Heart Attack

Heart Attack
Di Apartemen Alex



"Dimana tante????" Tanya Niall.


"Alex, dia memiliki apartemen, dan itu di berikan kepada Sheryl, tempat mereka berdua dulu sering menghabiskan waktu bersama." Ujar Mama Sheryl.


“Apartemen Alex????" Gumam Niall.


Niall menatap mama Sheryl dengan ragu. Itu adalah informasi yang tidak pernah diberitahukan kepadanya oleh Sheryl. Mama Sheryl melempar pandang ke arah Tisha, dan Tisha menganggukkan kepalanya,


“Itu adalah warisan Alex untuk Sheryl..... hanya saja sejak kecelakaan itu, Sheryl sama sekali tidak pernah mengunjunginya, aku rasa dia terlalu sedih untuk ke sana, seluruh tempat itu menyimpan kenangannya dengan Alex.” Lanjut mama Sheryl kemudian.


Niall tertegun. Tempat kenangan Sheryl dengan Alex, dia lalu bertanya-tanya ke dalam benaknya sendiri. Bagaimana dengan dia??? Mampukah dia datang ke sana??? Kemudian melihat tempat kenangan Sheryl dengan Alex??? Tempat pribadi Sheryl dengan Alex yang bahkan tidak dibagi Sheryl bersamanya???


Tiba-tiba saja Niall merasakan cemburu yang mengusik hatinya, perasaan cemburu yang membuatnya merasa seperti orang ketiga, disingkirkan di luar lingkaran, sendirian.


“Saya akan ke sana.” Niall beranjak berdiri, merasakan jantungnya berdenyut kencang, “Semoga Sheryl ada di sana.”


“Kabari kami ya.???" Mama Sheryl ikut beranjak, mengantarkan Niall sampai ke depan. Setelah Niall pergi, mama Sheryl dan Tisha saling berpandangan, lalu keduanya menghela napas panjang.


****


Sementara itu, Sheryl berdiri dengan ragu, menatap pintu yang sudah terkunci lama itu. Jemarinya menggenggam erat kunci pintu itu, sampai menimbulkan bekas di telapak tangannya, rasanya sakit dan menyengat tetapi bahkan Sheryl sudah tidak mampu merasakannya, hatinya terlalu sakit.


Dengan ragu dan perasaan perih luar biasa, Sheryl memasang kunci itu, dan membuka pintu ruangan itu. Aroma pengap karena ruangan yang tidak pernah dibuka lama menyemburnya, tetapi Sheryl tetap melangkah masuk, kemudian mengunci pintu di belakangnya.


Matanya berkelana, menatap sekeliling ruangan, seolah-olah sang waktu membawa tubuhnya ke masa-masa itu, masa-masa indahnya bersama Alex


Meja dan kursi itu tetap di sana, dalam kondisinya semula menghadap ke jendela kaca yang besar, tempat Sheryl dan Alex sering duduk bersama, menyesap secangkir minuman hangat. Aromanya masih sama meskipun bercampur aroma pengap, harum kayu-kayuan dan musk yang berasal dari sisa-sisa pengharum ruangan yang masih terpasang di salah satu dinding.


Ini adalah apartemen Alex. Tempat seluruh kebahagiaan Sheryl yang tertumpah bersama Alex. Sheryl belum pernah kesini sekalipun setelah kematian Alex, meskipun tempat ini diwariskan kepadanya. Dan tempat ini ditinggalkan sama seperti semula. Sama seperti ketika terakhir kalinya Alex berangkat pergi dari sini, dan kemudian meninggal tak kembali lagi.


Air mata Sheryl membanjir oleh perasaan pilu yang mereemas hatinya. Dia masih teringat janji Alex di waktu itu, janji yang diucapkannya dengan sendu dan kelabu. Janji yang ternyata terus melingkupinya sampai saat ini.


"Aku mencintaimu Sheryl. Aku berjanji akan membahagiakanmu, sekarang, ataupun nanti setelah kita menikah. Apapun yang terjadi, kau harus tahu. Jantungku ini akan selalu berdetak, hanya untukmu."


Tubuh Sheryl rubuh, ambruk ke lantai, dia jatuh berlutut dan membungkukkan tubuhnya, berguncang-guncang karena tangisan yang keras dan tak tertahankan. Sedu sedan Sheryl begitu keras sampai suaranya serak, menangisi janji yang ternyata selalu tertepati itu.


Jantung Alex ternyata masih ada, masih selalu berdetak, hanya untuk Sheryl.


