
Selamat membaca π
βββ
Sampai di korea.
"Sayang.. Aku sudah mengirimi chat ke dean hyung. Agar menjemputku segera. Kau akan ikut dengan kami, aku mengantarmu ke apartemen." Kata taehyun pada miskha sambil berjalan keluar dari pesawat.
"Hah ? Kau gila ?! Paparazi pasti akan melihat kita. Dispaz akan mengikutimu." Kata miskha cemas.
"Engga sayang. Kita keluar lewat pintu yg berbeda. Manager park sudah menghubungi pihak airport. Tenang aja dari sini kita akan diarahkan." Jelas taehyun tenang.
Miskha masih cemas, walaupun dia tahu taehyun sudah sering mengatasi hal - hal seperti ini. Di tambah lagi big huge memiliki kolega yang banyak dan besar, keamanan member pasti diutamakan.
Dean hyung sudah menunggu, taehyun ditutupi dengan jaket dan topi, serta masker hitam. Miskha kepala dan wajahnya ditutupi oleh jaket yang sudah disiapkan, dengan bantuan body guard lainnya.
Mereka berjalan dengan cepat, dan langsung memasuki mobil. Wartawan yang merasa di kelabuhi kesal karena tidak mendapatkan moment tersebut.
"Sial, terlewat lagi. Bodoh" kata salah satu paparazi sambil mengecek hasil jepretan nya.
βββ
"Bagaimana liburan kalian ?" Tanya dean ramah.
"Sangat tenang hyung" jawab taehyun sedikit.
"Nona adriana ? Apakah kau pernah ke malta sebelumnya ?" Tanya dean ramah pada miskha.
"Oh .. Tentu saja tidak pernah.. Never.. Apalagi ke korea .. Aku tak pernah membayangkan bisa ditransfer kesini" miskha terkejut dan menjawab dengan nada santai.
"Nanti kita liburan lagi" gubris taehyun sambil meraih tangan miskha.
βββ
Flash back.
"Breaking news! Selamat siang. Hari INI terjadi kecelakaan di Paris, tepat pukul 01:00 pm siang ini. Terjadi kepadatan di km 15 terowongan Catacombs. Menurut tim evakuasi TKP terdapat 2 korban, 1 pria berkebangsaan inggris pengusaha dan istrinya berkebangsaan indonesia. Saat ini para korban di larikan ke rumah sakit nasional carolus. Masih harus diselidiki lebih lanjut penyebab kejadian." Suara televisi berbunyi.
Miskha berada di sekolah menengahnya tengah menghabiskan makan siang miliknya.
"Miskha , guru wali memanggilmu" kata seorang wanita bermata biru, dengan rambut diikat satu.
Miskha memikirkan tentang PR nya, "apakah ada yang salah dengan home workku?" Tanya nya pada diri sendiri.
"Sepertinya ada hal yang terjadi, cepatlah.. She looked so worrying" kata gadis itu.
"Okay.. Aku tinggalkan ini disini." Kata miskha sambil meneguk segelas air.
"Kami akan menunggumu" kata gadis itu.
Miskha berjalan dengan sesekali merasa sesak di jantungnya. "Apa yang terjadi ya.." Keluhnya. "Hai miskha!" Sapa seseorang melewatinya. Miskha tersenyum membalas sapaannya.
Sampai didepan ruang guru walinya iya merapihkan seragamnya asal.
"Excuse me" ia langsung masuk dan mencari guru walinya.
"Adriana miskha, duduk lah" sapa wanita paruh baya dengan kacamata. Dia melepas kacamatanya perlahan dan tersenyum ringan.
"Ada apa bu ? Apakah aku dapat zero ?" Tanya miskha polos.
Wanita itu tersenyum, "tentu kau juara kelasnya miskha. Tak ada yang salah dengan home workmu".
"And then ...?" Tanya miskha perlahan.
"Dear.. Hari ini kau tidak akan melanjutkan pelajaran sayang.. Aku akan menemanimu ke rumah sakit. Akan aku antar kau ke kelas dan merapikan alat tulismu" jelas wali kelas miskha dengan nada sedikit gusar dan hati - hati.
Miskha yang masih bingung, dalam keadaan cemas ia mengeluarkan blushing. Kemerahan pada pipinya.
