Heart Attack

Heart Attack
Akan ku hajaar Niall



"Kenapa kau bahkan masih mengharapkannya setelah perlakuan kejamnya kepadamu???" Elvin mengernyitkan keningnya dengan gusar. Setelah Pamella tenang, mereka duduk berhadapan di kamar itu, dan Elvin berhasil membuat Pamella bercerita tentang telepon dari Niall yang diterimanya barusan.


Pamella tercenung dan menatap Elvin sedih, "Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana perasaanku." Suara Pamellabterbata dan airmata nya mengalir deras membasahi pipi nya.


"Sejujurnya aku bisa." Elvin merenung. "Aku melihat sendiri bagaimana kau merawat Niall dengan setia, bahkan dengan kenyataan bahwa lelaki itu kemungkinan tidak bisa hidup lebih lama lagi. Perlu cinta yang luar biasa besar untuk melakukan itu semua." Elvin menatap Pamella dengan hati-hati. "Tetapi yang sekarang terjadi, Niall sudah meninggalkanmu." Elvin meringis melihat wajah Pamella yang tampak terpukul.


"Maafkan aku harus mengatakannya tetapi kau harus menghadapi kenyataan Pamella, apakah bukankah lebih baik daripada menyiksa diri... kau melepaskan Niall dari hatimu dan mulai menyembuhkan diri??? Mungkin di luar sana ada jodoh terbaik untukmu yang sedang menunggumu."


Wajah Pamella pucat pasi dan suaranya bergetar ketika berkata. "Aku tidak bisa berhenti, Elvin. Kau sendiri yang bilang bahwa aku punya cinta yang luar biasa besar. Dan aku akan memperjuangkan cintaku sampai aku tak mampu lagi."


Elvin setengah membanting gelas kopinya ke meja, tak bisa menahan emosinya. Mereka duduk di halaman belakang rumah nenek Pamella, suara air gemericik sebenarnya cukup bisa menenangkan suasana, pun dengan air terjun buatan dengan kolam minimalis penuh ikan koi berukuran besar-besar yang bahkan cukup jinak untuk dielus kepalanya. Tetapi rupanya itu tidak mempan bagi Elvin, dia marah besar kepada Niall dan caranya memperlakukan Pamella, sepupunya yang sangat dia sayangi. Tadi mereka memutuskan pulang dan tidak jadi berbelanja di Mall.


Niall meninggalkan Pamella begitu saja dengan alasan yang tidak bisa diterima dengan nalar. Bahkan kalaupun alasan itu benar adanya, Niall masih tidak berhak meninggalkan Pamella begitu saja. Dia tahu persis meskipun tidak satu kota dengan Pamella, bahwa Niall dulunya begitu lemah karena penyakitnya dan Pamella dengan sepenuh hati selalu mendampinginya.


Meninggalkan Pamella karena jantungnya mencintai perempuan lain?? SiaI....!


Elvin tanpa sadar mencibirkan bibirnya penuh penghinaan sambil membayangkan Niall.


"Jangan marah ya.???" Pamella bergumam pelan sambil mengamati ekspresi Elvin yang berubah-ubah. "Aku sendiri sudah terlalu lelah untuk marah. Pada akhirnya aku hanya bisa sabar dan menerima."


"Kalau aku tahu kisah ini dari tadi, sudah kuhajaar Niall."


Pamella menggelengkan kepalanya. "Kekerasan tidak akan menghasilkan apapun Elvin....dan bahkan perempuan itu..." , ekspresi Pamella tampak sedih. "Perempuan bernama Sheryl itu sepertinya tidak tahu kisah yang sebenarnya."


"Kalau begitu perempuan itu harus tahu kisah yang sebenarnya, supaya dia sadar dia sedang berbahagia di atas penderitaan orang lain." sela Elvin tegas.


"Haruskah aku melakukannya????" Pamella tampak ragu.


Elvin menganggukkan kepalanya. "Bagaimanapun juga kalian mencintai lelaki yang sama, kalian mempunyai hak yang sama dalam memperjuangkan cinta kalian. Dan posisi kalian harus sama." Ujarnya.


Pamella tercenung mendengar kata-kata Elvin. Mencoba memikirkan semua ucapan Elvin.


****


Sheryl duduk di kamarnya dan menatap jendela kaca kamarnya. Dia memegang bingkai foto berisikan fotonya dan Alex yang berpelukan. Itu adalah salah satu foto preweddingnya. Dan tentu Sheryl menyimpan dengan baik semua kenangannya bersama dengan Alex. Lelaki yang sangat di cintai nya itu. Sheryl sering duduk melamun dan mengingat semua kebahagiaannya bersama dengan Alex dulu. Sangat Indah sekali dan Sheryl tidak akan melupakannya.


