
Selamat membaca ❣️
●●●
Williem.
Wiliem Federik George, ayahnya keturunan Belanda - Amerika tapi tinggal dan menetap di Indonesia sejak remaja. Ibunya berdarah Indonesia - Belanda, lahir di Surabaya. Williem lahir saat ayahnya tengah study meraih gelar profesornya di New York Amerika, sejak kecil Williem memang sudah memijakkan kaki ke berbebagai benua. Ayahnya seorang pengusaha besar, pemilik perusahan ternama di Amerika, Eropa dan Asia. Ibunya mendampingi ayah Williem sebagai istri sekalipun penasihat perusahaan, namun ibunya Williem mengalami gagal jantung sejak williem kuliah dan sudah sering keluar masuk rumah sakit. Karena terlalu cinta dengan williem ibunya tidak mendampingi ayah williem ke new york perihal kesehatannya juga yang harus melewati perawatan khusus di salah satu rumah sakit ternama di Indonesia. Williem memang kurang perhatian sejak kecil, karena terbiasa ditinggal orang tuanya yang sibuk dengan perusahaan mereka. Namun itu bukan salah satu penyebab utama williem menjadi seorang Posesif. Tapi saat hadirnya Adriana Miskha lah yang merubah sikap williem .
Williem memang dingin dari luar tapi hangat dalam dirinya, williem seorang yang memiliki prestasi walau sedikit perhatian dari keluarganya. Dia tidak pernah merasa kekurangan sejak kecil itu lah sebabnya dia benci dengan kalimat Impossible. Menurutnya, semua didunia bisa diraih dengan keyakinan dan usaha yang tekun. Williem cukup populer di Universitas karena ketampanan, dan prestasinya. Namun tidak ada satupun mahasiswa sebaya yang ingin berteman dengannya, karena williem sangat dingin dan jutek.
"Hai.. Aku adriana miskha. Jurusan Farmasi, apakah anda Williem ? Haruskah aku panggil kakak ? Emm. Maaf sebelumnya.. Kami ada projek di aula bulan depan. Apa anda bisa membantu ?" Miskha mencoba bicara pada seseorang yang terkenal sangat dingin itu, itu semua paksaan dari pimpinan himpunan terhadap dirinya. Karena williem salah satu orang terkaya dan anak dari konglomerat maka dari itu ketua himpunan menyuruh tim miskha untuk meminta bantuan, ya sebut saja "donatur".
Williem yang tengah duduk di bawah pohon rindang depan sungai buatan di universitas itu pun cukup terkejut dengan kehadiran 2 orang wanita yang mendekatinya. Salah satunya Miskha, bicara padanya dengan lembut dan sopan. Williem tidak merasa terganggu sekalipun, tapi kakak ? "Kakak katanya ?" Batin williem sangat menjengkelkan dia adalah anak sematawayang.
"Kau panggil kakak ? Apakah itu terdengar menjengkelkan ? Aku sematawayang." Jelas williem dengan smirk pada bibirnya. Miskha membelalakan matanya tak percaya dengan respon williem, dia menganggapnya itu hanya lelucon. "Okay.. Maaf .. Will.. Apakah itu boleh ?" Jawab miskha ketus. Teman satu himpunan miskha hanya diam tak berani berkata sambil memeluk bukunya.
"Ya.. Apa yang kalian butuh kan ? To the point saja. Bukan kah donasi ?" Tanya williem nadanya cukup santai tapi tajam.
"Ya benar. Donasi. Apa kau bisa menjadi donatur kami ?" Pungkas miskha tanpa basa - basi. Kali ini miskha tidak akan membuat lelucon mengikuti arah main williem.
"Berapa banyak yang kalian butuhkan ?" Gubris williem sedikit ketus.
"Oh, lihat lah proposal kami dulu will.. Apa kau bisa memberikan semuanya ?" Pungkas miskha dengan ketus, membalas perlawan williem. Wajahnya lembut dan terlihat santai.
Williem terdiam, dilihatnya proposal yang diberikan miskha. "25 juta ? Okay. Kemana aku bisa transfer semuanya ?" Jawab williem santai.
"Rekeningku ?" Jawab miskha , "atau ketua kami, Jody" tambah miskha.
"Kau ! Aku mau rekeningmu" jawab williem menatap dalam miskha. Miskha memberikan nomor rekeningnya yang sudah dia catat di note booknya.
"Ini. " tambah miskha.
Williem langsung mentrasfer sejumlah dana di proposal tepat 25 juta. Miskha tak percaya semudah itu mendapatkan donasi dari williem.
"Done" jawab williem menunjukkan resi transfernya. Miskha mengecek iphonenya dan benar masuk sesuai nominalnya.
"Thank you. Kau mendapat undangan VIP di acara kami. Aku akan menemuimu lagi. Maaf mengangganggu waktumu. Kami pamit." Kata miskha santai tapi lugas. Tanpa basa basi miskha dan teman himpunannya pun berbalik dan berjalan kembali menuju ruang himpunan mereka.
"TUNGGU!" teriak williem. Miskha berbalik badannya kaku, "apa dia akan memukul kami? Oh tuhan lindungi lah kami aku mohon" keluh miskha dalam batin. Wajahnya berkeringat melihat tatapan dalam williem.
