He is not my Idol. He is my Boyfriend.

He is not my Idol. He is my Boyfriend.
Dua puluh sembilan



Selamat membaca!!!


●●●


New York.


Perusahaan Williem merupakan perusahaan dibidang elektronik dan teknologi. Suatu perusahaan besar di amerika yang sudah mengekspor semua brandnya ke seluruh benua. Ayah williem seorang konglomerat kaya raya asal amerika namun ibunya berdarah Indonesia. Itulah mengapa wajahnya lebih mengarah ke asia. Williem anak semata wayang dari keluarga campuran, walaupun ia berkebangsaan indonesia namun banyak sanak saudara dan sepupunya yang tinggal di berbagai negara, salah satunya belanda, prancis dan inggris. Willem dari kecil telah didik dengan banyak aktivitas, itulah mengapa ia tak sering bertemu dengan orang tuanya.


Williem mudah sekali menaik turunkan emosinya, sangat tidak stabil. Bahkan williem pernah hampir memukul body guardnya sampai mati.


Tapi williem bukan seorang psikopat, dia hanya ada gangguan lain. Maka dari itu dia berbohong pada miskha untuk menikah di new york. Padahal sebenarnya dia pergi berobat ke psikiater sekaligus menjalankan perusahaan ayahnya.


Williem bertemu miskha sejak kuliah di Universitas Indonesia, dimata williem gadis itu memiliki perbedaan dibanding wanita lainnya. Dulu sebelum williem bertemu miskha, dia senang sekali clubbing. Tapi setelah bertemu miskha dia tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya kesana.


Bahkan ia lebih suka menghabiskan uangnya untuk membantu miskha, miskha pernah mengalami syok berat saat menjalankan perusahaan ayahnya di bali. Williem lah yang membantunya mengurus, bahkan ia tak menerima sepeserpun dari hasil tendernya.


Dia hanya meminta satu hal pada miskha,


"Jadilah pacarku" kata williem menatap mata miskha dalam.


Saat itu miskha terpesona dengan sikap baik williem padanya, semuanya adalah hal manis. Miskha jatuh hati kepada pria berwajah oriental itu.


Sampai beberapa tahun bersama dengan williem, miskha merasakan perbedaan. Perubahan pada diri williem yang sangat posesif terhadapnya.


"Tuan kita menang tender lagi, tapi ini merupakan kerja sama dengan perusahaan asal korea selatan." Kata komisaris 3 yaitu orang kepercayaan ayah williem.


"Korea selatan ? Kenapa asia ? Kitakan lebih signifikan mengarah ke eropa." Dengan wajah serius williem menatap Mr. Hanry.


"Iya tuan. Perusahan kita mencoba berkembang ke asia juga, dan perusahaan korea ini yang kita beli sahamnya adalah perusahaan kosmetik terbesar. Bahkan mereka sudah mengekspor hasil karyanya ke eropa dan berbagai negara di benua lainnya." Jelas mr. Hanry sebagai komisaris 3 tersebut.


"Tuan presdir (Presiden Direktur), maaf jika aku memotongnya. Tapi sebelum anda memutuskan untuk memimpin perusahaan ini, ibu anda selaku wakil presdir, dan komisaris 2 meminta bapak presdir yaitu ayah anda untuk membeli saham dan memenangkan tender perusahaan tersebut. Nyonya meminta untuk membangun bidang baru, agar perusahaan kita bisa berkembang lebih besar tidak hanya berpusat pada elektronik dan teknologi saja." Kata mr. Dylan manager perusahaan.


"Baik lah kalau seperti itu, aku akan mempelajari materinya. Aku tak tahu apa ini sesuatu yang hebat atau tidak karena aku tidak tahu perusahan apa mereka." Jawab williem santai dengan sikap dinginnya.


Anna yang melihatnya membatin dalam hati, "dasar bodoh.. Bilang saja kau tak mengerti apapun".


"Ms. Anna . Kau kirimkan file mengenai hal ini ke emailku." Tiba - tiba williem bicara.


Anna yang sedang melamun itu tersontak lalu ia mengangguk.


"Baik presdir" katanya sambil melihat mata tajam williem.


"Aku hampir mati" keluh anna dalam hati.


●●●


Dorm.


"Wahhh ini oleh - oleh dari malta ? Banyak sekali" kata jimmy takjub.


"Apa kau bersenang - senang disana bro ?" Tanya namhyun meledek. Semua member menggoda taehyun.


