
Perjalanan mereka membawa mereka ke Kota Es, mencari makanan setelah persediaan mereka habis. Orang-orang di kota terpesona oleh kegantengan Demon Lord Dipo dan Ven. Bahkan para wanita seisi kota terpukau, dan mereka saling berlomba mendekati Demon Lord Dipo. Namun, saat Ven berubah menjadi Taka untuk membantu Dipo, ia malah juga menjadi pusat perhatian karena sebagian dari mereka lebih tertarik pada transformasi Taka milik Ven. Demon Lord Dipo tidak lupa memberi tanda pada baju Mika dan Ara saat Ven menggunakan transformasi Taka. Kejadian ini menciptakan kehebohan di seluruh kota, dengan para wanita saling berlomba mendekati Ven dan Demon Lord Dipo.
Demon Lord Dipo juga memberi instruksi pada amon untuk mencari penginapan bagi Elise, Mika, dan Ara. Di dalam hati mereka, Mika dan Ara merasa campur aduk,
"Gini amat ya, punya Demon Lord tampan dan seorang penyelamat dengan transformasi yang tampan dengan transformasi Taka-nya,"
ujar mereka dengan pipi memerah, merasa campur aduk antara kagum dan cemburu.
Demon Lord Dipo dan Ven, saat ini dikejar oleh seluruh wanita di Kota Es, memutuskan untuk berpisah. Dipo menuju pelabuhan, sementara Ven menuju tempat kumuh. Dengan secepat kilat, keduanya berpisah. Demon Lord Dipo tanpa sengaja menginjak sebuah es yang membeku dari atap sebuah bangunan, membuatnya terjatuh dan hampir tertangkap oleh segerombolan wanita yang mengejarnya. Namun, Dipo tidak dapat menggunakan kekuatannya karena tangannya tidak dapat bergerak dengan cepat. Ia segera bersembunyi dengan bantuan seorang pemuda bernama Ipan yang tinggal di kota tersebut.
Dipo memilih untuk mengikuti Ipan, berhasil lolos dari kejaran para wanita yang mencarinya. Ia memutuskan untuk menginap di rumah pemuda itu selama sehari, agar mereka tidak mencarinya lagi. Ipan dengan baik hati merawat luka-luka yang dialami oleh Dipo, memberikan perawatan khusus di rumahnya. Sehari kemudian, tangan Dipo yang awalnya tidak dapat digerakkan, kembali pulih dan dapat berfungsi normal. Dipo bersyukur kepada pemuda bernama Ipan, dan memilih menunggu lebih lama agar para wanita tersebut menganggap bahwa ia sudah pergi dari kota.
Ven berlari menuju tempat kumuh dalam upaya untuk menghentikan para wanita yang mengejarnya dengan harapan bahwa mereka akan berhenti mencari dirinya karena ia sudah memiliki Ara. Namun, usahanya sia-sia karena banyak wanita yang tetap mencarinya.
Tidak sengaja, Ven menembakkan Frost Arrow ke langit, menciptakan hujan es, dan berhasil mengalihkan perhatian para wanita, membuat mereka kembali ke kota.
Turun dari atap, Ven menyaksikan keributan di sekitarnya. Dia melihat seorang anak kecil yang menjadi budak, ditindas di desa itu. Dengan cepat, Ven menyelamatkan kedua anak tersebut. Ketika orang jahat mencoba merebut senjata Ven, ia berhasil membekukan kakinya dan menembakkan panah api, mengalahkan penjahat tersebut.
Ven mencoba bertelepati dengan Dipo untuk meminta bantuan, namun tanpa reaksi. Dia sadar bahwa sekarang ia harus bertanggung jawab untuk merawat kedua anak itu. Sebelum berangkat, Ven memotong kalung budak yang tergantung di leher mereka, membebaskan mereka dari status budak. Mereka sangat berterima kasih kepada Ven.
Ven mendengar suara perutnya yang lapar, dan dengan ramahnya, ia bertransformasi kembali menjadi dirinya yang asli dan mengajak kedua anak itu mencari makan bersama.
Dia memberikan janji untuk merawat mereka dan membelikan makanan. Dia juga bertanya nama mereka, dan mereka menjawab:
Airi, yang wajahnya lusuh dan tubuhnya kurus karena kurang gizi,
Josse, yang memiliki rambut indah dan mata lembut namun penuh luka di tubuhnya.
