Heart Attack

Heart Attack
Bertemu Mella



Begitu sampai di rumah, Pamella langsung melemparkan buku-buku yang dibelinya ke meja depan. Dia melirik sedikit dan dadanya berdenyut ketika melihat sampul buku berjudul "Don' worry Darling"' itu. Langsung terbersit di benaknya wajah Sheryl yang bercahaya ketika menerangkan tentang buku itu. Sheryl tampak bahagia, cantik dan ceria, seakan tidak menanggung beban apapapun di benaknya.


Itukah perempuan yang telah merenggut hati Niall darinya???


Pamella mengambil buku itu dan menggenggamnya erat di jemarinya, benaknya berkelana, tiba-tiba saja membayangkan bagaimana jika Niall tersenyum lembut kepada Sheryl, bagaimana ketika dua anak manusia itu berjalan bersama-sama dan tampak begitu cocok. Visualisasi itu membuat dada Pamella terasa sesak dan sakit.


****


Sheryl dan Niall berdiri di depan makam Alex, makam itu seakan terpaku sendirian di sana, di bawah sebatang pohon yang teduh. Alex meninggal tanpa sanak keluarga, dan dia mewariskan seluruh miliknya kepada Sheryl. Apartement itu, seluruh barang-barangnya, rekening tabungannya, semua diserahkannya kepada Sheryl. Meskipun sampai sekarang Sheryl belum berani mengunjungi apartemen Alex, apalagi melihat barang-barang Alex yang masih tertinggal di sana, tertata persis seperti ketika Alex meninggalkannya untuk terakhir kalinya sebelum kecelakaan itu.


Sheryl menahankan perasaan yang menyesakkan dada ketika menatap makam itu, dia lalu menatap Niall yang tampak merenung di sebelahnya,


"Ini Alex." gumamnya serak.


"Hai Alex." Niall bergumam pelan, "Aku Niall, dan aku hanya ingin mengatakan bahwa kau tidak perlu cemas, mulai sekarang, aku akan menjaga Sheryl."


Jantung Niall terasa berdegup kencang. Membuat Niall memejamkan matanya, bergumam dalam hati untuk Alex.


"Ya Alex.... kau bisa tenang. Kekasihmu kini sudah ada dalam pelukanmu lagi, berdetaklah untuknya selalu."


Sheryl membungkuk meletakkan rangkaian bunga mawar putih dan bunga sedap malam. Dia duduk dan menadahkan kedua tangannya, memjamkan mata lalu membaca doa untuk Alex. Melihat itu Niall juga duduk dan memegang nisan Alex lalu diam dan membacakan doa untuk lelaki yang sudah memberikan kehidupan untuknya melalui jantung yang saat ini ada di dalam rongga nya. Niall mengucapkan begitu banyak terima kasih kepada Alex karena lelaki itu sudah memberinya kesempatan untuk melanjutkan hidup. Dan Niall berjanji akan membahagiakan Sheryl, seperti hal nya dulu Alex sudah membuat kehidupan Sheryl berwarna dan penuh kebahagiaan. Meski Niall tidak tahu apakah jika nanti Sheryl mencintainya, Sheryl akan menganggapnya sebagai Alex ataukah Sheryl memang mau mencintai Niall bukan jantung yang ada di dalam tubuhnya.


***


Beberapa hari kemudian


"Kenapa kau tidak memanfaatkan hari-harimu di Surabaya untuk berbelanja dan menikmati wisata kuliner?" Elvin menghempaskan diri di sofa, di samping Pamella yang membaca novelnya.


Pamella mengangkat alisnya dan menatap Elvin dengan sebal, "Hujan terus setiap hari, bagaimana aku bisa keluar? untuk menuju tempat FO aku harus naik angkot dua kali." ditatapnya Pamella dengan pandangan menuduh, "Dan kau... kau yang harusnya mengantarkanku malahan sibuk setengah mati dengan band-mu."


Elvin tergelak, " Sekarang aku sudah bebas dan siap sedia mengantarmu tuan puteri."


"Aku tahu tempat makan yang enak dan tempat mencari baju yang bagus." Elvin tidak menyerah, "Kau pasti akan suka."


Rupaya kata-kata Elvin membuat Pamella tertarik, setelah pertemuannya dengan Sheryl kemarin, Pamella tidak keluar rumah lagi. Dia ragu, ragu dan takut menghadapi kenyataan kalau harus melihat sendiri cinta Sheryl dan Niall. Dia masih berusaha menyiapkan hati. Tetapi mungkin ajakan Elvin ada gunanya juga untuk mengisi waktu luangnya dan mengatasi kebosanannya di rumah,.


