
Pamella duduk di halaman belakang rumah neneknya sendirian. Dia menatap lurus ke rak berisi kan berbagai buka yang tertata rapi disana. Semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak setelah kembali dari rumah sakit dan hanya menangis yang bisa dia lakukan. Pamela hanya ingin melepaskan semua kesedihannya agar dia bisa benar-benar melupakan dan melepaskan Niall. Berat itu sudah pasti tetapi dia juga tidak ingin terbelunggu dan menderita jika terus mengharapkan Niall bisa kembali kepadanya. Dia tidak mau keterpaksaan membuatnya harus terjerembab ke hal yang lebih menyakitkan lagi. Untuk sekarang memnag dia akan menangis sejadi-jadi nya sehingga nanti air matanya habis dan dia tidak akan mampu untuk menangis lagi.
Elvin datang untuk mengunjungi dan melihat keadaan Pamella. Dia tahu gadis itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik sja. Rasanya sedih sekali harus melihat Pamella seperti ini. Elvin harus bisa menguatkan Pamella.
"Pagi-pagi kenapa sudah melamun???"
Pamella terlonjak tetapi kemudian menoleh dan menemukan Elvin di belakangnya. Lelaki itu tersenyum lalu duduk di sebelahnya. Mereka duduk di bangku taman yang terbuat dari kayu di bawah pohon jambu yang ada di belakang rumah nenek Pamella. "Kau juga kenapa pagi-pagi sudah berada disini...??" Tanya balik Pamella.
Elvin tersenyum. "Karena aku mengkhawatirkanmu, dan benar saja kekhawatiranku itu. Kau duduk sendiri dan melamun. Semalam bukankah kau bilang bahwa kau mengikhlaskan Niall dan aku ingin menemukan kebahagiaanmu, lalu kenapa kau bersedih sekarang???''
"Aku hanya tidak mau ada di antara kisah Niall dan Sheryl, aku mengatakan itu untuk membuat diriku lebih kuat."
"Lalu???? Ternyata kau tidak sekuat itu, iya kan???"
"Butuh waktu." Gumam Pamella datar.
"Kau harus memulai kisah cinta yang baru, move on. Tetapi aku tahu itu bukan hal yang mudah, cara terbaik untuk melupakan seseorang adalah menyibukka diri dengan melakukan sesuatu." Elvin tersenyum. "Aku biasanya akan pergi ke gunung untuk mendaki, atau aku akan pergi liburan ke pantai misalnya. Apa kau ingin pergi ke salah satu tempat itu??? Aku bisa mengajakmu. Kau tahu, jawa timur punya banyak tempat menarik, ada gunung, pantai dari utara, timur sampai selatan, ada danau, air terjun, perkebunan dari kopi hingga teh dan lainnya, semua lengkap disini. Kalau di Jakarta pasti hanya ada pantai dan juga wisata taman bermain. Iya kan???"
Pamella menganggukkan kepala nya dan tersenyum.
"Ada air terjun cantik sekali, di nobatkan sebagai air terjun tertinggi di pulau jawa, dan mitosnya adalah di air terjun itu tempat singgahnya patih Gajah mada dulu, masih berada di kawasan taman nasional Bromo Tengger Semeru, kita bisa ke gunung Bromo dulu baru nanti ke air terjun itu. Wekeend nanti kita bisa pergi kesana kalau kau mau."
"Terserah kau saja."
"Kau butuh healing, aku akan mengajakmu jalan-jalan selama kau disini." Elvin menoleh ke arah Pamella yang ada di sebelahnya. Memandangi wajah cantik Pamella, perempuan ini sangat cantik dan hatinya di penuhi dengan kebaikan. Pamella sudah mengatakan bahwa dia melepaskan Niall. Dan mungkin ini adalah kesempatan untuknya bisa lebih dekat dengan Pamella. "Pamella...????" Panggil Elvin membuat Pamella menoleh. Tiba-tiba Elvin mencengkeram pergelangan tangan Pamella, menarik perempuan itu mendekat, dan mencium bibirnya.
