tidak bagaimana jika aku sudah kecanduan sekarang, pantas saja step tidak bisa berhenti dari minuman keras seperti itu, bagaimana diriku? Adakah orang yang bisa menolong ku?
____
Aku bangun di pagi hari seperti biasa. Aku menyingkabkan selimut dan beranjak dari atas ranjang menuju ke arah lemari mengambil handuk untuk mandi.
Ketika dikamar mandi aku sempat bercermin sebentar. Aku bisa melihat mataku yang memerah. Tiba - tiba kepalaku berputar mengingat kejadian semalam. Malam itu aku sedang bersama Damian di dapur. Pria itu berusaha memberitahuku tentang minuman yang telah ku minum semalam. Sayangnya aku tidak mempercayainya, sialnya semua ini berakibat fatal untukku. Padahal aku hanya meminumnya sedikit tapi kenapa efeknya begitu luar biasa, sekarang mataku jadi memerah semua.
____
Aku telah siap dengan pakaian yang sudah sangat rapi. Hari ini aku pergi ke kampus seperti biasa. Aku menuruni anak tangga, ketika aku sudah turun aku melihat Step sedang duduk di kursi meja makan. Sebenarnya aku masih sangat kesal padanya semalam karena dia menaruh wine sembarangan sampai- sampai aku meminumnya, tetapi aku tetap menghampirinya karena aku ingin mengatakan sesuatu padanya.
"pagi?" Step mencoba menyapaku, tetapi aku tetap bungkam, aku mengambil roti tawar dan mengoleskan selai ke rotiku, lalu mengambilnya dan memakannya. Step mengangkat satu alisnya bingung menatapku, ah biarkan saja aku masih sangat kesal padanya. Aku berbalik berniat pergi.
"apa kau akan berangkat sekarang?" tanya Step tiba- tiba, aku hanya mengangguk malas sebagai jawaban. Tiba- tiba aku teringat sesuatu. aku berbalik menatap Step.
"dimana pria itu?" tanyaku refleks. Step nampak bingung dengan pertanyaanku.
"Damian?" Step balik bertanya.
"hm ya. Aku rasa temanmu yang satu itu berani nekat untuk bermalam di rumah kita. Kau masih ingatkan peraturan dirumah kita tidak boleh ada orang asing yang masuk kesini." Step nampak biasa saja dengan ocehanku barusan.
"aku tahu itu, tapi apa boleh buat dia sedang membutuhkan pertolonganku. Kau tahu dia sedang berada dalam masalah dengan keluarganya. Semalam orangtuanya mencarinya, makanya aku membawanya kesini untuk bersembunyi sementara waktu."
"lalu dimana Damian sekarang?"
"dia sudah pergi dari tadi pagi, kenapa? kau tertarik padanya?" Step mengerlingkan matanya untuk menggodaku. Aku balas menatapnya dengan tajam . Tiba- tiba dia tertawa, hey apanya yang lucu? pikirku.
"tidak akan, kau mengerti Step. Oh ya satu lagi, hari ini ibu dan ayah akan pulang ke newyork. Jadi siang ini kau harus menjemput mereka di bandara"
"kenapa tidak kau saja?" ujar Step penuh ambigu. Step terlihat ogah- ogah menerima perintahku. Aku tahu Step sebenarnya mau melakukannya. Hanya saja mungkin Step masih marah pada mereka.
"hari ini aku ada meeting." Step mencoba beralasan, tapi tak semudah itu aku akan berhenti membujuknya.
"tapi sepertinya tugas kampusku hari ini lebih penting dari pada meetingmu, jadi aku tidak bisa menjemput mereka. Ayolah Step, luangkan waktumu sehari ini saja untuk menjemput mereka."
Aku memohon padanya, Step tampak masih berpikir dengan permohonanku.
"kau terlalu lama untuk berpikir, ayolah Step."
Aku menyenggol sikunya. Step hanya bisa mendesah pasrah ketika aku terus memohon. Sebenarnya aku tahu dia sedang ada tugas kantor. Tapi sepertinya kuliahku hari ini lebih penting dari pada pekerjaannya. Hari ini aku harus menyerahkan tugasku pada mrs.Jeni. Dan mrs. Jeni hanya memberikanku kesempatan terakhirku hari ini.
