Heart Attack

Heart Attack
Mella akan selalu jadi putri Mama



Begitu Sheryl masuk dan menghilang di balik pintu, Mama Niall langsung menyambar Pamella dengan pertanyaan,


“Kenapa kau lakukan itu Mella???” tanyanya tajam.


Pamella menatap lembut ke arah Mama Niall. “Itu yang seharusnya dilakukan, Mama. Kita tidak boleh memisahkan dua pasangan yang saling mencintai.”


“Tetapi Mella sayang... bagaimana denganmu??? Kau...???" Tatapan Chika melembut dan terlihat bingung.


“Mella tidak apa-apa, Mama. Mella sudah sampai di suatu titik untuk menyadari bahwa Niall mungkin memang bukan jodoh Mella. Mella tidak bisa memaksakan kehendak Mella, Niall sudah tidak lagi memiliki cinta untuk ku, yang ada nanti kami jadi sama-sama menderita, aku menderita karena mencintai laki-laki yang tidak mencintaiku, dan Niall menderita karena harus menerima ku yang sudah tidak dia cintai lagi. Yang ada hidup kami berdua nanti akan seperti di neraka. Mama pasti juga tidak ingin melihat itu kan???"


Pamella mereemas jemari Chika. “Mella sudah merelakan Niall, Mama. Tetapi Mama tidak usah khawatir, hal ini tidak akan merenggangkan sayang Mella kepada Mama, Mella akan selalu menjadi putri Mama.”


Air mata bergulir dari mata Chika, perempuan setengah baya yang masih cantik itu menangis, lalu memeluk Pamella erat-erat. Chika tidak bisa menahan air mata nya. Pamella begitu baik, dan begitu kuat. Perasaan bersalah atas apa yang sudah Niall lakukan pada gadis yang tidak berdosa ini, membuat Chika sungguh merasa malu. Kebaikan dan ketulusan Pamella tidak akan pernah bisa dia lupakan. "Kau akan selalu jadi putri Mama, maafkan Mama, karena Mama tidak bisa membantumu mengembalikan Niall. Maafkan Mama sayang???"


"Ini bukan kesalahan siapapun Ma, sudah takdir Tuhan. Mungkin memang sudah sampai disini saja hubunganku dengan Niall. Kami tidak bisa berjodoh. Mama jangan menyalahkan diri Mama ataupun menyalahkan Niall. Sekeras apapun kalau memang Tuhan mengatakan tidak berjodoh, apa yang bisa kita lakukan. Aku sudah ikhlas jika Niall bersama Sheryl. Mama juga harus merestui mereka ya???"


Pelukan Chika semakin erat. "Kau perempuan yang luar biasa, Mama tidak tahu harus membalas semua kebaikanmu selama ini dengan apa. Mama sudah sangat menyayangimu seperti Anak Mama sendiri."


"Mama cukup menyayangi Mella saja, dan sayang itu masih sama seperti saat Mella masih menjadi tunangan Niall. Meski sekarang tidak lagi, tetapi Mella harap Mama bisa selalu menyayangi Mella seperti dulu."


"Tentu saja sayang." Chika terisak di pelukan Pamella. Gadis cantik yang malang, tetapi memiliki hati yang begitu luar biasa. "Mama akan berdoa, supaya kau selalu bahagia. Maafkan kebodohan Niall."


"Niall tidak bodoh Ma. Dia hanya mengejar cintanya, tidak ada yang salah dengan itu." Ucap Pamella masih mencoba menahan tangisnya.


****


Ketika menyadari siapa yang masuk, Niall hampir saja menegakkan tubuhnya, melupakan rasa nyeri yang menggayutinya.


“Sheryl???” suaranya serak, penuh kesedihan, melihat perempuan yang sangat dicintainya itu berjalan mendekat.


Sheryl mendekat dan menatap Niall dengan sedih,


“Maafkan aku Niall, maafkan aku atas kata-kata terakhirku sebelum kau pergi. Maafkan aku.” Setetes air mata bergulir di pipinya, membuat suaranya bergetar, “Aku bersikap egois dan tidak mempedulikan perasaanmu, aku berikap jahat... hingga... hingga kau jadi seperti ini.”


