Heart Attack

Heart Attack
Rumah sakit



Ponsel Pamella bergetar di sakunya, membuat Pamella mengerutkan kening. Diambilnya ponsel itu dari sakunya dan mengerutkan keningnya ketika melihat nama Mama Niall di layarnya.


“Halo Mama???” Pamella bergumam lemah, kenapa Mama Niall meneleponnya? Dulu Pamella dan Mama Niall sangat akrab, apalagi mengingat Mama Niall tidak punya anak perempuan, Pamella selalu menjadi anak perempuan kesayangan Mama Niall, mereka sering menghabiskan waktu bersama, bercakap-cakap, berbelanja bersama, bahkan ke salon bersama. Hubungan mereka memang agak renggang setelah Niall meninggalkan Pamella begitu saja. Yang pasti Pamella merasakan kecanggungan dari Mama Niall setelahnya, tentu saja mengingat betapa kejamnya perlakukan Niall kepada Pamella, pasti Mama Niall merasa bersalah kepada Pamella.


Sejak kejadian itu Pamella jarang berhubungan dengan Mama Niall lagi, bahkan hanya sekedar untuk mengirim kabar pun tidak pernah terpikirkan olehnya, dan sekarang Mama Niall menghubunginya, pasti ada hal penting tentang Niall.


Tetapi kemudian yang terdengar di sana bukanlah seperti yang diharapkannya. Itu suara isakan, Mama Niall menangis!


“Mama sedang dalam perjalanan ke Surabaya, Pamella bersama Papa sekarang, sedang menuju bandara.” Ucap Chika di seberang telepon.


Pamella memang memanggil Mama dan Papa Niall dengan sebutan ‘Mama’ dan ‘Papa’. “Niall....” suara Mama Niall tertelan isak tangis, tersedu-sedu. “Niall kecelakaan Pamella, kami tadi menghubungi orang tuamu dan mereka bilang kau ada di Surabaya, semoga kau mau ke sana lebih dahulu Pamella...” Mama Niall menyebut nama rumah sakit swasta terkenal yang terletak di pusat kota Surabaya.


Jantung Pamella berdebar kencang, dia menatap Elvin dengan panik, membuat Elvin yang tidak bisa mendengar percakapan itu mengerutkan keningnya dengan bingung,


“Ada apa???” Elvin bertanya penasaran.


Pamella membalikkan tubuhnya, meninggalkan Elvin begitu saja, membuat Elvin mengejarnya dengan penasaran, lelaki itu akhirnya mengejar Pamella, mencekal lengan perempuan itu dan semakin mengerutkan keningnya ketika melihat air mata Pamella yang berderai,


“Pamella??? Ada apa???” Tanya Elvin.


Pamella memalingkan mukanya. “Antarkan aku ke rumah sakit segera, Niall kecelakaan!!!"


***


Sheryl merasakan air matanya berderai, ketakutan. Kalau sampai terjadi apa-apa kepada Niall, maka kesalahan terbesar ada di pundaknya. Dia menolak Niall dengan kasar, tidak mau menerima apapun penjelasan lelaki itu, hanya mementingkan perasaannya sendiri, kebingungannya terhadap keberadaan jantung Alex di dalam dada Niall.


Memangnya kenapa kalau ada jantung Alex di sana? Harusnya Sheryl menyadari bahwa dia sudah bertekat meletakkan Alex ke dalam kenangannya, sebuah kenangan indah yang akan selalu terpatri ke dalam  benaknya. Bukankah Sheryl sudah bertekad untuk mencintai Niall dan membuka hatinya kepada lelaki itu?


Bukankah dia dan Niall sekarang masih hidup dan mereka berhak untuk saling mencintai?


Seharusnya Sheryl memberi kesempatan untuk Niall, bukannya mengusirnya seperti itu, dengan kasar dan tidak memberinya harapan lagi.


Sheryl memegang pinggang Tisha erat-erat ketika Tisha meliukkan motornya mencoba menyelip di antara kemacetan kendaraan di lampu merah. Sahabatnya itu mengebut, mengantarnya ke rumah sakit dengan segera untuk melihat keadaan Niall. Tadi Sheryl memutuskan mengejar Niall dan pulang ke rumahnya untuk menanyakan kepada Mama nya apakah Niall datang kesana atau tidak, dan di rumahnya kebetulan ada Tisha. Mereka memberitahu nya jika Niall datang tadi, dan di beritahu agar mencarinya di apartemen Alex lalu Niall pergi kesana dan tidak ke sini lagi. Lalu tiba-tiba saja sekarang Sheryl mendapatkan informasi jika Niall kecelakaan.


