
Niall sedang serius belajar menatap laptopnya. Ini masih siang dan dia malas keluar. Sheryl juga sedang berada di toko Mama nya. Sehingga Niall tidak ingin mengganggu gadis itu.
Ketika ponselnya berbunyi, Niall mendesah melihat nama yang tertera di layar, dia mendesah. Tiba-tiba merasa lelah. Mamanya pasti akan membujuknya untuk pulang menengok Pamella.
Dengan enggan diangkatnya ponsel itu. "Iya Mama????"
"Mama sudah menelepon Sheryl." Gumam Chika.
Suara di seberang telepon itu membuat Niall terperanjat, "Apa....!!!!" Seru Niall terkejut.
"Mama sudah menghubungi Sheryl. Mama bilang ingin bertemu perihal kau dan Pamella, Mama akan berangkat ke airport sekarang dan akan sampai Surabaya nanti, lalu menemui Sheryl." Ucap Chika.
Jemari Niall yang memegang ponsel bergetar. "Mama tega melakukan itu pada Niall???? Ya Tuhan Mama. Kenapa Ma???? Kenapa Mama melakukan itu??? Kapan Mama bisa mengerti???"
Chika mendesaah penuh penyesalan di seberang sana. "Maafkan Mama, Niall. Mama harus melakukannya. Kalau tidak hatimu yang keras itu tak akan runtuh. Mama hanya ingin kau melembutkan hatimu, menengok Pamella, kasihan dia."
"Apakah Mama tidak kasihan padaku??? Mama tega sekali melakukan kekejaman ini padaku???? Kepada Sheryl Ma??? dia tidak tahu apa-apa!" Niall menggeram, mulai marah.
"Maafkan Mama Niall... Mama putus asa." Chika menghela napas lagi. "Mama hanya ingin kau menemui Pamella. Itu saja Niall, tunjukan kepedulian mu padanya, dia sudah pernah melakukannya padamu dulu, kenapa kau menolak menemui nya???? Kau tidak kasihan padanya???" Chika berusaha menyadarkan kekerasan hati putranya itu.
"Baiklah, aku akan ke Jakarta hari ini juga." Niall bergumam tajam. "Niall akan menemui Pamella. Selamat, Mama dan Pamella mendapatkan apa yang kalian mau. Tapi Niall minta Mama tidak menemui Sheryl. Jangan pernah menemui Sheryl dan menyakitinya." Niall memutuskan sambil memejamkan matanya dengan sedih.
Hening..
Lalu sang mama bergumam dengan hati-hati. "Hanya karena Sheryl kau berubah seperti ini, Niall. Kau marah kepada Mama, kau meninggalkan Pamella, semuanya kau lakukan hanya karena Sheryl????" Tanya Chika dengan suara menajam.
"Bukan 'hanya'..." Sela Niall. "Mama harus tahu, Sheryl adalah segalanya untukku. Dan dengan melakukan apa yang Mama lakukan itu, Mama telah menghancurkan hatiku, anak Mama sendiri." Dan Niall pun menutup telepon dengan hati kalut. Dia menutup laptopnya dan beranjak dari kursi. Niall berdiri menatap layar ponselnya dan mencari tiket untuk pulang ke Jakarta siang ini juga. Lalu dapatlah Niall ada penerbangan jam 6 sore ke Jakarta. Masih ada sekitar beberapa jam untuknya bersiap dan ke Bandara.
Chika berbalik badan dan lagi-lagi di kejutkan dengan keberadaan suaminya. Adri berdiri di belakangna dan menatapnya tajam. "Kau sudah puas???" Tanya Adri. "Kau lupa bagaimana dulu setiap hari kau menangis dan berdoa untuk kehidupan putramu agar dia bisa mendapatkan jantung yang cocok dan pas, supaya dia bisa bersama kita setiap hari, lalu bagaimana bisa kau melakukan hal yang menyakiti hatinya??? Kau ini kenapa???" Tanya Adri lagi yang tampak kesal dengan sikap yang di tunjukkan oleh istrinya.
