Find Power Of Light With Demon Lord

Find Power Of Light With Demon Lord
ch 34pertemuan sang ibu dan ucapan Terima kasih



Ven terlelap dalam tidurnya, terbawa dalam alam bawah sadarnya. Di sana, dia menemui sosok yang paling ia kagumi, ibunya, Orly. Cahaya lembut menerangi sekeliling, menciptakan atmosfer yang tenang dan menenangkan.


Orly tersenyum lembut, matanya berkilau dengan kelembutan dan kasih sayang. Dia mendekati Ven dengan langkah gemulai dan memeluknya erat.


"Veleriting, anakku," bisiknya dengan penuh kasih.


"Kamu adalah cahaya dalam kegelapan, dan kekuatanmu berasal dari cinta dan kebaikanmu."


Ven merasa hatinya dipenuhi dengan hangatnya cinta ibunya. "Ibu," gumamnya dengan suara lembut,


"aku rindu akanmu.


Orly membalas dengan pelukan yang lebih erat.


"Aku selalu bersamamu, bahkan jika aku hanya hadir dalam mimpi dan kenanganmu. Ingatlah, Veleriting, kamu memiliki kekuatan untuk menghadapi apapun."


Mereka duduk bersama dalam keheningan yang penuh makna. Kata-kata tak perlu diucapkan, karena cinta di antara mereka begitu kuat dan mendalam.


Saat Ven akhirnya terbangun dari mimpinya yang indah, dia merasa terpana. Sudah pagi, dan sinar matahari menyinari ruangan dengan hangat. Namun, saat Ven mencoba bangkit, dia merasakan tubuhnya lemas dan tak berdaya. Kekuatan dari pertemuan dengan ibunya masih terasa, dan dia tak bisa bergerak.


Dia mengingat pesan terakhir Orly, dan dengan tekad yang kuat, Ven mulai memusatkan pikirannya. Dengan setiap usaha kecilnya, dia merasakan kekuatannya pulih. Akhirnya, dengan perasaan lega, dia berhasil berdiri.


Ven merasa seperti dia membawa kekuatan dan semangat baru dari pertemuan dengan ibunya. Meskipun tubuhnya masih lemah, dia siap untuk menghadapi apapun yang akan datang. Dengan langkah-hatinya yang mantap, Ven bersiap untuk melanjutkan perjalanannya dengan semangat baru dan tekad yang tak tergoyahkan.


Ven terbangun dengan perlahan, menyadari bahwa dia telah kembali ke dunia nyata. Namun, begitu dia mencoba untuk bergerak, dia dengan cepat menyadari bahwa tubuhnya tidak memberikan respon apa pun. Ketidakmampuannya untuk bergerak membuatnya merasa frustasi, tetapi kemudian pintu kamar terbuka dan Mika masuk dengan raut wajah yang khawatir.


Melihat Ven dalam keadaan seperti itu, Mika tidak bisa menyembunyikan ekspresi cemasnya. Namun, ekspresi tersebut berubah menjadi tekad dan ketenangan saat dia mendekati Ven.


Mika duduk di samping Ven dan memegang mangkuk sup hangat di tangannya. Dengan lembut, dia menyuapi Ven, memastikan bahwa dia mendapatkan nutrisi yang cukup. Suara sup yang hangat dan aromanya yang menggoda membuat suasana hati Ven menjadi lebih baik.


"Jangan khawatir, Ven. Kamu akan pulih," kata Mika dengan suara lembut.


"Aku akan selalu ada di sini untukmu."


Ven tersenyum pada Mika dengan mata yang penuh terima kasih. Dia merasa sangat bersyukur memiliki seseorang seperti Mika yang selalu ada untuknya, terutama dalam saat-saat sulit seperti ini.


Mika kemudian menjelaskan bahwa Teo Sensei telah memberitahunya tentang konsekuensi dari penggunaan kekuatan klon dengan terlalu berlebihan. Semakin banyak klon yang dikeluarkan, semakin lama proses pemulihannya


Ven mengangguk dalam pengertian, merasa lega bahwa dia tidak sendirian dalam perjuangannya untuk pulih. Meskipun tubuhnya mungkin lemah, tekadnya tidak pernah goyah.


Selama Mika merawat Ven, dia menceritakan tentang insiden dengan Dipo.


"Dipo telah diberi hukuman oleh Teo Sensei karena tertidur dan membuat semua orang khawatir"


kata Mika, ekspresinya tampak kesal.


