
Niall mendongak, berusaha mencari wajah Sheryl yang terdiam dan kemudian, lelaki itu menatap Sheryl dengan ragu,
“Apakah kau mau menikah denganku, Sheryl?”
Air mata bergulir di pipi Sheryl, air mata kebahagiaan.
“Ya Niall. Aku mau. Aku mau menikah denganmu.”
Niall menatap Sheryl dengan tatapan mata berkaca-kaca, “Terimakasih Sheryl, aku.... bahagia.”
Dan kemudian dua anak manusia itu berpegangan tangan dengan eratnya, seperti halnya dua hati mereka yang terjalin penuh cinta dan kepercayaan.
Sheryl pernah patah hati, pernah hancur karena cinta, dan Nialllah yang telah membawanya kembali, membuatnya berani untuk mencintai. Mungkin jantung Alex di dalam sana memberikan pengaruh, mungkin juga tidak, Sheryl sudah tidak memikirkannya lagi.
Yang terpenting sekarang, dia menyayangi Niall, dia membuka hatinya untuk Niall sekaligus membuka masa depan mereka untuk bersama. Mereka memang telah melalui segalanya, menyakiti satu sama lain dan kemudian dipersatukan lagi. Tetapi satu hal yang pasti Sheryl yakini. Niall mencintainya dengan tulus, setulus cinta Sheryl kepada lelaki itu.
Dan mereka akan menjaga cinta itu selama Tuhan mengizinkan mereka. Sampai di suatu titik jantung mereka akan berdebar satu sama lain untuk saling setia.
Bukan lagi jantung Alex, tetapi jantung Niall. Bukan lagi mencintai kenangan, tetapi mencintai kesempatan yang dihadiahkan Tuhan kepada mereka berdua.
***
Elvin mendatangi rumah neneknya dimana Pamella masih berada disini. Beberpaa hari ini Pamella memang banyak diam dan Pamella juga melarangnya untuk membahas permasalahan Alex dan juga fakta bahwa Pamella sudah mengetahui asal-usulnya dengan keluarga nya. Pamella masih berusaha menyimpan semua itu dari keluarga dan orang tua nya. Elvin sedikit khawatir sebenarnya. Itulah kenapa dia memilih untuk menemui Pamella. Juga menanyakan mengenai perasaannya pada Pamella.
Pamella masih memasang ekspresi datar, tetapi kemudian dia menyadari bahwa Elvin sedang menghampiri nya. Dan, lelaki itu malahan menatap Pamella dengan intens, membuat Pamella mengerutkan keningnya.
“Kenapa kau kesini Elvin?” Pamella akhirnya bertanya dengan bingung.
Elvin menghela napas panjang, "Aku mengkhawatirkanmu Mel." Elvin duduk di sebelah Pamella. “Kita sudah di sini berdua, Pamella dan kau tidak perlu berakting lagi. Beberapa hari ini kau hanya diam dan menatap kosong tanpa ekspresi. Kau bisa menangis di depanku.” Bisiknya lembut.
Kata-kata Elvin itu meluluhkan hati Pamella yang sejak beberapa hari ini telah dipasangi benteng melingkar yang rapat, benteng itu runtuh seketika, bersamaan dengan air mata yang meleleh di pipinya.
“Aku.... sesungguhnya aku masih tak rela aku selalu merasa bahwa cintaku kepada Niall yang paling kuat.....” suara Pamella tercekat oleh tangis, “Tetapi memang semua sudah seharusnya begitu, dan aku juga tidak mungkin bisa bersama Niall, apalagi setelah mengetahui bahwa jantung Alex... jantung kakakku... yang ada di dadanya... sepertinya semua sudah diatur agar aku tidak berjodoh dengan Niall.” Pamella bergumam di antara tangisnya, di antara kepedihan yang meluap di dadanya.
Benak Elvin terasa di raemas, dia langsung meraih Pamella ke dalam pelukannya, mengusap rambutnya dengan sayang dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut. “Aku di sini untukmu Pamella, kau boleh menangis semaumu di dadaku. Gunakan aku Pamella, aku milikmu, aku sangat mencintaimu sayang.” Elvin berbisik lembut di antara kata-kata penghiburannya, memeluk Pamella semakin erat, berusaha meredakan kepedihan perempuan itu, berusaha menyerap seluruh kepedihan dari diri Pamella.
Saat itu mungkin akan tiba untuk Elvin. Bahkan kalaupun nanti hati Pamella tidak tertambat kepadanya, sepenuh hatinya Elvin rela. Tidak apa-apa. Yang penting dia bisa melihat Pamella yang berbahagia, yang tersenyum cerah dan menghangatkan hatinya, yang tidak digayuti kepedihan lagi.