"baiklah, tapi berikan aku dua botol wine. Satu botol wine sebagai pengganti karena kau telah membuang botol wineku dan satu botol wine sebagai imbalan aku mau menuruti permintaanmu, bagaimana?."
Sial apa katanya? "Wine", haruskah aku mengulang kata-kata terkutuk itu. Padahal dia tahu aku sangat membenci minuman seperti itu. Tapi bagaimanapun juga aku harus menuruti keinginannya sekarang. Kalau tidak seperti ini , dia tidak akan mau melakukan apa yang aku katakan.
"ok"
_____
"Selamat skripsimu saya terima nona Clara Steepfani. Kau orang pertama yang berhasil mengerjakan tugasku dengan baik." ujar mrs. Jeni. Aku tersenyum mengangguk dan menerima uluran tangannya ketika mrs. Jeni memjabat tanganku senang.
"terima kasih atas pujian anda mrs. Jeni, anda adalah orang yang selalu memotivasi saya menjadi lebih baik. Saya tidak akan bisa menyelesaikan tugas saya jika anda tidak membantu saya, sekali lagi terima kasih."
"itu sudah menjadi tugas saya menjadi salah satu dosen disini Clara, oh ya apakah kau sudah tahu hari ini pelajaran mr. Andrew di kosongkan?"
"Tadi Jessy memberitahuku, karena hari ini kelas mr. Andrew di kosongkan saya minta idzin untuk tidak masuk di pelajaran selanjutnya. Orang tua saya baru saja datang dari London. Saya ingin menjemput mereka ke bandara jika anda mengidzinkan mrs."
"baiklah aku mengerti, aku mengidzinkanmu Clara. Pergilah, jemput kedua orang tuamu."
Aku mengangguk dan pamit pada mrs Jeni. Kemudian aku berjalan keluar dari ruangan mrs. Jeni. Aku melewati lorong -lorong di kampus. Ketika di pertengahan jalan di lorong yang agak cukup sepi, tiba - tiba aku berhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam gudang sana. Aku mulai mendekati pintu itu. Ketika aku sudah semakin dekat ke gudang sana aku mendengar ada suara- suara aneh dari dalam sana. Aku mengintip dari sela- sela knop pintu.
"bagaimana Samuel, apa aku memuaskanmu?" tanya seorang gadis dengan nada melenguh. Walaupun aku tak mengenali sesosok gadis itu, tapi dapat kulihat dari celah pintu wanita yang ditidurinyaa adalah gadis yang sangat cantik.
"kau tahu sayang kau begi--tu nik-mat...hari ini, kau tahu cara untuk memuaskanku." ujar si pria berambut keemasan itu. Aku bisa mengenali pria itu adalah "Robert Samuel" bisa di bilang dia si raja sex di kampus. Aku mengetahui kebiasaan buruknya ketika ia satu kelas denganku.
Awalnya aku tak percaya ketika Jessy temanku mengatakan "Robert Samuel" adalah si raja sex. Karena selain baik dan tampan pria itu juga adalah pria yang sangat populer di kampus ini. Aku juga sempat tertarik padanya, hanya saja ketika aku sering memergokinya sedang berkeadaan bugil dengan seorang gadis. Mendadak aku muak, walaupun hanya melihat wajahnya saja. Di kampus ini dia juga banyak di kagumi kaum hawa karena itulah pria itu tak perlu susah- susah mencari korbannya. Banyak gadis yang ingin menyerahkan tubuhnya secara cuma- cuma kepada pria itu.
Aku mendengus jijik ketika melihat Samuel terus menghujam gadis itu tanpa ampun. Membuat gadis itu semakin meringis kesakitan dibawah tindihan Samuel. Kali ini aku bisa mendengar gadis itu menangis, samuel tanpa peduli melanjutkan aksinya. Aku berputar, tak ingin lagi melihat kejadian barusan. Jika seandainya aku adalah gadis yang berada di dalam sana aku pasti akan menggampar Samuel sebelum pria itu menyentuhku.
Aku menggapai taxi berniat ke bandara, syukurlah karena hari ini cerah. Itu artinya orang tuaku jadi pulang ke newyork setelah satu bulan lamanya mereka di London. Aku melihat keluar jalanan ketika aku sudah masuk di mobil taxi, belum sempat aku di tempat tujuan aku melihat kerumunan beberapa orang dipinggir jalan dari dalam mobil. Aku melihat lebih teliti orang yang berpakaian hitam itu, sepertinya mereka bukan orang yang biasa.
