Heart Attack

Heart Attack
Aku bukanlah Orang yang kau Inginkan



Niall mengernyit ketika melihat Pamella masuk. Perempuan itu menarik kursi dan duduk di sebelah ranjangnya,


“Hai, bagaimana perasaanmu???" Tanya Pamella menghampiri ranjang Niall dan duduk di sebelah lelaki itu.


Niall mencoba tersenyum meskipun sakit. “Pusing.” Gumamnya singkat. “Thanks telah menungguiku di sini, Mella.”


Kali ini giliran Pamella yang tersenyum pahit. “Aku tahu aku bukanlah orang yang kau inginkan untuk berada di sini. Tetapi aku ingin ada di sini Niall. Aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Kau tahu bukan bahwa aku sangat mencemaskanmu???"


Niall menghela napas panjang. “Terimakasih Pamella... aku.. sepertinya aku baik-baik saja.”


“Kakimu patah dan akan di pasang gips.” Pamella melirik ke arah kaki Niall. "Kau akan di operasi juga malam ini."


Niall melirik ke arah yang sama dan menghela napas. “Yah, memang, kurasa aku akan membawa gips itu kemana-mana nantinya.”


“Kau tidak akan bisa kemana-mana.” Pamella setengah tersenyum, “Dokter bilang setelah operasi kau harus memakai kursi roda sementara sampai kakimu sembuh.”


Itu berarti Niall akan menjadi manusia invalid yang bergantung pada orang lain sampai dia bisa berjalan lagi. Niall mengernyit, tidak senang dengan ide itu. “Aku bisa saja merawatmu kalau kau mau.” Pamella tersenyum. “Tapi sekali lagi aku tahu, bukan aku yang kau inginkan.”


Mata Niall menatap mata Pamella yang lembut itu dan kemudian tersenyum sedih. “Aku sungguh beruntung dicintai perempuan sepertimu Pamella, sungguh-sungguh beruntung. Cintamu begitu tulus, bahkan setelah seluruh perlakuan kejamku kepadamu. Aku memang manusia jahat dan tak berperasaan, melupakan bahwa kaulah yang paling terluka di sini.” Niall mengernyit sedih. “Maafkan aku Mella, sungguh mungkin aku tidak pantas memohon maaf kepadamu. Aku benar-benar berdosa kepadamu. Tetapi hanya itu yang bisa kukatakan kepadamu. Aku minta maaf.”


Pamella menatap Niall dengan mata berkaca-kaca. “Mungkin dari awal aku sudah memaafkanmu.” Perempuan itu menghela napas panjang. “Hanya saja harga diriku terlalu tinggi untuk melepasmu begitu saja.” Suaranya bergetar. “Aku sudah menelaah jauh ke dalam hatiku Niall, dan kemudian aku merasakan sesuatu, perasaanku kepadamu mungkin bukanlah cinta yang sesungguhnya. Sejak kecil kedua orang tua kita telah mengkondisikan kita sebagai pasangan. Aku tumbuh besar dengan mengetahui bahwa kau akan menjadi suamiku. Aku kemudian mematrikan itu dalam benakku dan menjadikannya tujuan hidupku. Seluruh pengabdianku padamu itu karena aku menganggap bahwa aku akan melakukan segalanya untuk meraih tujuan hidupku itu, menjadi isterimu.” Pamella menatap Niall dengan tatapan mata kuat. “Segera setelah kau meninggalkanku, aku menyadari Niall, bahwa ternyata aku tidak mencintaimu sedalam itu, kau lebih seperti sebuah tujuan yang harus kuraih, sebuah obesi, bukan cinta. Jadi mungkin sekarang kau bisa tenang karena aku sudah melepaskanmu seutuhnya.”


Niall tercengang mendengar kata-kata Pamella yang tidak disangkanya itu, matanya melebar kebingungan.


“Benarkah apa yang kau katakan itu Mel??” jadi selama ini Pamella tidak mencintainya???


“Ya Niall, jadi kau bisa tenang, dan ngomong-ngomong, orang yang sangat kau nantikan, dia ada di depan menungguimu di sana, sama cemasnya seperti kami. Mungkin nanti kau bisa bertemu dengannya.” Pamella bangkit, lalu mengecup dahi Niall dengan lembut. “Cepatlah pulih seperti sediakala dan raihlah kebahagiaanmu, Niall. Aku sendiri akan mencoba meraih kebahagiaan milikku.” Gumam Pamella dengan sedih.


Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan yang lembut, Pamella melangkah keluar dari kamar itu. Meninggalkan Niall yang terpaku, tak bisa berkata-kata. Niall tidak melihat betapa mata Pamella berkaca-kaca, terasa panas menangan tangis yang  hendak merebak karena patah hati.


Saat ini hatinya sakit, itu jelas sekali. Hancur, sudah pasti. Hatinya hancur saat Niall mengakhiri hubungan mereka saat itu. Hancur berkeping-keping, bahkan rasanya air matanya sudah tidak lagi mampu keluar dari mata cantiknya untuk.menangisi kepiluan atas kisah cintanya yang berakhir tragis. Pamella merasa bahwa ini sudah cukup. Sudah cukup untuk menyakiti hati dan perasaannya hanya karena Niall. Hati dan perasaannya itu berhak untuk mendapatkan kebahagiaan tanpa Niall. Pamella harus menguatkan hatinya saat ini dan melepaskan segala nya.


***


Ketika Pamella keluar dari ruangan, Mama Niall masih berdiri di sana dan langsung tersenyum begitu melihatnya.


“Mama.” Pamella langsung bergumam sebelum Mama Niall sempat berkata-kata, dia langsung mengedikkan kepalanya ke arah Sheryl, membuat Mama Niall menoleh ke sana, menatap dua orang perempuan yang duduk di sudut yang hening dengan ekspresi cemas. “Yang di sana itu Sheryl, kurasa dia ingin menengok Niall juga.” Ucap Pamella.


Ekspresi kaget tampak di wajah semua orang, tak terkecuali Elvin, Sheryl sendiri dan Tisha.


Apa kata Pamella tadi?


Semua mata langsung memandang ke arah Sheryl, membuat Sheryl merasa canggung luar biasa. Pamella sendiri tampak tenang, perempuan itu tersenyum dan menghampiri Sheryl. “Ayo Sheryl, aku kenalkan kepada Mama dan Papa Niall. Dan ini Kak Kyros, dia kakak sepupunya Niall." Gumamnya cepat, meraih tangan Sheryl hingga Sheryl terlepas dari Tisha yang masih terduduk shock. Sheryl tersendat-sendat mengikuti langkah Pamella yang menarik lengannya.


“Mama, Papa, kak Ky, ini Sheryl. Kak Ky, Mama dan Papa pasti sudah mendengar namanya dari Niall.” Pamella tersenyum ceria, kemudian menepuk bahu Sheryl. “Ayo, masuklah ke sana, dokter pasti akan mengizinkan kita menambah satu orang untuk membesuk Niall, apalagi kalau mengetahui itu akan memberikan efek yang bagus bagi kesembuhan Niall.” Ujar Pamella lagi.


Semua orang masih terpaku bisu dalam suasana yang canggung, kecuali Pamella yang memasang wajah ceria, seperti tidak ada hal yang aneh di balik suasana ini.


Adri, Papa nya Niall yang kemudian tersadar dan berusaha memecah suasana canggung itu. “Saya Adri, Papanya Niall.” Gumamnya mengulurkan tangan yang segera di sambut Sheryl dengan gugup. “Saya tahu Sheryl pasti sangat ingin menengok Niall, iya kan Ma???" Adri menoleh ke arah Istrinya.


Mama Niall yang masih menelusuri seluruh penampilan Sheryl dengan tatapan mata menyelidik tampak kaget karena namanya disebut. Dia kemudian menganggukkan kepalanya meskipun tampak tidak rela.


“Silahkan, Niall pasti sangat ingin bertemu denganmu, Sheryl.” Gumam Chika.


Dengan Izin dari Mama Niall pun, Sheryl masih ragu-ragu, dia benar-benar kebingungan akan keadaan yang tidak diduga-duganya ini. Tetapi kemudian Pamella mendorongnya dan terkekeh ceria. “Ayo, masuklah ke dalam sana.” Gumamnya setengah mendorong Sheryl, membuat Sheryl mau tak mau melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Niall terbaring. Pamella berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak tumpah dan membanjiri pipi nya. Dia harus kuat untuk dirinya sendiri.