
"Ky, kau lebih baik cari hotel di dekat sini. kau juga pasti lelah apalagi kemarin baru sampai di Jakarta. Uncle dan Aunty akan disini menunggui Niall operasi."
"Aunty dan uncle tidak apa-apa???" Tanya Kyros meragu.
"Iya, kau cari hotel dan istirahatlah. Besok tolong belikan kami baju, kita tadi buru-buru kesini kan dan tidak sempat membawa pakaian ganti."
Kyros tersenyum. "Oke baiklah kalau begitu, sepertinya di dekat sini ada hotel, tadi aku sempat melihatnya. Ya sudah, aku akan caro hotel, uncle dan Aunty kalau ada apa-apa hubungi saja aku. Besok aku akan datang lagi."
Chika dan Adri mengangguk. Kemudian Kyros pun meninggalkan Om dan Tante nya itu dari rumah sakit. Memang karena panik, mereka bahkan tidak sempat membawa pakaian sama sekali. Dan langsung terbang kesini.
***
Seorang perawat masuk, Sheryl dan Niall bersamaan melihat ke arah pintu. "Maaf, pasien harus segera di siapkan untuk di lakukan operasi." Ucap perawat itu.
Sheryl mengangguk kemudian berdiri dan memegang jemari Niall. "Aku akan menunggu mu dan mendoakan mu." Ucap Sheryl.
Niall tersenyum. "Ya, thanks."
"Aku keluar dulu." Sheryl kemudian melepaskan pegangannya dan keluar dari ruangan itu agar Niall bisa di urus oleh perawat dan di bawa ke ruang operasi.
Sheryl keluar dan dia tmelihat ada orang tua Niall, dan seorang laki-laki yang mungkin adalah salah satu kerabat Niall. Tisha juga masih duduk di tempat yang sama. Sheryl mengucapkan permisi kepada orang tua Niall dan dia menghampiri Tisha.
"Bagaimana Niall???" Tanya Tisha tidak kalah khawatir.
"Dia baik dan akan segera di operasi. Aku akan menunggu di rumah sakit. Kau pulang saja dan beritahu Mama.” Sheryl bergumam lembut kepada Tisha setelah di keluar dari ruangan Niall, sementara itu Tisha menatap Sheryl penuh perhatian.
“Kau tidak apa-apa??? Semua baik-baik saja???” Tanya Tisha.
Air mata Sheryl bergulir, tetapi itu bukan air mata kesedihan. “Semua baik-baik saja.”
Jawaban Sheryl sederhana, tetapi Tisha mengerti, itu sudah cukup untuk mencakup semuanya. Tisha memeluk sahabatnya dengan lembut. “Syukurlah kalau begitu, aku akan pulang ke rumahmu dan kembali kemari untuk membawakan baju ganti.”
“Kau tidak perlu repot-repot Sha.” Sheryl tersenyum sungguh-sungguh tidak mau merepotkan sahabatnya itu.
Tetapi Tisha menggelengkan kepalanya dan membantah perkataan Sheryl. “Aku sahabatmu, jadi jangan pernah memikirkan akan merepotkanku. Kurasa akan datang saatnya nanti ketika akulah yang akan merepotkanmu.” Tisha tersenyum jahil. “Kalau begitu aku pergi dulu ya, besok aku kembali lagi.”
Sheryl menganggukkan kepalanya dan masih menyimpan senyumnya sampai Tisha menghilang dari pandangan.
Kemudian dia menyadari ada orang yang berdiri di belakangnya. Dia menolehkan kepalanya dan mendapati Mama Niall berdiri di belakangnya. Perempuan itu tampak canggung menatap Sheryl.
“Kakak sepupu Niall sedang check in di hotel terdekat dari rumah sakit ini. Dan Niall akan di operasi, jadi saya pikir, kalau Sheryl ada waktu, kita bisa duduk di kantin rumah sakit dan berbicara.” Ucap Chika. "Papa Niall akan menunggu Niall di depan ruang operasi. Bisakah kita bicara berdua???" Tanya Chika.
Sampailah mereka di kantin rumah sakit. Suasana sepi, karena memang sudah tengah malam. Kantin itu juga hanya di jaga oleh seseorang. Chika membeli minuman yang ada di showcase dan camilan ringan lalu membawa nya ke meja tempat Sheryl sedang duduk.
“Saya pernah meneleponmu waktu itu, Sheryl. Dan maafkan saya karena pada akhirnya tidak datang menemuimu untuk menepati janji. Kau tahu, keadaan begitu rumit waktu itu dan Niall melarang saya datang." Gumam Chika datar sambil meminum teh kotak.
Sheryl menganggukkan kepalanya, menangkupkan jemarinya di botol kopi instan di depannya. Mereka duduk di sudut kantin rumah sakit itu yang ada di lantai dasar sayap rumah sakit itu.
