Heart Attack

Heart Attack
Kedatangan Keluarga Niall



Lama sekali keheningan yang menyesakkan itu, Sheryl dan Pamella sama-sama membeku, dalam suasana yang canggung, sampai akhirnya Elvin berdehem memecah suasana,


“Eh... kami rasa kami akan duduk di sebelah sana.” Elvin setengah menghela Pamella ke arah kursi tunggu di ujung di dekat pintu kamar Niall. Mereka memang belum diizinkan masuk dan mengunjungi Niall karena lelaki itu masih dalam penanganan.


Mata Sheryl mengikuti ke arah Pamella, yang menghindari kontak mata dengannya dan ke arah Elvin yang berjalan di sampingnya dan kemudian mengajaknya duduk di kursi itu.


Sampai kemudian Tisha menyenggol tangannya, mereka saling bertukar pandang penuh pengertian,


“Ayo kita duduk di sebelah situ.” Tisha mengajak Sheryl duduk di kursi tunggu lain yang agak jauh dari tempat Elvin dan Pamella duduk.


Dalam hati Sheryl sungguh bersyukur karena tadi dia bersama Tisha, tak bisa dibayangkan betapa canggungnya dia tadi kalau datang ke sini sendirian, mungkin Sheryl akan benar-benar bingung dan membeku saja.


Sebelum duduk, Sheryl menoleh ke arah Niall yang terbaring di ranjang itu, dengan mata terpejam lelap. Rasa syukur membanjiri tubuh Sheryl, begitu lega rasanya melihat Niall masih ada di sana, masih hidup..... dan masih memberikan Sheryl kesempatan untuk menenbus kesalahannya.


Mereka kemudian duduk dalam diam, dan menunggu. Sheryl sibuk dengan pikirannya sendiri, dan merenung, kehadiran Pamella menyadarkannya, bahwa selain masalah Alex, masih ada hubungan Niall dengan Pamella yang membuat Sheryl merasa ragu untuk melangkah. Dari kisah Elvin, Sheryl tahu bahwa Niall telah sangat menyakiti Pamella, bahwa Niall telah bersikap tidak adil kepada perempuan itu. Bahwa Pamella seharusnya berhak mendapatkan kebahagiaan seperti yang diimpikannya...... sebelum semua keadaan berubah.


Sheryl mengernyit, tidak bisa membayangkan kalau dia yang berada di posisi Pamella, dia pasti akan hancur lebur dan tak kuat lagi. Sheryl masih beruntung, Alex meninggalkannya karena takdir, setidaknya Alex meninggalkannya dengan masih membawa cinta dan setianya, sementara itu Pamella ditinggalkan dengan alasan kejam bahwa Niall tidak mencintainya lagi.


Sheryl benar-benar sangat mengagumi ketegaran Pamella, perempuan itu masih kuat berdiri di sana, menunggui Niall, menjaga dan mengejar cinta sejatinya. Sheryl tidak akan pernah bisa sekuat dan setegar Pamella, dan mungkin juga, cinta Sheryl bahkan tidak akan bisa menyaingi besarnya cinta Pamella kepada Niall.


Dan perempuan itu bahkan tidak menyerangnya, melemparkan tatapan mata penuh kebencian atau mencacimakinya. Sheryl menghela napas panjang, meskipun dia tidak bersalah langsung dalam hal ini karena sebelumnya dia tidak tahu apa-apa, tetapi tetap saja kehadiran Sheryl yang menjadi ganjalan, yang menjadi pemisah antara Niall dan Pamella.


Mungkin seharusnya Pamella memang mencacimaki Sheryl. Dan kalau saja Sheryl tidak ada di dunia ini, kalau saja dalam keputusasaannya waktu itu Sheryl memilih mengikuti Alex, mungkin Pamella dan Niall akan baik-baik saja. Sebutir air mata menetes dari sudut mata Sheryl, tetapi kemudian dia menyeka nya dalam diam yang pilu.


***


“Kau tidak apa-apa???” Elvin berbisik pelan kepada Pamella, melirik sedikit ke arah Tisha dan Sheryl yang duduk agak jauh di seberang sana dalam diam.