Mataku membelalak ketika orang- orang itu sedang mememukuli seseorang. Astaga mereka semua sedang berkelahi, aku melirik kesalah satu orang yang sudah terkapai di tanah akibat pukulan keras yang di terimanya dari salah satu keenam pria itu.
"Berhenti pak." Supir taxi itu tiba- tiba mengerem mendadak.
"ada apa nona?, bukankah kita belum sampai ditempat tujuan?" tanya supir taxi itu bingung.
"bisakah kau membunyikan suara alarm mobil polisi?."
Supir taxi itu mengangguk kemudian menyalakan alarm mobil polisi dengan begitu kencang, aku menoleh ke arah tadi. Keenam pria berpakaian hitam itu kelabakan menyangka ada polisi yang akan datang. Mereka semua masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan Damian yang sudah terkapar.
"Tunggu sebentar pak." ujarku pada sang supir. Kemudian aku turun menghampiri pria itu.
"astaga Damian." Pria itu mencoba membuka salah satu matanya yang dipenuhi lumuran darah. Ketika pria itu berhasil membuka matanya, dia menatapku dengan kening yang berkerut. Damian menggerakan tubuhnya memcoba untuk bangun, aku berusaha membantunya. Aku menahannya agar dia tidak limbung dan terjatuh.
"Damian apa yang terjadi?" tanyaku khawatir. Dia hanya menatapku sayu dan itu hanya sekilas.
"bawa aku pergi dari sini." ucapnya menahan penuh kesakitan. Ya Tuhan aku tidak tega melihatnya seperti ini. Apa aku bawa saja dia kerumah sakit.
"tidak, jangan bawa aku ke rumah sakit." jawabnya, hey kapan aku mengatakan padanya bahwa aku akan membawanya ke rumah sakit, apa pria ini bisa membaca pikiranku?
Aku mengajaknya untuk masuk ke mobil. Ketika dia sudah masuk aku duduk di sampingnya, dia hanya terdiam manatap lurus kedepan. Kulihat dia memegang perutnya kesakitan. Apa itu sangat sakit?
"apa kau tidak apa- apa?" tanyaku khawatir. Pria itu mengangkat satu tangannya ke arahku tanda dia tidak apa- apa. Tapi aku tetap khawatir menatapnya.
"bawa aku ke apartementku." ujarnya,
"dimana?"..
"di sekitar sini, sebentar lagi kita sampai."
Hening, kali ini tidak ada yang bersuara. Pria itu menatap ke arah jalanan sedangkan aku terus menatapnya. Aku ingin menyentuh wajahnya yang terluka dan ingin mengatakan apakah dia baik- baik saja sehabis dipukuli seperti itu. Coba saja kalau tadi dia melawan pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.
___
"apa ini apartementmu Damian?" tanyaku ketika ia berhenti di depan ruangan sebuah kamar.
"masuklah." katanya ketika telah berhasil menuliskan fasword apartementnya sendiri. Aku terdiam beberapa saat sebelum hendak masuk. Bolehkah aku memasuki apartement seorang pria yang tidak aku kenali. Bagaimana jika dia berbuat macam- macam padaku di dalam?. Tapi mana mungkin diakan sedang sakit. Aku memeluk tasku erat lalu mulai masuk ke dalam sana.
Aku melihat ruangan apartement Damian yang cukup sepi dan agak sedikit gelap. Barang- barangnya memang tidak terlalu banyak tetapi apartement miliknya nampak bersih dan rapi. Aku menoleh ke sebelah kiri ada dua ruangan lagi disana lalu disebelah kanan ada sebuah pintu, aku yakin itu adalah ruangan untuk memasak karena disana ada meja makan kecil.Tiba- tiba aku tersadar apa tujuanku kemari. Aku memutar kepalaku memandang Damian yang tengah berbaring dikursi sofa, matanya terpejam. Aku menghampirinya, tiba- tiba Damian membuka matanya. Dia menatapku dengan pandangan sayu.
