
Pamella sedang duduk dan membaca buku-bukunya di sofa rumah neneknya yang damai dan tenang itu, langit yang gelap sudah terpecahkan, menjadi titik-titik hujan yang berhamburan menimbulkan suara gemericik dan aroma hujan yang khas.
Suasana ini sangat pas dengan suasana hatinya yang sedang pilu, senada juga dengan kisah novel yang dibacanya, Don't Worry Darling meski dalam hatinya berniat tidak akan membaca buku itu, karena buku itu sangat direkomendasikan oleh Sheryl, perempuan yang merupakan duri dalam kisah cintanya, tetapi Pamella tidak bisa menahan diri, dia membaca dan tidak bisa berhenti.
Setelah selesai membaca, Pamella meletakkan novel itu di pangkuannya dan tersenyum tipis, mendadak merasa kagum pada novel dalam pegangan tangannya. Ini adalah novel yang kisahnya benar-benar luar biasa.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Pamella melirik dan mengernyit, ada nama Niall berkedip-kedip di sana lengkap dengan foto Niall dan Sheryl yang saling berpelukan menghadap kamera dalam tawa.
Sejenak Pamella ragu, telepon Niall yang kemarin sungguh sangat tidak menyenangkan, membuatnya menangis semalaman dan begitu murung setelahnya. sekarang kenapa Niall meneleponnya lagi??? Apakah lelaki itu akan menyakitinya lagi???
Ponsel itu berkedip-kedip tanpa menyerah meskipun Pamella mengabaikannya, akhirnya dia menguatkan hati dan mengangkatnya,
"Niall???? Ada apa menghubungi ku???" Tanya Pamella ketus.
"Kenapa kau lakukan itu Pamella????" Suara Niall terdengar marah.
Pamella mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu Niall???" Tanya Pamella bingung.
"Jangan pura-pura. Kau menyuruh Elvin menemui Sheryl hari ini kan??? Apa maksudmu???? Apakah kau menyuruh Elvin menceritakan semuanya kepada Sheryl??? Setega itukah kau kepada Sheryl, Mel??? Selama ini aku menjaganya supaya dia tidak tahu apa-apa, dan kau dengan rencanamu yang keji itu menghancurkan semuanya!!!"
Pamella terperangah mendengar rentetan tuduhan Niall itu, "Aku tidak menyuruh Elvin melakukan apapun!!!" Pamella setengah berteriak menyela Niall, karena tampaknya lelaki itu masih akan melanjutkan semua tuduhannya.
Niall terdiam, lalu menghela napas dengan keras. "Kalau begitu sepupumu sudah bertindak di luar batas, mencampuri urusan kita." Suara Niall berubah dingin, "Sekarang Sheryl menghilang, tidak mau menemuiku. Dan kalau sampai terjadi sesuatu pada Sheryl.... aku akan mengucapkan selamat kepadamu Mel, impianmu akan tercapai, kau ingin aku mati saja bukan daripada hidup dengan jantung yang tidak bisa mencintaimu??? Maka kau akan mendapatkan keinginanmu. Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Sheryl akibat tindakan ceroboh sepupumu... aku akan mati sesuai keinginanmu!!!"
Lalu telepon ditutup dengan kasar. Meninggalkan Pamella terperangah tak bisa berkata-kata.
***
Pamella pergi ke rjmah Elvin yang letaknya tidak jauh dari rumah neneknya. Pamella langsung menyemburnya dengan kemarahan ketika laki-laki itu sedang duduk dan bermain ponsel.
"Apa yang kau lakukan Elvin???" Seru Pamella.
Elvin menatap Pamella yang penuh airmata, perempuan itu menangis habis-habisan, membuatnya mengernyit. "Apa Pamella???"
"Sheryl! Kau menemui Sheryl bukan??? Kau menceritakan semua kepadanya??? Sekarang Sheryl menghilang dan Niall melemparkan semua kebenciannya kepadaku!!" Seru Pamella berurai air mata. " Apa maksudmu Elvin??? Kenapa kau lakukan itu??? Aku tidak mau dibenci oleh Niall! Aku tidak mau!"
"Aku memang melakukannya Pamella, tetapi semua itu kulakukan demi dirimu, Sheryl juga harus tahu kenyataan yang ada. Selama ini dia buta karena Niall menyembunyikan semuanya darinya."
"Tetapi aku tidak mau kau melakukan itu!!! Itu tidak akan membuat Niall kembali kepadaku!!! Dia akan semakin membenciku!!!" Pamella berteriak histeris menghambur ke arah Elvin dan mulai memukulinya.