Ditutupnya novel di tangannya dan menatap Elvin dengan tertarik, "Tempatnya jauh?"


"Lumayan, tetapi aku tahu jalan supaya kita tidak perlu menembus kemacetan." Elvin berdiri, sudah yakin kalau Pamella akan mengikutinya, "Ayo berangkat sekarang.!!!"


))))


Mereka pusat perbelanjaan yang besar itu, yang katanya merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini yang didirikan di jalan A. Yani Surabaya. Mall yang di juluki sebagai the most complete superblok di Surabaya. Karena bukan hanya pusat perbelanjaan saja yang ada disini tetapi juga adanya sentra pengajaran atau universitas dan juga sentra hunian yaitu apartemen yang menempel dengannya sehingga sangat mudah di jangkau. Posisinya sanagt strategis karena lokasinya di antara dua kota besar di Jawa Timur yaitu kota Surabaya dan Sidoarjo.


Supir menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk Mall itu. Elvin melangkah turun lebih dulu setelah itu di ikuti oleh Pamella. "Ayo, kita cari makan dan berbelanja. Di sini ada kopi yang enak dan ada mie Aceh yang sangat lezat, kau pasti akan suka begitu mencicipinya. Setelah itu aku akan mengantarkanmu berbelanja pakaian. Disini koleksi pakaiannya bagus-bagus, kau pasti suka."


Pamella terkekeh sambil turun dari mobil dan berjalan di sisi Elvin. "Tidak biasanya, kau baik sekali kepadaku, setahuku kau paling sebal kalau diajak menemani perempuan berbelanja."


Elvin tersenyum dan menatap Pamella dengan tatapan menyesal. "Nenek memarahiku karena sibuk sekali dengan pekerjaanku akhir-akhir ini, sampai-sampai aku tidak bisa menemanimu, dan nenek ada benarnya juga, kau kan jarang-jarang datang ke Surabaya, seharusnya di waktu yang sempit ini, aku bisa membuat setiap detiknya bermakna." Elvin mengedipkan matanya, "Jadi sekarang kau tuan putrinya...."


"Dan kau pelayannya." Pamella tergelak, tidak mempedulikan wajah cemberut Elvin. Dia melangkah setengah mendahului sepupunya itu, lalu masuk dan di lantai satu itu ternyata ada beberapa restoran dan cafe. Pamella memutar pandangannya, dia bersemangat dan berniat untuk membeli es krim. "Kita makan es krim dulu ya???" Tanya Pamella pada Elvin.


"Oke. Disana ada es krim." Elvin menunjuk ke sebuah restoran terkenal yang juga menjual es krim.


Pamella berjalan dan hendak ke restoran itu, tetapi kemudian langkahnya berhenti dan membeku. Dahinya mengerut dengan sedih. Kenapa??? Kenapa di seluruh tempat di Surabaya ini, di seluruh waktu yang ada di dunia ini, dia harus berpapasan dengan Niall dan juga Sheryl???


Di depannya, ada Niall yang sedang menggandeng Sheryl keluar dari restoran itu. Niall yang dirindukannya tampak tertawa dengan ceria, tampak sehat dan bahagia, jauh sekali dari kenangan Pamella akan Niall dulu, yang selalu murung dan lemah di atas ranjang rumah sakit. Sekarang Niall nya tampak ceria dan begitu sehat, seolah-olah seluruh energi yang dulu direnggut darinya karena sakitnya telah kembali,


Pertanyaan itu langsung mengiris hatinya kembali. Apakah dia menginginkan Niall yang tanpa jantung baru itu??? yang lemah, sakit dan tidak berdaya, tanpa harapan hidup lama... tetapi masih menjadi miliknya??? masih mencintainya??? Ataukah dia bisa menerima Niall yang sekarang dengan jantung barunya itu, yang begitu sehat, penuh vitalitas dan bisa tertawa lepas tetapi sudah tidak mencintainya dan sudah tidak dimilikinya???


Pasangan itu rupanya tidak menyadari keberadaan Pamella di depannya, Sampai kemudian Niall yang menyadarinya duluan, matanya berkilat tidak percaya, kemudian berlumur keterkejutan yang luar biasa ketika mendapati ada Pamella yang berdiri di depannya. Langkahnya setengah tertahan dan dia hampir bersuara. Tetapi rupaya Sheryl sudah menyadari kehadiran Pamella, dia langsung teringat perempuan itu yang ditemuinya di toko buku dan langsung tersenyum lebar,