"Aku hanya ingin putraku tahu batasan dan cara bersikap kepada orang yang pernah membantu nya.".
"Tapi kau menyakiti Niall, Chika. Kau menyakiti hati putramu." Adri terlihat jengkel.
"Dan Niall menyakiti Pamella...!!!" Chika setengah berteriak. "Kenapa kau juga tidak mengerti hal itu???? Hah???? Coba kau ingat lagi apa yang sudah di lakukan Pamella selama ini pada Niall??? Sama seperti kita, Pamella memposisikan dirinya dengan baik sebagai seorang kekasih yang dengan setia ada di sebelah Niall. Mendukungnya dan juga menjaga nya setiap hari. Dia di hancurkan, hatinya di hancurkan oleh Niall, dia sekarang sakit dan hanya butuh kehadiran Niall. Lalu apa salahnya kalau alu meminta Niall datang kesini menemui nya??? Apa salahnya???"
"Lalu menurutmu aku harus bagaimana???? Aku sudah meminta baik-baik pada Niall agar datang, tetapi dia menolak keinginanku, satu satunya cara adalah aku melibatkan Sheryl, aku harus mengancamnya menggunakan nama Sheryl siapa ya hati dan pikirannya terbuka. Akh sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi Niall itu keras kepala, sama seperti mu, egois dan tidak bisa melihat situasi. Jadi jangan salahkan aku jika aku harus melibatkan Sheryl." Chika berbalik badan dan kembali meninggalkan Adri dengan penuh kemarahan.
***
Malam harinya....
Sheryl datang ke restoran yang tadi dia beritahu kepada Mama Niall itu dengan jantung berdegup kencang. Oh betapa inginnya dia menelepon Niall dan menanyakan semuanya, tetapi hatinya melawan, dia ingin mendengar penjelasan dari sisi orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah mama Niall.
Benarkah Niall meninggalkan tunangannya yang sedang sakit di kota asalnya??? Dan kenapa mama Niall menganggap bahwa ini semua ada hubungannya dengannya???
Apakah....apakah Niall meninggalkan tunangannya karena Sheryl??? Niall mengatakan bahwa dia mencintai Sheryl.
Perasaan bersalah langsung menggayuti hatinya, membuatnya berat. Sheryl menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan menghirup udara malam dengan nikmat. Hembusan angin malam terasa menyenangkan, menyejukkan dan menguatkan. Sheryl butuh merasa kuat untuk menghadapi apa yang akan didengarnya nanti, penjelasan dari mama Niall.
Dia berdiri di ambang pintu restoran itu dan memutar mata. Tidak ada yang dikenalinya di sana. Mama Niall ditelepon mengatakan bahwa dia akan menunggu Sheryl di restoran itu jam tujuh malam. Dan bodohnya Sheryl lupa menanyakan nomor mama Niall yang bisa dia hubungi. Sekarang dia beridiri bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
"Kursi untuk berapa orang????" Seorang pelayan menyapanya sopan, membuat Sheryl sedikit kaget, dihentakkan dari lamunannya.
"Eh.. untuk dua orang."
"Mari ikuti saya."
Dengan pasrah Sheryl mengikuti pelayan itu, diantarkan ke kursi di sudut untuk dua orang. Untunglah posisinya cukup bagus, sehingga Sheryl bisa mengamati siapa yang masuk dan keluar dengan leluasa. Dia menajamkan pandangannya, mengamati setiap orang.
Tetapi tampaknya tidak ada yang menunggunya atau mengenalinya di sini. Sheryl duduk dengan bingung. Memesan secangkir minuman hangat untuk menemaninya, dan kemudian dia menunggu.
Dan menunggu. Dan terus menunggu ..
Hampir dua jam berlalu, dan tidak ada yang datang menghampirinya ataupun menghubunginya. Sheryl menghela napas.
Sepertinya orang yang mengaku mama Niall tidak akan datang. Sheryl sudah menyerah untuk menunggu, mungkin itu hanya orang iseng??? ataukah mungkin Mama Niall mengurungkan niatnya???
Sheryl meraih dompetnya, membayar dan kemudian melangkah pergi dari restoran itu.