
***
Beberapa jam kemudian. Sheryl dan Niall keluar dari bioskop setelah menonton film yang di bintangi oleh Florence Pugh dan Harry Styles. "Jadi setelah ini kita kemana???" Mereka keluar dari gedung itu, setelah menonton film pilihan mereka.
Akhirnya Niall mengajak Sheryl duduk di restoran di lantai empat yang berdinding kaca bening, sehingga pemandangan kota tampak begitu jelas. Sheryl dan Niall memilih tempat yang langsung berdekatan dengan dinding kaca itu.
Sheryl merasa senang, karena menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan dan nonton film bersama Niall. Laki-laki ini sangat baik dan perhatian sekali, yang membuatnya semakin yakin bahwa dia telah jatuh cinta.
Sheryl tersenyum kepada Niall. "Kita di sini saja dulu, aku lapar."
"Ya, aku juga." Niall tersenyum. Niall memanggil pelayan dan memesan makanan serta minuman. Setelah ini mereka akan berbelanja dan pulang. Besok Sheryl juga ingin membeli buku di toko langganannya.Dia sudah mengatur janji dengan Niall, dan akan bertemu di toko buku itu saja karena Niall ada pekerjaan yang harus di urus jadi tidak bisa menjemput nya. Bagi Sheryl tidak masalah sama sekali.
"Kau mau membeli buku atau novel???" Tanya Niall.
"Novel." Gumam Sheryl.
"Pasti Novel percintaan lagi. Aiiissshbh kau sangat aneh, perempuan memang sangat aneh." Gerutu Niall.
"Aku memang aneh tapi kau suka kan???" Sheryl mengedipkan matanya dengan Genit.
Niall tergelak, mengulurkan jemarinya untuk mengacak rambut Sheryl. "Ya kau memang aneh, tapi kau orang aneh yang kucintai."
Mereka bertatapan, saling bertukar pandang, penuh cinta. Hati mereka diliputi oleh kebagagiaan yang luar biasa, jantung Niall berdegup ringan, merasa bahagia. Tetapi bukan hanya jantungnya saja yang berbahagia, Sekujur tubuh Niall seolah bernyanyi, mengucap syukur atas kebahagiaan yang telah lama diimpikannya ini. Kebahagiaan karena bisa ada di dekat Sheryl, kebahagiaan karena bisa memiliki hati Sheryl.
Niall bertopang dagu, menatap ke arah kaca itu. "Dulu aku sempat sakit dan dirawat di rumah sakit lama." Gumam Niall mengenang.
"Kau sakit apa????" sela Sheryl dengan cemas.
Niall tersenyum samar. "Bukan sakit yang penting." Elaknya.
"Ya sakit apa???"
"Ada gangguan di jantungku, jadi aku banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, tetapi aku akhirnya sembuh dan senang bisa kembali memulai kehidupanku yang sempat terhenti. Aku benar-benar sembuh dan sehat. Dan sekarang aku punya gambaran masa depan yang baik denganmu, semakin membuatku bahagia. Thank you so much kau sudah mau menerima perasaanku. Dan duduk di sebelahku menggenggam tanganku, aku bahagia sekali."
Sheryl terkekeh lalu membiarkan jemarinya direngkuh ke dalam genggaman tangan Niall, "Kita bisa duduk dan menghabiskan waktu diam berdua tanpa bosan. Dan merangkai kebahagiaan." Ucap Sheryl. "Apa kau mau merangkai kebahagiaan denganku????"
"Ide yang bagus." Niall mengangkat alisnya, "Merangkai kebahagiaan bersama. Mari kita lakukan itu. Hehehe."
Dan demikianlah Niall dan Sheryl. Duduk berdua, bergenggaman tangan. Dan tersenyum melihat ke kaca. Tak lama makanan pesanan mereka datang dan mereka menikmati makanan itu sembari mengobrol asyik.
"Aku ingin mengajakmu." Sheryl menatap Niall yang sedang duduk di depannya dengan senyuman setengah cemas.
Niall menyesap kopinya, menatap Sheryl dari atas cangkirnya, 'Kemana???" Tanya Niall.
Sheryl menghela napas, lalu membulatkan tekad. "Ke makam Alex. Kau mau kan???" Tanya Sheryl balik.
"Kau mau ikut????" Sheryl mengulangi pertanyaannya lagi.
Niall termenung, lalu mengangguk dan tersenyum. "Tentu saja.... kapan????"