Apakah Niall sengaja? Mengingat kata-kata terakhir Niall sebelum meninggalkan apartemennya... apakah lelaki itu sengaja dalam kecelakaan ini?


Dan sekarang Sheryl lah yang memohonkan kesempatan kedua untuk dirinya dan Niall. Sheryl bersumpah dia akan berusaha mengubah segalanya jika Tuhan memberinya kesempatan kedua.


Oh Tuhan... selamatkanlah Niall.


***


Untunglah mereka menggunakan motor, karena mereka bisa menembus kemacetan dengan cepat. Setelah menemui resepsionis mereka diinfokan bahwa Niall masih ada di UGD. Sheryl setengah berlari ke sana diikuti Tisha.


Dia berjalan ke seluruh UGD, menoleh ke kiri dan kanan kemudian dia tertegun.


Mella... Pamella ada di sana. Sedang berbicara dengan dokter.


Langkah Sheryl langsung terhenti, dia tertegun dan kemudian menatap Pamella dengan pilu. Ada lelaki itu, Elvin.. lelaki yang menemuinya di kampus dan mengungkapkan semuanya kepada nya. Lelaki itu sekarang berdiri di sebelah Pamella, lengannya merangkul perempuan itu seakan menopangnya.


Apa yang harus dia lakukan sekarang???


Tetapi pada detik yang sama, Pamella menoleh dan menatap Sheryl yang berdiri tertegun di ujung koridor, perempuan itu tampak sama terkejutnya dengan Sheryl, ekspresinya berubah jadi pucat pasi, sementara Sheryl sendiri berdiri di sana dengan bingung, tak tahu harus berbuat dan berkata apa.


Sementara itu, Tisha menoleh ke arah Sheryl yang membeku dan menatap bingung, tetapi kemudian dia tidak peduli, dengan cepat digandengnya Sheryl mendekat.


“Dokter, apakah yang ada di sana Niall, teman saya???” Tisha bergumam cepat, menyela percakapan Dokter itu yang sepertinya sedang menjelaskan sesuatu kepada Pamella.


Dokter itu menoleh, menatap Tisha dengan bingung, sementara itu Sheryl berdiri di belakang Tisha dengan wajah merah padam, sedikit kebingungan.


“Oh... teman Niall.” Dokter itu tersenyum. “Niall tidak apa-apa nona, tetapi kaki kanannya patah sehingga untuk sementara setelah kami melakukan operasi, dia harus duduk di kursi roda, selain itu kami telah memeriksa seluruhnya, ada beberapa memar, tetapi tidak ada gegar otak.” Dokter itu lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Pamella. “Kami akan menunggu kedatangan orang tua tunangan anda, untuk menjelaskan dengan lebih terperinci .”


“Ya, Mama dan Papa akan segera datang dalam beberapa jam, mereka ada di Jakarta dan sedang perjalanan kesini.” Pamella segera menjawab, berusaha tidak peduli akan keterkejutan di mata Sheryl ketika dokter itu menyebut Pamella sebagai tunangan Niall. Ya. Pamella memang memperkenalkan diri kepada dokter itu sebagai tunangan Niall.


Pamella lalu menyalami dokter itu, mengucapkan terima kasih dan kemudian dokter itu berpamitan pergi.


Sementara itu mereka berempat berdiri dengan canggung di ruangan itu, dalam keheningan. Dalam kamar yang berdinding kaca, nampak Niall yang masih tak sadarkan diri berbaring diam dalam ketidaksadarannya. Tisha sendiri menjadi canggung ketika mendengar dokter tadi menyebut perempuan di depannya itu sebagai tunangan Niall. Seketika Tisha sadar kalau perempuan itu adalah Pamella, tunangan yang ditinggalkan Niall demi mengejar Sheryl.


Sheryl pun hanya terdiam. Pamella bahkan masih mengatakan bahwa dia adalah tunangan Niall bahkan menyebutkan orang tua Niall sebagai Mama dan Papa, seolah menandakan bahwa hubungan Pamella dengan keluarga Niall begitu dekat, sehingga Pamella pun seperti menganggap keduanya sebagai orang tua sendiri. Ada perasaan bersalah yang begitu mendalam di rasakan oleh Sheryl saat ini.