
“Sheryl?” Niall memanggil dengan lembut, berusaha mengetuk pintu itu dengan pelan. Dia sudah memencet bel yang ada di samping pintu, tetapi tetap saja tidak ada jawaban.
Suasana tetap hening, membuat Niall bertanya-tanya dalam hatinya, apakah jangan-jangan Sheryl tidak ada di sini??? Kalau Sheryl tidak ada di sini, kemana lagi Niall harus mencari Sheryl???
Lalu gerakan itu terdengar, suara langkah kaki yang lemah mendekati pintu. Harapan Niall langsung melambung tinggi.
“Sheryl, itukah kau???"
Hening yang lama, kemudian suara Sheryl yang lemah menyahut dari dalam. “Aku belum ingin berbicara denganmu, Niall.” Ucap Sheryl.
Niall menghela napas panjang, tahu pasti bahwa Sheryl akan sangat marah kepadanya. “Sheryl... bagaimanapun juga kita harus berbicara.” Niall mendekatkan dirinya di depan pintu. “Izinkan aku masuk dan kita akan berbicara.”
“Tidak..!!!" Sheryl menyahut tegas, dan tiba-tiba saja hati Niall terasa sakit. Apakah Sheryl tidak memperbolehkannya masuk karena marah akan kebohongannya, ataukah karena Sheryl tidak ingin kehadirannnya menodai kenangannya bersama Alex???
“Kita harus bicara Sheryl, semarah apapun kau kepadaku, kau harus menghadapinya. Aku memang bersalah karena tidak menjelaskan semuanya kepadamu sebelumnya. Buka pintunya untukku Sheryl, please????"
Lama sekali tidak ada jawaban hingga Niall memutuskan untuk menyerah dan berbalik pergi, menerima kenyataan bahwa Sheryl mungkin belum siap untuk bicara kepadanya. Setidaknya dia cukup lega mengetahui Sheryl berada di mana, dan bahwa kondisi Sheryl baik-baik saja.
Detik yang sama, ketika Niall memutuskan untuk pergi, terdengar suara handel pintu dibuka. Niall menunggu dengan penuh harap, dan pintu itupun akhirnya terbuka.
Sheryl berdiri di sana, menatapnya dengan mata sembab. Perempuan itu pasti sudah menangis begitu kuatnya. Tiba-tiba saja hati Niall terasa mencelos, perih. Dia lah yang telah menyebabkan Sheryl menangis sampai seperti ini.
“Boleh aku masuk????” Tiba-tiba saja jantung Niall berdebar, mengantisipasi jawaban Sheryl.
Sebagai jawaban, Sheryl memundurkan tubuhnya dan memberikan kesempatan kepada Niall untuk masuk. Niall melangkah memasuki ruangan itu, matanya mengitari seluruh ruangan. Udaranya masih terasa pengap, mungkin karena sudah sejak lama ruangan ini tidak dibuka. Tetapi Sheryl sepertinya sudah membuka tirai dan jendela sehingga sirkulasi udara segar sudah masuk, suasananya terasa sangat khas, suasana sendu yang kelabu.
Mata Niall melirik ke arah sofa besar yang sepertinya sengaja diarahkan supaya menghadap ke jendela. Dan tiba-tiba saja Niall tahu, dia tahu bahwa Sheryl dan Alex sering menghabiskan waktu dengan duduk di sana.
“Boleh aku duduk????" Tanya Njall meragu.
Sheryl menganggukkan kepalanya, kemudian memimpin langkah Niall menuju ke sofa lain, sofa yang berhadapan di bagian depan ruangan khusus untuk tamu. Niall kemudian duduk dan Sheryl mengambil tempat di seberangnya, membuat hati Niall sakit karena Sheryl memperlakukannya seperti orang asing.
“Pertama-tama aku ingin minta maaf Sheryl, maafkan aku karena menyimpan semua kebenaran ini darimu, maafkan aku karena membohongimu dan memilih untuk tidak mengungkapkannya sejak awal mula.....”
“Memang, aku berbohong kepadamu, tetapi Sheryl, menurutmu apa yang harus kulakukan??? Mana mungkin aku mendatangimu dan kemudian mengatakan, ‘Hai aku Niall, kau tahu tidak, aku menerima transplatasi jantung, dan coba tebak, jantung yang kuterima adalah jantung kekasihmu yang sudah meninggal.’ Tidak mungkin aku berkata begitu bukan???” Niall mengernyit, ekspresi wajahnya tampak kesakitan.
Sheryl tertegun, berusaha menelaah seluruh kata-kata Niall dan kemudian, mau tak mau dia menyadari kebenaran kalimat Niall. Tetapi bukankah setelah pertemuan mereka, dan kedekatan mereka kemudian, ada banyak sekali kesempatan bagi Niall untuk mengungkapkan kebenaran itu??? bahkan Sheryl mengajak Niall ke makam Alex bukan??? Itu sebenarnya adalah momen yang tepat bagi Niall untuk bercerita.
“Aku tahu, kau pasti berpikir kenapa aku tidak mengungkapkannya lebih cepat, bahkan di saat kita begitu dekat dan bersama-sama.” Niall meremaas rambutnya dengan frustrasi. “Aku bingung.”
Sheryl menatap Niall, dan kemudian mau tak mau matanya melirik ke arah dada kiri Niall, menyadari bahwa di dalam situ ada jantung Alex yang sedang berdetak di sana.