Niall tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya kepada Sheryl, dengan lembut menyentuh jemari Sheryl. “Semua bukan salahmu, dan semua bukan kesengajaan. Percayalah Sheryl, tidak pernah ada niat di benakku untuk mengakhiri hidupku dan bersikap tidak bersyukur kepada Tuhan yang telah memberiku kesempatan kedua. Aku ingin kau tahu bahwa itu adalah murni kecelakaan.”


Sheryl langsung merasakan kelegaan memenuhi sekujur tubuhnya. Syukurlah dugaan pahitnya tidak benar. Niall tidak sedang mencoba buunuh diri, ini adalah murni kecelakaan. “Setidaknya meskipun kakiku sakit, aku masih bisa bersyukur karena semua kejadian ini membuat kau datang kepadaku.” Niall tersenyum lembut, menatap Sheryl penuh cinta, membuat air mata Sheryl semakin mengalir deras,


“Sheryl...” Niall melanjutkan perkataannya. “Semua pertanyaanmu di apartemen Alex waktu itu mungkin ada benarnya. Kalau aku jadi kau aku pasti akan bertanya-tanya juga. Pasti kau meragukan apakah aku mencintaimu karena ada jantung Alex di sini, ataukah karena aku memang benar-benar mencintaimu??? Pasti kau berpikir apakah jantung Alex yang mencintaimu, ataukah Niall? Aku sendiri tidak bisa menjawabnya Sheryl...” Tatapan Niall meredup, penuh cinta. “Tetapi satu hal yang aku tahu pasti, ketika bersamamu aku merasa nyaman, kau membuatku merasa telah berlabuh, setelah berkelana sekian lama... kau membuatku merasa lengkap. Hanya itu saja. Aku tidak mau bertanya-tanya bagimana seandainya aku tidak mendapatkan jantung Alex, bagaimana seandainya jantung orang lain yang ada di dalam dadaku, apakah semuanya akan berbeda?? Semua itu hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Dipikirkan seperti apapun, toh yang terjadi sekarang adalah Niall memiliki jantung Alex di dadanya dan itu adalah takdir yang tidak bisa diubah, salah satu rencana Tuhan.” Niall meraih tangan Sheryl dan menggenggamnya. “Yang aku tahu. Bahwa aku mencintaimu dan bahagia bersamamu, dan ingin bersamamu.”


Air mata Sheryl mengalir deras mendengar pengakuan cinta Niall itu, dadanya terasa sesak dipenuhi oleh rasa haru, syukur yang bercampur kepedihan. Tetapi ada satu rasa yang sangat menonjol di sana, rasa yang akhirnya mampu diakui oleh Sheryl, di antara isakannya, Sheryl bergumam lembut,


Niall... dan bukan Alex. Sheryl meyakinkan dirinya.


***


Sementara itu Chika, Adri, Kyros, Elvin dan Pamella tampak mengawasi Sheryl dan Niall dari balik kaca besar itu, sedangkan Tisha berdiri cukup jauh dari mereka. Tisha sendiri merasa canggung tetapi tentu dia tidak bisa meninggalkan Sheryl sendirian disini.  Adri memeluk Chika yang masih menatap semuanya dalam keheningan. Elvin mencoba menguatkan Pamella dengan menggenngam jemari gadis itu. Sedangkan Kyros beralih memandangi Pamella yang terlihat berusaha untuk kuat. Dia merasa bangga atas sikap yang di tunjukkan oleh Pamella, gadis itu selalu menempatkan kebahagiaan orang lain lebih dulu di bandingkan kebahagiaannya sendiri. Begitulah sikap Pamella sejak dulu hingga saat ini yang tidak pernah berubah. Dulu Pamella menghabiskan waktunya untk menemani dan menjaga Niall, meninggalkan semuanya agar dia bisa menguatkan Niall di masa sulitnya. Tetapi keadaan saat ini terlihat begitu kejam untuk gadis baik seperti Pamella. Takdir seolah mempermainkannya tetapi dengan kelapangan hati, Pamella berusaha untuk melepaskan hal yang besar dalam hidupnya. Tetapi siapa yang tahu kemana Tuhan akan membawa takdir para hamba nya. Jika Pamella di uji dengan hal seperti ini, itu artinya Tuhan tahu bahwa Pamella akan bisa melewati kesulitan ini pada akhirnya, lalu mengirimkan laki-laki yang baik bahkan mungkin lebih baik di bandingkan Niall. Kyros sendiri tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Niall dalam ini, walaupun memang kisah ini terlihat begitu kejam. Tetapi apa yang bisa mereka lakukan jika Niall memang sudah tidak memiliki cinta untuk Pamella. Memaksakan mereka untuk kembali bersama bukanlah jalan terbaik. Seperti kata Pamella tadi bahwa jika hal itu di lakukan, yang ada keduanya akan menjalani kehidupan seperti di Neraka. Baik Pamella ataupun Niall harus mendapatkan kebahagiaan yang semestinya.


