
Ven sedang memikirkan hadiah untuk pernikahan Dipo dan Mika, ketika tiba-tiba Ara datang mendekatinya. Ven terkejut karena merahasiakan pernikahan Dipo dan Mika adalah prioritas utama.
Ara bertanya dengan ramah,
"Hmmm, menurutmu hadiah apa yang cocok untuk Mika ya?"
Ven menjawab dengan heran,
"Untuk Mika? memangnya Mika ulang tahun?"
Ara menjawab dengan berbisik,
"Ini tentang pernikahan Dipo dan Mika."
Ven terkejut dan bingung,
"Kamu dapat informasi itu dari mana?"
Ara menjawab sambil tersenyum,
"Mika yang memberitahu kami."
Ven segera memberitahu Ara agar tidak membicarakan hal ini kepada siapa pun. Namun, tanpa disadari, Teo Sensei mendengar pembicaraan mereka. Dia tertawa kecil di balik pintu ruang tamu, memilih untuk merahasiakan pengetahuan ini.
Saat mentari mulai menurun di cakrawala, Ven dan Amon bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berpamitan pada Teo Sensei yang telah memberi mereka banyak ilmu dan tempat beristirahat yang nyaman.
"Terima kasih, Sensei. Kami akan menggunakan pelajaran ini sebaik mungkin," ujar Ven dengan tulus.
Teo Sensei tersenyum bangga. "Saya yakin kalian akan menjadi prajurit yang luar biasa. Teruslah berlatih dengan tekun."
Sesampainya di rumah Ven, mereka disambut oleh Daisy, kakak Ven, yang tampak sangat bahagia melihat mereka. Daisy juga ditemani oleh Ara dan Mika.
Mika, yang melihat dada Daisy yang besar, merasa sedikit iri dan tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri. Ara melihatnya dan dengan cepat menutupinya dengan wajah sedikit memerah. Mereka pun semua duduk bersama dan mulai berbincang.
Malam harinya, Daisy mengajak mereka ke sebuah kota terdekat untuk mencari hiburan. Mereka berjalan-jalan, memasuki toko-toko dan menikmati hidangan lezat dari penjuru dunia. Ven dan Agus merasa senang bisa bersantai sejenak setelah perjalanan panjang mereka.
Malam itu, mereka pulang dengan hati gembira, membawa kenangan baru dan rasa persaudaraan yang semakin kuat di antara mereka. Hari-hari mereka bersama adalah bukti bahwa kekuatan sejati tidak hanya diperoleh melalui pelatihan fisik, tetapi juga melalui ikatan batin dan dukungan satu sama lain.
Josse dan Airi tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran mereka tentang masa lalu Ven setelah bertemu dengan kakaknya Ven. Daisy. Mereka memutuskan untuk meminta Daisy untuk berbagi cerita tentang masa lalu Ven dengan kakaknya.
"Maaf, Daisy Nee san . Kami tidak bisa menahan rasa penasaran kami. Bisakah kamu menceritakan sedikit tentang masa lalu Ven?" tanya Josse dengan sopan.
Daisy tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja, tidak masalah. Ven memang memiliki kisah yang menarik."
Mereka semua duduk bersama di ruang tamu, termasuk Mika dan ara yang juga ingin mendengar cerita masa lalunya dari perspektif seorang kakak dari ven
Daisy mulai menceritakan kisah tentang masa kecil Ven, bagaimana dia selalu memiliki semangat juang yang luar biasa dan tekad untuk menjadi prajurit hebat. Dia menceritakan tentang pelatihan keras yang mereka lalui bersama dan momen-momen penting dalam perkembangan kemampuan bertarung Ven.
"Ven selalu punya bakat yang luar biasa, dan dia tak pernah ragu untuk menghadapi tantangan apa pun. Namun, yang membuatnya benar-benar istimewa adalah keinginannya untuk melindungi orang-orang yang dicintainya. Itulah yang membuatnya menjadi pahlawan sejati," ujar Daisy dengan penuh kebanggaan.
Airi dan Josse mendengarkan dengan penuh perhatian, semakin mengagumi Ven setelah mendengar cerita ini. Mereka merasa terinspirasi oleh tekad dan semangat Ven untuk terus berkembang.
Setelah mendengar cerita masa lalu Ven dari Daisy, mereka semua merasa lebih dekat satu sama lain. Ven merasa terhormat bahwa kakaknya membagikan cerita tersebut, dan Josse serta Airi merasa lebih mengenal teman mereka dengan lebih baik. Mereka menyadari bahwa setiap dari mereka memiliki kisah dan perjuangan masing-masing yang membentuk mereka menjadi orang yang mereka adalah saat ini.