"Aku akan menelfonmu nanti malam. Sekarang aku butuh donasi. Waktumu." Kata williem serius. Miskha hanya mengangguk, tak menghiraukannya dan langsung pergi.
"Miskha." Gumam williem.
●●●
Dorm
"Aku pulang !" Seru taehyun kepada member. "Wah kau bawa apa ?" Tanya junki melihat kearah paper bag besar ditangan taehyun.
"Pudding dari miskha." Jawab taehyun dengan senyumnya. Semua member senang dan gembira lalu mulai membuka tupper warenya dan melahap bagian pudding.
"Ini enak banget! Hyung... Yorri !!! Seokyin!!! Cepat kesini.." Ajak jey berteriak memanggil mereka.
"Apa miskha baik?" Tanya seokyin berjalan kearah taehyun. Taehyun mengangguk, "dia masih sama. Rambutnya saja yang lebih panjang." Jawab taehyun dengan gurauannya.
Seokyin menatap mata taehyun dalam, dia tahu miskha dan taehyun tidak dalam keadaan baik. Apalagi mantan pacar miskha datang ke seoul pasti taehyun merasa gelisah.
"Kau ?" Tanya seokyin pelan. Taehyun hanya tersenyum.
"Iya persis seperti puding di toko" tambah jey, "daebak daebak..." Kata junki menanggapi.
"Mudah sekali buat puding seperti ini .. Tolonglah jangan berlebihan.." Ketus yorri. "Ya hyung.." Gubris jimmy. "Aku hanya bercanda.. Ini memang enak.. Aku tidak punya waktu membuat yang seperti ini" tambah yorri santai. Member dan dean hyung pun tertawa. Suasana dorm cukup hangat, tapi tidak suasana hati taehyun. Dia merasa gelisah karena hadirnya Williem Federik George. "Apa yang dia inginkan?!" Batin taehyun sambil mengepal tangannya. Namhyun memperhatikan tingkah taehyun dan kepalan ditangannya dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan taehyun atau miskha.
"Aku harus melindungi mereka.. Semua" batin namhyun.
●●●
"Good morning ms adriana.." Sapa staff lobby apartemen miskha.
"Morning.." Balas miskha dengan senyum hangatnya. Seperti biasanya mereka saling menyapa dan membalas senyuman. Miskha berjalan kaki menuju tempat kerjanya, walau dia tahu tempat itu sudah sangat tidak nyaman karena williem ada di dalamnya.
Dihirupnya udara kota gangnam ini, sambil berjalan dan memperhatikan sekitar.
"Ah.. Cuacanya bagus" gumam miskha mengantongi tangan pada coat selutut miliknya.
Dia melihat papan billboard di sisi jalan dengan iklan DTS, "tampan nya.." Puji miskha pada senyum taehyun di dalam iklan tersebut.
"Aku harus semangat. Ini pekerjaan yang aku inginkan, kenapa aku mengeluh. Dia hanya williem. Aku bisa saja membunuhnya tapi aku tak ingin mengotori tanganku dengan kekerasan. Hah awas saja. Sampai dia melakukan hal itu lagi.. Aku akan teriak dan minta bantuan hiks hiks..." Miskha bicara pada dirinya sendiri, mengomel dan merengek sambil berjalan.
●●●
Anastasia sibuk membaca dokumen williem dengan ipad di tangannya. Tepat duduk di mobil williem mereka menuju perusahaan.
"Apa yang kau baca ms clurk ?" Tanya williem datar, matanya fokus pada luar jendela memandang setiap jalan.
"Oh. Dokumen tuan" jawab clurk seadanya.
"Tidak bisa kah kau baca di mejamu nanti. Aku pusing hanya dengan melihatmu" gubris williem. Anastasia tidak sampai hati menerima perkataan williem, "baik tuan" jawab anastasia mengunci ipadnya.
"Miskha!" Seru williem. Sontak phillip terkejut dan mengerem mendadak. "Ada apa tuan ?" Tanya phillip pada williem. "Aku akan berjalan kaki hari ini" williem dengan sigap turun dari mobil dan berlari.
"TUAN !" teriak phillip. Williem hanya melambaikan tangannya seolah menyuruh phillip pergi. "Dia bahkan tidak menggunakan jaketnya." Keluh phillip lalu melanjutkan kemudinya.
Williem yang terengah engah berlari menuju miskha. Saat di trotoar kaki mereka bertemu, tepat di samping miskha williem berdiri.
"Pagi." Sapanya perlahan menatap zebra cross siap menunggu untuk menyebrang.
Miskha yang sadar akan hadir williem terkejut dan melihat kearah suaranya. Tepat 5 cm disamping dirinya. "Ayo.." Ajak williem memberikan telapak tangannya. Miskha hanya melihatnya dan mengantongi tangannya. Cuacanya memang cerah tapi angin dan suhunya cukup dingin. "Bagaimana bisa kau tidak memakai jaket ?" Tanya miskha ketus tanpa melirik.
Williem hanya diam memperhatikan pakaiannya.
●●●
Dean membuka email sambil meminum kopi di meja kerjanya.
"Informasi WFG" tertera disana dengan inisial nama williem.
Dean membaca semua data pribadinya, ternyata benar saja dugaannya.
●●●
Author pov : Terima kasih sudah membaca ♥, jangan lupa like dan komentarnya.
Adriana Miskha