Find Power Of Light With Demon Lord

Find Power Of Light With Demon Lord
ch 11 pertemuan ara dengan masa lalu yang suram



Setelah mereka melanjutkan perjalanan dan menuju ke kota malam dia menemukan sebuah anak remaja dengan tubuh kecil yang bernama Ara dan segera pergi Dalam kegelapan malam, di tengah perjalanan mereka, Ven tiba-tiba merasakan kekosongan yang aneh. Dia segera menyadari bahwa Moonlight Sword yang dibawa oleh ven dan rantai Amon, dua senjata yang selalu menemaninya, telah hilang.


Ven, Dipo, dan Mika menjadi panik. Mereka tahu betapa pentingnya senjata-senjata itu bagi kekuatan tim mereka. Mereka berusaha mencari di sekitar, tetapi tidak ada tanda dari senjata-senjata itu.


Ven merasa frustasi dan tidak berdaya. Dia tahu bahwa kekuatannya terletak pada kemampuannya untuk menggunakan Moonlight Sword. Tanpa senjata itu, dia merasa terputus dari sumber daya utamanya.


Dipo mencoba menenangkan mereka.


"Kita harus tetap tenang dan berpikir dengan jernih. Kami akan menemukan solusi untuk situasi ini."


Tiba-tiba, Ven teringat pada kemampuannya untuk bertransformasi. Dia memiliki dua bentuk: Taka dan Ace. Tanpa ragu, dia memutuskan untuk menggunakan transformasi


Sementara itu, Amon juga berjuang dengan kehilangan senjata nya. Dipo melihat keputusasaan di matanya dan mengambil keputusan yang cepat. Ven memberikan Amon dua pedang yang jarang digunakan Ven dalam transformasi Taka.


Ven, sekarang berwujud Taka, membawa busur silangitu dengan tangannya yang kuat. Dia merasa kekuatan baru mengalir melalui dirinya,


memberinya keyakinan bahwa mereka dapat melanjutkan perjalanan mereka.


Dipo memberi tugas pada Amon untuk menjaga Mika karena ia tidak memiliki senjata. Ven memberitahu Amon bahwa senjata yang dipinjamkan oleh Ven akan mengurangi setengah dari kekuatan spiritual yang dimiliki Ven.


Ven menyarankan agar Amon mengisi ulang energi spiritualnya dengan sebaik-baiknya untuk memaksimalkan kekuatan pedang yang dipinjamkannya.


Setelah memberikan instruksi tersebut, Dipo dan Ven berangkat untuk mencari senjata mereka yang hilang, sementara Amon bersama Mika melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, siap untuk menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.


Dalam pengejaran senjata mereka yang hilang, Ven dan Dipo memutuskan untuk membagi wilayah untuk mencari dengan lebih efisien.


Sambil berjalan melalui lorong-lorong kota yang sepi, Dipo tiba-tiba terkenang oleh kenangan masa lalu. Dia ingat tentang seorang gadis cilik yang mereka temui sebelumnya. Gadis itu melihat mereka dengan tatapan tajam, seolah-olah mengira mereka adalah pencuri senjata.


"Dipo,"


Ven bertanya,


"kamu mengingat sesuatu?"


Dipo mengangguk,


"Ya, aku teringat tentang gadis cilik tadi. Dia mungkin mengira kita yang mencuri senjata itu. Tatapannya sangat tajam, seolah-olah dia ingin melihat ke dalam jiwa kita."


Ven memikirkan hal itu sejenak.


"Mungkin kita harus mencari gadis itu. Dia mungkin memiliki informasi tentang senjata-senjata kita."


Dengan tekad baru, mereka berputar arah menuju ke tempat mereka melihat gadis cilik tadi. Semoga dia dapat memberikan petunjuk tentang keberadaannya


Tiba-tiba, dari balik semak-semak, muncul seorang gadis dengan mata yang berkilat. Itulah dia, Ara, gadis yang telah mencuri senjata Ven dan Amon.