Taehyun menggaruk kepalanya dan mengangguk tersipu malu.


"Ah hentikan" kata yorri ikut tersipu.


"Kenapa si hyung?" Pungkas junki. "Kitakan sudah dewasa" .


"Aku lapar.. Ayo kita pesan ayam" ajak yorri mengganti topik pembicaraan.


Taehyun berjalan ke dapur mengambil segelas air, diikuti oleh seokyin.


"Taehyunaah.. Apakah kau bahagia?" Tanyanya dengan nada datar.


"Ahh.. Ya hyung. Bagiku kebahagiaan miskha adalah yang terpenting setelah keluarga, member dan diriku sendiri." Jawabnya senada.


"Apakah miskha benar - benar mencintaimu ?" Tanya seokyin serius tanpa melihat ke arah taehyun.


Sementara member yang lain sibuk dengan oleh - oleh yang taehyun bawa.


Taehyun melihat ke arah member dan tersenyum, "aku tak peduli sebesar apa miskha mencintaiku. Kami memang belum banyak mengenal satu sama lain. Tapi kami saling memberikan support bahkan kekuatan. Entah miskha mencintaiku sama seperti aku mencintainya atau tidak. Tapi aku percaya padanya sama seperti aku percaya pada hyung dan member."


Seokyin terkejut dengan jawaban dari taehyun, jantungnya berdetak tak beraturan.


"Apakah ini rasa sakitnya jatuh cinta" gumam seokyin dalam hati.


"Kau sudah dewasa kim taehyun" kata seokyin lalu meninggalkan taehyun, dia kembali ke member untuk bersenda gurau.


Jimmy memperhatikan taehyun dari jauh, dan mengikutinya. Taehyun berjalan ke kamar tanpa sadar di belakangnya sudah masuk jimmy dan menutup pintu kamarnya.


"Kau bahagia ?" Tanya jimmy pada sahabatnya itu. Taehyun tersenyum malu duduk di kasurnya. Jimmy mendekati taehyun dan merangkul sahabatnya. "Apa yang sudah kau lakukan dengannya ?" Tanya jimmy meledek. Taehyun tertawa "hahahahah ya dia sangat merubahku menjadi pria dewasa. Jangan khawatirkan aku."


Jimmy ikut tertawa dan tersipu malu, "yah kau nakal ya ! Jangan paksa dia jika dia tak mau ! Mengerti ?!" Omel jimmy sontak berdiri dari duduknya dan menunjuk taehyun seolah ia ayahnya.


Mereka tertawa, "hahahaha tidak.. Aku tidak memaksanya mungkin aku benar benar sudah dewasa." Kata taehyun cool. Jimmy menepuk bahu sahabatnya, "oh begitu ya.. Oke oke. Jangan saling terluka. Bahagia lah kalian" kata jimmy lalu pergi meninggalkan taehyun sendiri.


●●●


Sambil menunggu pesanan mereka duduk di meja yang sama lalu mengobrol membicarakan pekerjaan mereka.


"Gimana kantor ? Apakah kau membuat formulasi baru ?" Tanya miskha excited.


"Oh yaa.. Tentu. Oh iya selama kau ke malta laboratorium jadi gusar hahaha" kata loui bercanda.


"Ah apa kau mengacaukan trialnya ?" Tanya miskha dengan wajah khawatir. "Ya engga lah justru aku memperbaiki semuanya." Jawab loui percaya diri.


"Hahaha memang otakmu tak dapat di pungkiri" goda miskha sambil menyikut lengan loui.


"Pantas saja. Kan perusahaan kita memang perusahaan internasional." Kata miskha melipat lengannya.


"Aku hanya ingin cepat dapat gelar magister." Keluh loui.


"Ya .. Aku juga. Tapi yang ada malah jadi persaingan luas." Tambah miskha.


"Kita harus semangat!" Pungkas loui mengerutkan dahinya.


"Semangat!" Jawab miskha ceria.


●●●


Apartemen clara.


"Loui lama sekali. Aku harus menelfonnya." Gumam clara sambil keluar balkon apartemennya.


*ring tone*


"Loui, handphonemu" kata miskha menunjuk kantong loui.


"Oh ini dari clara, aku akan menjawabnya" kata loui santai.


"Hallo.. Loui.. Kau lama sekali. Apakah kau tersesat ?" Tanya clara cemas.


