
Setelah pesta selesai dan kegembiraan masih terasa di udara, Teo memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Sebelum pergi, ia ingin memberikan sesuatu sebagai tanda penghargaan dan kenangan untuk Dipo, Mika, dan seluruh teman-temannya.
Teo mengeluarkan sebuah bingkisan yang dibawanya dari balik jubahnya. Di dalamnya terdapat sejumlah objek kecil yang bermakna. Ia menyampaikan hadiah-hadiah ini kepada Dipo dan Mika dengan senyum tulus di wajahnya.
"Dipo, Mika, ini adalah hadiah kecil sebagai ungkapan terima kasihku atas kerja keras kalian dalam membangun rumah pasturi baru. Semoga kalian selalu di berkahiku," ujar Teo dengan hangat.
Dipo dan Mika menerima hadiah tersebut dengan penuh rasa terharu. Mereka tahu bahwa setiap objek yang diberikan oleh Teo memiliki arti tersendiri. Itu adalah simbol dari perjuangan dan kebersamaan mereka.
Teo juga memberikan sebuah foto kenangan untuk mereka semua. Foto tersebut menampilkan semua orang yang terlibat dalam proyek membangun rumah pasturi baru, tersenyum bahagia di depan bangunan yang baru selesai.
"Semoga foto ini selalu mengingatkan kalian akan kebersamaan dan kekuatan yang kalian miliki bersama. Kalian telah melakukan hal besar, dan aku sangat bangga menjadi bagian dari ini semua," ujar Teo sambil tersenyum.
Setelah memberikan hadiah-hadiah tersebut, Teo berpamitan dan meninggalkan rumah Dipo dan Mika dengan hati yang penuh haru. Ia tahu bahwa kebersamaan mereka adalah sesuatu yang istimewa dan akan selalu diingatnya.
Dipo, Mika, dan teman-teman mereka duduk bersama, mengamati hadiah-hadiah dari Teo dengan penuh rasa terima kasih. Mereka merasakan betapa beruntungnya mereka memiliki seseorang seperti Teo dalam hidup mereka, yang selalu memberikan dukungan dan cinta.
Mereka akan menjaga hadiah-hadiah tersebut sebagai kenangan dari waktu yang istimewa ini, sebagai tanda dari ikatan yang kuat di antara mereka semua. Kebersamaan mereka adalah harta yang tak ternilai, dan mereka akan melangkah maju dengan keyakinan bahwa bersama-sama, mereka dapat mengatasi segala rintangan yang mungkin datang.
Setelah perpisahan dengan Teo, mereka semua kembali ke istana dengan hati penuh kenangan. Kelelahan fisik dan emosional akhirnya mulai terasa, dan para teman memutuskan untuk mengambil istirahat siang sejenak.
Ven, dengan hati yang penuh rasa syukur atas keberhasilan perayaan tersebut, berjalan menuju kamarnya dengan langkah lemah. Namun, ketika ia melangkah melalui koridor yang tenang, sensasi aneh mulai menyelimuti dirinya. Kepalanya terasa berat, dan ia merasa seakan-akan ada suatu panggilan yang tidak dapat diabaikan.
Ven memegang kepalanya dengan lembut, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Ia berdiri sejenak, mencoba mendengarkan dengan hati-hati.
"Siapa yang memanggilku?" batin Ven, matanya memandang sekeliling koridor yang tenang.
Namun, tak ada jawaban yang terdengar. Hanya sunyi yang menyambutnya. Tiba-tiba, di dalam keheningan tersebut, terdengar suara lembut yang bergaung di dalam pikirannya.
"Ven..."
Suara itu begitu lembut, seakan tiupan angin. Namun, memiliki kehadiran yang tak terbantahkan.
Ven membelalakkan matanya, mencoba mencari sumber suara itu. Namun, tak ada apa-apa, kecuali koridor kosong di sekelilingnya.
"Siapa?" serunya pelan, mencoba memahami apa yang terjadi.
Namun, suara itu hanya terus memanggilnya, seperti mendesak untuk diikuti.
Ven memutuskan untuk mengikuti panggilan itu. Dengan hati-hati, ia berjalan menuju arah suara itu berasal. Rasanya seperti ia dipandu oleh kekuatan tak terlihat.
Sesaat kemudian, ia berhenti di depan pintu kuno yang telah lama tak terbuka. Pintu itu bergetar pelan, seakan-akan merespons kehadirannya.
"Apakah ini... tempatmu?" bisik Ven kepada suara yang masih memanggilnya.
Tiba-tiba, pintu itu terbuka dengan perlahan, mengungkapkan ruangan gelap yang tersembunyi di baliknya. Ven memandang ke dalam dengan hati-hati, tak tahu apa yang menantinya di sana.
