Heart Attack

Heart Attack
Memberikan Apartemen Alex



Chika dan Sheryl masuk ke ruangan perawatan Nia, Chika di kejutkan dengan keberadaan kakaknya juga kakak iparnya. "Kak Adit, kak Cahya." Chika menghampiri keduanya dan langsung memeluk Cahya kakaknya. "Kalian kesini kenapa tidak memberi tahu???" Tanya Chika.


"Kami tidak tenang jika belum bertemu dengan Niall jadi kami memutuskan untuk datang." Ucap Cahya.


"Sudah lama??? Sorry aku tadi membeli sesuatu."


"Tidak juga, belum ada setengah jam."


Cahya dan Aditya kemudian mengarahkan pandangan nya ke seorang gadis cantik yang berdiri di depan pintu. Inj pertama kali mereka melihatnya. Dan perasaan mereka mengatakan bahwa mungkin gadis inilah yang saat ini sedang dekat dengan Keponakan mereka Niall. Gadis yang bernama Sheryl.


"Uncle, Aunty, itu adalah Sheryl." Sahut Niall kemudian. "Sheryl, ini adalah uncle Aditya dan aunty Cahya, kakaknya Mama dan juga Papa. Orang tua nya kak Kyros. Mereka baru datang dari Jakarta."


"Oh.." Sheryl langsung menghampiri keduanya dan menyalami nya dengan sopan sambil memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan saya Sheryl." Ucapnya.


Cahya tersenyum, membalas uran tangan Sheryl lalu memeluk gadis itu. "Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, dan juga Niall sering membahas dirimu. Kau cantik sekali." Puji Cahya.


"Terima kasih. Anda juga sangat cantik. Dan Niall beberapa kali membahas anda dan juga suami anda kepadaku." Sheryl lalu menyalami Aditya dan menyebutkan nama nya lagi.


Cahya merasa senang bisa bertemu dengan Sheryl, gadis yang saat ini sedang di sukai oleh keponakan nya. Bagaimanapun dan dengan alasan apapun, dia akan setuju dengan keputusan Niall. Meski dia juga sudah sangat menyayangi Pamella.karena Pamella juga gadis yang sangat baik dan cantik serta sangat mencintai Niall. Tapi siapa yang bisa tahu takdir Tuhan akan di bawa kemana. Semalam, putranya yaitu Kyros sudah menjelaskan semuanya yang terjadi kemarin disini. Dimana Pamella ternyata sudah merelakan dan sepenuhnya melepaskan Niall, Pamella sudah ikhlas bahwa dia tidak bisa bersama Niall dan membiarkan Niall bersama Sheryl. Dan hal yang mengejutkan lainnya adalah Kyros bercerita jika ternyata Pamella bukanlah anak kandung dari orang tua nya. Pamella ternyata anak adopsi dan di adopsi saat masih bayi dari sebuah panti asuhan. Lebih mengagetkan lagi juga adalah kenyataan bahwa pendonor jantung Niall adalah Alex mantan kekasih Sheryl yang juga kakak kandung dari Pamella. Sebuah fakta yang sangat mengejutkan. Seolah takdir Niall, Pamella, Sheryl dan mendiang Alex dalam sebuah lingkaran yang saling terikat. Tidak ada yang akan menyangka bahwa semua saling berkaitan satu sama lain.


Cahya merasa bersyukur, semua akhirnya menemui jalan takdirnya masing-masing. Niall bisa bersama dengan Sheryl. Dan Cahya berharap Pamella juga bisa menemukan kebahagiaannya nanti dan mendapatkan pengganti Niall.


Chika kemudian menyuruh kakaknya untuk duduk di sofa, begitu juga dengan Sheryl. Mereka kemudian duduk bersama. "Sheryl, apa kau satu kampus dengan Niall??" Tanya Cahya.


Sheryl menggelengkan kepala nya. "Tidak, kami berbeda universitas."


"Oh berbeda."


Sheryl menganggukkan kepala nya dan menyebutkan nama universitasnya.


"Kau sudah semester berapa??? Atau kau juga melanjutkan magistermu seperti Niall???" Tanya Aditya kali ini.


"Saya sudah semester akhir dan sebentar lagi akan lulus. Dan sedang merencanakan untuk melanjutkan magister."


"Wah baru mau lulus ya??? Semoga sukses dan kau dapat IPK yang bagus."


