
Dua hari setelah insiden yang mengerikan, Mika, Ara, dan Yuuka pulih di rumah sakit. Mereka terpaksa mendapatkan perawatan karena tidak sengaja menghirup asap kebakaran di markas penculikan. Begitu mereka kembali ke rumah teo, mereka segera mengungkapkan rasa terima kasih pada Ven.
Namun, Ven dengan tegas menolak ucapan terima kasih itu.
"Kalian tidak perlu berterima kasih padaku," ucapnya sambil menatap amon yang berdiri di sampingnya.
"Terima kasih lah amon yang telah menyelamatkan kalian. Tanpa bantuan dan keberaniannya, mungkin kita tidak akan berhasil."
amon, meskipun agak malu, tersenyum dan menggelengkan kepala. Baginya, itu adalah tugasnya untuk melindungi teman-temannya, dan dia senang bahwa semuanya berakhir dengan baik.
Mika, Ara, dan Yuuka pun mengerti betul. Mereka mengucapkan terima kasih pada amon dengan hangat, merasa bersyukur atas pengorbanan dan keberanian yang telah ditunjukkan oleh teman mereka ini. Dalam saat-saat sulit seperti itu, mereka menyadari betapa pentingnya memiliki teman sejati yang selalu siap melindungi dan berada di samping mereka
Para warga desa segera mendengar tentang insiden penculikan yang hampir menimpa Mika, Ara, dan Yuuka. Mereka merasa bersyukur karena ketiganya selamat dan kembali dengan selamat ke rumah teo. Untuk mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang telah diberikan oleh Demon Lord Dipo, teo, amon, dan Ven, para warga desa memutuskan untuk mengadakan pesta perayaan.
Rumah teo dipenuhi dengan kebahagiaan dan tawa. Meja-meja dipenuhi dengan hidangan lezat yang disiapkan oleh warga desa sebagai ungkapan terima kasih mereka. Mika, Ara, dan Yuuka masih dalam tahap pemulihan, tetapi mereka ikut merayakan peristiwa tersebut.
Demon Lord Dipo, yang biasanya dikenal sebagai sosok yang misterius dan serius, juga ikut berpartisipasi dalam pesta tersebut. Dia tersenyum dan bercanda dengan para warga desa, menunjukkan sisi lebih hangat dari dirinya.
amon, yang merupakan pahlawan di mata warga desa karena aksinya yang berani, merasa malu dengan semua perhatian yang diterimanya. Namun, dia juga merasa bahagia bisa berbagi momen bahagia ini dengan teman-temannya.
Ven, meskipun awalnya enggan, akhirnya juga terlibat dalam pesta tersebut. Dia menikmati makanan dan obrolan dengan teman-temannya, dan senyumnya yang hangat terpancar.
Pesta perayaan menjadi momen yang istimewa bagi semua orang. Mika, Ara, Yuuka, Demon Lord Dipo, teo, amon, dan Ven merasa lebih dekat satu sama lain setelah menghadapi bahaya bersama. Mereka tahu bahwa persahabatan mereka adalah salah satu hal yang paling berharga dalam hidup mereka, dan mereka berjanji untuk selalu saling melindungi dan mendukung satu sama lain.
Malam itu, bulan purnama bersinar begitu cerah di langit, walau tidak lagi diwarnai oleh pertempuran dan transformasi mengerikan Ven menjadi Ace. amon duduk sendirian di tepi taman, menikmati keindahan bulan yang sempurna.
Tiba-tiba, Yuuka muncul dan bergabung dengannya. Mereka berdua duduk dalam ketenangan, menikmati keindahan bulan yang menghiasi langit. Akhirnya, dengan lembut, Yuuka mengungkapkan perasaannya kepada amon.
"Bulan ini benar-benar indah, bukan?"
amon setuju dengan senyum.
"Iya, walaupun aku agak sedih gak melihat bulan yang biasa di tebas oleh veleriting kampret sang pemotong bulan itu."
Senyum kecil terukir di wajahnya saat dia mengenang kenangan masa lalu.
Di tempat lain, Ven secara tidak sengaja bersin di depan Ara. Dia merasa seolah ada yang membicarakan namanya, meskipun setelah mencari-cari, dia tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Mungkin itu hanya perasaannya sendiri.
Yuuka, yang masih bingung dengan istilah 'veleriting', akhirnya mengetahui nama asli Ven dari amon. Dia berjanji untuk merahasiakan hal ini, memahami pentingnya privasi. Sementara itu, Ara masih belum tahu nama asli Ven, dan mereka memutuskan untuk tetap merahasiakannya.
Tak jauh dari sana, teo dan Demon Lord Dipo memperhatikan adegan manis amon dan Yuuka dari kejauhan. Dengan senyum, Demon Lord Dipo mengabadikan momen tersebut dalam sebuah foto.
"Dipo, bagaimana keadaanmu?" tanya Mika, memulai pembicaraan tentang insiden kemarin, di mana Ven memberikan kesempatan kepada amon untuk bertarung tanpa instruksi dari Demon Lord Dipo.