"di-dimana kau menyimpan kotak obat?." aku mengalihkan perhatiannya agar tak terus menatapku. Kemudian Damian menunjuk kearah loker di belakangku. Aku mengangguk mengerti, aku menghampiri loker itu dan membukanya. Aku mengambil kotak obat dari dalam sana. Sebelum aku menghampiri Damian aku pergi ke dapur untuk mengambil es dari dalam kulkas. Setelah mendapatkannya aku membawanya dan kembali menghampiri Damian. Aku sedikit terkejut melihat Damian membuka topi hitamnya dan posisinya berganti jadi setengah terduduk. Aku duduk di sebelah Damian, kemudian tanpa seidzinnya aku membersihkan lukanya di sudut pelipis matanya dan di sekitar area wajah lainnya yang terluka. Setelah bersih aku mendiamkan es itu di sudut pelipisnya. Damian sempat meringis perih, jadi aku mengambil es itu kembali dari atas wajahnya.
"dimana lukamu yang lainnya?"
"tidak ada." ujar Damian. Aku menatapnya dengan pandangan tak percaya. Tapi Damian hanya mengangguk sebagai jawaban.
"buka bajumu?" ujarku tiba- tiba. Damian menatapku dengan pandangan bertanya.
"ma-maksudku aku tahu kau menyembunyikan lukamu yang lain. Aku tadi melihatmu terus meringis dan memegangi perutmu. Ak-aku hanya khawatir jika lukamu benar- benar sangat serius."
Tiba- tiba Damian membuka jaket hitamnya lalu membuka kaos dalamnya. Aku pikir pria itu tak mau menuruti kata -kataku. Aku menatap takjub tubuh putih Damian. Walaupun perutnya di penuhi luka, tapi perut sixpacknya tetap terlihat indah. Aku membersihkan darah yang terus keluar dari dalam perutnya. Aku meringis ngeri melihat luka Damian yang cukup dalam.
"seperti bekas luka tusukan, apa yang dilakukkan orang- orang itu padamu? kau tahu seharusnya kau pergi ke dokter sekarang. Apa kau tidak takut lukamu akan infeksi?."
"kau khawatir padaku?" tanya Damian, aku mendongak menatap pria itu sekilas. Lalu kembali melanjutkan aktivitasku. Aku tak berniat menjawab pertanyaannya, aku malah fokus untuk mengobati luka diperutnya. Setelah diolesi obat, aku menempelkan kapas itu pada lukanya.
"kau sangat baik padaku, kau juga tahu cara mengobati seseorang yang sedang terluka, terima kasih Clara?"
"kau tahu namaku dari mana?" ucapku tidak percaya. Damian tersenyum menatapku, ini kedua kalinya aku terenyuh dengah senyuman pria itu.
"tentu saja, Step yang mengatakannya padaku."aku hanya ber'oh saja menatapnya.
"Damian berbaringlah, kau istirahat saja."
"Apakah kau akan pergi sekarang?" tanya pria itu .aku menggeleng, Damian kembali tersenyum menatapku. Pria itu kembali berbaring, kemudian kedua matanya ia pejamkan. Aku pergi mencoba mencari- cari selimut di kamarnya. Aku tahu aku sangat lancang, tapi aku juga tak tega melihat Damian kedinginan. Aku kembali membawakan selimut untuk pria itu. Aku segera menyelimutinya. Kemudian aku terduduk di sampingnya.
Aku meneliti setiap inci wajahnya, dia adalah pria yang sangat tampan. Wajahnya yang putih pucat, bibir tebalnya yang indah serta mata terangnya yang berwarna biru ketika melihatku. Sosok pria yang berbeda dari pria lainnya. Dia membuatku penasaran dengan semua sikapnya. Astaga Clara apa yang sedang kau pikirkan.
Aku beranjak pergi kedapur, berniat membuatkan bubur untuk Damian serta sup kacang. Apakah dia akan suka?, entahlah. Aku pikir dia pria yang akan menyukai jenis makanan apapun.
___
"Damian bangunlah?" Damian menggeliat pelan. Sebenarnya aku tak tega mengganggu tidurnya tapi dia juga harus makan sekarang.
Damian beberapa kali mengerjapkan matanya menatapku. Alisnya berkerut bingung. Tapi dengan cepat pria itu bangun dan segera menyandarkan punggungnya di sofa.
"Clara kau belum pulang?"
"aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, oh ya aku memasak untukmu, coba kau cicipi." aku menyodorkan nampan berisikan bubur dan kaldu ayam yang sempat aku buat serta satu gelas air putih untuknya.
Damian menerima dan memakan makanan yang ku buat. Tak ada komentar apapun darinya. Pria itu hanya diam tanpa bersuara. Padahal aku sangat penasaran tentang pendapatnya mengenai masakanku.