Ven segera mencari obat di sakunya untuk merawat luka-luka mereka. Setelah perkenalan, mereka semua makan bersama. Ven merasa bertanggung jawab atas mereka dan menyadari bahwa mereka telah menganggapnya sebagai ayah mereka. Namun, Ven juga menyampaikan bahwa ia masih muda dan belum menikah, sehingga ia meminta mereka untuk
memanggilnya
"Ven Nii-chan"(kakak ven)
Mereka setuju.
Setelah makan malam, mereka pergi mencari pakaian baru untuk Airi dan Josse, serta mencari tempat untuk menginap karena sudah senja. Saat malam tiba, Ven merasa kelelahan.
Anak-anak sudah tidur. Ven bertelepati dengan Mika untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Mika bertanya apakah Dipo sudah pulang, namun Ven menjelaskan bahwa mereka berpisah dan ia mengira Dipo sudah pulang.
Ven memilih untuk tidak memberi tahu Mika dan yang lainnya tentang Airi dan Josse sampai saat mereka bisa pulang bersama-sama dan memberikan kejutan pada mereka. Akhirnya, Ven pun pergi tidur, bersiap untuk melanjutkan pencarian mereka bersama Mika dan teman-temannya.
Setelah berpisah dengan Ven, Dipo memutuskan untuk menggunakan telepati untuk menghubungi Mika agar ia dapat menjemputnya di kota. Mika dengan senang hati menyetujui dan bergerak menuju kota es sendirian,
berharap dapat menghabiskan waktu berkualitas bersama Dipo.
Ketika Dipo akhirnya tiba di alun-alun kota es, ia sangat senang melihat Mika yang sudah menunggunya dengan penuh antusiasme. Mereka berencana untuk menjalani kencan yang menyenangkan di kota es.
Namun, saat mereka sedang menikmati momen bersama, sebuah gangguan datang dalam bentuk rombongan laki-laki yang mulai menggoda Mika. Dipo merasa kesal dan tidak suka melihat Mika diganggu oleh orang asing, terutama ketika mereka tengah berkencan.
Dengan tenang, Dipo mendekati rombongan itu dan mencoba menyelesaikan situasi tersebut dengan cara yang damai dan sopan. Namun, jika situasinya semakin memburuk, Dipo mungkin harus menggunakan kekuatan magisnya untuk melindungi Mika dan dirinya sendiri.
Dipo sudah kembali ke penginapan di malam hari. Sementara itu, Mika sedang belajar memasak bersama Ara sambil menunggu kedatangan Ven. Dipo mencoba menyembuhkan tangannya yang sudah membaik, dan mereka semua makan bersama tanpa menunggu kehadiran Ven. Mereka juga mempersiapkan kejutan untuk Ven sebelum dia pulang pada malam hari.
Ketika Ara tertidur, Dipo secara tidak sengaja melewati kamar Ara dan Ven. Ara bergumam,
"Bagaimana keadaan Ven? Apakah dia akan pulang dengan selamat? Aku sangat mengkhawatirkannya."
Tak lama kemudian, terdengar suara orang jatuh, dan ternyata itu adalah Ven. Mereka berencana memberikan kejutan pada Ven, namun justru mereka yang terkejut dengan apa yang Ven bawa.
Mika, Dipo, dan Ara menunggu Ven di ruang tamu. Ven terlihat agak gugup, seolah-olah dia akan diadili. Dia membawa Airi dan Josee, dua anak yang dia temui, dan Ara pun menyajikan teh yang dia buat khusus untuk Ven.
Ven terlihat cemas karena membawa anak-anak yang tidak dikenal, dan dia menjelaskan,
"Mereka adalah anak-anak yang saya temui di tempat kumuh. Mereka adalah budak yang ditindas oleh atasan mereka. Secara tidak sengaja, saya membunuh atasan mereka. Ketika saya hendak pergi, mereka memberi saya dua pilihan: membawa mereka bersamaku atau membunuh mereka. Saya tidak tega membunuh mereka, jadi saya memilih merawat mereka."