Cahya menatap adiknya yang ada di sebelahnya. "Aku terkejut ketika Kyros semalam memberitahu ku mengenai Pamella. Apa itu benar kalau dia bukan anak kandung Ivan??" Tanya Cahya ingin memastikan.


Chika mengangguk dengan sedih. "Ya, itulah yang Pamella ceritakan kepadaku dan Sheryl kemarin, alu sungguh sangat terkejut kak, tidak menyangka jika Pamella bukan anak kandung Ivan. Ya kau tahu sendiri bahwa Pamella begitu di sayangi selama ini, aku juga bisa melihat betapa hancurnya Pamella, tetapi dia gadis yang sangat kuat."


"Kasihan sekali dia."


"Pamella juga meminta Sheryl menjelaskan tentang Alex, dia ingin lebihengenal kakaknya. Sheryl dengan baik hati menjelaskan segala nya, iti ternyata membuat Pamella cukup bahagia." Ujar Chika.


Cahyaemandang Sheryl dan tersenyum. "Itu bisa terlihat dari wajah Sheryl, dia juga gadis yang baik. Apa yanv kau sampaikan pada Pamella pasti sangat bermakna di hatinya. Dia juga gadis yang baik dan manis. Aku juga tahu Sheryl, apa yang terjadi antara kau, Niall dan Pamella itu rumit, tetapi yakinlah Pamella itu gadis yang sangat baik, kah juga harus jadi temannya. Dia pasti sangat ingin tahu banyak tentang Kakaknya, dan kau pasti punya ribuan cerita tentang kakak Pamella."


Sheryl menganggukkan kepala nya. Dia juga sangat menghormati Pamella dan akan dengan senang hati berbagi kisah dengan Pamella. Dan semalaman Sheryl sudah membuat keputusan yang sangat besar. "Alex, dia meninggalkan sebuah apartemen untukku, apartemen itu sudah jadi miliknya dan di wariskan kepadaku,disana banyak sekali barang milik Alex. Dan sejak kepergiannya aki tidak pernah datang kesana karena takut aku akan menangis karena mengingatnya. Dan setelag aku pikir-pikir, rasanya apartemen itu harus ku berikan pada yang lebih berhak yaitu Pamella, aku akan menyerahkannya dan Pamella bisa memiliki nya sekaligus merawat peninggalan Alex, ada banyak barang dan kenangan yang Alex tinggalkan, jadi aku rasa Pamella akan membutuhkannya untuk bisa mengenal Alex lebih jauh lagi. Aku berniat mengajaknya kesana nanti."


"Itu ide yang sangat bagus." Sahut Niall. "Aku sangat setuju. Pamella pasti akan menemukan banyak hal tenang Alex disana."


★★★★


Beberapa hari kemudian.


Meskipun kakinya masih di gips, Niall sudah bisa bergerak sekarang dan tidak tergantung pada infus. Pagi itu suster membantunya pindah ke kursi roda. Dan sekarang dia sedang berada di taman, menatap ke arah pemandangan rumput yang menghijau dan ditata dengan indah, dengan Sheryl berdiri di belakangnya,


“Aku senang semua akhirnya berlangsung dengan baik antara kau dan keluargaku.” Gumam Niall kemudian, memecah keheningan yang syahdu.


Sheryl terdiam, menatap keindahan di depannya, lalu menatap puncak kepala Niall dan tersenyum sendu.


Mereka sudah bisa bersama dan direstui sekarang. Keluarga Niall sudah menemui keluarga Sheryl, ada saling pengertian yang terjalin di antara mereka, pengertian bahwa kedua anak mereka memang benar-benar saling mencintai dan ditakdirkan bersama.


“Aku bersyukur semua baik adanya Niall.” Air mata Sheryl menetes, “Berjanjilah setelah ini kau akan berhati-hati kalau menyetir, bahwa kau akan menjaga dirimu untukku.”


Niall meraih jemari Sheryl yang berdiri di belakangnya dan mengecupnya,


“Aku berjanji sayang, dulu bahkan aku merasa tidak punya harapan hidup lagi, tetapi jantung Alex di sini telah memberiku kesempatan kedua. Kesempatan untuk mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Betapa aku mencintaimu Sheryl, di hatiku, di kepalaku. Aku mohon segera setelah aku sembuh, menikahlah denganku.”


Sheryl tertegun. Lamaran untuk menikah, diucapkan di taman rumah sakit yang indah. Sungguh romantis dan menggugah hati, meskipun tanpa cincin.