
Ven ikut bersama Daisy untuk berkeliling desa. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Dipo yang sedang mencari Ven. Mereka mencari tempat untuk duduk, namun tiba-tiba Dipo mendengar panggilan dari Mika. Dipo kembali ke rumah dengan cepat. Sebelum pergi, Dipo memberikan sebuah bingkisan dari Kerajaan Aisha kepada Ven.
Daisy, yang melihat kejadian ini, merasa bingung. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.
Ara, yang sedang tertidur, tiba-tiba merasa tubuhnya panas. Meskipun tidak menyadarinya, Ven mengajak Ara jalan-jalan. Namun, di tengah perjalanan, Ara mulai merasakan sakit kepala dan tubuhnya terasa panas. Ven, menyadari bahwa Ara pingsan, segera menggendongnya di belakangnya.
Ketika Ven menyadari kondisi Ara, ia merasakan panas yang memancar dari tubuhnya. Khawatir, Ven membawa Ara kembali ke rumahnya. Setibanya di sana, Ven membaringkan Ara di tempat tidurnya. Ia segera mengubah kamar Ara menjadi dingin dengan panah esnya.
Ven berkata,
"Kamu terkena demam, Ara. Kamu jangan bangun dulu. Kamu harus beristirahat."
Ara memberitahunya,
"Bagaimana denganmu? Kamu kan selalu butuh bantuan."
Namun, Ven memotong pembicaraan Ara dan menekankan pentingnya kesehatan Ara. Ara pun akhirnya kembali tertidur, diiringi oleh Ven yang berusaha membuat kamar menjadi lebih dingin untuk membantu dalam proses penyembuhan Ara
Ara baru saja bangun tidur dan mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ven memanggilnya untuk bergabung di kamar. Ara, yang melihat pintu terbuka, segera memutuskan untuk berpakaian. Ara sedikit terdistraksi karena Ven membuka bajunya, namun ketika dia diam, Ven kembali mengetuk pintu. Ara menjawab panggilan itu dan bergabung dengan Ven untuk sarapan.
Ara, yang masih tidak yakin, membesarkan pipinya dan wajahnya memerah. Ven memberitahunya,
"Kakakku yang merawatmu saat kamu sakit. Aku tidak akan sembarangan melihat tubuh seorang wanita."
Ara merasa lega mendengar penjelasan Ven, dan mereka melanjutkan sarapan mereka dengan damai.
Ven sedang berlatih untuk memulihkan tangannya yang sudah sembuh. Tiba-tiba, seekor burung elang muncul dan membawa surat di kakinya. Ven dengan hati-hati melepaskan gulungan surat tersebut dan membacanya. Isinya adalah undangan dari Dipo dan Mika, yang memberi tahu mereka bahwa Mika sedang hamil.
Ven segera berbagi kabar gembira ini dengan Ara, dan keduanya merasa sangat senang. Mereka diberi kartu undangan untuk merayakan berita bahagia ini di rumah Dipo dan Mika. Daisy, yang mendengar berita tersebut, cepat mencari hadiah untuk mereka. Mika diberikan buku tentang cara merawat anak, sementara Dipo diberikan mainan anak-anak kecil. Ven dan Ara tertawa bersama karena kakak mereka memberikan hadiah yang sesuai dan penuh perhatian.
Pada malam hari, Ven dan Ara pergi ke pesta perayaan untuk merayakan kehamilan Mika.
Pada malam harinya, Ven, Ara, Daisy, Josse, dan Airi pergi ke rumah Dipo dan Mika. Mereka disambut dengan hangat oleh Ratu Elara, yang kini telah memiliki cucu. Ratu Elara tertawa dengan senang hati mendengar Ven dan Ara berkata bahwa sekarang dia sudah punya cucu. Mereka semua diizinkan masuk untuk bertemu Mika dan Dipo.
Agus dan Yuuka memanggil Ven dan Ara saat mereka sedang berjalan menuju rumah Dipo dan Mika. Agus dengan iseng memukul kepala Ven dan berkata, "Sejak kapan kamu jadi hantu?" Ven yang kesal menjawab, "Sejak kapan aku mati?" Mereka semua tertawa dan bersama-sama menuju ke rumah Dipo dan Mika.