"bagaimana rasanya?"
"lumayan." jawab pria itu dingin. Aku hanya menghembuskan nafas dan mempoutkan pipi menatap Damian.
"Damian, apakah boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Damian menghentikan memakan makanannya lalu menoleh menatapku.
"katakan?"
"apa kau tinggal sendiri disini, dimana orangtuamu dan saudaramu yang lain?" Damian tidak menjawab pertanyaanku, dia melanjutkan kembali acara makannya. Aku mendesah pasrah, Damian tidak akan menceritakan sesuatu tentangnya padaku. Aku gagal mengorek rasa penasaranku padanya.
"mereka tidak tahu aku punya apartement disini, aku tinggal sendiri disini untuk bersembunyi. Dan orang tuaku, mereka terus mencariku sampai sekarang."
"apa kau sedang mempunyai masalah dengan keluargamu?"
"sudahlah semua itu tak penting Clara, jangan membahasku. Lalu bagaimana dengan Step apa dia tidak marah padamu?" Damian nampak risih dengan pertanyaanku.
"Maaf jika aku terlalu ikut campur dengan urusanmu Damian, Step dia meminta ganti rugi dengan winenya, aku akan membelikannya yang baru." Damian mengangguk menatapku.
"kau tidak makan?" Damian menatapku lekat. Aku menggigit bibir bawahku lalu menggeleng cepat.
"Damian, sepertinya aku
harus pergi sekarang, tiba- tiba saja aku teringat akan sesuatu." Aku mengambil tasku lalu mulai beranjak.
"tunggu sebentar?" Damian menahan tanganku dengan tangan dinginnya. Aku menoleh menatapnya dengan pandangan bertanya.
"dimana ponselmu?" aku mengkerut bingung menatapnya. Tapi aku langsung mengambil ponselku dari dalam tas dan memberikannya pada pria itu.Damian membuka ponselku dan mulai mengetikan sesuatu disana.
"aku telah berhutang budi padamu, jika kau mempunyai masalah kau bisa menghubungiku Clara, aku akan datang jika kau memerlukan bantuanku."
"apa ini nomor ponselmu?" Damian mengangguk dan tersenyum tipis padaku.
"baiklah, aku pergi sekarang. Kau tidak apa- apa aku tinggal sendiri?."
"aku baik- baik saja."
Aku pergi meninggalkan Damian sendiri setelah berpamitan pada pria itu.
____
"Clara kau sudah pulang?" ujar Step bingung. Aku berdiri kaku memandangnya, apa yang harus kukatakan padanya.
"kau bilang kau akan ke kampus, apa kau bolos kuliah. Lalu dimana wineku?"
"wi-wine .." aku tergagap "aku belum membelinya."
Tiba- tiba Step memelototiku. Step beracak pinggang menatapku dengan tatapan garang.
"Clara sayang, kau sudah pulang?"
Aku memutar tubuhku mendengar sebuah suara memanggil namaku, tiba- tiba rasa takutku hilang melihat seseorang yang datang, aku tersenyum menatapnya penuh rindu.
"ibu"..
aku berlari memeluk ibuku tak memperdulikan Step yang terus meneriaki namaku.
"dimana ayah?" .. Aku bertanya pada ibuku tapi ibuku malah tersenyum dan menunjuk ke arah belakang. Aku kembali tersenyum melihat ayahku tengah berdiri di belakang ibuku, dia membawa sesuatu di tangannya dan berjalan kearahku. Aku juga berhambur memeluk ayahku. Setelah aku melepaskan pelukanku, beliau memberikanku sebuah kotak hadiah.
"apa ini?"..
"oleh- oleh untukmu, sayang?"
"terima kasih."
"bukalah Clara?" aku mengangguk, mulai membuka kado pemberian beliau. Setelah aku berhasil membukanya ,mataku tiba- tiba berbinar.
"gaun indah dari London." pekikku tak percaya. Ayahku mengangguk senang.
"sore ini kau harus memakainya?" ujar ibuku tiba- tiba.
"kenapa harus?"
Ibu dan ayahku terlihat saling pandang. Mereka tersenyum penuh rahasia menatapku. Seperti ada yang mereka sembunyikan dariku.
"ada seseorang yang ingin melamarmu." ujar ayah.
"Apa?"....