Mika mengerti situasinya, dan Dipo langsung menanyakan sesuatu yang membuat Ven dan Ara terkejut,
Ven dan Ara langsung panik setelah mendengar pertanyaan Dipo, dan
Ven memberitahunya,
"Aku baru berumur 17 tahun dan Ara berumur 15 tahun."
Ven mengucapkan dengan panik, dan Mika pun mencubit pipi Dipo tanpa melepaskannya sampai Ven tidur.
"Penjelasan lebih lanjutnya besok saja. Aku lelah setelah perjalanan jauh tadi,"
ujar Ven sebelum kembali ke kamarnya.
Dia membawa anak-anak yang ditemuinya ke kamar, dan Ara bergumam,
"Sepertinya mereka sudah menganggap Ven sebagai ayah mereka. Sepertinya aku juga harus latihan untuk menjadi ibu yang baik."
Ara tidur di samping mereka, tetapi dia tidak bisa tidur karena terus memikirkan Ven. Akhirnya, Ara memutuskan untuk mencium Ven sebelum tidur agar ia tidak kehilangan Ven lagi. Pada saat yang sama, Mika memarahi Dipo karena berkata sembarangan dengan Ven dan Ara. Dipo diberi hukuman mencium Mika sebanyak kalimat yang dia ucapkan kepada Ven dan Ara sebelumnya. Dipo pun mencium Mika enam kali karena
"Dipo berkata kepada Ven dan Ara sebanyak enam kalimat"
atau tidur di luar. Akhirnya, Dipo memilih untuk mencium Mika, dan mereka kembali ke kamarnya
Pagi itu, Ven belum bisa bangun karena terkena demam dingin. Airi, Josse, dan Ara berusaha membangunkannya dengan penuh kehati-hatian. Josse dan Airi bahkan menyiapkan makanan khusus untuknya.
"Ven nii-chan, tolong makan sedikit,"
pinta mereka dengan lembut.
Sementara itu, Mika memperhatikan Ven dari pintu kamar dengan perasaan iri. Dia punya keinginan yang mendalam untuk memiliki anak bersama Dipo.
Mika dan amon akhirnya pergi menemui Mika di teras rumahnya. Mereka penasaran dengan anak-anak yang merawat Ven dan keberadaan Ara.
"Ara ada di dapur. Dia sedang membuat obat untuk Ven karena demamnya semalam,
jelas Mika.
"Anak-anak ini adalah yang pernah ditolongnya."
amon dan Yuuka terkejut mendengar kabar ini. amon pergi ke kamar Dipo dengan wajah bengkak akibat cubitan Mika semalam. Dipo, yang belum melihat Ven akhir-akhir ini, memutuskan untuk singgah sebentar di dapur.
Tiba-tiba, Josse berlari memanggil Ara dengan panggilan "nee-chan", membuat Dipo terkejut. Ketika amon dan Mika sampai di dapur, Josse memberi kabar bahwa Ven telah bangun.
Mereka pun bingung, mengapa Ven dipanggil "ven nii-chan" dan Ara "nee-chan"?
Apakah mungkin... mereka belum menikah tapi sudah punya anak? Mika, amon, dan Ara tercampur aduk dalam pikirannya.
Josse mencoba menebak nama asli Ven, sementara Ara menebak nama asli "Ven-nii-chan". Josse menebak bahwa nama aslinya adalah "Veleriting-nii-chan". Dipo, amon, Mika, dan Dipo terkejut mendengar jawaban Josse yang sebenarnya benar.
Ara memberi tahu mereka untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang nama asli Ven dan terus memanggilnya "Ven". Mereka memperkenalkan Dipo, Mika, amon, dan Yuuka pada mereka.
Jangan lupa, Dipo adalah seorang Demon Lord, jadi panggilannya adalah
"Dipo-nii-san".
amon dan pasangannya langsung memanggil amon-nii-chan, dan Elise-neechan. Mika diakui sebagai pacar Dipo, sehingga mereka memanggilnya
"Mika-nee-san"
karena lebih tua dari mereka semua. Ara dan Josse pun memanggil Mika dengan sebutan
"Mika-nee-san"
Mika, mendengar hal itu, langsung ingin memeluk mereka karena mereka terlihat begitu imut. Tapi Ara hampir lupa bahwa Ven telah bangun, dan tidak sengaja membangunkannya karena kondisinya yang masih lemah.