"Ke rumah sakit ? Maksud anda ?" Tanya miskha pelan.
"Your mother and father had an accident dear.. Dan sekarang sedang di ruang Intensive care unit , dan kau dibutuhkan karena orang tuamu membutuhkanmu." Kata wali kelas miskha lembut dengan nada gusar.
"Baiklah.. Aku akan ke kelas. Ibu tunggu saja di lobby aku akan ke loker dulu mengambil beberapa bukuku. Aku akan menyusul ibu" kata miskha perlahan dengan penuh ketegaran.
Miskha berjalan menuju kelas dengan dada yang sesak, ia menangis tanpa suara. Kebetulan sudah waktu masuk kelas jadi tidak ada seorang pun di lorong melihat miskha menangis.
"Wake up ! Wake up! Wake up" teriak miskha sambil menjenggut rambutnya. "This is not fearr !!! No ! I should fast ! They need me!!" Dia berlari menuju kelas.
Semua teman kelas miskha hanya melihat nya dengan wajah sedih dan turut berduka. Bahkan guru matematika miskha memberikan semangat sebelum miskha izin pamit, "adriana.. I know that you are not fine .. We feel so bad. Be carefull and cheers full.. God bless you and your parents."
Miskha tersenyum didepan kelas menahan air matanya. Dia sudah bukan anak kecil lagi, tapi miskha tak sanggup jika orang tuanya tak bisa berjuang.
"Thank you guys.. I need your prays.. Thank you Mr. Andy. See you" kata miskha sebelum melalui pintu kelas.
Miskha tahu perasaannya sangat gundah hari itu. Bahkan ia tak sanggup tersenyum ataupun bicara, matanya hanya terpaku pada jendela mobil Mrs. Sherleen wali kelasnya. Bahkan miskha sempat berfikir, tentang kepulangannya ke Indonesia. Bahkan ia sudah hampir siap menerimanya, dia harus menjadi dewasa apapun yang terjadi.
"Miskha ? Are you alright ?" Tanya Mrs. Sheerleen setelah menghentikan kemudinya.
"Mrs.. Apa aku boleh tanya satu hal ?" Miskha menyentuh lengan wali kelasnya sebelum mencabut sit belt. "Sure dear" jawab wali kelasnya.
"Bisakah kau membantuku mengurus paspor tinggalku nanti?" Tanya miskha dengan wajah polosnya.
Mrs. Sherleen menangis tak kuasa menahan air matanya, "of course I will..." Sambil memeluk miskha.
Didalam rumah sakit mereka siap dengan apapun yang dikatakan team medis.
"Adriana Miskha ?" Tanya seorang tim medis.
"Ya.. Saya" jawab miskha sedikit gugup.
Diruang tunggu ada beberapa polisi tim evakuasi, Mrs. Sherleen menemani miskha masuk ke ruangan dokter.
"Silahkan duduk" kata dokter yang menangani keluarga smith dengan senyum, terlihat wajahnya dengan keringat.
"Apa yang terjadi dok?" Tanya miskha perlahan, masih dengan ketegarannya.
Miskha mendengarkan setiap inchi cerita sang dokter. Miskha mengingat hal indah saat bersama ornag tuanya, bahkan ia sampai tak mengerti maksud sang dokter, tak merasakan ngeri akan ceritanya. Yang ada di kepala miskha adalah, saat ayahnya membuatkan sarapan untuknya. Tapi malah menjatuhkan telurnya kelantai.
Miskha bernyanyi bersama ibunya, bermain piano seharian. Bahkan ibunya meledeknya, "kamu tak akan bisa menjadi seorang pianis jika note rivers flow in you karya Yiruma kau buat sumbang" kata ariana ayunda dengan ledek tawanya.
"Ah mom ! Aku sudah berusaha" gerutu miskha.
Alex tertawa melihat telur yang pecah tepat di atas jempol kakinya, "Daddy!!! Disgusting!!!! " ledek miskha. Alexander Smith dean selalu mengatakan, "Kau harus berpacaran dengan orang seperti daddy!" Katanya sambil mencium kening miskha, saat miskha demam.
Seketika miskha merasa sesak dadanya, ia menangis. Menangis dengan lepas. Ia berkata, "Terima kasih dokter... It must be difficult for you" katanya dengan air mata yang sudah membasahi kerah seragamnya.
