Find Power Of Light With Demon Lord

Find Power Of Light With Demon Lord
ch 27 kota musim panas konser musik berujung penculikan



Kota musim panas menyambut mereka dengan sinar matahari yang terang dan suasana ceria. Mereka memasuki gerbang kota dan tak sengaja mendengar tentang perlombaan musik yang akan digelar dalam dua minggu. Hadiahnya berupa serpihan batu cahaya, sesuatu yang selama ini mereka cari.


Pengumuman perlombaan membuat hati mereka berdebar-debar. Dipo segera memberi tahu yang lainnya, membagi kabar baik ini. Mika, yang tahu tentang pengumuman itu, langsung bersiap-siap. Dia meminta bantuan Ven untuk mengajari dia bernyanyi dan menari. Ven yang kembali dari membeli cemilan terkejut dengan permintaan Mika.


Tak hanya Mika, Dipo, dengan semangatnya, juga meminta bantuan Ven untuk mengasah kemampuan menyanyinya. Dia menepuk bahu Ven dengan penuh semangat.


Ven menerima tantangan ini dengan senang hati.


Mereka berlatih dengan tekun, saling memberikan dukungan dan bimbingan. Ven memilih lagu-lagu yang cocok dengan kepribadian dan kekuatan masing-masing anggota tim. Mereka bekerja keras, menyiapkan diri untuk perlombaan yang akan datang.


Di malam hari, Ven duduk sendirian, memikirkan dengan cermat lagu yang akan mereka bawakan. Dia ingin memastikan bahwa penampilan mereka akan memukau dan memberi kesan mendalam pada penonton.


Mereka tahu bahwa persiapan ini adalah kunci untuk kesuksesan. Dengan semangat dan tekad yang kuat, mereka siap menghadapi tantangan di perlombaan musik tersebut.


Ven pergi ke kota musim panas dengan pikiran yang penuh dengan lagu yang harus mereka bawakan. Dalam hatinya, dia bergumam tentang lagu "Taikutsu wo Saienshinaide," yang berarti "Jangan Mengulangi Kebosanan.


" Ven mencari lirik lagu tersebut dengan antusias, yakin bahwa lagu ini akan sempurna untuk pertunjukan mereka di malam hari.


Saat dia sedang asyik mencari lirik, tiba-tiba Amon mendekatinya. Dengan serius, Amon bertanya,


"Masih memikirkan lagu untuk mereka?"


Ven tersenyum dan dengan semangat memberitahu Amon bahwa dia telah menemukan lagu yang tepat. Sekarang, satu-satunya yang harus dilakukan adalah mencari pakaian yang sesuai untuk penampilan Mika, Ara, Josse, dan Airi. Dia memutuskan bahwa mereka hanya perlu sedikit bantuan dari Yuuka untuk merias mereka.


Di tempat lain, Demon Lord Dipo tak sengaja bertemu dengan Ven dan Amon.


Dipo sedang dalam keadaan mimisan dan nampak terkejut melihat pakaian dalam wanita. Tanpa berpikir panjang, dia langsung berlari menjauh.


Ven dan Amon hanya tertawa, menganggap bahwa mereka tidak melihat apa-apa. Suasana keceriaan dan semangat pun terasa semakin kuat seiring dengan mendekatnya pertunjukan yang dinanti-nantikan.


Latihan menari berlangsung dengan penuh semangat di ruang tamu. Dipo, dengan penuh dedikasi, memandu Mika, Ara, Josse, dan Airi dalam setiap gerakan.


Mereka berusaha keras untuk memperoleh kekompakan dan mempertunjukkan tarian dengan indah.


Ven menyaksikan latihan dengan senyum di wajahnya.


Dia bisa merasakan semangat dan kerja keras dari teman-temannya. Amon juga ikut memberikan semangat dari samping, mengangguk puas melihat peningkatan mereka.


Di tengah latihan, Ven memberikan beberapa saran kecil tentang ekspresi dan penekanan emosi dalam lagu.


"Ingatlah, ini bukan hanya tentang gerakan fisik, tetapi juga tentang menyampaikan pesan dari lagu ini kepada penonton."


Setelah beberapa jam, mereka semua mengambil istirahat sejenak. Mika dan teman-temannya duduk bersama untuk melepas kelelahan, sementara Ven dan Amon memberikan pujian atas kemajuan mereka.


"Kalian semua sungguh luar biasa. Saya yakin penampilan kalian nanti akan memukau semua orang,"


kata Ven dengan bangga.


"Benar sekali. Kalian telah bekerja keras, dan hasilnya pasti akan memuaskan," tambah Amon.


Dipo juga mengambil kesempatan ini untuk memberikan semangat.


"Jangan lupa bahwa ini adalah tentang menyenangkan dan menyampaikan apa yang ingin kalian sampaikan. Biarkan hati kalian berbicara melalui tarian ini."