Pamella menatap Elvin penuh arti lalu menghela napas panjang. “Aku tidak apa-apa. Aku lebih memikirkan Niall, karena dia belum sadar juga.”


“Niall pasti baik-baik saja, kau dengar kan kata dokter tadi???” Elvin tampak merenung, tetapi kemudian dia bertanya. “Kenapa kau mengatakan kepada dokter itu bahwa kau tunangan Niall??? Apakah kau.... ???" Elvin menelan ludahnya, “Apakah dalam hatimu kau masih merasa menjadi tunangan Niall??? Masih berharap pertunangan kalian akan berlanjut??"


Pamella melemparkan tatapan tegas ke Elvin. “Dengan mengaku tunangannya, dokter akan menganggapku keluarga, jadi dia akan memberikan informasi yang lebih mendetail.”


Elvin menatap jawaban diplomatis Pamella dengan tatapan tak percaya. “Bagaimana dengan pertanyaanku??? Apakah jauh di dalam hatimu kau masih menganggap Niall sebagai tunanganmu???"


“Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu itu sekarang Elvin, jangan sekarang.” Sela Pamella cepat, membuat Elvin mengehela napas panjang.


Adri, Chika, dan Kyros sampai di rumah sakit yang ada di Surabaya. Aditya tidak bisa ikut karena besok ada pekejaan penting yang harus di kerjakan dan meminta Kyros untuk menemani Adri dan Chika. Setelah menempuh perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dengan pesawat. Tadi saat menuju bandara sebelum tebang, Chika menghubungi Pamella yang kebetulan sedang berada di Surabaya untuk mengunjungi Neneknya, sehingga Chika meminta bantuan Pamella untuk mendatangi rumah sakit tempat Niall di rawat sehingga Pamella bisa mewakili keluarga untuk mengurus Niall sebelum dia sampai di Surabaya.


“Pamella!!!”


Itu suara Chika, Mama Niall, wanita itu berjalan tergesa menghampiri Pamella, Pamella segera berdiri dan memeluknya.


“Bagaimana Niall???” air mata Mama Niall berderai. “Kau sudah lama di sini sayang???”. Tadi Pamella berusaha menghubungi Mama Niall setelah menerima kabar dari dokter, tetapi teleponnya tidak tersambung. Jadi pantas saja kalau Mama Niall benar-benar panik sekarang.


“Astaga.” Chika terisak lagi, dan Adri Papa Niall menggenggam jemarinya dengan lembut memberi kekuatan, “Bisakah kita menengoknya???” Mama Niall melangkah ke jendela kaca besar tempat Niall terbaring di atas ranjang di dalamnya. “Bisakah kita menengoknya???”


“Tadi masih belum boleh Mama” gumam Pamella pelan, “Kata dokter, Niall masih dalam penanganan dan persiapan untuk operasi pemasangan pen untuk tulangnya yang patah setelah kondisinya stabil. Dan juga Niall belum sadar, mungkin lebih baik kita menemui dokter sekarang, dokter bilang ingin bicara dengan Mama dan Papa untuk membahas kondisi Niall.”


“Oke kalau begitu kita ke sana.” Chika merangkul Pamella, dan kemudian berjalan ke lorong dan melewati Sheryl yang duduk di sana.


Tidak sekalipun Mama Niall menoleh ke arah Sheryl, hanya Pamella yang sedikit melemparkan pandangan tak tertebak ke arah Sheryl. Ketika Mama dan Papa Niall Pamella beserta seorang laki-laki yang tidak Sheryl ketahui, mungkin adalah saudara Niall, mereka melangkah pergi, Sheryl menatap mereka semua sampai di ujung lorong dan benar-benar merasa seperti orang luar yang tak berhak berada di sana. Sheryl adalah perempuan yang saat ini dekat dengan Niall. Perempuan yang menjadi alasan Niall membatalkan pertunangannya dengan Pamella.


"Ah Ya Tuhan, apakah memang ini bukan tempatnya???" Gumam Sheryl dalam hati.


Orang tua Niall berbicara dengan dokter.