Dia duduk di sofa itu sendirian dan terus terisak penuh kepiluan. Jemarinya tanpa sadar mengelus tempat kosong di sebelahnya di sofa. Dulu Alex sering duduk di sana bersamanya.


Hati Sheryl terasa pedih dan perih. Ingin rasanya agar waktu berhenti dan dunia menelannya, sehingga dia bisa duduk di sini, tidak perlu menghadapi orang-orang, tidak perlu menghadapi segala permasalahan pelik yang menimpa dan menghancurkannya, dan kemudian selamanya berdiam di apartemen ini dengan kenangannya bersama Alex.


Alex


... kalau memang lelaki itu ditakdirkan kembali kepadanya, kenapa harus dengan kisah yang seperti ini???


Kenapa Alex mendonorkan jantungnya tanpa memberitahu Sheryl??? Kenapa Sheryl harus menghadapi kebenaran akan Niall, bukan dari Niall sendiri melainkan harus dari orang lain???


Bahkan sekarang Sheryl bertanya-tanya akan perasaannya pada Niall, menelaah hatinya sendiri dan kebingungan. Apakah cintanya selama ini kepada Niall, hanya merupakan peralihan rasa cintanya kepada Alex???


Apakah dia mencintai Niall karena ada jantung Alex di dalamnya??? Kalau begitu, jikalau keadaan berbeda, jikalau Sheryl dipertemukan dengan Niall, tanpa ada jantung Alex di dadanya, akankah Sheryl mencintai Niall???


Dan pertanyaan lainpun menggelitik di benaknya. Jikalau bukan jantung Alex yang didonorkan kepada Niall, akankah Niall mengejar dan mencintainya??? Ataukah lelaki itu menjalani kehidupan yang seharusnya??? Menikah dan hidup bahagia dengan tunangannya???


Semua itu begitu kompleks dan membuat kepala Sheryl pening. Tetapi kemudian dia menghela napas panjang, tidak. Hubungannya dengan Niall tidak mungkin dilanjutkan. Ini tidak adil bagi Niall karena Sheryl bahkan tidak tahu dia mencintai Niall ataukah mencintai Alex yang ada di dalam diri Niall, pun dengan Niall yang pasti juga tidak bisa menelaah, apakah Niall pribadi yang mencintai Sheryl, ataukah itu semua hanya karena jantung Alex di dadanya???


Dan itu tidak adil pula bagi Mella.. Pamella...Mata Sheryl menerawang, membayangkan betapa cantiknya mantan tunangan Niall itu. Pasti amat sangat menyakitkan bagi Pamella waktu itu ketika mereka berpapasan dulu, ketika itu Niall sedang menggandeng Sheryl. Dari cerita Elvin, Sheryl bisa menyimpulkan betapa cintanya Pamella kepada Niall.dan kemudian Niall berubah ketika berganti jantung.


Semua ini memang tidak bisa dinalar oleh akar pikirannya. Tetapi setidaknya Sheryl sudah memutuskan.


Dia harus menolak Niall dan membuat lelaki itu menjauh, meskipun sekarang dadanya berdebar kencang, merasakan jantung Niall memanggil-manggilnya.


***


Niall memarkir mobilnya, dia memang hari ini memutuskan menggunakan mobil yang di berikan kepadanya oleh pihak kantor yang ternyata di suruh oleh Om nya. Niall memarkir di parkiran apartemen itu, lalu sekali lagi melirik alamat yang diberikan oleh mama Sheryl dan di catat di ponselnya, dia menatap tulisan yang menerangkan lantai dan nomor apartemen Alex, lalu menghela napas panjang dan menaiki lift,


Ketika lift berhenti di lantai yang dimaksudkannya, Niall melangkah memasuki lorong yang sepi. Gema kakinya bergemerisik di karpet tebal yang melapisi lorong itu.


Dan kemudian Niall berhenti di depan pintu kamar itu, pintu apartemen Alex, tempat Sheryl dan Alex dulu sering menghabiskan waktu bersama.


Sheryl ada di dalam sana, entah kenapa Niall mengetahuinya. Dari jantungnya yang berdenyut kencang sampai terasa sakit, dari perasaannya yang tiba-tiba meluap-luap.


Niall akan menjelaskan semuanya kepada Sheryl, dan kemudian siap untuk memohon kepada perempuan itu agar mau menerimanya. Sheryl adalah segalanya untuknya, perempuan yang didebarkan oleh jantungnya. Niall harap Sheryl mau mengerti.