Kejadiannya begitu mengejutkan hingga Pamella yang masih berlinangan air mata dan berseru histeris hanya bisa membelalakkan matanya kaget ketika dicium oleh Elvin.
Yang dilakukan Pamella pertama kali adalah mendorong Elvin keras-keras, sejauh mungkin. Napasnya terengah atas ciuman yang sama sekali tidak diduganya itu, dia menatap Elvin bingung berlumur kemarahan,
"Kenapa kau lakukan itu Elvin???" Pamella sendiri tak habis pikir. Oh astaga. Elvin menciumnya! Itu adalah hal yang sama sekali tidak disangkanya. Elvin adalah sepupunya! Saudaranya! Dari kecil mereka bersama, dan Pamella selalu menganggap Elvin sebagai kakaknya. Tetapi lelaki itu barusan menciumnya, dan Pamella merasa pening yang amat sangat, Elvin saudaranya bukan??? Dan saudara tidak mungkin berciuman!
Pamella berdiri kemudian memundurkan langkahnya, menatap waspada ke Arah Elvin, tangannya mengusap bibirnya yang masih terasa panas bekas ciuman lelaki itu. Elvin sendiri menatap Pamella dengan tatapan berlumur penyesalan, matanya meredup, ragu,
"Maafkan aku Pamella." Dia sungguh-sungguh tidak merencanakan untuk mencium Pamella. Sungguh-sungguh Elvin berharap mampu menahan diri tadi, tetapi Pamella telah menarik batas emosinya yang paling dalam dan memutuskannya, membuat Elvin melakukan hal yang sekarang disesalinya, karena dengan itu, dia harus menjelaskan sesuatu yang mungkin akan menyakiti Pamella.
"Kita tidak bersaudara, bukan saudara sedarah." Elvin mengucapkan kalimatnya dengan lirih dan hati-hati, menatap Pamella dalam-dalam.
Pamella tertegun. Kaget. Bukan saudara kandung? Elvin jelas-jelas sepupunya, putra dari Om nya dan Papa Elvin adalah kakak dari Papa Pamella. Mereka sepupu dekat, darah mereka seperti saudara! Ataukah jangan-jangan... Elvin anak angkat??? memang wajah Elvin yang begitu tampan seolah ada darah luar di sana membuatnya tampak sangat berbeda dengan kedua orang tuanya. Apakah benar bahwa Elvin anak angkat???
"Apakah kau bukan anak kandung Om dan Tante???" Pamella menyuarakan pemikirannya. Menatap Elvin dengan hati-hati. Tetapi kemudian ekspresi wajah Elvin tampak kesakitan, lelaki itu seolah ingin berkata tapi menahan dirinya. Berkali-kali dia menahan napas seolah kesulitan berbicara.
"Bukan. Mereka berdua benar-benar orang tua kandungku." Mata Elvin menelusuri wajah Pamella yang kebingungan.
Sementara Pamella makin tersesat dalam benang kusut itu, dia menatap Elvin bingung. "Jadi??? Kenapa kita bukan saudara kandung???? Apakah maksudmu... OH!" tangan Pamella menutup mulutnya ketika pemikiran itu menyeruak ke dalam benaknya. "Tidak mungkin!!!!"
Elvin tahu bahwa Pamella tampak menyadarinya, dia meringis, berusaha mendekat dan meraih bahu Pamella, tetapi perempuan itu langsung melangkah mundur lagi, menghindari sentuhannya. "Maafkan aku Pamella."
Mata Pamella berkaca-kaca. Elvin tidak membantah. Oh Ya Tuhan??? Oh Astaga??? Benarkah apa yang dikemukakan oleh benaknya itu??? Elvin adalah anak kandung paman dan bibinya, tetapi dia dan Pamella bukan saudara sedarah..... itu berarti... Pamella bukanlah anak kandung kedua orang tuanya!