"Kami sebenarnya ingin membawa Niall kembali ke Jakarta.” Mama Niall bergumam setelah mendengar penjelasan dari dokter. Mama dan Papa Niall duduk di meja di depan meja dokter, sementara Pamella dan Kyros serta Elvin duduk di kursi yang tersedia di belakang, menempel di tembok.


Dokter itu menggelengkan kepalanya,


“Saya rasa pasien harus tetap di sini sampai kondisinya pulih benar. Anda bisa membawanya pulang setelahnya.”


Chika menghela napas panjang, dia amat sangat ingin membawa Niall pulang. Berada di kota ini sepertinya telah sangat membuat Niall jauh dari keluarganya, sejak kejadian dia memaksa Niall agar menerima Pamella, hubungannya dengan Niall menjadi renggang, putra nya itu menjauh, hampir tidak pernah menghubunginya kalau tidak benar-benar perlu.


Mama Niall tahu dia terlalu memaksakan hati Niall. Matanya melirik ke arah Pamella yang sedang duduk, tampak sama-sama cemas dengannya dengan saudara sepupunya dan Kyros yang menemaninya. Ya ampun, tidakkah semua Mama di dunia ingin mempunyai menantu seperti Pamella??? Menantu yang begitu cantik dan berhati baik. Mama Niall jelas-jelas menginginkan Pamella menjadi menantunya. Dia telah amat sangat mengenal Pamella karena perempuan itu adalah anak dari sahabatnya. Mama Niall bahkan sudah menggendong Pamella sejak anak itu masih kecil.


Perjodohan Pamella dengan Niall adalah impiannya, pada akhirnya dia akan menjadikan Pamella sebagai putri kesayangannya. Mama Niall yakin Pamella adalah perempuan yang paling baik untuk Niall, karena dia sangat mengenal Pamella. Jauh sekali dari perempuan tidak jelas itu, perempuan yang katanya didebarkan oleh jantung Niall dan dikejarnya setengah mati. perempuan seperti apakah yang bernama Sheryl itu??? Akankah dia menjadi yang baik??? Dan lagipula, apakah dia perempuan baik-baik???


Dari yang diceritakan Niall, laki-laki bernama Alex yang sekarang jantungnya ada di dada Niall itu adalah kekasih Sheryl, yang hampir membawanya ke jenjang pernikahan sebelum meninggal. Mama Niall tidak bisa untuk tidak bertanya-tanya sejauh apa hubungan Alex dengan Sheryl itu, dia dipenuhi ketidakyakinan, karena sebelum bertemu Niall, Sheryl sudah meletakkan hatinya kepada Alex. Berbeda dengan Pamella, Pamella yang polos dan suci, yang sejak awal meletakkan hatinya hanya untuk Niall.


Seorang suster mengetuk pintu dan kemudian membawa kabar yang sudah sangat ditunggu-tunggu oleh semuanya,


“Dokter pasiennya sudah sadarkan diri.”


***


Sheryl masih duduk di sana, merenung. Sebenarnya dia ingin berdiri dan mengintip ke dalam kamar tempat Niall berbaring, tetapi batinnya tak kuat. Perasaan sedihnya akan meledak kalau dia melihat lagi kondisi Niall yang terbaring tak berdaya di atas ranjang seperti itu.


Tiba-tiba rombongan itu datang lagi dari ujung lorong, Sheryl dan Tisha yang sejak tadi terdiam langsung menegang.


Apa yang terjadi?


“Kalian hanya boleh menemui pasien satu-satu. Dan jangan terlalu banyak, kalau bisa hanya dua orang saja ya, kondisi pasien masih lemah dan kami tidak ingin dia terlalu lelah.”


Mama Niall mengangguk, Sheryl melihat wanita itu menyeka air matanya. Kelegaan memenuhi benak Sheryl, itu berarti Niall sudah sadarkan diri.


Mama Niall yang masuk pertama kali ke dalam sana, dan Sheryl menatap mereka semua, dorongan batinnya membuatnya ingin ke sana, memaksa ikut melihat Niall, tetapi dia tidak berani. Dia benar-benar seperti orang luar di sana, tidak bisa masuk ke dalam lingkaran keluarga itu.