Heart Attack

Heart Attack
Heart Attack, Bagian 4



#Kampus


"Walaupun Samuel itu playboy, tapi aku tidak yakin jika kau tidak akan tergoda oleh ketampanannya." Bisik Jessy lagi menggoda yang sedang duduk di sampingnya.


Setelah pelajaran Mr. Andrew selesai . Clara membereskan buku- bukunya tak memperdulikan Jessy yang terus mengoceh dan berusaha menggodanya.


Clara berjalan keluar lebih dahulu sambil menenteng tas nya dan membawa beberapa buku pelajaran Mr. Andrew. Di ikuti Jessy dari arah belakang.


"Clara, kau pulang dengan siapa?" Tanya Jessy di area pemarkiran.


Belum sempat Clara menjawab pertanyaan dari Jessy. Tiba- tiba saja ada mobil Lamborgini datang di hadapannya, walaupun jaraknya agak jauh. Tapi Jesi dan Clara sempat menoleh menatap takjub mobil mewah tersebut.


Pria itu keluar dengan gagahnya. Mahasiswi disana sempat menoleh ke arahnya. Mereka terhipnotis dan terbungkam untuk beberapa saat. Terutama bagi kaum hawa.


Pandangan Clara tak berkedip. Matanya seakan terbuai hanya menatap wajahnya saja. Pikiran Clara kemana- mana. Dia memikirkan betapa tampannya wajahnya, rambut hitam kecoklatannya, mata biru saphirenya, hidung mancungnya, kulit putihnya dan lagi yang sangat Clara sukai adalah bibir tebalnya.


Berbeda dengan posisi Jessy, Jessy tercengang melihat siapa orang yang turun dari mobil itu. Jessy memang tidak mengenal sesosok pria itu, berbeda dengan Clara. Clara tersenyum mengetahui siapa pria itu.


"Damian?."


Jessy yang mendengar ucapan lirih dari Clara sontak saja ia kaget.


"Apa kau mengenalnya?." Jessy berteriak sumringah, mengetahui pria itu adalah kenalan sahabatnya. Mungkin saja kan Clara berniat memperkenalkannya juga pada pria tampan. Pikirnya antusias.


"Dia Damian sahabat kakak laki- lakiku."


"Wow dia sangat tampan, bahkan lebih tampan dari kakakmu Step." Sahut Jessy senang.


Clara dan Jessy kembali menatap Damian. Damian membuka kaca mata hitamnya dia terlihat seperti sedang melihat- lihat, seperti sedang kebingungan mencari seseorang. Kemudian seorang laki- laki menghampirinya. Yang ternyata dapat Clara dan Jessy tebak bahwa itu adalah Samuel. Damian dan Samuel terlihat bercakap- cakap sebentar.


Namun yang tak Clara dan Jessy sangka. Samuel menunjuk kearah Clara dan Jessy berusaha mempertemukan apa yang di carinya.


"Kau tidak lihat dia sedang menunjuk kita?. Lihatlah mereka sedang berjalan kearah kita sekarang. Apa kau tidak lihat Clara? Ya Tuhan mimpi apa aku semalam." Ujar Jessy antusias.


"Aku benar- benar sedang di anugerahi dua malaikat tampan. Jika aku diperkenankan, tak apa jika aku memiliki salah satunya. Benarkan Clara? ini hari keberuntungan buat kita. Karena kita bisa melihat kedua pria tampan berjalan beriringan bersama."


Clara menoyor kepala Jessy karena sahabatnya itu terus mengoceh dan tidak mau diam.


"Clara?." Clara dan Jessy menoleh ketika Samuel memanggilnya.


"Ya."


"Kakakku Damian mencarimu?."


Clara dan Jessy sempat melongo dengan apa yang dikatakan Samuel. Benarkah mereka bersaudara ? pikir Clara dan Jessy. Walaupun mereka tidak benar- benar mirip tapi mereka berdua memang sama- sama tampan.


"Clara, apa kau mengenal kakakku?." Tanya Samuel tidak suka.


Clara mengangguk mengiyakan. Walaupun nyatanya mereka baru kenal dalam beberapa hari.


"Step menyuruhku untuk menjemputmu?." Kali ini Damian yang menyahut.


"Permisi nona, sahabatmu harus aku bawa ya?." Ucap Damian to the point. Jessy yang tahu Damian sedang berbicara padanya hanya mengangguk dan sedikit tersipu.