Pamella beralih menatap Mama dan Papa Niall dengan senyum cantik di wajahnya. "Ma, Pa." Gumam Pamella dengan suara lirih. "Kalian bisa melihat sendiri bahwa mereka saling mencintai, mata Niall menunjukkan segala nya. Lalu bagaimana aku bisa masuk di antara mereka berdua???" Pamella tersenyum. "Sangat jahat jika kita memisahkan dua orang yang saling mencintai."


Chika kembali menitihkan air mata lalu kembali memeluk Pamella. "Mama tidak tahu terbuat dari apa hatimu itu sayang???? Kau kenapa selalu mengorbankan kebahagiaanmu untuk orang lain??? Kau juga berhak untuk bahagia."


"Mella pasti akan mendapatkan kebahagiaan Mella nanti Ma. Doakan Mella ya supaya Mella bisa selalu bahagia.??"


"Tentu saja sayang. Kau putri Mama, tentu Mama akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu."


"Tuhan itu baik, dia tidak pernah akan membiarkan hamba nya jatuh dalam penderiataan yang tidak bisa di lewati, Tuhan memberikan cobaan dan takdir kepada hambanya karena percaya bahwa Hamba nya kut dan mampu untuk melewatinya. Dan Mella yakin, Mella akan melewati semua ini dan menemukan kebahagiaan Mella nanti nya. Mama doakan Mella ya???"


"Pasti sayang." Chika mempererat pelukannya. Dia begitu menyayangi Pamella.


Pamella melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Chika juga Adri dan Kyros. "Ma, Pa, Kak Ky, ini sudah larut, Mella harus segera pulang, takut nenek khawatir. Semoga operasi Niall berjalan lancar. Mella akan kesini lagi besok. Tidak apa-apa kan Mella pulang dulu???"


Chika menganggukkan kepala nya dan mengecup kening Pamella. "Iya sayang, istirahatlah. Salam untuk nenekmu ya??? Terima kasih kau sudah menjaga Niall."


"Sama-sama Mama." Pamella kembali memeluk Chika. Setelah itu dia menyalami Chika dan Adri.


Sama seperti istrinya, Adri juga memeluk dan mencium kening Pamella. Adri juga sangat menyayangi Pamella, dan merasa bangga atas sikap dan kebaikan Pamella. "Kau istirahat dan jaga kesehatanmu, Papa sangat menyayangimu. Terima kasih untuk semua nya."


Pamella tersenyum. "Iya Pa. Mella tahu Papa sangat menyayangi Mella."


Adri megusap kepala Pamella. Kemudian Pamela beralih menyalami Kyros. "Kak, Mella pulang dulu ya??'


"Ya, pulanglah dan hati-hati. Kau adalah gadis yang kuat, jaga diri baik-baik ya???"


"Thanks kak." Pamella pun mengajak Elvin pulang dan meninggalkan rumah sakit.


“Kurasa kita harus membiarkan anak kita berbahagia dan menentukan pilihannya.” Ujar Adri pada istrinya.


Chika masih terdiam, mengamati wajah anak nya yang menatap wajah Sheryl dengan penuh cinta. Dia menghela napas panjang. Tidak tahu harus berkata apa.