
Ven terbangun dari tidurnya, masih setengah sadar. Tanpa pikir panjang, dia segera pergi ke pemandian. Di sana, dia bertemu dengan Dipo dan Amon, yang juga sedang berada di tempat yang sama.
"Dari mana saja kamu, Ven?" tanya Dipo, dengan nada yang penuh keraguan.
Ven mencoba memberikan jawaban yang jujur kali ini. "Aku hanya tertidur di kamarku," ujarnya.
Tapi Dipo tidak percaya sepenuhnya. Wajahnya menunjukkan rasa ketidakpuasan. "Jawab dengan jujur, atau aku ceburin kamu ke kolam air es," ancam Dipo dengan wajah kesal. Dia tampak frustrasi karena Ven selalu saja menghilang.
Merasa tekanan dari Dipo, Ven memutuskan untuk mengungkapkan kebenaran. "Baiklah," ujarnya dengan hati-hati, "aku adalah seorang reinkarnasi. Lagu-lagu dan kekuatan yang kumiliki berasal dari kehidupan sebelumnya."
Dipo dan Amon terdiam. Mereka tidak bisa mempercayai apa yang mereka dengar. Itu adalah pengakuan yang benar-benar tak terduga dan mengejutkan. Mereka harus mencerna semua informasi ini.
Setelah beberapa saat berlalu, Dipo akhirnya berkata, "Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Ini benar-benar luar biasa."
Amon menambahkan, "Kami akan mendukungmu, Ven. Kami hanya perlu sedikit waktu untuk memproses semuanya."
Ven merasa lega setelah mengungkapkan kebenaran ini. Dia tahu bahwa teman-temannya akan berada di sisinya, bahkan dalam situasi yang tak terduga seperti ini. Mereka akan menghadapi masa depan bersama-sama, tanpa peduli apa pun yang mungkin terjadi.
Mereka bersepakat untuk merahasiakan hal ini dari Mika dan yang lainnya. Amon bahkan diancam oleh Ven, "Jika rahasiamu bocor, aku tidak akan sungkan untuk melemparkanmu ke bulan!" Amon hanya bisa menelan ludah dan mengangguk setuju.
Ven kembali ke kamarnya setelah bertemu dengan Dipo, Mika, dan rekan-rekannya di pemandian. Di sana, dia sudah ditunggu oleh Ara, Josse, dan Airi, yang ingin mengajaknya pergi ke kota dan mengunjungi rumah baru Dipo dan Mika.
Mereka berempat bersiap-siap dan menuju rumah pasturi baru Dipo dan Mika. Namun, sebelum mereka tiba di sana, mereka dikepung oleh sekelompok anak kecil yang sangat terkagum-kagum dengan Ven dan Ara yang menyanyi di panggung sebelumnya. Anak-anak itu meminta tanda tangan mereka dengan bersemangat.
Tanpa ragu, Ven dan Ara dengan ramah menyelesaikan permintaan para penggemar muda mereka. Mereka menandatangani buku catatan dan bahkan mengambil beberapa foto bersama anak-anak tersebut. Mereka berdua sangat bersahabat dan bersahaja, membuat anak-anak itu sangat senang.
Setelah bersenang-senang dengan anak-anak tersebut, Ven dan Ara melanjutkan perjalanan mereka keliling kota. Mereka akhirnya mencapai rumah baru Dipo dan Mika. Mika dan Dipo dengan hangat menyambut mereka dan mengundang mereka untuk menginap di rumah mereka.
Ven, dengan curiga terhadap kejutan apa yang mungkin menantinya, setuju dengan tawaran mereka. Dia memilih untuk tetap berpura-pura tidak mengetahui rencana apa pun yang mungkin sedang disusun untuknya.
Setelah sampai di rumah Dipo dan Mika, mereka diberi sendal khusus rumah dan diajak berkeliling untuk melihat rumah tersebut. Ven dan Ara sangat terkesan dengan rumah yang cantik dan nyaman itu.
Mika dan Dipo kemudian menunjukkan kamar tidur tempat Ven dan Ara akan menginap. Ven sedikit curiga ketika dia melihat hanya ada satu tempat tidur di kamar itu, tetapi Ara tampaknya setuju dengan rencana ini.
