He is not my Idol. He is my Boyfriend.

He is not my Idol. He is my Boyfriend.
Dua puluh satu



Selamat membaca πŸ’•.


●●●


"Ah abeth.. Baiklah aku akan menelfon dia" kata miskha sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Hallo!!! Adriana miskha kau kemana saja!!! " teriak abeth dengan wajah menakutkan.


"Hehe maaf aku baru sempat video call . Bagaimana kabar pacar mu.. Dave? Oh yaa.. Aku sudah menerima cek dari liem.. Aku mengirim uangnya ke amal. " kata miskha serius.


"Dave.. Dia baik baik saja. Aku akan pergi dengannya setelah makan siang. Oh ya? Jika aku jadi kau.. Akan aku belikan tas branded. Atau baju baju branded atau mungkin aku akan beli mobil saja hahahahaha" canda abeth pada miskha. Dia tahu sahabatnya itu memang seperti itu. Lagipula apapun yang abeth lakukan pasti hal baik dan bermanfaat, abeth pernah melihat miskha menangis hanya karena melihat seorang pengemis, bahkan miskha meminta abeth mampir ke rumah makan padang hanya untuk memberi makan seekor kucing. Itu lah miskha, hatinya sangat lemah.


Abeth selalu mendukung apapun keputusan miskha, bahkan berjanji akan menjga sahabatnya itu. Satu hal yang abeth kagumi dari miskha, miskha bisa survive walaupun orang tuanya meninggal. Bahkan miskha tidak pernah merasa sedih jika mengenang kepergian orang tuanya itu.


"Ah sayangnya kau bukanlah aku." Jawab miskha ketus.


"Hey ! Kau sangat misterius ya sekarang! Kau memiliki kekasih KIM KIM itu tapi tidak sedikit bahkan seujung rambut pun kau memberi tahu aku parasnya.. Apa se buruk itu wajah nya ?" Abeth lngsung membicarakan topik lain. Miskha tertawa sambil menyisir rambutnya.


"Hahahhh tidak seperti itu ya ! Hhahahah kau ini. Aku hanya menjaga privacy dirinya dan diriku.. Kau tahu kan beth.. Aku ini sudah sangat sakit. Aku tidak ingin terluka. Maka dari itu aku tidak ingin terlalu mengeksposnya. Aku takut hal buruk terjadi." Jelas miskha. "Setidaknya aku berkata jujur" batin miskha melanjutkan.


"Oh.. Okay.. Aku mengerti. Go away... Aku tahu. I know that !" Kata abeth.


"Aku akan berangkat besok ke malta.. Kau ingin menitip sesuatu. Mungkin oleh - oleh dariku akan sampai beberapa minggu.. Jadi aku mohon jangan makanan ya ?" Kata miskha mengganti topik.


"Oh iya.. Hemm.. Kau bersenang senanglah miskha.. Aku khawatir kau di korea selatan itu mengalami kesulitan. Jadi aku minta kau jaga dirimu baik baik. Aku tidk meminta apapun.. Kebahagiaanmu lebih penting. Jadi jagalah dirimu dan bahagia lah." Abeth hampir menangis namun ia tak sampai hati melakukannya.


"Aku akan kirimkan apapun. Dan kau harus menyukainya.. Janji ?" Miskha merayu abeth.


"Ya tentu.." Abeth mengangguk dengan senyum.


Mereka menghabiskan waktu berbincang, sampi abeth di jemput dave dan miskha menyelesaikan packing nya , bahkan miskha menghabiskan brunchnya. Miskha sangat senang bisa mengobrol banyak hal dengan abeth.


●●●


-loui maaf aku baru membalas pesanmu. Aku baru saja video call dengan sahabatku di Indonesia.


Miskha.


-apa kau sibuk hari ini? Bisakah kita keluar?


Pangeran Loui.


-oh maafkan aku. Aku sudah ada janji hari ini.. Apa kau marah padaku?


Miskha.


Loui hanya diam. Lalu menatap kota dari balkon aprtemennya. Dia menghela nafas panjang lalu memejamkan mata Dan mulai bicara pada dirinya sendiri, "aku harus melepasnya. Dia bukan lah takdirku. "


Loui lalu membuka matanya dan berteriak kencang, melepaskan semua sesak didadanya. Setelah dirinya mulai rileks di balasnya whatsaap miskha.


-aku tidak marah. Hehe aku akan pergi keluar sendiri. Terima kasih sudah membalas pesanku.


Pangeran loui.


Miskha merasa tak enak, tapi dia tahu keadaannya saat ini. Mismha berjanji akan membawakan sesuatu yang indah dari malta nanti.


-aku fikir.. Aku janji akan menemanimu someday.. Maaf ya ..


Miskha.


-iya


Pangeran loui.


Miskha tahu betul keadaan loui saat ini, tapi dia sudah memiliki janji untuk pergi kerumah ibunya seokyin sore ini.


●●●


"Kau pulang sore ini ?" Tanya yorri pada seokyin di ruang tengah.