Sang dokter hanya diam, tak lama ia bicara "kau boleh masuk keruangan, mereka sudah di pindahkan. Adriana miskha, kau anak yang hebat dan kuat. Aku yakin orang tuamu sudah tenang." Katanya menambahkan. Miskha mulai berdiri, mrs. Sherleen ikut terhanyut dalam suasana sesekali menepis air matanya, dan merangkul miskha untuk berjalan.
Miskha dengan sisa tenaganya, berjalan. Demi untuk melihat orang tuanya.
"Dad. Mom.. I love you... I will be happy everyday.. I'll promise." Katanya pada telinga ayah dan ibunya sambil menciumi kening kedua orang tuanya yang sudah terbujur kaku.
"Aku cinta kalian" kata miskha memeluk tubuh ibu dan ayahnya.
βββ
Loui rindu dengan Clara, padahal setiap hari mereka makan siang bersama. Bahkan loui juga mengantarkan clara pulang setiap harinya.
"Hei... Apa yang kau lakukan ?" Tanya loui.
"Aku hanya menonton televisi" jawab clara singkat dengan senyum kecil di ujung bibirnya.
"Aku rindu." Loui membuka gorden apartemennya.
"Kemarilah." Jawab clara.
"Aku akan bawa makanan" kata loui semangat.
"Hahaha okay.. Jangan lupaaa!!" Ledek clara
"Jangan pakai saos sambal" tambah loui mengejek.
"Aku menunggumu" kata clara.
βββ
Apartemen miskha.
"Terima kasih" peluk taehyun.
Miskha merasakan hangat ditubuhnya, seketika ia teringat mendiang ayahnya. Miskha hampir menangis, lalu ia menghapusnya.
"Kenapa? Ada apa ?" Tanya taehyun. Miskha tersenyum, "engga kenapa kenapa.. Aku hanya bahagia saja." Jawab miskha sambil menepis air matanya.
Taehyun mengelus rambutnya, dan mencium dahi miskha penuh kasih sayang.
βββ
Dorm.
"AKU LAPAR" Teriak yorri.
βββ
π£ββοΈ author akan terus mendayung. Haha
βββ
Setelah taehyun pamit untuk kembali ke dorm, miskha merasa lapar dia sadar belum makan sebelum landing sampai di bandarapun mereka tak sempat untum mampir karena khawatir akan diikuti paparazzi.
Miskha mengelus perutnya, "ah kau lapar ya.. Kita lihat kulkas ya". Saat membuka pintu kulkas, hanya ada telur, dan beberapa makanan instant. Tapi miskha rindu ayam tulang lunak satu blok dari apartemennya.
"Ah aku harus keluar membeli ayam.. Aku sudah lama tak makan itu." Kata miskha pada dirinya sendiri.
Miskha mengganti pakainnya, dengan pakaian santai ditambah jaket sepanjang lutut.
"Ms adriana... Kau mau kemana jam segini" tanya receptionist di lobby apartemen miskha.
"Hehehe aku mau makan ayam.. Aku mau membelinya" jawab miskha.
"Kesana ? Tidak melalui delivery saja" kata pria resepcionist itu, dengan simbol tangan berbentuk telepon.
"Tidak aku ingin membelinya sendiri" jawab miskha sambil berjalan menuju pintu keluar gedung.
"Jaga dirimu" kata resepcionist tersebut sambil berteriak.
Miskha sudah berjalan melalui pintu.
βββ
"Ayam tulang lunak 2 porsi, 1 medium spicy , 1 tidak pedas ya." Loui memesan makan malam untuk kekasihnya ya... Clara.
Tampa disadari di waktu yang sama miskha berjalan menuju kasir dan mulai memesan, "hello.. Aku mau pesan ayam lunak 1 porsi.. Medium spicy ya," Tanpa menyadari di samping miskha ada loui. Dan loui tidak menyadari hal itu juga.
"Maaf pesanan atas nama siapa? " Tanya sang kasir hampir berbarengan.
"Louis" ------- "Miskha".
Mereka saling menyadari kehadiran satu sama lain.
Miskha menoleh, loui melihat kearah suara. Lalu mereka tertawa bersama.
"KAU" ujar mereka menunjuk satu sama lain.
βββ
Author:
TERIMA KASIH READERS SETIA AKU β£οΈ