Pada tengah malam, Ven yang ingin pergi ke kamar mandi mendengar erangan dari kamar Mika dan Dipo. Dia memilih untuk mengabaikannya dan pergi ke kamar mandi dengan cepat. Namun, saat dia kembali ke kamarnya, erangan Mika masih terdengar. Ara yang terbangun berbicara dengan senyum di wajahnya,
"Wah, romantis sekali mereka. Mereka sangat bersemangat."
Ven, yang sebenarnya masih terjaga karena suara itu, memilih untuk tidak berkomentar dan duduk di tempat tidurnya sampai suara tersebut menghilang. Namun, Ven akhirnya tidak bisa tidur semalaman karena suara erangan Mika terus terdengar.
Dipo, sambil bergumam, berbisik pada dirinya sendiri, "Ku kira anak reinkarnasi ternyata dia bisa tahu juga tentang yang kami lakukan semalam." Dipo tersenyum tipis, merasa agak terkejut bahwa Ven memiliki ketajaman indra yang luar biasa.
Sambil mengaduk-aduk bahan-bahan, Mika memperhatikan Ara dengan wajah penasaran.
"Ara, kenapa sih Ven kok kayaknya tidak tidur semalaman? Apakah kemarin kalian bermain sampai pagi?"
Ara tersenyum dan menjawab dengan jujur,
"Tidak , sebenarnya bukan karena bermain. Lebih ke... mungkin karena suara eranganmu semalam. Itu seperti... insting dari diriku juga, mungkin."
Mika mendengar penjelasan Ara dan wajahnya memerah. Dia segera meminta,
"Eh, jangan ceritakan kejadian semalam itu, ya? Aku malu..."
Di tempat lain, Dipo yang sedang bermain dengan Josse dan Airi mendengar obrolan Mika dan Ara. Dia tertawa geli sambil bermain.
Sementara itu, Ven, yang masih setengah sadar, tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan secara tak sengaja terjatuh dari tangga. Mika, Ara, dan Dipo terkejut melihatnya jatuh.
Mika dan Ara berseru hampir bersamaan,
"Ven!"
Dipo dengan sigap membantu Ven berdiri.
"Kamu baik-baik saja, Ven?"
Ven mengangguk lemah, mencoba mengumpulkan kekuatannya. "Ya, ya... aku baik-baik saja, hanya sedikit terkejut."
Dipo tersenyum ramah.
"Baiklah, ayo, mari kita mandi bersama. Itu akan membuatmu lebih segar."
Ven mengangguk dan mengikuti Dipo ke tempat mandi di rumah Dipo. Dia masih merasa sedikit pusing akibat terbangun secara mendadak, tapi dia bersyukur karena Dipo ada di sana untuk membantunya. Sambil bermandi bersama, mereka berdua menghabiskan waktu dengan tawa dan obrolan ringan untuk menghilangkan ketegangan akibat kejadian tadi pagi.
Sementara itu, di ruang makan, Mika, Ara, dan Dipo sudah memulai sarapan pagi. Suasana ceria terus mengalir meskipun ada kejadian yang agak memalukan tadi pagi.
Mereka melanjutkan sarapan pagi dengan ceria, membagi tawa dan canda di meja makan. Meskipun ada momen kejutan dan keceriaan, Ven, Ara, Mika, dan Dipo merasa semakin dekat satu sama lain. Itulah kekuatan ikatan yang telah terjalin di antara mereka seiring berjalannya waktu.
Dipo, sambil bergumam, berbisik pada dirinya sendiri, "Ku kira anak reinkarnasi ternyata dia bisa tahu juga tentang yang kami lakukan semalam." Dipo tersenyum tipis, merasa agak terkejut bahwa Ven memiliki ketajaman indra yang luar biasa.
Mereka melanjutkan sarapan pagi dengan ceria, membagi tawa dan canda di meja makan. Meskipun ada momen kejutan dan keceriaan, Ven, Ara, Mika, dan Dipo merasa semakin dekat satu sama lain. Itulah kekuatan ikatan yang telah terjalin di antara mereka seiring berjalannya waktu.