"Kau akan menyetir sendiri hyung?" Tanya jey berjalan sambil meneguk cola dan mulai duduk di sebelah seokyin.


Seokyin mengangguk lalu mengangkat tangannya, "ah kalian ini. Akukan sudah besar.. Apa aku ga boleh ya bawa mobilku sendiri?" Pungkas seokyin dengan nada meledek.


"Eh siapa juga yang ngelarang." Kata yorri singkat. "Huuu hyung terlalu percaya diri." Lanjut jey sambil mengernyitkan dahinya dengan menyenggol lengan seokyin seraya membalas godaannya.


"Ah kalian ini sama saja seperti jimmy.. Komplain terus." Kata seokyin sedikit mengambek sambil bercanda.


"Aku tidak mengkomplain . Dasar hyung tua" kata yorri sambil pergi meninggalkan jey dan seokyin.


"Wah sungguh.. Dia mengatakan aku ini tua." Seokyin mengelengkan kepalanya, melihat tingkah yorri yang meledeki dirinya itu.


"Hahahahaha ya hyung .. Kau memang sudah tua." Jey terbahak bahak menertawai kakak tertuanya itu.


Seokyin pun mengalah dan ikut tertartawa bersama jey.


●●●


"Halo tante.. Aku sudah hampir dekat rumah tante." Kata miskha dengan seseorang pada panggilan telepon. Miskha pergi kerumah seokyin dengan taksi, karena dia tak yakin dengan arahan bus dari aplikasi. Jadi ia memutuskan untuk membayar taksi dengan tarif yang cukup mahal, menurutnya.


"Hallo... Oh miskha. Iya aku akan menunggu di depan gerbang kau akan melihat wanita tua ini berdiri disana dengan dress rumahannya hehe" kata ibu seokyin semangat.


"Ah tante hehe.. Baiklah. Terima kasih tante." Jawab miskha. Merekapun menutup panggilan telepon secara sepihak.


Saat tiba didepan rumah seokyin, miskha melihat ayah dan ibu seokyin sudah menunggu. Dia pandanginya rumah mewah yang berada di komplek mahal itu. Miskha tak menyangka tetangganya dahuli adalah orang yang sangat kaya di korea. "Wah besar sekali" gumam miskha.


Miskha segera turun dari taksi dan tersenyum pada kedua orangtua seokyin itu. Dan membungkuk memberi salam ala korea pada mereka.


"Maaf aku merepotkan" kata miskha perlahan. Penampilan miskha di perhatikan oleh sepasang suami istri itu dengan wajah kagum dan sambutan senyum hangat serta sapa dari mereka.


"Ah tak apa aku tidak merasa kerepotan .. Kau cantik sekali.. Aku sangat kagum padamu." Kata ibu seokyin sdmangat.


"Halo adriana miskha... Aku ayahnya seokyin" sapa ayah seokyin. Miskha tersenyum lalu berkata, "uncle.. Bagaimana kabarmu?" .


Ayah seokyin tersenyum ramah, "mari kita masuk dulu.." .


Lalu mereka masukkedalam rumah dan berbincang bincang hangat.


"Bagaimana kabar orang tua mu anna ? Ah boleh ya kalo uncle panggil anna... ?" Tanya ayah seokyin. Ibu seokyin sibuk menata meja makan.


"Kedua orang tuaku sudah meninggal di paris beberapa tahun yang lalu. Sebelum aku masuk ke universitas." Jawab miskha seadanya dengan senyum dan nada suara yang santai.


Orang tua seokyin sontak terkejug bahkan ibunya seokyin hampir melepaskan piring dari genggamanya.


"Ah maaf ya.. Aku hampir saja memecahkan ini." Kata ibi seokyin perlahan.


"Mereka kecelakaan diparis saat ayahku .. Alex mengendarai mobilnya.. Ibuku mengalami serangan jantung jadi ayah panik dan mengantarkannya ke dokter. Namun tak sampai di rumah sakit mereka meninggal dunia, yang aku dengar dari pihak kepolisian dan saksi mata.. Ayahku melaju sangat cepat hingga membanting stir saat di terowongan dan melepas kemudinya. Aku saat ini dirumah nenek jadi tidak tahu keadaan percisnya seperti apa..." Kata miskha tegar sambil tersenyum.


Ibu seokyin menghampiri miskha dan memeluknya. "Aku bangga padamu nak.." Kata ibu seokyin .


"Kau anak yang kuat dan hebat miskha.." Kata ayah seokyin sambil berjalan menghampiri miskha.


Saat mereka saling berpelukan dan menenangkan miskha usai bercerita. Tak sadar seokyin sudah melihatnya, dan berdiri beku tanpa kata. Tak paham apa yang terjadi di rumahnya, ia lalu berkata dalam hatinya "miskha ? Uncle alex ?" .


"IBU.. AYAH ?" kata seokyin.


Miskha, ibunya seokyin dan ayahnya mebalikkan badan dan melihat ke sumber suara.


Miskha terkejut namun mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Miskha ? Kau ?" Lanjut seokyin.


●●●


Terima kasih sudah mendukung novel ini. β™₯β™₯β™₯