Tanpa disadari, Mika menemukan informasi tentang nama asli Ven. Demon Lord Dipo juga sudah mengetahuinya, hampir saja ia menyebutnya, "Veleri....," sebelum Mika dengan cepat menutup mulut Dipo. Mika mengerti bahwa nama adalah privasi yang penting.
Tetiba, Mika tanpa sengaja menindih tubuh Dipo dalam keadaan terburu-buru. Beruntung, tidak ada yang menyaksikan insiden lucu ini.
Namun, mereka tidak menyadari bahwa Ven berada di atas mereka di kamar, membuka jendela diam-diam dan mengambil gambar mereka. Rahasia nama Ven masih aman, setidaknya untuk saat ini.
Setelah berbicara dengan teo tentang kekuatan Taka-nya, Ven mengucapkan terima kasih pada teo karena telah mengajarkan begitu banyak hal tentang transformasi Ace dan Taka. teo pergi, dan Ara datang untuk bertemu dengan Ven, bertanya mengapa keduanya begitu dekat dengan teo.
Ara pun terkejut mendengar penjelasan dari Ven,
"Karena dalam diriku terdapat Ace dan Taka, yang merupakan murid dan anak dari teo," kata Ven. "Saya bersyukur memiliki seorang ayah sekaligus guru berpedang."
Ara pun merasa sedih, sejak kecil dia sudah menjadi sebatang kara dan selalu ditindas oleh warga desa kumuh. Bahkan adiknya dibunuh oleh penjahat yang mereka temui. Ara menangis, dan Ven dengan refleks memeluknya, berkata, "Sekarang kamu sudah tidak sendirian lagi. Ada Dipo sang Demon Lord, Mika dari Kerajaan Aisha, amon yang merupakan teman masa kecilku, serta Yuuka yang kutemui di kota saat dia kelaparan."
Ven diam-diam mengambil busur Taka-nya tanpa berubah sepenuhnya menjadi Taka, hanya
menggunakan busur silangnya. Dia menembakkan panah api dan panah es ke langit, menciptakan sebuah kembang api yang luar biasa. Setidaknya itu bisa menghibur Ara. Tanpa disadari oleh Ven, amon, teo, Mika, Dipo, dan Yuuka melihat keluar dan menyaksikan kembang api yang ditembakkan oleh Ven.
Ara akhirnya memberanikan diri untuk memanggil nama asli Ven, "Vel... Veleri... Veleriting," dengan senang hati karena ada seseorang yang memanggil nama aslinya. Ven sangat senang sehingga tidak sengaja menggerakkan Taka di atas kepala orang dan membuat taman serta tanah yang diinjak orang merasakan kombinasi dingin dan panas. Ven lalu memutuskan untuk melompat dan membawa Ara berjalan-jalan keliling kota sambil terus menembakkan panah Frostfire Taka ke arah langit.
teo, Mika, amon, dan Demon Lord Dipo tertawa heboh, mengomentari bahwa untungnya bukan kekuatan Ace yang digunakan oleh Ven, sambil menikmati momen kebersamaan yang penuh kebahagiaan itu.
Setelah Ven dan Ara berkeliling kota dan peluru takanya telah habis, Ven memilih untuk beristirahat. Namun, Mika ingin berbicara dengan mereka berdua tentang nama asli Ven dan bagaimana Ara mengetahuinya. Mereka berkumpul di taman dan berbagi cerita.
Ara menjelaskan bagaimana dia mendengar percakapan antara amon dan Yuuka, di mana amon menyebut Ven sebagai
"Veleriting, sang pemotong bulan." Ara yang menjelaskan dan bertanya kembali ke Ven siapa yang memberi nama tersebut.
Mika dengan serius bertanya siapa nama ibunya. Ven dengan spontan menjawab "Orly." Namun, dia menegaskan bahwa ibunya telah tiada beberapa tahun yang lalu.
Mika akhirnya menyelesaikan teka-teki tentang nama Ven. Ven meminta mereka untuk merahasiakannya dari orang lain, hanya Mika dan Ara yang boleh tahu. Dia juga meminta mereka untuk memanggilnya "Ven" jika ada orang asing yang mendengarnya.
Selanjutnya, Mika ingin tahu alasan di balik perasaan Ara terhadap Ven. Ara dengan tulus menjawab bahwa dia menyukai Ven karena kebaikan, kekuatan, dan perhatian yang dimilikinya terhadap orang-orang di sekitarnya, meskipun terkadang Ven menggunakan transformasi Ace-nya untuk membelah bulan setelah pertempuran. Dan yang lebih penting lagi, mereka telah mendapat restu dari teo.
Ara tertawa, menyebut bahwa mungkin sepuluh ronde saja tidak akan cukup untuk bermain sampai pagi. Mika terkejut parah, dan dia merasa tercampur aduk mendengar penjelasan Ara. Yang paling penting, mereka telah mendapat restu dari teo. Perasaan Mika pun tercampur aduk, dan dia segera kembali ke kamarnya, membiarkan pikirannya melayang dalam seakan badai emosi.