Samuel hanya mendesah pasrah melihat Clara dibawa oleh kakaknya sendiri. Ia menggertakan giginya kesal.


"Apa kau sudah memberikan apa yang kusuruh?." Tanya Samuel pada Jessy.


"Ya."


------


"Benarkah Step menyuruhmu untuk menjemputku?."


Clara bertanya membuat Damian menoleh menatapnya.


"Dia menyuruhku untuk mengantarkanmu membelikan sebuah wine untuknya. Kau lupa jika kau harus mengganti minumannya ya?." Damian tersenyum mengejek. Clara yang mengetahui itu sedikit kesal.


"Ya aku tahu."


Clara memalingkan wajahnya ke arah jalanan, menghembuskan nafasnya kesal.


"Karena kemarin kau sudah menolong dan mengobatiku kini giliranku membantumu." Ujar Damian yakin.


Clara menoleh menatap pria di sampingnya. Sebenarnya apa yang di lakukan pria itu? Sebenarnya siapa dia? Pria seperti apa dia? Kenapa disaat ia masih terluka ia masih sempat- sempatnya mau membantunya.


Clara masih ingat betul bahwa baru kemarin pria itu habis ditusuk seseorang. Clara hanya tak mengerti, apakah Damian tak merasakan sakit sedikitpun. Pria itu terlihat tenang dan biasa- biasa saja. Mungkin jika kejadian itu menimpa dirinya Clara hanya bisa berbaring saja di dalam kamar dan dalam waktu yang cukup lama untuk bisa pulih kembali. Atau mungkin saja dia langsung dilarikan ke rumah sakit, dan harus menjalani perawatan. Batin Clara bergidig ngeri jika merasakan semua itu.


"Damian, apa di sebelah sini tidak sakit?."


Tunjuk Clara pada perutnya yang terluka. Damian yang sedang menyetirpun segera menoleh.


"Tentu saja sakit."


"Jika sakit kenapa kau keluar. Seharusnya kau beristirahat saja di rumah."


Clara nampak kesal padanya. Bayangkan saja, pria itu dengan santainya tidak mementingkan kesehatannya. Bukan maksud apa- apa, Clara hanya takut jika terjadi apa- apa pada pria itu, dia takut dimintai pertanggung jawaban oleh keluarganya, hanya karena gara- gara ingin mengantar dirinya membelikan sebuah wine.


"Tidak apa- apa semua ini sudah biasa, jadi jangan khawatirkan aku."


"Tentu saja aku khawatir, sebaiknya kita pulang saja ya?."


Clara berusaha memohon tapi tak di hiraukan Damian. Dalam hitungan beberapa menit Damian memarkirkan mobilnya dan berhenti di sebuah supermarket.


"Sayang sekali nona tetapi sekarang kita sudah sampai. Tapi jika kau mengkhawatirkanku kau bisa mengobatiku di rumah." Damian mengedipkan salah satu matanya memberi kode. Kemudian pria itu keluar dari mobilnya, dan di ikuti Clara dari arah belakang.


--------


"Biar aku menggantikan uangmu?." Clara memohon dengan tatapan sedih. Damian tidak bicara ia hanya memberikan tatapan yang tidak dapat bisa di ganggu gugat lagi.


"Anggap saja itu hadiah dariku." Lanjut Damian.


"Tapi ini berlebihan. Apa kau yakin, aku bisa menghabiskan semuanya?."


"Apa kau bodoh, bukankah di rumah ada Step. Kau bisa berbagi dengannya."


Clara hanya mendesah pasrah. Sekarang Clara bisa tahu bahwa Damian memiliki watak keras kepala. Karena sepertinya tidak ada kata penolakan bagi pria itu.


--------


Clara dan Damian telah sampai di perkarangan rumah Albert ayah Clara. Mobil Lamborgini milik Damian berhenti didepan rumahnya.


"Jangan sungkan untuk meminta bantuanku. Kau bisa menghubungiku jika kau sedang mempunyai masalah."


Clara mengangguk mendengar ucapan Damian. Lalu ia segera turun dari mobil.


"Apa kau tidak mau masuk lebih dulu, barangkali mau bertemu Step." Ujar Clara ambisius. Entah sejak kapan ia merasa sangat senang jika berlama- lama dengan pria itu. Damian hanya tersenyum seduktip dan menggeleng.


Clara melambaikan tangannya pada Damian ketika mobil pria itu melaju pergi.