"Aku bahkan sempat menyubit pipi nya karena memimpikan hal yang aneh aneh."


"Terima kasih, Veleriting. Aku mungkin tidak bisa membangunkan mereka berdua jika tidak ada kamu."


Ven merasa wajahnya memerah, tetapi dia berpura-pura tidak tahu apa-apa. Namun, Airi dan Josse, yang tiba-tiba muncul di pintu kamar, melihat tindakan itu dan segera melaporkannya kepada Ara. Ven, yang tidak bisa bergerak, merasa sedikit gugup dengan kehadiran mereka


Hanya tiga hari sebelum Ven pulih dari kondisi lumpuhnya, Dipo dan amon datang ke kamar Ven. Keduanya terlihat babak belur, sisa dari pertempuran sengit melawan sihir Teo Sensei di dalam mimpi.


Mereka memasuki kamar dengan langkah perlahan, tampaknya masih bisa merasakan getaran dari pertarungan itu. Ven duduk di ranjang, senyum tipis terukir di wajahnya saat mereka memasuki ruangan.


Dipo, meskipun terlihat lelah, berbicara terlebih dahulu,


"Ven, kami tidak akan pernah bisa mengucapkan cukup terima kasih atas bantuanmu. Kau menyelamatkan kami dari mimpi indah yang mengancam nyawa kami."


amon mengangguk setuju,


"Kamu telah menunjukkan keberanian sejati di dalam sana. Tanpa bantuanmu, kami mungkin tidak akan bisa bangun lagi."


Ven mengangkat tangan dengan lembut, "Tidak perlu berterima kasih, kawan-kawan. Kita adalah tim, dan inilah yang tim lakukan. Kita saling membantu dan saling melindungi."


Dipo dan amon tersenyum penuh rasa terima kasih. Mereka tahu bahwa kekuatan sejati dari pertemanan mereka adalah kepercayaan dan saling mendukung di saat-saat sulit.


Mereka menghabiskan beberapa saat bersama, berbagi cerita dan tawa. Walaupun tubuh mereka mungkin lelah, semangat mereka tetap kuat.


Setelah meninggalkan kamar Ven, Dipo dan amon bergabung dengan yang lain di taman. Mereka berbagi cerita tentang pertarungan mereka dan tertawa bersama. Hari itu adalah bukti dari kekuatan persahabatan mereka.


Ven melihat mereka dari jauh, penuh rasa bangga atas dedikasi dan keberanian mereka. Mereka adalah teman sejati, dan bersama-sama, mereka siap menghadapi segala rintangan yang akan datang.


Sehari sebelum tangan Ven akhirnya bisa digerakkan, namun kakinya masih belum cukup kuat untuk berjalan. Dengan tekad yang kuat, Ven mencoba untuk berdiri dan berjalan, namun akhirnya ia terjatuh di lantai.


Ara, Josse, dan Airi segera mendengar suara jatuh dari kamar Ven. Mereka bergegas ke atas dan melihat Ven berusaha memaksakan diri untuk berjalan. Ara segera menggunakan sihirnya untuk mengangkat Ven kembali ke tempat tidur.


"Ven, jangan terlalu memaksakan diri. Aku tahu kamu memiliki kemampuan yang luar biasa, namun kamu harus beristirahat sebanyaknya sampai kau pulih sepenuhnya,"


kata Ara dengan penuh kekhawatiran, duduk di samping Ven.


Dengan semangat yang menyala-nyala, Ara melanjutkan, "Mulai hari ini aku akan merawatmu sampai kamu benar-benar pulih."


Ven mendengar kata-kata Ara dan wajahnya langsung memerah. Ara sendiri hampir saja salah tingkah karena perkataannya tadi. amon melihat momen itu dan berusaha mengambil foto Ara dan Ven, namun usahanya gagal karena Mika dan Yuuka segera menarik amon menjauh. dan mencubitnya Mereka mengingatkan amon untuk tidak usil pada Ven dan Ara, karena Ven sedang dalam masa pemulihan.


"Sepertinya hanya aku yang belum menciummu, Ven,"


kata Ara dengan malu-malu. Ven kemudian memeluk Ara dari belakang, berterima kasih padanya atas perhatiannya. Josse dan Airi hanya tersenyum melihat kehangatan di antara kakak kakaknya yang merawat mereka.


Kali ini, dengan lembut, Ven mencium Ara di pipinya. Mereka berdua tersenyum, merasakan kehadiran satu sama lain di tengah-tengah masa pemulihan yang penuh kasih.