Suatu malam Alex pernah menyeduhkan secangkir kopi untuk Sheryl di apartementnya, dia menyerahkannya kepada Sheryl sambil tersenyum lembut, Sheryl menerima kopi itu dan membalas senyuman Alex, mengucapkan terimakasih dengan manis.


Alex menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah Sheryl, mereka menatap jendela kaca yang menampakkan pemandangan kerlap-kerlip Lambu kendaraan di jalan raya. Mereka hanya berdua di apartement Alex ini, sendirian. Alex memang sebatang kara di dunia ini, orang tuanya sudah meninggal dan dia tidak punya saudara, dia tinggal diapartement studionya yang penuh dengan jendela kaca lebar, memungkinkan mereka bisa menikmati memandang kesibukan jalanan di bawah sana sepuasnya.


Dengan senang Sheryl menyandarkan kepalanya di bahu Alex, dia sudah menyesap kopinya dan meletakkannya di mejanya,


"Aku bisa duduk di sini selamanya, menatap sunset dan kesibukan malam di bawah sana, bersamamu dan tak merasa bosan." gumam Sheryl.


Alex terkekeh. "Aku juga." dia lalu mengecup dahi Sheryl dengan lembut. "Aku ingin selamanya bersamamu, Sheryl." Tiba-tiba lelaki itu mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya, kotak mungil berwarna hitam.


Sheryl membelalakkan matanya, menatap Alex dengan ragu, ragu sekaligus berdebar.


Alex membuka kotak itu, sebuah cincin mungil dari emas putih dengan berlian kecil di tengahnya, sederhana, tetapi cantik.


"Maukah kau menikah denganku Sheryl???" Suara Alex terdengar serak.


Mata Sheryl berkaca-kaca, dia menatap cincin itu, lalu mengalihkan matanya kembali, menatap Alex, dan menemukan keseriusan di sana.


"Aku mau." suaranya bergetar penuh perasaan, "Aku mau Alex."


Setiap mengingat moment itu, hati Sheryl begitu sedih. Dan dia sangat merindukan Alex. Dia pernah di posisi menyalahkan keadaan karena dia harus di pisahkan dengan lelaki itu tetapi Sheryl perlahan mulai bangkit dan bersahabat dengan keadaan. Tuhan sudah menuliskan garis kehidupan setiap mahluk nya. Dan Sheryl pernah mendengar jika sebelum manusia di lahir kan di dunia ini, mereka sudah di berikan ga barang tentang kehidupan nya kelak di dunia, lalu ketika mereka menyetujui semua itu, maka mereka di lahirkan. Sehingga jika saat ini mereka di hadapkan pada cobaan yang begitu berat, mereka harus siap menghadapi nya dengan tegar karena dulu sudah mengatakan siap kepada Tuhan mengenai semua takdir yang akan di gariskan kepada mereka saat di dunia ini. Sehingga saat mengalami hal sulit di dunia ini, tidak sepatutnya sebagai manusia mengeluh atas apa yang menimpa kehidupan nya.


###


Keesokan harinya.


Lelaki muda itu ingin menemuinya, Sheryl mengernyitkan keningnya ketika mengawasi lelaki yang menemuinya di depan kampus itu. Tadi Tisha mengatakan bahwa ada lelaki yang mencari-cari dan ingin menemuinya. Semula Sheryl takut menemui lelaki yang tidak dikenal di depan kampusnya. Tetapi kemuMella, lelaki itu masuk ke ruang depan kampusnya, dimana ada banyak mahasiswa yang lalu lalang, dan banyak yang akan menolong Sheryl  kalau-kalau terjadi apa-apa yang tidak diharapkannya, karena itulah Sheryl mau menemuinya pada akhirnya


Lelaki itu melepas kacamata hitamnya dan tersenyum, lalu mengulurkan tangannya,


"Perkenalkan saya Elvin."


"Apakah saya mengenal anda?" Sheryl bertanya segera karena kilasan ingatannya membawanya pada pertemuan kemarin dengan perempuan bernama Mella, lelaki ini yang ada di samping Mella waktu itu, yang hanya diam dan tidak berkata apa-apa.


Elvin tersenyum, "Ya. Anda bertemu dengan saya kemarin. Saya memang tidak mengenal anda, tetapi saya mengenal orang-orang yang berhubungan dengan anda. Saya kemari untuk memberitakukan tentang hal-hal yang tidak anda ketahui."


"Hal-hal yang tidak aku ketahui?" kerutan di dahi Sheryl semakin dalam, kebingungan.


"Ya." Elvin menghela napas panjang, "Mungkin ini akan mengejutkan bagi anda, Tetapi saya ingin mengungkap kenyataaan tentang Niall, dan juga tentang Pamella."