
Mereka bersiap untuk kembali ke Kerajaan Aisha, yaitu rumah Mika. Mereka berterima kasih pada semua warga atas sambutan hangat dan izin untuk menginap. Sebelum berangkat, warga desa memberikan beberapa hadiah. Dipo diberikan tongkat ajaib baru untuk memperkuat sihirnya, sementara Ven dan Amon menerima senjata baru, sebilah kunai untuk Amon dan busur silang yang telah dimodifikasi untuk Ven sebagai hadiah ulang tahun dan ucapan Terima kasih, memungkinkan pelurunya tak terbatas dan akurasi meningkat.
Mika, Ara, Josse, Airi, dan Yuuka diberi banyak makanan khas kota musim panas sebagai bekal. Mereka mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka dengan tulus. Kemudian, Dipo dan teman-temannya berpisah dari warga desa dan memulai perjalanan kembali ke Kerajaan.
Di perjalanan, Ven sibuk membaca buku yang diberikan oleh Teo Sensei. Ia mempelajari jurus baru sambil memakan sebuah paprika. Mika yang melihat ini sangat kesal karena Ven memakan paprika, dan dia mendekati Ven sambil tersenyum kesal dan memegang bahu ven dengan kencang dan secara tidak sengaja. Mika terkejut ketika ia menyadari bahwa buku yang Ven baca dapat dibaca juga olehnya. Ternyata, buku itu berbicara tentang pentingnya paprika dalam pelatihan mereka.
Mereka akhirnya tiba di rumah Teo Sensei untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk kembali ke Kerajaan Aisha.
Mereka kembali ke rumah Teo Sensei untuk beristirahat. Teo pun terkejut melihat kemampuan baru Ven dalam mengendalikan kekuatan Ace dan Taka-nya.
Ven menunjukkan lonceng yang diberikan oleh kakaknya sebagai bukti kemampuannya. Teo Sensei terkejut ketika ia menyentuh pedang Moonlight milik Ven dan merasakan panas yang membakar. Ia segera menutup pedang itu kembali, memberikan penjelasan tenang atas apa yang baru saja terjadi.
Tak disangka, Ven juga terkejut ketika Teo Sensei menunjukkan pengetahuannya tentang pedang yang terbakar. Teo Sensei memiliki rencana untuk megajak Ven ke sebuah toko senjata jika mereka memiliki waktu luang.
Teo Sensei juga bertanya mengapa Ven akhir-akhir ini menyukai paprika. Anak-anak kecil yang ditemui oleh Ven mengira bahwa Ven dan Ara sudah menikah, membuat Ven terkekeh. Ven memberikan penjelasan bahwa mereka belum menikah dan bahwa itu hanya kesalahpahaman. Teo Sensei tersenyum dan menawarkan paprika.
Mika, yang mendengar percakapan itu, juga ikut tertawa.
Ven pun memberi tahu Teo Sensei agar tidak menyajikan paprika kepada Mika, karena jika Mika memakan paprika, Ven tahu Mika akan menguncinya lagi. Mereka semua tertawa bersama-sama.
Di antara latihan dan petualangan mereka, Ven dan Teo Sensei memiliki momen-momen santai yang mereka habiskan bersama. Salah satunya adalah ketika mereka berdua pergi memancing di danau terdekat. Ven selalu terpesona oleh kebijaksanaan dan keterampilan Teo Sensei dalam memancing.
Suatu hari, ketika mereka sedang duduk di bibir danau, Ven bertanya,
"Sensei, apa rahasia sukses dalam memancing?"
Teo Sensei tersenyum,
Ven mengangguk serius, mencoba memahami pelajaran yang diberikan Teo Sensei. "Saya akan mengingat itu, Sensei."
Mereka sering menghabiskan waktu di kuil kuno tempat Teo Sensei belajar seni bela diri pertamanya. Ven mendengarkan dengan penuh perhatian saat Teo Sensei berbagi kisah-kisah dari masa muda dan perjalanannya menuju kebijaksanaan saat ini.
Pada suatu hari, Ven bertanya, "Sensei, apa hal terpenting yang Anda pelajari selama perjalanan Anda?"
Teo Sensei menjawab,
"Saya belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya dalam fisik, tetapi juga dalam hati dan jiwa. Memberi perlindungan pada orang yang Anda sayangi adalah tugas yang paling mulia."
Mereka juga suka berbagi cerita dan legenda dari tempat asal masing-masing. Ven mendengarkan dengan antusiasme ketika Teo Sensei menceritakan kisah-kisah pahlawan dan dewa dari negeri asalnya.
Suatu hari, Ven bertanya,
"Sensei, apa cerita favorit Anda?"
Teo Sensei tersenyum,
"Cerita favorit saya adalah tentang pahlawan yang tidak pernah menyerah bahkan di tengah badai terburuk. Itu mengajarkan kita bahwa kekuatan tekad dapat mengatasi segala rintangan."
Setiap pertemuan dengan Teo Sensei adalah kesempatan bagi Ven untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai yang mendalam. Mereka membentuk ikatan kuat yang lebih dari sekadar guru dan murid, mereka adalah teman sejati dalam petualangan hidup mereka.