Tapi panggilan itu semakin kuat, dan ia tak bisa mengabaikannya. Dengan langkah hati-hati, Ven memasuki ruangan gelap tersebut, siap menghadapi apa pun yang menantinya di dalam
Dengan hati-hati, Ven melangkah masuk ke dalam ruangan gelap. Suara misterius terus memanggil namanya, memandu langkahnya melalui kegelapan. Meskipun hatinya penuh dengan ketidakpastian, ia merasa bahwa panggilan itu tidak membawa ancaman.
Tiba-tiba, cahaya samar-samar mulai menyinari ruangan itu, mengungkapkan detail-detail yang tersembunyi sebelumnya. Ven mengamati sekelilingnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Tiba-tiba, di tengah cahaya yang semakin terang, sebuah siluet muncul. Suara misterius yang memanggilnya tampaknya berasal darinya. Siluet itu mulai membentuk sosok yang lebih jelas.
"Siapa kamu?" tanya Ven dengan suara hati-hati.
"Ven," kata sosok itu dengan suara lembut yang terasa begitu akrab,
"kau telah menjalani perjalanan yang panjang dan penuh tantangan."
Ven terkejut. Bagaimana sosok ini tahu tentang perjalanannya? Namun, ia merasa ketenangan di sekitar sosok tersebut.
"Saya adalah penjaga masa depan, dan kamu adalah bagian dari takdir yang besar," lanjutnya.
Ven mencoba memahami kata-kata yang diucapkan oleh sosok ini. Takdir yang besar? Apakah artinya?
"Sekarang, waktunya bagi kamu untuk memahami peranmu yang sebenarnya. "
kata sosok tersebut, memandanginya dengan bijak.
Tiba-tiba, sebuah cahaya terang memenuhi ruangan. Ven merasakan dirinya terangkat dan diselimuti oleh cahaya yang membingungkan. Ketika cahaya tersebut mereda, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dalam ruangan gelap itu.
Ven berdiri di tempat yang sama sekali berbeda. Di sekitarnya adalah pemandangan yang tak terbayangkan, dengan bintang-bintang yang bersinar terang di langit yang tak berujung. Ia merasa seakan-akan berada di tempat yang di luar ruang dan waktu.
Sosok yang mengawalnya masih bersamanya, tersenyum dengan lembut.
"Inilah tempat di mana masa depan diciptakan, Ven. Dan kamu memiliki peran penting di dalamnya."
Sosok di hadapannya memancarkan aura yang akrab, seolah-olah mereka telah saling mengenal sejak lama. Ven memandangnya dengan tatapan campuran antara keterkejutan dan pengakuan.
"Saya adalah dirimu, Ven, " kata sosok itu dengan senyuman hangat.
"Dulu, aku adalah seseorang yang hidup dalam keterbatasan dunia manusia, bekerja di kantor dan menjadi pemain game yang hebat. Lagu-lagu yang pernah kau nyanyikan adalah bagian dari diriku yang dulu."
Ven tak bisa menyembunyikan keheranannya. Bagaimana mungkin?
"Ketika aku meninggalkan dunia ini, aku berjanji untuk kembali saat saatnya tiba. Kini, saatnya telah tiba," lanjut sosok itu.
"Kau adalah reinkarnasiku, Ven. Bersama-sama, kita memiliki misi yang besar."
Ven mengangguk, hatinya penuh dengan tekad. Meskipun semuanya terasa begitu besar dan berat, ia merasa seakan-akan ini adalah takdirnya.
Sosok Ven yang dulunya memandang ke langit yang berkilauan.
"Kita akan membawa cahaya ke dalam kegelapan, Ven. Kita akan mengubah takdir dan membantu menciptakan masa depan yang lebih baik."
Setelah memberikan petunjuk tentang kekuatan Ace dan Taka yang berasal dari game, sosok itu segera pergi, waktu terbatas bagi mereka untuk berbicara lebih lama.
Ven pun kembali ke tempat peristirahatan. Di saat yang bersamaan, para anggota keluarga kerajaan dan Ara panik. Ven menghilang lagi untuk kedua kalinya.
Mereka semua berkumpul, mencoba mencari petunjuk atau jejak Ven. Mika memegang erat tangan Dipo, wajahnya penuh kekhawatiran. Ratu Elara mencoba menenangkan semua orang dengan bijak.
"Ara, apakah kau tahu apa yang terjadi?" tanya Agus dengan nada cemas.
Ara menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa Ven mendengarkan panggilan hatinya."
Mereka semua merasa campur aduk. Mereka hanya bisa berdoa agar Ven selamat dan segera kembali. Takdir Ven dan misinya yang besar membawanya ke tempat-tempat yang tak terduga. Dan kali ini, mereka harus menunggu dengan sabar dan keyakinan bahwa Ven akan kembali dengan kekuatan baru.