Pamella merasa kakinya lemas sehingga dia mundur dan terduduk di bangku itu, wajahnya pucat pasi membuat Elvin cemas, dia langsung duduk di sebelah Pamella dan menggenggam tangannya, mencoba memberikan kehangatan kepada tangan Pamella yang tiba-tiba dingin seperti es - syukurlah Pamella tidak menolaknya.
"Maafkan aku harus menyakitimu seperti ini, Pamella..." Elvin menatap Pamella dalam, hatinya terasa sakit melihat ada kepedihan di sana, di dalam mata Pamella ketika mengetahui kenyataan tentang dirinya. Oh ya Ampun, menyakiti Pamella adalah hal terakhir yang diinginkan Elvin. Dia mencintai Pamella, yang diinginkannya hanyalah kebahagiaan perempuan itu. Tetapi untuk bisa mencintai Pamella tanpa dipersalahkan, Elvin terpaksa membuka semuanya, meskipun itu mengoyak perasaan Pamella.
"Benarkah...???", Pamella mengernyitkan keningnya, "Apakah aku bukan anak kandung Mama dan Papa????"
Jemari Pamella bergetar, membuat Elvin menggenggamnya makin erat. "Om Ivan mengalami kecelakaan di masa muda sehingga tidak mampu menghasilkan keturunan..." Elvin berucap dengan hati-hati, jemarinya meremas jemari Pamella dengan lembut. "Tante tidak mau melakukan program bayi tabung dari ****** lelaki lain, beliau memilih mengangkat seorang bayi perempuan dari panti asuhan. Bayi itu kau, Pamella. Dan meskipun kau bukan anak kandung mereka, kau selalu menjadi kesayangan mereka, kasih sayang yang mereka limpahkan kepadamu bahkan serupa dengan kasih sayang orang tua kandung kepada anaknya, kau sendiri menyadarinya bukan???" bisik Elvin lembut, berusaha membesarkan hati Pamella.
Pamella tercenung, merasa pening tiba-tiba. Kenyataan ini tidak siap dihadapinya, dia ke Surabaya untuk menenangkan diri, berusaha menguatkan hati dan membulatkan tekadnya untuk memperjuangkan Niall.. tetapi kenapa dia harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan ini??? Kenapa Tuhan memberikan ujian yang begitu bertubi-tubi atas kekuatan hatinya???
"Pamella." Elvin berbisik cemas ketika Pamella hanya diam saja dnegan tatapan mata kosong, "Kau tidak apa-apa???"
Pamella mengangkat matanya, menatap Elvin.. saudara sepupunya... bukan. Elvin bukanlah saudara sepupunya, Pamella hanyalah anak yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya yang diambil atas kebaikan hati kedua orangtua angkatnya. Tiba-tiba air mata Pamella menitik,
"Apakah kau tidak jijik berada bersamaku??? Aku.... bahkan asal usulku ternyata tidak jelas, tidak tahu darimana..... pantas Niall meninggalkanku... pantas saja..." tangis Pamella pecah, tersedu-sedu.
"Pamella..." Elvin meraih Pamella ke dalam pelukannya, menenggelamkan kepala perempuan mungil itu ke dadanya yang bidang. "Jangan berpikir seperti itu. Setiap orang picik akan selalu memandang dari mana sesorang berasa, padahal kebijaksanaan hanya akan perlu melihat ke mana seseorang melangkah, apakah ke jalan yang baik atau ke jalan yang buruk. Bagiku, darimanapun asal usulmu, kau adalah Pamella ku, perempuan berjiwa kuat, perempuan dengan tawanya yang indah, perempuan baik hati yang selalu berusaha membahagiakan orang-orang yang dicintainya...." Elvin mengangkat dagu Pamella, membuat wajah mereka berhadapan. "Dan juga perempuan yang selalu kucintai." Dia lalu menunduk dan mengecup dahi Pamella dengan lembut.