‡‡
Sementara itu Niall memilih datang ke rumah Sheryl dan memarkir mobilnya di sana lalu melangkah menuju teras rumah Sheryl, Tisha sudah ada di sana, tampak cemas, sudah hampir jam sembilan malam dan Sheryl belum juga pulang ke rumah. Mama Sheryl sendiri menunggu di ruang tamu, tampak cemas, dia ikut menyambut kedatangan Niall di depan,
Niall menggelengkan kepalanya lesu, dia sudah mencari kemana-mana, ke toko buku tempat Sheryl biasana membeli buku, ke kampusnya, dan bahkan Niall ke makam Alex, sambil membawa harapan yang sangat besar bahwa Sheryl akan ada di sana. Tetapi ternyata makam itu lengang, tidak ada siapa-siapa di sana. Sheryl tidak ke makam Alex.
Lalu Niall dihadapkan dengan ketakutan yang amat sangat, karena dia sama sekali tidak memiliki bayangan akan keberadaan Sheryl sekarang.
Sheryl sudah mengetahui tentang jantung Alex di dalam tubuhnya. Dia pasti sedih... dan juga kecewa pada Niall karena merasa dibohongi...
Mereka bertiga duduk di ruang tamu rumah Sheryl, ketiga-tiganya cemas. Mama Sheryl menatap Niall dan menghela napas panjang,
"Apakah Nak Niall tahu apa penyebab Sheryl menghilang tiba-tiba seperti ini???"
Niall meringis perih, "Saya ada janji bertemu dengan Sheryl tadi siang, tetapi Sheryl tidak datang. Akhirnya saya menelepon Tisha menanyakan keberadaan Sheryl.... ternyata Sheryl bertemu dengan Elvin di kampus."
"Kau mengenal lelaki yang bertemu dengan Sheryl tadi siang di kampus?" Tisha menyela tampak kaget.
Niall menghela napas panjang, lalu menganggukkan kepalanya, dia melirik mama Sheryl yang tampak kebingungan lalu menatap dengan pandangan mata menyesal,
"Ceritanya panjang, tetapi saya akan menceritakan rahasia ini." Niall mendesah, "Elvin adalah sepupu dari mantan tunangan saya, Pamella."
Tisha dan Mama Sheryl saling melempar pandang ketika Niall menyebut nama mantan tunangannya itu, tetapi mereka tidak berkata apa-apa dan menatap Niall, menunggu kalimat selanjutnya.
"Elvin menemui Sheryl untuk mengatakan sebuah rahasia yang telah saya sembunyikan sekian lama. Bukan maksud saya merahasiakannya kepada Sheryl, saya hanya menunggu waktu yang tepat." tatapan Niall lurus ke arah mama Sheryl, penuh permohonan maaf, "Sayangnya pada akhirnya Sheryl mengetahuinya dari orang lain, bukan dari saya...."
"Rahasia apa???" Tisha menyela, penuh ingin tahu.
Niall meletakkan jemarinya di dada kirinya, "Saya pernah sakit jantung, begitu parahnya hingga saya hanya bisa terbaring menunggu donor jantung bagi saya, ketika tidak ada donor jantung, maka kematianlah yang akan menjemput saya...." Niall menundukkan kepalanya, "Donor jantung itu akhirnya datang untuk saya... dan pendonor saya adalah....?? Alex, tunangan Sheryl yang sudah meninggal."
Mama Sheryl terkesiap, menutup mulutnya dengan jemari untuk menutupi kekagetannya, sedangkan Tisha tampak menahan napas dengan wajah shock.
"Alex...? Alex mendonorkan jantungnya???" Seru Mama Sheryl.
"Mungkin Alex merahasiakan semuanya, saya tahu bahwa Alex sama sekali tidak punya keluarga dari Sheryl. Yang saya tahu, Alex sudah melakukan kesepakatan sukarela dengan pihak rumah sakit, bahwa jika terjadi sesuatu padanya, dia ingin jantungnya didonorkan kepada siapapun yang membutuhkan...."
Dan Niall pun bercerita, bagaimana dia selalu memimpikan Sheryl bahkan sebelum dia bertemu dengan Sheryl. Bagaimana dia memutuskan meninggalkan tunangannya untuk mengejar Sheryl, perempuan yang selalu didebarkan oleh jantungnya, Bagaimana kemudian dia jatuh cinta kepada Sheryl, sepenuh hati dan jiwanya dan bukan hanya karena jantung itu.
"Saya mencintai Sheryl, dan saya tahu Sheryl pasti sangat membenci saya sekarang karena merahasiakan semua ini darinya, sekarang dia tahu... dan dia pasti tidak ingin menemui saya." Niall mereemas rambutnya frustrasi. "Saya tidak tahu lagi di mana saya bisa menemukan Sheryl, semua tempat yang mungkin sudah saya datangi, bahkan sampai ke makam Alex, tetapi Sheryl tidak ada..."
Secercah kesadaran tiba-tiba muncul di wajah Mama Sheryl, dia mengerutkan keningnya. "Mungkin ada satu tempat yang belum kamu datangi untuk mencari Sheryl, Niall..." Gumamnya.
"Dimana tante???" Tanya Niall penasaran.