Oh Tuhan, kenapa kisah cintanya bisa sepelik ini???
Niall melirik ke arah Sheryl kemudian tersenyum pahit, jemarinya meraba dada kirinya, menghela napas panjang. “Aku benar-benar kebingungan. Aku takut kalau aku mengungkapkan semuanya, kau akan bereaksi seperti ini, menjauh dariku dan pergi. Pada akhirnya aku memilih bersikap pengecut dengan tidak memberitahumu, mengulur-ngulur waktu dan berusaha menikmati kebersamaan kita, aku salah, sorry Sheryl."
“Pengetahuan ini mengubah segalanya.” Ekspresi Sheryl tampak tegas. “Membuatku menyadari bahwa mungkin saja yang kucintai bukan dirimu, tapi Alex. Aku mencintaimu karena melihat Alex di dalam dirimu.”
Wajah Niall tampak pucat pasi ketika mendengar kata-kata Sheryl. Tentu saja. Kemungkinan itu selalu terlintas di benaknya, membuatnya selalu bertanya-tanya, menebak-nebak apakah Sheryl mencintainya, ataukah Sheryl mencintainya hanya karena jantung ini ada di dalam tubuhnya??? Tetapi pada akhirnya Niall menyerah pada perasaannya.
“Aku tidak peduli. Satu hal yang harus kau tahu pasti, aku tidak peduli Sheryl. Jantungku ini meneriakkan namamu, tetapi bukan hanya itu, jiwaku ini, pikiranku ini, semuanya hanya berisi tentangmu, mungkin dulu aku tertarik kepadamu karena jantung ini, tetapi kau harus tahu, bahwa kemudian, ketika aku mengenalmu, semakin dalam dan semakin dekat, aku benar-benar mencintaimu, bukan hanya jantungku tetapi seluruh diriku, jiwa dan ragaku. Dan kalau kemudian kau hanya mencintai jantung ini, bagiku itu cukup. Cintaku kepadamu terlalu besar, cukup untuk menanggungkannya.”
Niall menatap Sheryl, berusaha membaca ekspresi Sheryl, tetapi perempuan itu hanya memasang ekspresi kosong. Dia kemudian melanjutkan. “Kau tahu, aku sering berpikir, kalau kisah tentangku ini ditulis dalam bentuk buku, aku yakin bahwa aku akan dipandang sebagai tokoh antagonis, sebagai sosok yang dihujat semua orang, arena sikapku yang egois, meninggalkan tunanganku begitu saja, tunangan yang begitu setia dan tidak salah apa-apa.” Niall menghela napas panjang. “Aku tahu bahwa apa yang kulakukan memang tampaknya tidak bisa dijelaskan oleh nalar bagi kebanyakan orang... terlalu pelik, yang terlihat hanyalah keegoisanku, melukai hati orang lain hanya untuk mendapatkan yang kuinginkan.” Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di sofa dan tampak pasrah. “Tetapi beginilah aku, inilah aku apa adanya, Niall yang jahat dan egois, Niall yang tak punya hati, meninggalkan tunangannya, menyakitinya sedemikian rupa tanpa alasan logis, hanya untuk mengejar perempuan yang didebarkan oleh jantungnya. Beginilah diriku Sheryl... entah kau menerimanya atau tidak. Aku Niall dan ada jantung Alex di dalam tubuhku dan yang paling penting, aku mencintaimu.”
Sheryl tertegun mendengar ungkapan perasaan Niall itu, dia merasakan dadanya sesak, air matanya yang memaksa mengalir, membuat matanya terasa panas. Tetapi kemudian Sheryl menggelengkan kepalanya.
“Tetap saja semua ini tidak adil untukmu Niall. Semula aku berpikir bahwa aku bisa beranjak dari Alex dan kemudian membuka hati untukmu, tetapi ternyata aku salah. Aku kembali lagi kepada Alex, aku ternyata tidak pernah beranjak darinya, dan aku tak akan membiarkanmu merelakan diri sebagai pengganti Alex.” Sheryl menghela napas panjang, sebutir bening mengalir dari sudut matanya, ke pipinya. “Pergilah Niall, jalani kehidupanmu sendiri, kau memang membawa jantung Alex tetapi kau bukan Alex, kau adalah Niall. Kau harus bisa memisahkan kenangan lama dan kenangan baru. Aku yakin Niall memiliki cinta sejati yang ada di hatinya, dan aku yakin, jantung Alex akan bisa mengikuti hati Niall dan kemudian menjadi jantung Niall.”
Wajah Niall makin pucat dan ekspresinya tampak kesakitan, seolah-olah Sheryl telah menorehkan garam di lukanya yang menganga.
“Aku pikir kau mengerti.... aku pikir kau yang paling mengerti.” senyum Niall tampak miris, menahankan kepedihannya. “Ternyata kau sama saja seperti yang lain, kau tidak mengerti atau mungkin kau tidak mau mengerti.” Niall tertawa pahit, dan kemudian beranjak berdiri. “Kurasa aku sendiri sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, kurasa aku memang ditakdirkan hanya untuk menyakiti orang lain dan kemudian melukai diriku sendiri. Kau akan mendapatkan yang kau mau Sheryl, dunia tanpa aku di dalamnya, dan aku akan membawa jantung Alex pergi bersamaku.”
Tanpa menunggu jawaban Sheryl, Niall membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, meninggalkan Sheryl dalam keheningan yang menyesakkan dadanya.