Dipo dan Ven melirik satu sama lain, terkejut dengan keberanian gadis itu untuk muncul di depan mereka. Dipo bertindak cepat, mencoba mengerti situasi ini.


"Dia adalah Ara," ujar Dipo kepada Ven,


"gadis yang mencuri senjata-senjata kita."


Ven memandang Ara dengan serius.


"Kenapa kamu melakukannya? Apakah ada alasan khusus?"


Ara menatap keduanya dengan mata yang tak kenal takut.


Ven dan Dipo saling pandang, mencoba memahami niat sejati Ara. "Kami tidak ingin berkelahi," ujar Ven dengan lembut, "kami hanya ingin mendapatkan kembali senjata-senjata kami."


Ara mengangguk,


"Saya mengerti. Saya akan memberikan kembali senjata-senjata itu, tapi tolong izinkan saya melihat kekuatan kalian."


Dipo dan Ven mempertimbangkan tawaran Ara. Mereka akhirnya setuju, asalkan Ara bersedia memberikan kembali senjata-senjata itu setelah pertunjukan kekuatan.


Ara dengan hati-hati meletakkan senjata-senjata itu di tanah di depan mereka. Dengan kemampuan alami yang luar biasa, dia memamerkan keterampilan bertarungnya dengan tangan kosong.


Dipo dan Ven menyaksikan dengan kagum. Mereka dapat melihat bahwa Ara adalah pejuang yang handal. Setelah pertunjukan selesai, Ara dengan rendah hati memberikan senjata-senjata itu kembali.


"Dengan senang hati, saya memberikan kembali senjata-senjata ini kepada kalian,


" ujar Ara, "terima kasih sudah mempercayai saya."


Dipo dan Ven menerima senjata-senjata mereka dengan penuh terima kasih. Mereka telah menemukan solusi damai untuk situasi ini.


Bersama-sama, mereka melanjutkan perjalanan mereka, dengan Ara bergabung sebagai teman baru dalam pencarian mereka.


Setelah menemukan kembali senjata mereka, Dipo dan Ven kembali ke tempat mereka bertemu dengan Ara. Mereka menemukan gadis itu menunggu dengan wajah tegang.


"Dipo," ujar Ven dengan suara rendah,


"mari kita mendengarkan penjelasannya."


Dipo mengangguk dan mendekati Ara. "Apa yang sebenarnya terjadi, Ara? Mengapa kamu mencuri senjata-senjata kami?"


Ara menelan ludah, tampak gugup.


"Saya... saya tidak punya pilihan lain. Saya hanya mencoba bertahan hidup di dunia ini."


Dipo menatap gadis itu dengan penuh simpati.


"Apa yang kamu maksud?"


Ara mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab dengan keadaan menangis


"Adik saya... dia dibunuh oleh sekelompok penjahat yang mencari senjata berkekuatan luar biasa. Saya tahu bahwa senjata-senjata kalian sangat kuat, jadi... saya mencuri mereka untuk dijual dan mendapatkan uang untuk membalaskan dendam adik saya."


Ven dan Dipo terdiam, terkejut mendengar kisah sedih Ara. Mereka tidak bisa membayangkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung gadis itu.


"Apa yang terjadi pada adikmu adalah hal yang sangat menyedihkan,"


ujar Ven dengan lembut,


"kami memahami bahwa kamu hanya berusaha melindungi dan membalaskan dendam adikmu."


Ara menangis, air mata jatuh ke tanah.


"Saya tahu apa yang saya lakukan salah, tetapi saya tidak punya pilihan lain."


Dipo mendekati Ara dan memeluknya dengan lembut. "Kami memahami, Ara. Kamu tidak sendiri dalam perjuanganmu. Kami akan membantumu mencari keadilan untuk adikmu."


Dengan hati yang lebih ringan, Ara bercerita lebih lanjut tentang kisahnya kepada Dipo dan Ven. Bersama-sama, mereka merencanakan langkah selanjutnya dalam perjalanan mereka, dengan tekad untuk membantu Ara membalaskan dendam adiknya.