"Besok, biasanya setiap hari jumat aku mengunjungi makam Alex, mengantarkan bunga, berdoa dan berbicara tentang kehidupanku." Mata Sheryl tampak sendu. "Aku sudah menceritakan tentangmu kepada Alex.... aku...... entah bagaimana, Alex masih merupakan bagian penting dalam hidupku.... kuharap kau mengerti."
Jemari Niall terulur dan menyentuh jemari Sheryl, meremasnya lembut, "Aku mengerti.. Tapi besok bukan hari jumat kan???"
Sheryl menganggukkan kepala nya. "Besok hari ulang tahunnya, aku ingin membawakan hadiah bunga dan doa dari kita berdua untuknya, sekaligus mengenalkanmu kepadanya. Kau yakin tidak apa-apa???" Tanya Sheryl.
Niall menggelengkan kepala nya. "Tidak sama sekali, aku akan senang datang kesana, aku juga ingin memberitahu nya bahwa aku akan menjaga mu dan mencintaimu serta tidak berniat menggantikan posisi nya di hatimu, aku hanya ingin membuatmu bahagia agar dia juga bisa percaya kepadaku bahwa aku bisa membahagiakanmu seperti yanv dulu dia lakukan padamu."
Sheryl tersenyum. "Aku senang, kau tidak menolak untuk menemui Alex." Sheryl meraih jemari Niall dan menggenggamnya penuh kebahagiaan. "Memang na besok kau mau kemana?mm Mau mengurus apa??" Tanya Sheryl.
"Oh itu, Uncle ku punya jaringan perusahaan disini, dan aku berniat bekerja disana untuk mengisi waktu luangku, ketika tidak ada kelas. Kemarin saat aku pulang ke Jakarta, Uncle memberitahu ku bahwa dia sudah menghubungi GM yang ada disini, dan aku besok ingin menemui nya mengatakan kalau aku siap untuk mulai bekerja di kantor."
"Oh ya??? Bagus dong???"
Niall menganggukkan kepala nya. "Iya, sebenarnya itu ide dari Papa, dia mengijinkanku datang dan kuliah disini ya karena dia juga memintaku agar bisa membantu perusahaan juga. Akh sudah janji jadi aku ingin menepati nya, supaya Papa dan Uncle juga senang dengan dedikasi ku, lagipula aku juga harus bisa mulai belajar mengenai manajemen perusahaan kami supaya nanti ketika lulus kuliah aku bisa langsung menyesuaikan diri."
"Itu bagus, akupun juga seperti itu, membantu Mama di Toko dan mengurus penataan manajemen nya serta keuangannya, ya membantu sekaligus belajar." Ujar Sheryl.
***
Malam harinya.....
Niall sampai di apartemennya setelah mengantar Sheryl pulang dan seharian ini jalan-jalan dengan perempuan itu. Niall mandi dan berganti pakaian. Sekarang dia termenung sendirian di apartemen nya dan menatap dirinya sendiri di kaca, dia teIanjang dada, hanya mengenakan celana piyama warna abu-abu yang menggantung rendah di pinggangnya.
Matanya terpaku di sana, menatap ke arah dadanya, bekas jahitan itu, tempat jantung milik Alex disematkan di sana, untuk menyelamatkan hidupnnya.
Mengunjungi makam Alex......????
Niall mengernyitkan keningnya, makam lelaki itu.. lelaki yang sangat mencintai Sheryl, bahkan ketika jiwanya sudah tidak ada di dunia ini, jantungnya masih berdenyut penuh cinta untuk Sheryl. Lelaki yang juga amat sangat dicintai oleh Sheryl.
Niall mendeesah, jemarinya meraba bekas jahitan itu dan benaknya langsung bertanya-tanya, akan jadi apakah kisahnya dengan Sheryl nanti??? Apakah hanya akan menjadi kisah cinta lanjutan antara Sheryl dengan Alex, yang jantungnya terselubung di dalam tubuhnya??? Ataukah menjadi kisah cinta baru, cinta Sheryl dan Niall???
Untuk pertanyaan yang satu itu..... Niall tidak tahu jawabannya.
Tetapi jauh di lubuk hatinya, Niall ingin Sheryl mencintainya dengan kesadaran diri bukan karena jantung milik Alex. Karena Niall sendiri sudah merasa yakin bahwa Sheryl adalah pujaan hatinya, terlepas dari jantung milik Alex yang saat ini ada di dalam tubuhnya.
***