Saat itu akan tiba pada akhirnya, karena waktu akan menyembuhkan segala luka.
Elvin masih memeluk pundak Pamella yang rapuh dengan hati-hati. “Bagaimana sekarang dengan pengetahuanmu itu Pamella? Apakah kau akan membicarakan dengan orangtuamu? Beberapa hari ini kau tidak mengatakan apapun dan melarangmu membahasnya dengan keluarga kita."
Pamella termenung kemudian menganggukkan kepalanya, “Kurasa aku akan memberitahukan kepada papa dan mama bahwa aku sudah tahu kenyataan diriku bukan anak kandung mereka. Aku tidak bisa menyimpannya terus..” desahnya pelan,.
Dalam hati Elvin merasa lega. Kalau Pamella membuka kenyataan tentang dirinya kepada keluarga mereka. Akan terbuka kesempatan bagi Elvin untuk mendekati Pamella secara terang-terangan. Semua akan lebih nyaman kalau seluruh keluarga tahu bahwa Elvin dan Pamella sama sekali tidak berhubungan darah.
Kemudian Pamella mengangkat kepalanya dan menatap Elvin dengan serius. “Tetapi mengenai masalah Alex adalah kakakku, aku ingin kita menyimpannya untuk diri kita sendiri Elvin, cukup kita yang tahu, bahwa jantung yang ada di dada Niall adalah jantung kakak kandungku, bahwa Alex dan aku mempunyai hubungan darah, aku ingin menyimpan semua itu sendiri dulu, sampai aku bisa menelaah semuanya.”
Elvin menganggukkan kepalanya. “Kau tahu aku selalu bisa menyimpan rahasia.” Gumamnya pelan. “Aku akan tetap diam sampai saatnya nanti kau siap untuk membuka semuanya.”
Pamella menghela napas panjang. Entah kapan dia siap. Kenyataan bahwa Alex adalah kakak kandungnya masih membuatnya shock.
“Rasanya menyedihkan, mempunyai kakak kandung yang hubungan darahnya begitu dekat dengan kita, tetapi tidak menyadarinya.” Mata Pamella tampak sedih, “Bahkan aku tidak akan pernah dan tidak akan pernah bisa melihat kakak lelakiku dan bertemu dengannya.”
Elvin tersenyum tipis, “Aku selalu bisa menjadi kakak lelakimu kalau kau mau.”
Pamella mencibir, “Seorang kakak lelaki tidak mungkin mencium adiknya sendiri.” Meskipun pipinya merona ketika mengungkit ciuman itu, tetapi Pamella merasa puas bisa menggoda Elvin. Ya, kehadiran lelaki itu yang menopangnya sedikit banyak telah membantu Pamella supaya tegar dan kuat. Bahkan dia bisa dengan gagah berani melepaskan Niall.
Dan ternyata setelah dia ikhlas melepaskan, semuanya jadi terasa lebih ringan. Batinnya terasa tenang dan ringan, tidak digayuti dengan berbagai kesedihan, kemarahan dan perasaan dikhianati, mungkin sudah sejak lama dia harus melakukan ini. Apa yang sudah terjadi tidak bisa dibalik lagi. Sebagai manusia, dia hanya bisa terus melangkah dan menjalaninya.
Sementara itu pipi Elvin tampak sedikit merona ketika mendengar godaan Pamella kepadanya. Elvin tentu saja tidak sengaja bersikap impulsif, mencium Pamella seperti itu.. tetapi memang perasaan cintanya yang bertumbuh makin besar kepada perempuan di depannya ini sulit untuk dibendungnya.
“Aku tidak akan melakukannya lagi kalau kau tidak mau. Aku berjanji.” Gumam Elvin sungguh-sungguh. Dia tidak mau ciuman itu menjadi batu sandungan kedekatannya dengan Pamella.
Kalau saat ini Pamella menginginkan keberadaannya sebagai kakak laki-lakinya, sepupunya atau apalah. Elvin akan melakukannya, dia akan berusaha sedapat mungkin agar Pamella nyaman bersamanya. Pamella sendiri hanya tersenyum simpul penuh rahasia. “Siapa bilang aku tidak mau?” dan kemudian setengah menahan senyumnya, perempuan itu membalikkan badannya, dan masuk ke rumah, meninggalkan Elvin yang masih terpaku mendengar kata-kata Pamella yang sama sekali tidak diduganya itu.
Apakah Pamella sedang bercanda, ataukah perempuan itu serius dengan kata-katanya? Elvin terpaku, tidak menemukan jawabannya. Matanya masih menatap pintu kamar Pamella yang tertutup rapat dengan sia-sia.