------


#Home_Albert


Clara memasuki rumahnya dan bertemu Step, dia memberikan salah satu plastik yang berisikan beberapa botol wine.


"Hadiah untukmu."


"Banyak sekali." Step mengambil plastik itu dan tertawa senang.


"Damian memang bisa di andalkan. Aku rasa Damian sangat cocok untukku jadikan adik ipar."


Clara yang mendengar itu segera beracak pinggang dan melotot, ia tahu Step sedang menggodanya. Lalu dia memukul kakaknya dengan bantal sofa yang ada di ruang tamu.


" Hey jika kau mau kau bisa meminta tolong pada Damian, dan kau dengan cepat bisa membatalkan tentang rencana perjodohan. Bukankah kau tidak suka dengan rencana itu." Clara terdiam beberapa saat.


"Aku tidak tahu."


Clara berlari ke arah tangga menuju kamarnya. Ia nampak mempertimbangkan usul Step kakaknya.


Benar sekali, ia bisa meminta bantuan pada Damian. Pikir Clara senang. Namun rasa senang itu berubah menjadi muram tatkala ia mengetahui bahwa Damian adalah kakaknya Samuel.


Clara merebahkan tubuhnya di kasur.


Ia kembali mengingat- ingat kejadian dimana ia mengetahui bahwa mereka berdua adalah pria bersaudara. Clara juga jadi ingat perkataan Samuel malam itu, malam ketika ia akan dijodohkan dengannya.


Samuel berkata bahwa sebenarnya yang akan dijodohkan dengannya bukanlah dirinya. Melainkan kakaknya. Dan Clara hanya berteriak kaget di dalam kamarnya, mengingat kembali. Dan mungkinkah yang sebenarnya yang akan dijodohkan dengannya adalah Damian bukan Samuel.


Lalu jika itu benar, kenapa Damian tidak hadir malam itu?. Apa mungkin Damian sudah tahu bahwa yang akan dijodohkannya adalah aku?.


Pikiran Clara melayang. Membayangkan yang macam-macam. Mungkinkah Damian tidak menyukainya atau mungkinkah karena wajahnya yang kurang cantikkah sehingga Damian menolak perjodohan itu.


Raut wajah Clara semakin masam. Ia segera berdiri, mengambil handuk dari lemari dan mulai ke kamar mandi. Mencoba menetralkan pikirannya.


-------


7 hari kemudian.


Clara melewati hari- hari biasanya. Satu bulan lagi ia akan wisuda. Sekarang ia sedang fokus pada mata pelajaran kuliahnya.


Orang tua nya juga telah kembali ke London tiga hari yang lalu. Ia hanya berdua saja bersama Step dan dengan beberapa orang pelayan di rumah. Orang tuanya memutuskan untuk meneruskan cabang perusahaannya di London. Ingin mencoba membesarkan perusahaan mereka di sana. Sedangkan Step ia bekerja di perusahaan milik ayahnya yang berada disini.


"Step kau bisa mengajariku tentang ini?." Tanya Clara.


Step yang sedang bersantai dan berbaring di atas sofa sambil memainkan gadget nya sangat acuh dan tak memperdulikan Clara.


Clara mendengus sebal karena Step tak kunjung membantunya.


Akhir- akhir ini Clara memang sangat sibuk dengan tugas- tugas yang di berikan oleh beberapa dosennya. Ternyata memang tak mudah baginya menjadi seorang masiswi di bidang arsitektur. Banyak tugas- tugas yang menumpuk membuatnya harus bergadang semalaman.


Seperti hari ini misalnya, ia juga harus begadang semalaman. Karena sekarang ia sedang mengerjakan Tugas Akhirnya.


Clara mengambil ponselnya. Mencari beberapa gambar dari dalam google. Mungkin itu bisa menjadi inspirasi baginya, supaya tugasnya bisa selesai dengan cepat.


"Damian akan datang kesini. Kau bisa meminta tolong padanya malam ini." Ucap Step.


Clara menatap Step tak percaya. Benarkah pria itu akan kesini?, hatinya berucap senang.


Tak menunggu waktu yang cukup lama bel rumah sudah berbunyi. Clara membuka pintu dengan cepat. Karena hari memang sudah gelap. Orang- orang juga sudah pada tidur, jadi Clara sendirilah yang membukanya.


"Apa kabar?." Sahut Damian ramah.


Clara meneguk salivanya dalam. Rupanya kedatangan Damian membuatnya sedikit salah tingkah.


"A..aku baik.


    *********