
oleh MitokameMiyuki
Clara Steepfani
Damian Alexander
Robert Samuel
Hari ini hujan begitu deras, aku tidak tahu apakah kakak laki- lakiku Step sudah pulang atau tidak dari tugas kantornya. Aku menunggunya dan mencoba melihat- lihat lewat kaca jendela di kamar. Ya, aku memang suka menghabiskan waktuku di dalam kamar jika sedang dalam keadaan cuaca hujan seperti ini. Apa kalian bertanya dimana kedua orang tuaku berada sekarang? Mereka ada maksudku mereka masih hidup, hanya saja mereka berdua sedang tidak berada dalam negara Newyork. Mereka sedang menyelesaikan bisnis mereka di London dan sebentar lagi mereka akan pulang.
Tiit.. Tiitt..
Aku menoleh ke arah jendela dan melihat ke arah bawah mendengar ada suara klakson mobil, tak menunggu waktu yang lama setelah pak satpam membuka gerbang, ada sebuah mobil yang memasuki kawasan rumah keluargaku. Aku mengkerut bingung ketika yang datang bukan mobil milik Step. Tapi kebingunganku pudar ketika melihat Step telah keluar dari mobil itu bersama seseorang yang tidak aku kenali. Sosoknya tidak terlihat jelas karena di luar sedang hujan deras. Samar- samar aku hanya bisa melihat Step membawa pria itu memasuki rumah kami.
Aku menutup gorden kamarku dan beranjak dari tempat tidur. Aku berjalan menuju ke arah luar kamar lalu menuruni bawah tangga setahap demi tahap. Terlihat di sana Step dan orang itu berjalan ke arahku. Step tersenyum melihatku dengan pakaiannya yang sudah basah. Aku menoleh ke arah pria yang berpakaian jaket itu. Tiba- tiba Step membisikan sesuatu ke telinga pria itu membuat pria itu juga ikut mendongak menatapku di balik topi hitam yang di pakainya. Pria itu tampan aku dapat dengan jelas melihat sorot mata birunya yang menatapku intens. Aku menggaruk tengkukku malu ketika pria itu terus menatapku lekat namun tak ada senyuman di dalam sana, auranya begitu dingin dan menusuk. Mendadak aku jadi merinding sendiri melihatnya seperti itu. Step mengajak pria itu untuk segera menaiki tangga bersamanya. Pria itu tersadar dan memalingkan wajahnya ke arah Step lalu mengangguk pelan.
"ayo, Damian" ajak Step. Sekarang aku tahu siapa nama pria bertopi hitam itu, jadi dia Damian. Mereka berjalan ke arahku, aku tersenyum menatap Step ketika menghampiriku.
"Kau tahu tidak ada yang lebih buruk dari kondisi Damian, lihatlah dia benar- benar basah dan berantakan. Demi menyelamatkanku dari hujan dia rela hujan- hujanan." ujar Step. Aku menoleh menatap Damian. Pria itu masih tetap dingin menatapku dengan pakaiannya yang sudah basah semua. Aku kasian menatapnya.
"lalu dimana mobilmu?"
"Mogok, oh ya boleh aku meminta bantuan padamu?" tanya Step.
"tentu saja." jawabku.
"tolong buatkan teh hangat untuknya? Dan tolong antarkan ke kamarku". Aku mengangguk mengerti. Step membawa Damian ke kamarnya untuk berganti pakaian sedangkan aku berjalan menuruni tangga ke arah dapur.
___
Aku membuka pintu kamar Step dengan membawa tampan berisi dua gelas teh manis hangat sesuai perintahnya. Kulihat tak ada Step di dalam sana, hanya ada Damian yang sedang menyalakan televisi.
Aku menatapnya takjub, ketika melihat Damian tak memakai topinya. Dia benar- benar terlihat tampan dari pertama kali kita bertemu. Bahkan mataku tak berkedip menatapnya, baiklah anggap saja ini terlalu berlebihan untukku. Tapi nyatanya kali ini dia benar- benar sangat tampan. Aku berani menjamin perempuan yang akan mendapatkan hatinya nanti adalah perempuan yang sangat- sangat beruntung. Oh tidak jangan- jangan dia sudah mempunyai kekasih atau bahkan pria setampan dia sudah mempunyai seorang istri. Benar bukan?, aku tak percaya jika Damian belum mempunyai seseorang kekasih. Karena biasanya pria tampan banyak di kelilingi gadis- gadis.