Selain kantin ada juga tempat berjualan kebutuhan keluarga pasien, seperti peralatan mandi dan beberapa barang lainnya. Sementara itu di sisi kirinya berupa jendela kaca berukuran besar-besar yang menampilkan pemandangan taman yang asri.
“Saya mengerti.” Gumam Sheryl lemah.
Mama Niall mengamati Sheryl, meneliti. Sheryl memang cantik, meskipun tidak secantik Pamella, ada kelembutan dalam pembawaannya. Meskipun begitu, Chika masih tidak yakin mengenai Sheryl, benarkah perempuan di depannya ini yang terbaik untuk anaknya???
“Masalah ini begitu rumit, dan kau mungkin sependapat denganku bahwa hal ini bahkan sulit dipahami oleh akal sehat.” Sheryl menghela napas. “Bolehkah aku asumsikan bahwa kau sudah mengetahu segalanya tentang Niall??? Tentang jantung itu???" Tanya Chika.
Sheryl menganggukkan kepalanya lemah. “Ya, saya sudah tahu semuanya, dan saya sungguh-sungguh terkejut.”
“Tentu saja.” Mama Niall mendeesah., “Memang tidak adil menyalahkanmu atas rusaknya hubungan Pamella dengan Niall, karena Niall bahkan meninggalkan Pamella sebelum bertemu denganmu, kau memang tidak pernah menjadi orang ketiga di antara mereka. Pun ketika akhirnya kau mulai membuka hatimu untuk Niall, anak itu masih merahasiakan semuanya kepadamu. Karena itulah saya tidak mungkin menyalahkanmu atas semuanya.” Tatapan Mama Niall tampak dalam, menembus jauh ke dalam hati Sheryl.
“Maukah kau ceritakan kepadaku kisah tentang Alex??? Mungkin dengan begitu saya bisa lebih memahami kejadian ini, dan mencoba mengerti.” Gumam Chika.
Sheryl menganggukkan kepalanya. Dan kemudian mulai bercerita, semuanya, tentang kisahnya dengan Alex, tentang kematian Alex menjelang hari pernikahan mereka, tentang Niall yang datang kemudian, dan tentang kesadaran Sheryl bahwa dia mencintai Niall, tidak peduli jantung siapa yang ada di dadanya. Sheryl menceritakan semuanya dengan detail dan Chika mendengarkan dan menyimak semuanya dengan baik.
Mata Mama Niall tampak berkaca-kaca setelah Sheryl bercerita, perempuan itu menghela napas panjang berkali-kali dan kemudian menyusut air matanya dengan tisu yang dibawanya.
“Saya rasa.... kalau kau memang benar-benar mencintai Niall, bukan hanya karena jantung di dadanya, saya bisa menerima bahwa kau mungkin perempuan yang bisa membuat Niall bahagia, apalagi mengingat betapa besarnya cinta Niall kepadamu.”
Sheryl menghela napas panjang, menatap Mama Niall dalam senyuman tipis. “Terimakasih.... saya.. saya akan mencoba sebaik mungkin membahagiakan Niall.”
Mama Niall menganggukkan kepalanya. “Ya. Saya percaya kau akan bisa melakukannya, Sheryl.”
"Tapi bagaimana dengan Pamella???"Tanya Sheryl. "Sungguh saya masih bingung dengan keadaan ini, dan saya juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi Pamella. Ada perasaan bersalah di hati saya. Tetapi saya juga mencintai Niall." Sheryl tampak sedih.
Chika mencoba tersenyum. "Pamella, dia sedih dan terluka, tetapi dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Niall sudah tidak mencintaimu, dia tidak mau memaksa Niall untuk menerima nya lagi. Dia gadis yang sangat baik. Dan dia sudah merelakan Niall bersamamu. Dia ingin mengejar kebahagiaan nya lagi, jadi dia melepaskan Niall."
Sheryl menunduk dengan sedih. "Lalu apakah saya bisa bertemu dengan Pamella dan berbicara dari hati ke hati dengannya. Bagaimanapun saya sungguh merasa tidak enak dengannya."
"Ya, tentu saja. Kau memang harus melakukan itu. Pamella memiliki hati yang baik. Dan dia pasti tidak akan menolak bicara denganmu. Aku sangat menyayanginya selama ini." Wanita itu setengah beranjak dari duduknya, “Pamella memang akan selalu menjadi putri kesayanganku, dan tak akan tergantikan. Tetapi mungkin aku bisa menambah satu putri lagi.” Wanita itu berdiri, dan ketika Sheryl mengikutinya berdiri, tanpa diduga, Mama Niall memeluk Sheryl dengan lembut.