Ketika malam tiba, mereka mengakhiri latihan dengan rasa puas. Mereka saling berpelukan dalam perasaan kebersamaan dan persahabatan yang kuat.


"Saya tidak sabar untuk melihat penampilan kalian di panggung nanti," ucap Ven dengan penuh antusiasme.


Mika dan teman-temannya juga merasa senang. Mereka siap untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari di lomba musik yang akan datang.


Mika, Ara, Josse, dan Airi berdiri di belakang panggung dengan hati yang berdebar-debar. Mereka saling memandang, semangat membara di mata mereka. Ven, yang akan memimpin mereka, berdiri di tengah dengan lirik lagu "Taikutsu wo Saien Shinai de" di tangannya.


Panggung bersinar terang, menanti penampilan mereka. Ketika Ven memberi isyarat, mereka berempat naik ke atas panggung dengan mantap.


Mika menggenggam mikrofon dengan gemetar,


"Halo, kami adalah kelompok yang akan membawakan lagu 'Taikutsu wo Saien Shinai de'. Mari kita nikmati pertunjukan ini bersama-sama!"


Ven tersenyum dan mengangguk, memberi isyarat agar mereka memulai. Dengan penuh semangat, Ven memulai nyanyiannya.


"Ugatte wa saita blue, Tada kono ma ni watte wa rendezvous..."


Mereka menyanyikan lagu dengan penuh perasaan, memenuhi panggung dengan suara merdu. Penonton terpesona oleh kekuatan dan emosi yang mereka bawa dalam setiap kata.


Setelah penampilan mereka selesai, sorak-sorai bergema di seluruh ruangan. Orang-orang berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah sebagai tanda penghargaan atas penampilan mereka.


Ven, Mika, Ara, Josse, dan Airi saling memandang dengan rasa bangga. Mereka telah berhasil menyampaikan pesan lagu dengan penuh semangat.


Tidak lama kemudian, mereka diumumkan sebagai pemenang pertunjukan. Mereka menerima


"crystal of Light" sebagai hadiah utama. Ven dan Ara memeluk satu sama lain dalam kebahagiaan.


Namun, di balik kegembiraan mereka,


Ven melihat seseorang yang mencurigakan di antara penonton. Dengan cepat, Ven memberi isyarat kepada yang lain, memperingatkan mereka bahwa salah satu dari mereka mungkin dalam bahaya.


Para wanita di antara penonton terpesona oleh penampilan mereka, mendekati Ven untuk meminta tanda tangan. Dengan cepat, Ven memenuhi permintaan mereka, memberi tanda tangan dengan hati-hati.


Sementara itu, di belakang panggung, Dipo, Amon, dan Yuuka muncul untuk menjaga keamanan mereka. Mereka memastikan bahwa tidak ada yang mencoba mencelakai kelompok ini.


Tiba-tiba, saat semuanya tampak aman, terjadi hal yang tak terduga. Ara diculik oleh seorang yang menyamar sebagai penonton biasa. Dipo dan Amon berusaha mencari Ara, tetapi mereka menghadapi kesulitan karena sihir mereka tiba-tiba tidak berfungsi.


Ven, yang sudah menduga bahwa sesuatu akan terjadi, segera mencari Ara dengan bantuan tanda yang telah dipasangnya pada bajunya. Tanpa ragu, Ven melompat ke atas kereta penjahat yang menculik Ara.


Mereka menemukan Ara dalam keadaan terjebak, tetapi penjahat itu segera mengancam untuk melukainya jika Ven tidak menyerahkan "crystal of Light". Tanpa berpikir panjang, Ven melemparkan senjatanya, namun penjahat itu tetap tidak melepaskan Ara.


Dalam aksi berani, Ven mengeluarkan mantranya


"SWAP! " bertukar tempat dengan Ara dan dengan kuat menendang penjahat itu. Penjahat itu terjatuh, dan Amon dengan cepat melemparkan senjatanya ke arah Ven. Ven mengambil panah es dan membekukan para penjahat itu.


Tidak ada tempat bagi mereka untuk melarikan diri. Namun, sebelum mereka bisa melakukan sesuatu, sosok misterius muncul dari atas atap rumah, mengakhiri kejadian ini dengan cara yang mengejutkan.


Ara selamat dari bahaya, meskipun dia pingsan karena kejadian itu. Mika, Josse, dan Airi tiba tepat waktu untuk memastikan keamanannya.


Pertunjukan gemilang mereka tidak hanya memenangkan kompetisi, tetapi juga membuktikan bahwa kekuatan persahabatan dan keberanian dapat mengatasi segala rintangan. Dalam momen-momen sulit seperti ini, mereka menyadari betapa pentingnya saling melindungi dan saling percaya.