Miskha menatap wajah loui santai, entah apa yang mereka bicarakan. Loui dan clara memang dekat satu sama lain, tapi mereka terpisah karena clara diangkat di divisi Quality Assurance atau disebut juga QA. Jadi tak heran jika loui dan clara saling komunikasi, karena mereka memang sudah dekat sebelum miskha bergabung disana.


"Ini aku sedang menunggu pesanannya.. Sekitar 15 menit lagi aku akan sampai. Jangan tidur dengan perut lapar." Ejek loui pada telfon.


"Baiklah.. Kalau begitu aku menunggumu." Kata clara singkat lalu menutup telfonnya.


"Kau akan ke apartemen clara ya ?" Tanya miskha dengan senyum di wajahnya.


"Ah iya.. Aku sering kesana saat kau sibuk dengan pacarmu bahkan kami..." Loui menghentikan pembicaraannya lalu sadar dan menoleh ke arah miskha.


Miskha kebingungan dengan pernyataan loui sahabatnya itu, seperti ada hal lain yang luoi tutupi.


Miskha mengangkat kedua alisnya seraya bertanya. Tapi loui mengalihkannya, "ah aku mau tanya dulu berapa menit lagi pesanan kita" setelah beranjak dari kursinya loui membatin, "hampir saja kau keceplosan lou" katanya dalam hati.


Miskha merasakan perbedaan sikap loui, tapi ia mengacuhkannya.


Sementara clara di balkon mencemaskan loui, "Awas saja loui kalau kau sampai disini akan aku habisi" gerutu clara melempar iphonennya ke sofa.


●●●


Author be like : di Korea malem, di amerika baru pagi. Author akan terus mendayung 🚣‍♀️


●●●


Dean membaca email dari perusahaan. Banyak hal yang akan di kerjakan DTS, setelah cuti panjang mereka.


Bahkan dean khawatir mereka akan sedikit terkejut dengan jadwal mereka selanjutnya.


"Wah daebak" kata dean dengan laptop di atas pahanya sebelum beranjak tidur.


"Mereka pasti akan terkejut dengan semua ini, mereka harua fokus kembali karena sebentar lagi akan banyak acara award." Gumam dean.


Di lain sisi manager park juga membaca email tersebut, matanya membelalak kepadatan jadwal member selanjutnya.


"Wah jinjja .. Gila." Katanya sambil meminum segelas air.


DTS grup boy band yang sudah medunia, tak heran jika mereka akan dipenuhi jadwal yang padat. Mereka akan konser dulu di beberapa negara, sambil comeback album baru lalu akan ada award akhir tahun. Tak bisa dipungkiri betapa suksesnya karir mereka saat ini.


"Lusa kita akan rapat lagi pasti" kata dean sambil menutup laptopnya dan kembli tidur.


●●●


"Miskha, jaga dirimu.. Maaf aku tidak bisa mengantarmu" kata loui sambil berjalan menuju mobilnya. Miskha hanya melambaikan satu tangannya, karena tangannya yang lain membawa kantong makanan.


"Huffhh... Hari yang indah" dia berjalan sambil melihat lampu lampu kota. "Aku tidak sabar membuat formulasi baru.." Gumamnya.


"Ahh cuacanya dingin sekali.." Sampai di zebra cross miskha mengangkat telfon genggamnya, "abeth"


"Hey yaaaa Adriana miskha, kau mau mati hah?! Tidak beri kabar" kata abeth kesal.


"Maafkan aku nyonya abeth hehehe" jawab miskha.


"Jadi Bagaimana KIM mu itu?! Kau menyembunyikan semuanya. Padaku. Sahabatmu. Bahkan kau hanya memotret bahunya saja, aku khawatir dia tidak setampan yang kau katakan" ledek abeth.


Miskha tertawa dengan lepas.


Mereka saling mengobrol, melepas rindu sampai tak sadar apartemen miskha sudah dekat.


~


"Apa yang terbaik dari pada jatuh cinta, yaitu saling percaya satu sama lain. Aku mencintainya dengan semua kekuranganku, dan aku mempercayainya dengan semua kebodohanku." Miskha sambil memandangi langit Malta dari luar balkon hotel mereka, sementara taehyun tertidur di kasurnya. Miskha yang hanya ditutupi selimut itu tersenyum melihat bintang, lalu bersumpah.


"Takkan aku biarkan kau terluka, Kim Taehyun" katanya.


●●●


Author povv : terima kasih udah mau sabar nunggu kelanjutan ceritanya ya!!! Jangan lupa like dan love nya.. 💕


Kim ---- Taehyun